Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Sosok Frans


__ADS_3

Keenan dan Adnan, tak mengalihkan sedikitpun pandangannya dari Langit.


"Kak, yang tadi nelpon tuh pemilik tim yang menaungi kakak ya? Akrab sekali dengan kakak?" seru Adnan.


"Iya lah. Rumahnya aja sebelahan dengan rumah kakak di Indo" jawab Langit.


"Really? Kak boleh dikenalin dong. Aku kan juga ingin jadi pembalap pro seperti kak Langit" ujar Adnan antusias.


"Sebelum aku bilang uncle Arka, mendingan lo ijin dulu dech ke orang tua" seru Langit.


"Nah betul tuh apa kata kak Langit" sela Keenan.


"Gue aja perlu bertahun-tahun untuk ngeyakinin Dad gue, jika pilihan ini benar" ucap Langit.


Adnan manggut-manggut.


"Kapan jadwal berikutnya kak?" sela Keenan bertanya.


"Jadwal apa?" tukas Langit.


"Balapan lah kak" seru Keenan.


"Dua minggu lagi. Nonton ya" kata Langit segera beranjak. Karena panggilan Jingga berdering kembali.


"Katanya mau konsul dosen pembimbing? Ujungnya malah makan siang sama istri" seru Adnan mencibir.


"Lo ngiri? Cari istri sana!" olok Keenan.


"Gue nggak ngiri, tapi nganan. Kalau sama-sama ngiri, aku pastiin aku pasti kalah saing dengan kak Langit" tukas Adnan menimpali.


Sementara Langit sudah pergi aja ke tempat parkir.


Rencana nya konsul dengan pembimbing di rescedule sesuai kesepakatan.


Sampai di resto, di sana sudah lengkap keluarga Baskoro. Ada Oma, Opa, keluarga papa Reno dan mama Catherine lengkap dengan Bintang, keluarga Sebastian.


Dan di pojok, nyempil tuh Firman.


"Wah, aku ditinggalin nih" ujar Langit yang barusan gabung dan duduk di antara Jingga dan Firman.


"Menu kesukaan aku nih" seru Langit saat melihat menu di meja.


"Langit, baru nikah sudah lo tinggalin aja tuh istri kamu? Lo biarin kelaparan lagi" olok papa Reno.


Langit menepuk jidat, "Sori ya yank, aku lupa" bilang Langit tulus kepada sang istri.


Jingga mengangguk.


"Jangan minta enaknya aja" sela mama Catherine.


"Aku kan sudah minta maaf, sori khilaf lupa kalau ada istri...he...he..." kata Langit terkekeh.


"Dad, sakit gigi kah? Kok diam aja?" seru Langit menyela Dad.


Mata bunda mengarah ke Firman yang duduk di depan Mega.


"Wah, ada calon keluarga baru nih" celoteh Langit sembari menengok ke Firman yang duduk di sampingnya.


"Udah mau mantu lagi aja lo Tian" seru Reno.


"Kamu itu harusnya juga begitu Reno, jangan biarin Bintang mainin cewek mulu" kata Opa Baskoro bijak.


Dad Tian berasa dapat angin segar, karena pembelaan sang papa.


"Nah lo, ingat tu apa kata papa" ucap Tian menimpali.


"Harusnya kamu tuh yang gendongin cucu duluan, secara umur lo kan lebih senioran daripada gue" olok Sebastian.


Di acara makan siang itu, Firman menjadi bulan-bulanan keluarga Baskoro.


Mega sampai manyun karena ulah sang Dad dan papa Reno mengospek Firman.


"Langit, kapan jadwal seri selanjutnya?" tanya papa Reno.


"Masih dua minggu lagi" jawab Langit.


"Di mana?" lanjut papa Reno.

__ADS_1


"Amerika Selatan" imbuh Langit.


"Arka pasti habis banyak untuk persiapan semua ini" kata papa Reno lagi.


"Pasti lah. Tapi mau gimana lagi, kalau sudah hobi apapun bisa dilakukan asal hati senang" imbuh Dad Tian.


Obrolan keluarga yang jarang bertemu karena kesibukan masing-masing itu akhirnya merembet ke mana-mana.


Mulai soal politik, hukum atau sekedar gosip artis.


Untung saja Mutia memesan private room untuk acara makan siang ini.


Bahkan Jingga yang sedari tadi diam, kena imbas juga. Olokan untuk segera hamil pun menghampiri diri Jingga.


"Nasib jadi new comer di keluarga Sebastian" keluh Jingga membuat yang lain terbahak.


Firman pun demikian, dirinya harus puas diplonco sama yang lain. Langit, Bintang dan Awan pun saling bahu membahu membuli cowok yang pertama kali berani mendekati Mega.


"Heh, sudah dong. Kasihan Firman. Sedari tadi sampe bingung ngadepin kalian" kata Mega sengit.


"Yeeeiii terserah kita dong, kenapa kak Mega ikutan sewot. Kak Firman aja fine-fine aja. Ya kan kak Firman?" tukas Awan. Firman pun mengangguk. Posisi Firman memanglah serba salah. Dia harus menurut untuk mendapatkan restu dari keluarga cewek yang dipacarinya saat ini.


"Langit, gimana kuliah kamu?" tanya Opa.


"Tinggal nunggu tesis Langit disetujui aja Opa" jawab Langit mulai serius.


"Ingat, kamu sudah menikah. Setelah lulus bantu Dad kamu di Blue Sky. Dunia balap salurkan sebagai hobi. Tapi itu belum cukup untuk masa depan" himbau Opa.


Langit hanya bisa menepuk jidat mendengar Opa yang mulai bicara hal seperti itu lagi.


"Opa, pikiran Langit sedang fokus nyelesain kuliah dulu. Dan tentu saja balapan" tukas Langit.


Siapa bilang jadi pembalap tak punya masa depan.


Nilai kontrak Langit aja di tim nya sekarang sudah setinggi namanya.


Kalau untuk memenuhi kebutuhan Jingga dan lain-lain masih cukup bahkan banyak sisanya.


"Opa, jangan salah ya. Income Langit di dunia balap cukup menjanjikan loh. Seandainya aku dibolehin papa, sekarang aku pasti jadi pesaing terberatnya Langit" seru Bintang.


Alhasil sebuah jitakan papa Reno mendarat di lengannya.


"Suruh Bintang aja Opa, membantu Dad" sela Langit.


"Nantinya akan begitu, cucu-cucu Opa semua harus terlibat di Blue Sky" terang Opa Baskoro.


"Dan kita tak menerima penolakan" sela Oma Cathleen membantu Opa Baskoro.


Membuat para cucu semuanya menjulurkan lidah nya masing-masing.


"Berat memang jadi penerus keluarga Baskoro" imbuh Mega di antara yang lain.


"Jangan jadiin beban, enjoy aja. Kalau tak jadi bagian keluarga Baskoro, mana mungkin kita bisa makan di sini. Ini hanya salah satu contohnya loh. Ya kan Opa?" tanggap Awan dan diacungi jempol oleh sang kakek.


"Tuh, penerus utama sudah mulai bicara. Sebaiknya kita menepi" kata Bintang menimpali.


"Setuju" seru Langit dan Mega bersamaan.


Ponsel Dad Tian berbunyi saat seru-serunya ngobrol.


"Halo Wa" sapa Dad menyapa Dewa.


"Apa? Frans sudah bebas? Hari ini?" tanya Tian menautkan alis.


"Hhmmmm...oke...oke..." Dad Tian mengangguk mendengar penuturan Dewa yang sedang menelponnya.


"Ada kaitan dengan Andre?" seru Dad, membuat Langit menatap Dad Tian yang beranjak dari posisi duduk. Nggak mau mengganggu keluarganya yang tengah ngobrol bersama.


Arah mata Langit masih mengikuti arah Sebastian beranjak.


"Siapa Frans?" tanya Langit dalam benak.


"Frans itu bukannya mantan suami Janetra itu?" sela mama Catherine ke arah Mutia. Dan dijawab anggukan oleh Mutia.


"Ngapain Tian bahas dia lagi sama Dewa?" imbuh mama Catherine.


Mutia mengangkat kedua bahu. Memang dia tak tahu.

__ADS_1


Langit menyusul keberadaan Dad, karena semua yang dibahas Dad adalah tentang kaitan Kenzo dan Andre pastinya.


"Dad" panggil Langit dan membuat Sebastian mengangkat tangannya, memberi tanda agar Langit tak bicara dulu.


Tak lama panggilan Dewa pun berakhir.


Langit menunggu penjelasan Dad Tian, karena bagaimanapun ini berkaitan dengan penculikan Jingga.


"Seorang di masa lalu telah bebas hari ini" bilang Dad.


"Apa dia ada hubungan dengan Andre? Orang yang ditengarai ada kerjasama dengan Kenzo" tanggap Langit.


"Uncle Dewa belum sampai sana penyelidikannya. Ini masih ditelusuri. Karena keterangan Kenzo hanya berhenti pada sosok Andre" kata Dad Tian.


"Kalau begitu belum ada perkembangan. Info yang aku dapat dari uncle Arga juga stop di situ" balas Langit.


"Hhhmmmm... Terus rival kamu di sirkuit itu?" tanya Dad tanpa mengetahui nama nya.


"Daniel?" ucap Langit.


"Iya, siapa itu lah namanya. Apa dia ada dendam pribadi sama kamu. Kok kelihatannya rese banget" kata Dad Tian lugas. Padahal Langit tak pernah cerita sosok Daniel di depan Dad, karena Langit mengira Dad Tian tak begitu minat dengan dunianya yang satu ini. Dunia balapan.


"Itu yang sedang aku buru Dad. Aku belum tahu siapa Daniel yang sebenarnya" jelas Langit.


"Hhhmmm sebaiknya kamu hati-hati saja" saran Dad, yang sekarang nampak sekali wibawanya.


"Baik Dad" jawab Langit. Dan mereka berdua pun kembali gabung dengan yang lain.


.


Hari-hari berikutnya Jingga mulai disibukkan dengan jadwal kuliah dan juga konsultasi dengan psikolog.


Sampai sekarang Jingga kadang masih ada rasa takut untuk naik mobil. Apalagi jika berpapasan dengan sebuah kendaraan besar di jalan. Jingga masih saja berteriak sembari menutup mata.


Bayangan kecelakaan saat itu tampak nyata di bayangan Jingga.


Makanya oleh Langit, Jingga tetap diantar ke seorang psikolog seminggu dua kali.


Langit juga memberitahu Jingga, jika Kenzo sekarang berada di penjara karena ulahnya menculik Jingga.


Dalam perjalanan ke kampus, sengaja Langit ngajakin ngobrol Jingga agar Jingga tak berfokus ke jalanan yang dapat menimbulkan rasa traumanya kapan saja.


"Sayang, kamu tahu nggak teman Kenzo yang bernama Andre?" tanya Langit.


"Andre?" Jingga menautkan alis mencoba mengingatnya.


"Kok enggak kenal ya" lanjut Jingga yang tak menemukan nama Andre di antara teman Kenzo.


"Emang kenapa?" tanya balik Jingga.


"Enggak, cuman nanya aja kok" imbuh Langit tanpa menjelaskan. Kalau Jingga tak kenal, otomatis untuk mengorek sosok Andre dari bibir istrinya tak akan didapat oleh Langit.


Tring... Tring... Beberapa notif pesan masuk ponsel Langit.


"Yank, pulangnya nungguin aku jemput aja. Aku bentar doang ketemu dosen pembimbing" ulas Langit.


"Oke" setuju Jingga. Tak lupa Jingga cium punggung tangan sang suami sebagai tanda bakti seorang istri. Langit pun demikian, mengecup kening istri sesaat Jingga sebelum turun.


Langit pun mencuri kesempatan ******* bibir Jingga saat istrinya lengah.


"Issshhhh, perih kak. Semalam aja sampai kebas rasanya" keluh Jingga.


"Tapi nagih kan?" tanggap Langit membuat pipi Jingga merona tanpa sapuan blush on.


"Jadi turun nggak nih? Apa hari ini absen aja. Kita reka ulang adegan semalam" kata Langit mesum.


"Apaan sih? Katanya aku suruh masuk, biar bisa lulus barengan Mega?" ujar Jingga dengan sewot.


"Ha...ha....Oke sayang. Kuliah yang serius. Dan jangan tengok kanan kiri. Cukup suami kamu nih yang paling cakep. Oke!" tukas Langit.


"Ih, es balok ku sudah mulai mencair sekarang" tanggap Jingga.


"Es balok?" timpal Langit tanpa tahu apa yang dibahas Jingga.


"Iya, es balok. Es balok milikku. Es balok yang sekarang terlalu banyak bicara" seru Jingga dan berlalu keluar dari mobil.


Langit menepuk jidatnya lagi. "Yang dimaksud es balok ternyata aku" gumam Langit sembari melajukan mobil keluar area kampus Jingga.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading


__ADS_2