
"Bun, mau buat acara apa? Garden party?" tanya Mega yang barusan gabung ke dapur dan melihat bunda tengah sibuk di sana bersama para asisten rumah tangga.
Bunda yang selalu saja menghandel semua menu makanan yang akan tersaji di meja makan.
"Enggak. Hanya ngumpul-ngumpul aja sama teman Dad" jelas bunda.
"Horeee...pasti ada aunty Tania kan?" sorak Mega.
Mutia hanya geleng kepala. Padahal waktu hamil Mega, Mutia nggak sama sekali ngebenci Tania. Cuman saat itu Sebastian sering mengolok Tania yang saat itu belum nikah.
Karakter Mega sekarang nggak jauh beda dengan Tania, suka bar-bar dan cenderung apa adanya kalau ngomong. Iya kalau yang diajak bicara bisa nerima, kalau enggak?
"Jam berapa bun acaranya?" tanya Mega antusias.
"Nggak tahu tuh Dad, smoga saja nggak hujan ntar malam" tukas Mutia.
"Kan tinggal mindahin aja bun ke dalam mansion" seru Mega.
"Nggak asyik lah. Bakar-bakar kok di dalam rumah" balas Mutia.
"Dad ke mana?" Mega tengok kanan kiri mencari keberadaan Dad Tian.
"Dimana lagi jam segini? Pasti di ruang kerja" beritahu bunda.
"Oke bun, aku mau nyusulin Dad" ujar Mega sembari berlarian kecil mencari Dad nya.
"Heemmmm" imbuh Mutia.
Belum hilang Mega dari pandangan, kali ini muncul Awan menghampiri bunda.
"Bun, malam ini aku keluar sama Arditya boleh?" tanya Awan. Arditya adalah putra sulung pasangan pengacara kondang Tania Fahira dan dokter Arka Danendra yang tinggalnya saling bersebelahan mansionnya dengan keluarga Sebastian.
"Mau ke mana?" telisik Mutia.
"Bentar aja bun" imbuh Awan.
"Iya, bentar nya mau ke mana Awan?" tandas Mutia.
"Nonton" jawab Awan ngejelasin.
"Boleh, asal ada sopir yang nganterin" bilang bunda.
"Wah, nggak seru dong bun. Udah gedhe gini masak dianterin. Ayolah bun" rengek Awan.
"Dianterin atau nggak pergi sama sekali" tegas Mutia dan tak mau dibantah. Awan balik kanan dengan menghentakkan kaki, sudah seperti mau baris saja.
"Jam segini kok Langit belum datang. Kemana ya dia?" gumam Mutia.
"Biasanya kalau telat dia pasti ngabarin. Ah paling bentar lagi juga pulang" kata Mutia bermonolog. Mutia yang berusia di pertengahan empat puluhan, terlihat awet muda dan tetap saja tidak hilang keanggunannya.
"Sayang, sudah siap semua kah?" tanya Sebastian sang suami menghampiri Mutia.
"Heemmmm" jawab Mutia mengangguk.
__ADS_1
"Oh ya Dad, apa Langit ngabarin kalau pulang telat?" sambung tanya Mutia.
"Enggak, paling bentar lagi dia sampai" jawab Tian yang pikirannya sama dengan Mutia.
Tak menunggu lama, keluarga Arka Danendra datang ke mansion Sebastian.
Bahkan Tania langsung aja gabung sama Mutia.
"Aunty Tania" sapa Mega dari belakang bunda dan Tania yang duduk bersebelahan.
"Hai Mega, apa kabar?" seru Tania menimpali.
"Dimana Disty?" Mega menanyakan putri kedua aunty Tania yang usianya hanya terpaut setahun lebih muda daripada Awan.
"Tuh" tunjuk Tania ke arah Disty yang merangkul manja ke Uncle Arka.
"Ih, kayak anak TK aja" olok Mega ke Disty.
"Biarin" bilang Disty.
Sementara Awan dan Ditya jangan ditanya lagi mereka berdua, pasti langsung aja ngendon di kamar Awan. Mau apalagi selain main game online. Mereka berdua setype dan sehobi. Awan dan Ditya tak jadi pergi karena tak mau dianterin sopir.
Sementara Dad dan Uncle Arka sudah memulai tuh acara bakar-bakarnya, sementara para cewek-cewek hanya duduk menikmati suasana malam di mansion Sebastian.
"Aunty, mau konsul?" sela Mega di antara obrolan bunda dan Tania.
"Issshhh pake acara konsul segala. Cowok?" tanya Tania penasaran.
"Amit-amit cowok. Bukan lah" kata Mega menimpali.
"Teman aku, kena fitnah di kampus" kata Mega dengan polosnya.
"Terus?" tukas Tania serius.
Mega dan Tania bagai ibu dan anak kala mereka bersama. Mutia sebagai ibu kandungnya saja kadang merasa tersisihkan kala mereka berdua ngobrol bersama.
"Mutia, kau mau ke mana?" tanya Tania karena melihat bunda Mega beranjak.
"Gabung sama bapak-bapak di sana. Daripada dicuekin kalian" jawab Mutia.
"Sekalian main sama Disty" seru Mutia.
Ini mah kebalik dah, Tania bersama Mega sedang Mutia bersama Disty.
Hal itu sering terjadi, kala dua keluarga ini bertemu.
"Katanya mau cerita?" tanya Tania kembali duduk dekat Mega saat selesai ambil minum yang barusan dianterin para asisten rumah tangga keluarga Sebastian.
"Begini Aunty" Mega mulai menceritakan masalah Jingga dengan serius.
"Kasus begitu bisa nggak sih dikenain pasal pencemaran nama baik?" tanya Mega penasaran.
"Hhmmm, kalau mau belajar. Buka aja peraturan tentang hukum pidana" suruh Tania.
__ADS_1
"Buku tebal itu?" tukas Mega membuat Tania heran. Bagaimana mahasiswi jurusan hukum merasa aneh dengan buku-buku tebal tentang pasal-pasal itu.
"Jangan bilang kamu tak pernah baca buku itu?" sela Tania dan dijawab gelengan kepala Mega.
Jawaban Mega membuat Tania tepuk jidat.
"Heh, Tian. Sepertinya putri kamu yang cantik ini salah jurusan dech" olok Tania kepada Dad Tian.
"Enak aja. Itu sudah sesuai passion Mega yang ingin ikutin jejak kamu tuh" sahut Dad Tian.
"Jurusan hukum, baca buku pasal-pasal aja belum pernah loh. Kalau tak percaya tanya aja Mega nih" sambung Tania sembari merangkul Mega yang ada di dekatnya.
"Ya biarin aja. Apa kamu lupa bagaimana kamu dulu" gantian Sebastian pun mengolok sahabat masa muda nya itu.
"Issshhhh...kita benar-benar seia sekata dech aunty" Mega pun ikut menambahkan olokan Dad nya kepada aunty Tania membuat yang lain pun ikutan ketawa.
Mutia tiba-tiba saja teringat Langit yang sampai sekarang belum pulang.
"Dad, coba hubungin kak Langit dech. Kok belum nyampe" pinta Mutia dengan menghampiri Sebastian yang melanjutkan obrolan dengan Arka, suami Tania.
"Hhemmm, baiklah" jawab Sebastian menimpali.
"Langit sudah gedhe bro. Ngapain juga diintai terus-terusan" olok Arka yang berada dekat Sebastian.
"Jangan bilang begitu, jadi berasa tua kita" kata Sebastian. Arka pun terbahak mendengar celetukan Sebastian.
"Dan benar juga apa yang kamu bilang Arka. Memang kadang perlu juga kasih kelonggaran buat anak-anak kita" sambung Sebastian yang akhirnya menaruh ponsel dan tak jadi menghubungi Langit.
Sebastian yakin Langit sudah dewasa, sudah tahu mana yang baik dan tidak. Bahkan dirinya saat seusia Langit lebih bengal kelakuannya daripada putranya itu.
Mega meneruskan sesi curhatnya kepada Tania.
"Selesaikan dulu secara baik-baik. Agar tidak terjadi hal-hal tak diinginkan. Apalagi kalian juga masih mahasiswa, masa depan masih panjang yang harus diraih" saran Tania bijak.
"Tapi kalau memang susah, sekalian ringkus saja Mega. Kamu tahu kan maksud Aunty?" imbuh Tania.
"Tentu" ujar Mega mengiyakan. Tania yang selalu tak pandang bulu kepada siapa saja apalagi jika meyakini kalau kebenaran ada di pihaknya.
"Aunty, kapan-kapan aku ajakin Jingga ketemu sama aunty ya? Jingga ngefans banget sama aunty" sambung Mega.
"Ha...ha...tentu lah. Siapa sih yang nggak ngefans sama aunty" kata Tania bercanda.
Pengacara dengan follower terbanyak di negeri ini. Yang senior aja sekarang kalah tenar dengan pengacara yang satu ini.
Mega baru balik kamar kala teringat akan ponsel yang tertinggal di kamar.
"Aunty, jangan balik dulu. Aku mau ambil ponsel. Mau pamer nih sama temen aku. Kalau aku sedang bersama pengacara terkenal" seru Mega sambil berlalu untuk mengambil ponsel. Rencana untuk pamer ke Jingga dan Firman tinggal selangkah lagi.
Tapi saat membuka ponsel ada tujuh puluh lima panggilan tak terjawab dari Langit dan tiga puluhan panggilan tak terjawab dari Bintang.
"Kurang kerjaan sekali sih mereka" gerutu Mega sambil menekan nomor Langit dari layar sentuh ponselnya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
to be continued, happy reading