Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Latihan


__ADS_3

Dengan semangat Jingga terima ponsel itu, setelah sore tadi batal telpon ayah karena baterai Mega low bat.


Karena sangat ingin bertukar kabar dengan ayah dan mama nya.


'Aku harus bilang apa Jingga?' batin Langit.


Tapi Jingga kembali meletakkan ponsel di sisi nya.


"Kenapa?" tanya Langit.


"Pasti ayah sama mama sedang tidur sekarang. Aku nggak mau gangguin. Pasti ayah capek kerja seharian, buat biaya berobat aku ini kak" kata Jingga sendu dengan air mata yang menetes.


"Kenapa menangis?" imbuh Langit. Perasaan sedih anak yang ditinggal selama nya oleh kedua orang tua tembus juga. Meski saat ini Jingga belum teringat akan kejadian yang menyebabkan dirinya koma selama dua bulan. Sehingga belum tahu jika kedua orang tuanya telah tiada.


"Gimana kalau tidur lagi aja" saran Langit dengan lembut.


Jingga kembali baring dengan dibantu Langit.


"Kak, apa ayah dan mama tak sayang aku ya?" kata Jingga tiba-tiba.


"Kok bilang begitu? Mana ada orang tua nggak sayang anaknya?" tukas Langit.


"Ayah sama mama kok belum tengokin aku ya kak? Aku kangen mereka" Jingga menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Rasa sedihnya tak ingin dilihat oleh Langit.


Langit menghela nafas panjang.


Aku harus gimana Jingga. Mau bilang kenyataan yang sesungguhnya atau akan kusimpan sampai kapan aku pun tak tahu. Batin Langit merasa kasihan kepada Jingga.


"Ya jelas aja belum tengok. Mau ke sini pasti ayah sama mama sedang kumpulin biaya. Iya kan kak?" ada nada getir dalam suara Jingga.


Rasa rindu yang membuncah kepada kedua orang tuanya membuat rasa nyesak di dada. Jingga masih mengira jika dirinya sekarang berada di London hingga dia berkata kalau orang tuanya masih ngumpulin biaya buat pergi tengokin dirinya.


"Huuuu..." Jingga semakin tergugu.


"Rasa apa ini kak? Kenapa aku sangat takut kehilangan ayah dan mama" kata Jingga terbata.


Kembali Langit peluk Jingga.


"Doakan saja Jingga" akhirnya keluar juga kata-kata Langit.


Mega yang tidur nyenyak pun ikutan bangun mendengar Jingga menangis.


"Ada apa ini?" tanyanya menghampiri kakak dan sahabatnya yang sedang pelukan.


"Jingga ingat kedua orang tuanya" bilang Langit.


Mega menatap lurus ke kakaknya.


"Kakak beritahu?" telisik Mega.


Gelengan Langit diterima oleh Mega.

__ADS_1


"Apa sebaiknya Jingga kita kasih tahu kak?" imbuh Mega.


Langit masih saja menggeleng.


Karena capek menangis, Jingga kembali tidur dalam pelukan Langit.


"Kak, sebaiknya kasih tahu Jingga secepatnya. Dia berhak tahu apa yang terjadi" tegas Mega.


"Nggak. Akan kakak tunggu sampai kondisi psikisnya membaik" tolak Langit.


"Apa kakak akan memperbaiki psikis Jingga, dan jika sudah membaik akan lempar lagi Jingga ke seperti kondisi yang sekarang?" sambut Mega.


"Bukan begitu maksud kakak. Kakak tak ingin Jingga lebih terpuruk lagi. Sekarang saja ingatannya belum sepenuhnya pulih" Langit mengutarakan alasannya.


"Mumpung kondisinya begini kak, yang penting sudah tersampaikan semua. Tinggal kita memperbaiki semuanya belakangan kak" jelas Mega.


"Kalau kondisinya lebih memburuk lagi?" seru Langit.


"Kita jangan gambling kak. Memperkirakan apa yang sebetulnya belum tentu terjadi. Bisa saja Jingga akan terpuruk, atau malah sebaliknya lebih memotivasi dirinya untuk sembuh. Kita nggak akan tahu kalau tak coba. Ingat Jingga juga sahabat aku kak" terang Mega.


"Aku lebih dulu mengenal Jingga daripada kakak" imbuh Mega.


Langit tak menyangkal. Kata-kata Mega ditelaah dan itu memang benar adanya.


"Besok aku akan minta saran ke Uncle Bara dulu tentang apa yang kamu sampaikan tadi. Yang pasti kita semua ingin yang terbaik buat Jingga, tanpa memandang dirinya calon tunangan aku atau pun sahabat kamu. Jingga sekarang sebatang kara" seru Langit.


Mega mengangguk menyetujui.


.


Pagi-pagi ponsel Langit berdering dan itu dari uncle Arga.


"Pagi uncle" Langit mengambil posisi duduk untuk bicara dengan Arga. Meskipun suara serak khas bangun tidur masih nampak jelas di telinga Arga.


"Baru bangun? Sori gue bangunin" kata uncle Arga terkekeh.


"Gimana Uncle? Mau ngajakin latihan?" tukas Langit.


"Iya sih kalau kamu longgar" ujar Arga menimpali.


Langit tengok jam masih menunjukkan pukul lima, sementara saat Langit tatap Jingga dan Mega nampak keduanya masih terlelap.


"Oke uncle" jawab Langit.


"Uncle jemput aja, ni sudah separo jalan menuju rumah sakit tempat lo" bilang uncle Arga.


"Sippp, Langit tungguin" seru Langit menjawab.


Langit hanya menulis pesan di secarik kertas, dan dia taruh di nakas samping Mega.


Uncle Arga sudah mengiriminya pesan jika dirinya sudah berada di parkiran rumah sakit.

__ADS_1


"Hai uncle" sapa Langit menghampiri Arga yang masih berada dalam mobil.


"Come on" ajak Arga. Dan Langit pun masuk ke samping Arga duduk.


Dan pagi ini Langit diajak Arga latihan di tempat biasa, sebuah sirkuit yang mungkin lintasannya tak sebagus lintasan international.


Kalau di sirkuit itu lancar, dijamin di sirkuit internasional pasti akan lebih lancar lagi. Ini versinya uncle Arga dan Langit.


Satu kali, dua kali, tiga kali dan seterusnya sampai banyak kali melintas Langit masih tetap menggeber laju mobii dengan sangat baik dan konsentrasi penuh.


.


Sementara di kamar Jingga, Mega masih belum terbangun juga hingga pergerakan Jingga mengagetkannya.


"Eh Jingga, mau ke mana?" tanya Mega yang nyawanya saja belum tekumpul sempurna.


Jingga yang terbangun karena ingin buang air kecil segera berjalan ke arah toilet.


"Aku bantuin" Mega pun menggandeng lengan Jingga.


"Kemana kak Langit ya? Pagi-pagi kok sudah ngilang aja" gumam Mega karena belum mengetahui keberadaan Langit. Sementara Jingga masih berada di dalam toilet.


"Mau rebahan lagi?" tanya Mega saat Jingga barusan keluar dari kamar mandi dan dijawab anggukan Jingga.


Kedua mata Jingga masih nampak sembab efek menangis semalam.


Mega selimutin tubuh sahabatnya itu.


"Kak Langit ke mana?" tanya Jingga yang sepertinya baru tahu jika Langit sudah tak ada.


Mega mengangkat kedua bahu tanda dia sendiri pun tak tahu, hingga kedua matanya tak sengaja melihat secarik kertas di atas nakas di samping ranjang yang ditempati Mega.


Mega raih karena penasaran.


"Apa ini?" gumam Mega dan membukanya. Ternyata isinya pesan dari kakaknya yang memberi tahu jika Langit latihan pagi ini. Pakai nulis surat segala. Kakak aneh dech, hidup lama di London tapi masih suka pakai cara tradisional macam gini. Batin Mega menertawakan sang kakak.


"Mega" seru Jingga.


"Kak Langit ternyata tengah olahraga pagi" seru Mega sembari mengibas-ngibaskan kertas yang barusan di baca olehnya.


Olahraga pagi yang dimaksud oleh Mega tentu saja tak sama dengan yang diterima Jingga.


Jika yang dimaksud Mega adalah latihan balapan sementara menurut Jingga olahraga pagi tentunya tak jauh beda dengan joging ataupun running.


"Mega, ponsel kamu sudah terisi baterai belum?" tanya Jingga.


Mega hanya bisa menggaruk kepala, nyatanya dia lupa mengisi daya hingga ponsel nya sekarang pun masih low bat.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2