
Langit masih duduk termenung di kamar hotelnya.
Hasil ini tak begitu bagus, karena dirinya mendapat posisi start ketujuh. Yang artinya untuk mendapatkan podium keduanya di seri tahun ini, Langit harus berjuang ekstra keras.
Belum lagi kabar dari Dad Tian dan juga uncle Dewa belum juga didapat oleh Langit.
Pikiran terpecah pasti.
Langit...Langit...sekalinya menjalin hubungan serius dengan seorang cewek. Tapi cukup terjal juga jalan yang musti kau lalui. Batin Langit menyemangati dirinya sendiri.
Ponsel Langit berbunyi, saat dilihat ternyata bukan Dad Tian yang menelpon tapi uncle Arga.
"Halo uncle" sapa Langit.
"Kutingguin di lounge hotel. Semua tim telah berkumpul di sini. Bentar aja kamu ke sini" ujar Arga.
"Oke uncle" jawab Langit dan langsung beranjak ke tempat yang dimaksud.
Nyatanya saat di lift, Langit berada dalam satu lift dengan Daniel.
'Kenapa musti ketemu makhluk ini sih? Kenapa sehotel juga' gerutu Langit dalam hati.
"Hi Langit. Thanks for today" seru Daniel.
"Ha...ha...musuh lo bukan gue aja Daniel. Tapi lo terlalu rese ke tim gue. Awas saja besok!" tukas Langit.
"Ha...ha...cos you are the smartest among the others" bilang Daniel.
"Picik lo" olok Langit.
"Only you are my rival. And you know it" seru Daniel menimpali sindiran Langit.
"Jika lo nganggep gue rival, sportif dong" tandas Langit.
"If I'm sporty then i will lose to you" tukas Daniel.
"Cih, jadi lo sebenarnya ngakuin kalau aku lebih daripada lo" ujar Langit.
"Yesssss..." jawab Daniel sembari melangkah keluar karena telah sampai di lantai kamar tempat dirinya menginap.
Semua anggota tim telah berkumpul di lounge hotel. Tempat yang diberitahukan Arga tadi kepada Langit.
"Kenapa muka lo, ditekuk aja. Semangat dong" celetuk salah satu anggota tim buat Langit yang baru datang.
Arga membisikkan sesuatu ke telinga Langit.
Wajah Langit langsung berubah lebih segar daripada sebelumnya.
"Really uncle?" tanya Langit tak percaya.
Arga pun mengangguk.
"Abis kita kumpul, jangan lupa hubungin Dad kamu dan juga Dewa. Mereka bekerja keras untuk kamu" saran Arga.
"Siap bos" tukas Langit. Kali ini suara nya lebih semangat daripada sebelumnya.
"Langit, jangan sampai berita tadi ke ekspose. Kita tunggu reaksi lawan dulu" kata Arga.
"Dan juga tidak semua anggota tim tahu akan Jingga. Lebih baik dibuat silent" saran Arga.
"Aku setuju. Akan kutunjukkan pada Daniel dan tim" kata Langit sambil mengepalkan tangannya erat.
Arga memberi pengarahan kepada semua tim akan persiapan race besok.
__ADS_1
"Semua harus dipersiapkan dengan cermat dan teliti. Karena kita harus bekerja keras untuk besok. Apalagi hasil kita hari ini tak begitu bagus" seru Arga.
"Untuk Langit, fokus. Besok jadikan ajang pembuktian tim kita. Dan aku harap semua anggota tim totalitas mendukung" seru Arga.
"Siap uncle" tukas Langit, demikian juga anggota tim yang lain.
Arga berperan sebagai motor penggerak di tim ini. Kehadiran Arga sangatlah penting sebagai pengobar semangat di antara yang lain.
Sebagai pendiri, Arga tentunya bertanggung jawab akan kelangsungan dan kesuksesan jalannya tim.
Setelah pertemuan selesai, Langit balik ke kamar. Tentu saja untuk istirahat dan tak lupa menghubungi Dad Tian.
Tut...tut...tut...nada sambung panggilan terus saja berbunyi.
Bahkan ini kelima kalinya Langit menghubungi Dad nya.
"Kok nggak tersambung ya? Apa aku hubungin uncle Dewa aja" pikir Langit.
"Oke, aku hubungin uncle Dewa aja" Langit pun melakukan apa yang diutarakan barusan.
"Halo Langit" sapa uncle Dewa.
"Gimana keadaan Jingga?" tanya Langit, karena sudah diinfo jika Jingga sudah bersama Dad Tian dan juga uncle Dewa.
"Tak baik" jawab Dewa.
"Maksudnya? Apa Jingga hilang lagi?" kembali Langit dibuat kuatir.
"Kita masih di rumah sakit untuk memastikan kondisi Jingga baik-baik saja" jelas uncle Dewa.
"Emang apa yang terjadi uncle?" tukas Langit.
"Jingga masih trauma jika berada di mobil. Barusan dia teriak histeris saat kita ajak naik mobil dari makam" sambung uncle Dewa.
"Trauma?" tanya Langit kembali.
Langit menghela nafas panjang. Trauma Jingga menambah list problem yang musti diatasi Langit.
"Fokus saja sama lomba kamu. Jingga akan kita jagain" ucap Dewa.
"Iya uncle. Makasih. Salam buat Dad. Sedari tadi nggak bisa dihubungin" kata Langit.
"Biasa, Dad kamu. Sedang seru-serunya nelponin istri tercinta, mana bisa diganggu" ulas Dewa. Membuat keduanya terbahak.
"Istirahatlah" suruh uncle Dewa.
"Bye uncle" kata Langit mengakhiri panggilan ke Dewa.
Setidaknya pikiran Langit sedikit tenang. Jingga sudah berada di tangan yang tepat sekarang. Dan besok bisa lebih fokus ke lintasan sirkuit.
Langit merebahkan diri menatap langit-langit kamar hotel.
Dan tak perlu menunggu lama Langit telah terlelap untuk mempersiapkan lomba esok hari.
.
Seluruh tim sudah berada di paddock masing-masing sekarang.
Kendaraan yang akan ditunggangi Langit pun telah di cek dan persiapkan sedemikian rupa.
"Sudah siap semua?" seru Arga di sana.
"Siaapppp" jawab mereka serempak.
__ADS_1
Langit pun juga sudah bersiap dari tadi.
Ada nomor bunda calling.
"Pagi bun" sapa Langit.
"Sedang siap-siap kak?" tanya bunda.
"Iya bun" Langit menunjukkan pemandangan di sana. Orang-orang yang sibuk dengan kerjaan masing-masing.
"Good luck kak Langit. Doa bunda menyertai" kata bunda.
"Aamiin bun" tukas Langit tersenyum ke wanita yang sangat dihormatinya itu.
"Oh ya kak, ini ada yang mau bilang sesuatu ke kakak" sela bunda.
"Hai kak" Langit tentu saja terkejut dengan surprise di depannya.
"Loh, kok sudah sama bunda aja? Kata uncle Dewa..." Langit menghentikan ucapannya.
"Semalam balik naik kereta kak" beritahu Jingga.
"Kok nggak naik heli aja barengan Dad sama uncle Dewa?" tanya Langit.
"Dad sama uncle ikutan naik kereta. Nggak tega sama aku bilangnya" cerita Jingga pagi ini.
Wajah itu sudah ceria seperti biasanya. Tak kelihatan kalau Jingga habis mengalami hal yang luar biasa.
"Kak, semangat" kata Jingga untuk menyemangati Langit.
Langit hanya tersenyum simpul. Senyum yang jarang dia tampakkan ke sembarang orang.
"Langit" panggil Arga.
"Sudah dulu ya Jingga, kakak mau siap-siap dulu" ucap Langit.
"Bye kak" kata Jingga tanpa kata mesra.
Langit menghampiri Arga.
"Wah sepertinya ada yang baru dapat suntikan energi nih" olok Arga. Langit seperti biasa, diam dengan wajah datarnya.
"Langit, tak ada yang tahu kalau Jingga telah bebas. Bahkan semua anggota tim pun begitu. Arka sengaja tak mengatakan. Ingin tahu aja apa ada yang berkhianat di tim kita" jelas Arga.
"Emang ada yang dicurigain?" tanya Langit.
"Enggak sih. Sifatnya hanya jaga-jaga aja" sela Arga.
Langit pun telah memakai atribut lengkap.
Sesaat sebelum memakai pelindung kepala, seperti biasa Langit cek ponselnya.
Dan sesuai perkiraan, ada sebuah chat seperti sebelumnya. Yang mengirimkan keadaan Jingga yang terculik.
Langit menaikkan sudut bibirnya. Merasa aneh aja dengan gambar editan netijen itu.
"Mengalah lah!!! Apalagi posisi start kamu tak menguntungkan kali ini" seru orang itu dalam ketikannya.
Langit tersenyum sinis. Langit menaruh kembali ponsel ke dalam tas nya, tanpa keinginan tuk membalas.
Kini Langit sudah berada dalam mobil dan mulai menjalankan mobilnya pelan menuju posisi start nya melewati pit lane.
Nomor tujuh barusan di tempati Langit.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading