
"Tapi sampai di sana pun apa aku akan bisa masuk? Orang-orang suruhan Blue Sky pasti akan menghadang aku" ragu Kenzo.
Kenzo punya pikiran untuk menyamar.
Dengan peralatan yang sudah dipunyai olehnya, Kenzo menyamar laiknya wanita.
Rambut palsu ala-ala barbie juga sudah ada.
Kenzo memagut dirinya di cermin.
"Aneh nggak sih?" tanya Kenzo pada dirinya sendiri.
"Mau jadi cewek tapi kok masih ada kumis tipisnya?" Kenzo menertawakan dirinya sendiri.
"Malu juga kalau pakai pewarna bibir" seru nya pada diri sendiri.
"Ah, daripada repot gini aja lah" gumam Kenzo sambil mengambil topi, wig dan kacamata hitam. Sementara mukanya ditutupi pakai masker. Pakai baju wanita gini kayaknya aku cocok dech. Batin Kenzo. Kenzo sempat-sempatnya latihan jalan ala wanita.
Melihat itu Kenzo bahkan terbahak, alangkah lucu dirinya.
"Aku aja merasa lucu melihat polahku, apalagi orang lain?" kata Kenzo pada dirinya sendiri.
"Issshhh biarin aja ah. Yang penting aku nyaman. Walau aslinya aku tak nyaman juga...ha...ha..." kembali Kenzo menertawakan diri sendiri.
Kenzo meraih sepatu sneaker punyanya, dengan pilihan ada garis pink di warna sepatu. Totalitas banget dech Kenzo dalam misinya kali ini.
Saat membuka pintu karena hendak pergi. Kenzo dikagetkan dengan kehadiran laki-laki yang berdiri tegak di depan pintu.
"Maaf Nona, apa saya bisa bertemu dengan tuan Kenzo?" tanyanya.
'Cowok ini tidak tahu atau pura-pura ya? Kenzo ada di depan kamu sekarang, wooooiiiiii' teriak Kenzo dalam hati.
Mana cowok itu dengar Kenzo, kamu aja teriaknya dalam hati.
"Iya bisa dibantu tuan?" tanya Kenzo ikutan pura-pura dengan suara dimirip-miripin cewek.
Terlanjur malu, ya dimalu-maluin sekalian. Pikir Kenzo.
Karena di hadapan Kenzo sekarang ada Andre yang termangu hendak mengatakan sesuatu.
Karena sudah lumayan akrab Kenzo menyentil kening Andre.
"Gue Kenzo" bilang Kenzo dengan suara balik ke asal.
Andre memandang Kenzo dari kepala ke kaki, balik lagi ke kepala sebelum akhirnya terbahak.
"Ha....ha...ha....gue tak salah lihat nih. Tuan Kenzo bermutasi gender?????" Andre tak bisa menghentikan tawa.
"Issshhhh diam lo" sengit Kenzo.
"Gue gini ada maksudnya tau...Lo sih nggak kabar-kabar. Sementara gua mau nelpon, gue nggak punya kontak lo. Songong nggak sih lo" kata Kenzo ketus.
"Sori...sori...bro. Gua nggak kasih kabar karena belum ada misi yang musti lo kerjain. Berhubung sekarang sudah ada, makanya gue kemari" seru Andre.
"Apa misi gue?" tanya Kenzo penasaran.
"Sabar dong bos, boleh gue duduk nggak nih?" seru Andre.
__ADS_1
"Oke" Kenzo menyilahkan duduk Andre di kursi yang apa adanya.
"Misi ini akan dimulai tiga atau empat hari ke depan" bilang Andre memulai pembicaraan serius.
"Kok masih tiga atau empat hari? Lama amat" tukas Kenzo.
"Sabar dong hai bro. Semua rencana harus disiapkan dengan matang, jangan grusa grusu. Gagal plan A kita juga harus punya plan B. Ingat yang kita adepin bukan orang sembarangan. Sampai sini sudah paham bro?" jelas Andre.
Kenzo pun mengangguk.
"Terus, gue musti lakuin apa?" tanya Kenzo.
Andre minum air kemasan yang tinggal segelas itu.
"Tunggu perintah gue. Tiga atau empat hari mendatang lo musti stanby di rumah sakit" suruh Andre.
"Pakai nyamar begini lebih baik" ujar Andre dengan menahan tawa.
"Lo ngeledek gue" Kenzo mulai naik pitam.
"Sabar cuuuuyy. Maksud gue, lo tak akan ketahuan jika menyamar begini" seru Andre.
"Lo tahu sendiri anak buah bos Blue Sky ada di mana-mana. Menyamar akan memudahkan lo masuk. Tapi nggak hari ini juga. Aksi kita dimulai tiga atau empat hari ke depan" jelas Andre.
"Terserah lo dech" ucap Kenzo menimpali dengan tangan mulai melepasi atribut penyamaran yang dia pakai.
"Oh ya Ndre, simpan nomor lo di sini" suruh Kenzo sembari menyodorkan ponselnya ke Andre.
"Siap bos" kata Andre dengan melakukan apa yang diminta oleh Kenzo.
.
Langit pagi-pagi sudah pergi latihan saat Jingga belum terbangun.
Kini Jingga bersama bunda yang barusan datang gantiin Langit.
"Jingga, apa kabar?" tanya bunda menghampiri Jingga yang masih nampak murung meski telah bangun sedari tadi.
"Baik bun" jawab Jingga singkat.
"Ada yang dipikirkan?" bunda memberi ruang untuk Jingga menyampaikan keluh kesahnya.
Pertahanan Jingga yang coba ditahan sedari tadi akhirnya ambrol juga.
Jingga menangis di pelukan bunda Mutia.
"Menangislah, kalau itu bisa buat lega" ujar bunda penuh kesabaran, sambil mengelus puncak kepala Jingga.
Setelah mulai agak tenang, bunda mengurai pelukan.
"Jingga, sedih boleh. Tapi akan lebih baik jika kita ikhlas sayang" kata bunda menguatkan Jingga.
"Bundaaaaa" kembali Jingga menangis.
"Menangislah" kembali mereka saling pelukan.
Sungguh pelukan bunda bagaikan pelukan mama. Itulah yang dirasakan Jingga sekarang.
__ADS_1
"Maaf, baju mahal bunda malah basah semua kena air mataku" bilang Jingga saat kondisinya mulai tenang.
Sengaja Mutia membiarkan Jingga melepaskan beban yang dirasakan saat ini. Jingga butuh sandaran yang kokoh untuk bisa diajak berbagi.
"Gimana? Sudah mendingan?" tanya bunda.
"Iya bun" Jingga mulai mengurai senyum.
"Jingga sayang, ayah dan mama sudah bahagia di sana. Sekarang tinggal Jingga mengikhlaskannya" kata Mutia berasa oase di gurun yang sangat menyejukkan buat Jingga.
"Jingga tak sendiri. Ada bunda, kak Langit, Mega, Dad Tian dan yang lain. Jika ada apa-apa bilang bunda. Anggap kita ini sebagai keluargamu sayang" ujar Mutia menambahkan.
Jingga pun mengangguk menurut apa kata bunda.
"Anggap aja bunda sama Dad Tian layaknya orang tua kamu Jingga" imbuh bunda.
Terdengar pintu diketuk, ternyata yang datang dokter Bara dan beberapa yang lain.
"Apa kabar Jingga?" tanyanya.
"Sudah lebih baik dok" jawab Jingga karena melihat Bara memakai sneli.
"Wah, sepertinya Jingga sudah lebih tenang sekarang. Psikolog nya di skip aja ya" canda Bara.
Jingga dan Mutia menanggapi dengan senyuman.
"Apalagi sudah ada psikolog spesial yang sudah ngedampingin kamu" ujar Bara dan menatap ke Mutia.
"Dokter Bara bisa saja. Kalau memang diperlukan ya tidak apa-apa" tukas Mutia.
Psikolog yang dijanjikan Bara pun dikenalkan kepada Jingga dan Mutia.
"Irene ini nantinya yang akan membantu Jingga" jelas Bara.
"Nanda apa sudah nggak ke sini lagi?" tanya Jingga.
"Nanda?" kata Bara seakan mengingat sesuatu.
"Nanda, fisioterapis dok" sela yang lain.
Bara menepuk jidat karena melupakan nama staf nya.
"Sori, sampai lupa nama staf sendiri" ujar Bara terkekeh.
"Kalau aktivitas fisik sudah seperti biasa, aku rasa Nanda sudah tidak ke sini lagi" imbuh Bara.
"Jika kondisi psikis kamu membaik dua tiga hari ke depan. Aku rasa kamu layak diperbolehkan pulang" kata Bara sembari menepuk pundak Jingga.
"Oke, aku sudah terlalu banyak bicara di sini. Jingga apa ada yang ingin ditanyakan, sebelum terapi dengan Irene" tanya Bara.
"Sementara nggak ada dok" jawab Jingga.
Bara mencari keberadaan Langit, "Kok nggak kelihatan Langit?" serunya.
"Biasalah, latihan menjelang tanding" sela bunda menjelaskan.
Kali ini Jingga sudah bersama dengan Irene sang psikolog.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading