Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Hampir Saja


__ADS_3

Jingga yang sedikit mulai bisa mengingat masa lalu, saat ini baru menyadari jika benar dirinya berada di rumah Kenzo maka dua blok di belakangnya adalah rumah kediaman orang tuanya.


Berarti banyak juga tetangga yang akan kenal dirinya jika dia keluar rumah.


"Apa aku coba aja ya, keluar sekarang?" gumam Jingga.


Jingga buka jendela kamar yang ditempatinya kini.


Jingga menunggu orang yang lewat untuk meminta tolong.


Sebuah keberuntungan memang berpihak pada Jingga, pak RT barusan keluar dari rumah sebelah.


"Pak RT" panggil Jingga pelan, takut kedengaran oleh yang punya rumah.


Untung lagi, pak RT langsung menghentikan langkah untuk memastikan kalau ada yang memanggil.


Dilihat oleh Jingga, pak RT sedang menengok kanan kiri mencari siapa yang memanggil.


"Pak RT" panggil Jingga sekali lagi.


Barulah pak RT menengok ke arah Jingga.


Pak RT menghampiri Jingga yang kebetulan jendelanya menghadap ke arah jalan itu.


"Pak, tolongin Jingga" harap Jingga.


"Loh, bukannya kamu mau nikah sama Kenzo?" ulas pak RT, dan Jingga pun menggeleng cepat.


Terdengar ketukan pintu kamar.


"Jingga, kamu bicara dengan siapa?" tanya mama dari luar pintu kamar.


"Nggak ada tante, Jingga hanya nyari angin saja lewat jendela. Boleh ya jendela nya kubukain? Engap di dalam" bilang Jingga setengah berteriak.


"Oke, pak RT panggil bantuan dulu" seru pak RT.


"Aku juga butuh saksi untuk ngebebasin kamu Jingga" ujar pak RT.


"Tolong jangan lama-lama ya pak" dijawab anggukan pak RT.


Jingga kembali duduk merenung saat pak RT pergi menjauh.


"Kak Langit apa kabar? Apa kamu tahu kalau aku sedang tidak baik-baik saja?" gumam Jingga.


"Smoga kamu tidak tahu kak. Fokus saja ke ajang perlombaan kamu" Jingga masih saja bermonolog.


Kenzo masuk tak mengetuk pintu.


"Bisa nggak sih ketuk pintu dulu" kata Jingga sengit.


"Hei, bentar lagi lo itu mau jadi istriku. Terus, kamar yang kamu tempatin ini juga kamar gue Jingga. Jadi untuk apa ketuk pintu?" tukas Kenzo.


"Seseorang juga perlu privacy. Bahkan jika sudah menikah sekalipun" timpal Jingga.

__ADS_1


"Oh ya?" ada senyuman mengejek dalam perkataan Kenzo.


"Jingga, hari ini juga kita akan menikah. Siang ini penghulu akan datang. Bersiaplah!" seru Kenzo.


"Dan ini, untuk rias dan baju kamu pas akad nanti" sambung Kenzo sambil melempar baju ke arah Jingga.


"Cih, siapa sudi menikah dengan kamu. Bahkan aku lebih baik mati daripada nikah dengan orang macam kamu Kenzo" kata Jingga tak kalah seru.


"Apa kamu bilang?" ada binar kemarahan di netra Kenzo.


"Emang kenapa? Aku memang tak mau menikah dengan kamu" seru Jingga dengan tatap mata nanar.


Kenzo mendekat dengan kilatan mata marah, sehingga posisi Jingga terjebak di pojok kamar.


"Asal kamu tahu Jingga, aku tetap akan menikahi kamu walaupun tak ada persetujuan dari kamu" kata Kenzo mengintimidasi Jingga. Bahkan Kenzo tega mencengkeram bahu Jingga, saat Jingga berontak.


"Cih, nggak sudi gue" kata Jingga balik menatap tajam Kenzo.


"Lantas apa harus dengan ini maka aku bisa menikah dengan kamu" seru Kenzo sambil menarik baju Jingga dengan keras.


Maka robeklah lengan baju Jingga.


Jingga mencoba menghindar tapi dengan gesit Kenzo meraihnya dalam pelukan.


"Jangan buat gue berbuat kasar padamu Jingga" ujar Kenzo sambil memeluk paksa Jingga.


Jingga masih saja berontak membuat Kenzo semakin brutal.


Kenzo tampar Jingga. Penampilan Jingga bahkan sudah tak karuan baju terkoyak sana sini. Sehingga hanya menyisakan dalaman aja yang masih utuh.


Jingga menutupi dadanya dengan kedua tangan.


"Apa yang akan kamu lakukan!" hardik Jingga, meski kini posisinya memang sudah berada di pojok kamar.


Sementara Kenzo semakin mendekat dengan mata berkabut.


"Tak aku sangka, ternyata milikmu sungguh indah Jingga. Boleh aku cicipi sekarang!" kata Kenzo hendak merampas bibir Jingga.


Sebuah tamparan keras mengenai pipi Kenzo, membuat darah laki-laki itu semakin mendidih.


Kenzo dorong tubuh Jingga ke ranjang. Dan Jingga pun terpelanting.


Kenzo tahan kedua lengan Jingga agar tak bergerak, sementara badan Jingga telah dia tindih.


Kedua aset kembar Jingga yang dipertahankan sedari tadi malah menyembul dengan sempurna seakan menantang Kenzo. Membuat Kenzo sampai menelan ludah beberapa kali.


Meski kedua tangan dikunci oleh Kenzo, demikian juga badannya. Jingga masih berusaha berontak.


Tapi Kenzo benar siaga kali ini. Tak ada kesempatan bagi Jingga untuk melawan.


Saat bibir Kenzo hendak meraup buah cerry miliknya, dengan sekuat tenaga Jingga menendang inti tubuh Kenzo yang bahkan telah berdiri tegak.


"Aku harus tetap waras kali ini. Aku harus bisa mempertahankan yang memang harus aku pertahankan" tekad Jingga.

__ADS_1


Kenzo menahan sakit yang luar biasa karena tendangan Jingga.


Secepat kilat Jingga bangkit dari tidur, dan hendak lari keluar kamar.


Tapi ternyata Kenzo tak kalah cepat. Diapun menahan tubuh Jingga dari belakang.


Dengan rasa jengkel Kenzo remas salah satu milik Jingga, membuat Jingga semakin naik pitam.


"Kamu harus jadi milikku Jingga" kata Kenzo lantang.


Jingga dengan sekuat tenaga berusaha melepas kuncian tangan Kenzo. Dengan sisa tenaga dia gigit lengan Kenzo.


Dan langsung lari keluar kamar, mencari pertolongan.


"Mau ke mana kamu Jingga? Di rumah ini hanya ada aku dan kamu. Mama keluar belanja. Sepertinya mama tahu saja kalau anak laki-lakinya ini sudah dewasa" kata Kenzo dengan sinis.


"Semua pintu sudah aku kunci. Dan ini kuncinya" kata Kenzo dengan memegang semua kunci rumah.


Jingga terjepit sekarang.


Kenapa pak RT lama sekali. Batin Jingga.


Setelah berlarian menghindari kejaran Kenzo, bahkan rumah telah berantakan di mana-mana.


Kenzo masih saja mengejar Jingga hingga Jingga kembali terpojok di sudut ruang tamu.


"Kenzo, sadarlah" kata Jingga coba mengingatkan Kenzo.


"Hah, sudah telat Jingga. Terlalu lama aku menunggumu kembali. Bahkan kalau kubiarkan pergi, maka kamu akan mendekat ke Langit. Dan aku akan kehilangan kamu lagi. Dan itu tak akan kubiarkan" seru Kenzo.


"Kenzo, kita sudah tak ada ikatan apapun. Jadi biarkan aku pergi. Aku mohon" ucap Jingga dengan penuh harap. Tentu saja tujuan Jingga untuk mengulur waktu.


"Jingga, asal kamu tahu. Aku membawa kamu ke sini juga untuk menyelamatkan kamu dari musuh-musuh Langit yang mencoba menjadikan kamu umpan" beritahu Kenzo membuat Jingga menaikkan salah satu alisnya.


"Jadi menikahlah denganku, maka hidup kamu akan aman dan tenang" lanjut Kenzo.


"Apa maksud kamu?" telisik Jingga.


"Langit itu banyak musuh. Nyatanya seseorang yang tak aku kenal pun menghampiriku untuk memuluskan tujuannya" imbuh Kenzo.


"Jangan kamu kira aku menculik kamu dari rumah sakit sendirian. Banyak orang yang membantuku" seru Kenzo membuat Jingga semakin penasaran.


Kenzo lempar kain apapun untuk menutup tubuh Jingga.


"Aku tak akan melahapmu, sebelum kita menikah nanti siang. Tapi malam nanti tak akan kubiarkan kamu tidur sedetikpun. Apalagi kamu telah berani menantangku tadi dengan kedua cerimu itu" ancam Kenzo.


Jingga dibuat terbengong.


Sementara di luar kediaman Kenzo telah dikepung oleh anak buah Dewa.


Dewa menyuruh pak RT untuk mengetuk pintu kediaman keluarga Kenzo.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


To be continued, happy reading


__ADS_2