Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Private Akun


__ADS_3

Jingga mulai menggerakkan badan yang terasa berat.


Jingga memicingkan mata karena silau akan cahaya ruangan.


Jingga hendak memijit kepalanya yang masih terasa pusing. Tapi pergelangan tangannya serasa sulit bergerak.


"Kenapa badan aku sulit banget bergerak?" gumam Jingga.


Dengan mata sedikit masih silau, Jingga memandangi sekeliling.


"Hai Jingga, apa kabar?" seru laki-laki di depannya dengan jarak lumayan jauh.


"Siapa kamu?" hardik Jingga.


"Hei, galak amat. Gini-gini aku tunangan kamu loh" bilangnya.


"Jangan ngaku-ngaku" seru Jingga.


"Hah, ngaku-ngaku? Aku Kenzo, apa kamu lupa? Aku tunangan kamu Jingga" jelas Kenzo dan mendekati Jingga.


Jingga memang lupa siapa laki-laki di hadapannya ini.


Dengan mode siaga, Jingga menatap tajam ke arah Kenzo.


"Hei, biasa aja. Aku tak akan ngapa-ngapain kamu" seru Kenzo.


"Kalau tak ngapa-ngapain, kenapa lo ikat gue seperti ini?" tandas Jingga yang baru menyadari jika gerak terbatasnya karena kaki dan tangannya yang terikat.


"Apa kamu benar lupa Jingga? Aku Kenzo, anaknya om Wawan. Teman dekat ayah Pramono" seru Kenzo.


Siapa dia. Bagaimana dia bisa tahu nama ayahku. Batin Jingga.


"Jelas saja aku tahu. Kita tinggal sekomplek. Kamu itu tunangan ku Jingga" tegas Kenzo.


"Kalau lo beneran tunangan gue. Lantas dimana lo saat aku terbaring sakit selama ini?" ucap Jingga masih belum mempercayai ucapan Kenzo.


"Karena aku dilarang oleh Langit dan keluarganya itu. Dia lah yang sebenarnya jahat Jingga. Dia berusaha memanfaatkan kondisi kamu untuk memisahkan kita. Anak buahnya juga yang menghadang aku, saat aku akan menengok dan nungguin kamu" jelas Kenzo yang memanfaatkan situasi saat memori Jingga belum pulih sepenuhnya.


"Nggak mungkin. Kak Langit dan keluarganya sangat baik padaku. Jangan ngaku-ngaku kamu" elak Jingga atas penjelasan Kenzo.


Kenzo pun keluar ruangan membiarkan Jingga sendiri.


"Enak saja mau mengadu domba, emang siapa dia?" gerutu Jingga dalam hati.


Tak menunggu lama Kenzo balik ke ruangan di mana Jingga berada.


"Kalau kamu tak percaya, nih aku tunjukin" seru Kenzo.


Dia membuka layar ponsel dan menunjukkan di saat dirinya dan Jingga tunangan.


"Nih, ada ayah Pramono juga kan?" tunjuk Kenzo ke arah foto yang menunjukkan ayah dan mama duduk bersandingan dengan kedua orang tua Kenzo.


"Kurang bukti apa coba?" tukas Kenzo.

__ADS_1


Jingga terdiam. Kalau memang aku beneran tunangan sama cowok ini, kenapa aku tak ingat apapun. Batin Jingga bermonolog.


Aku harus racuni otak Jingga terus menerus, agar dia yakin jika akulah tunangan dia. Niat jahat Kenzo terus saja bersemayam.


"Bukti lo memang sudah ada, tapi selama aku tak ingat gue nggak bakal percaya" tukas Jingga.


"Mana lo ingat, otak lo kan sudah diracuni Langit selama lo koma" ujar Kenzo menimpali.


Nggak mungkin kak Langit melakukan hal sekeji itu. Batin Jingga menolak ucapan Kenzo.


Lagian kalau memang benar dia tunangan gue, pasti yang aku ingat saat aku sadar pasti lah cowok ini. Jingga masih saja menolak kenyataan yang disuguhkan Kenzo.


"Masih tak percaya? Besok aku ajakin ke rumahku. Ketemu dengan ayah sama ibuku" bilang Kenzo.


Akan sangat mudah bagi Kenzo untuk terus meracuni Jingga dengan kenyataan-kenyataan yang terlupa oleh memori nya. Apalagi ada ayah dan ibu nya yang juga sangat menginginkan Jingga menjadi pendamping Kenzo.


"Bisa buka ikatan gue" pinta Jingga dengan nada halus.


"Tapi lo harus janji, tak akan melarikan diri" Kenzo menimpali. Jingga pun mengangguk.


"Oke" jawab Jingga.


Kenzo membuka ikatan tali di pergelangan kaki dan tangan Jingga.


Oleh Kenzo, Jingga dibawa ke kontrakannya. Dan besok langsung akan dibawa pulang ke rumah orang tuanya. Karena kontrakannya dirasa Kenzo sebagai tempat ternyaman bagi Jingga. Kenzo tak tega seperti penculik lain, yang biasanya membawa tangkapan di sebuah gudang tua.


Kesepakatannya dengan Andre akan dia batalkan sepihak. Yang penting bagi dirinya sekarang adalah mendapatkan Jingga sebagai tujuan akhirnya.


.


Dad Tian dan Dewa dibuat kalang kabut, karena sampai sekarang belum bisa mendetek keberadaan Jingga.


Mencari Jingga sekarang, bagai mencari jarum di tumpukan jerami. Belum ada petunjuk sama sekali.


"Gimana ini Wa, kira-kira pihak yang paling bisa dicurigai?" seru Dad Tian di kursi kebesarannya.


Dewa masih memikirkan sesuatu.


"Apa mungkin keluarga calon mertua yang gagal menjadikan Jingga menantu tuan?" ujar Dewa.


"Melihat rekam jejak keluarganya sih, aku rasa itu tak mungkin" seru Tian.


"Ya kita harus pikirkan segala macam kemungkinan bos" terang Dewa.


"Bisa jadi pihak yang tak kita curigai, malah jadi pelaku utama" analisa Dewa.


Sebastian manggut-manggut mengerti akan perkataan Dewa.


Salah satu anak buah mereka mendekat ke keduanya dan menunjukkan sebuah video.


"Apa ini? Kalian ini kurang kerjaan ya?" celoteh Dewa mulai emosi. Karena sedari siang tak ada yang becus jagain Jingga.


Sementara Sebastian memperhatikan video yang ditunjukkan.

__ADS_1


"Ini orang yang sama" tegasnya.


"Benar tuan. Yang cewek saya dapat dari share-share an tuan Dewa tadi siang. Sementara yang cowok saya dapat dari akun sosmed seseorang" jelas anak buah itu sopan dan serius.


"Akunnya siapa?" tukas Dewa mulai tahu arah maksud yang disampaikan.


"Akun seseorang yang bernama Ken" terang nya.


"Tapi akun itu sepertinya diprivat" lanjutnya.


"Oke, makasih atas info yang kamu dapat" seru Dewa.


Orang itu menjauh dari Sebastian dan Dewa.


Tak lama panggilan Arka masuk ke ponsel Tian.


"Arka? Apa dia kamu info hilangnya Jingga?" dijawab gelengan Dewa.


"Barangkali aja mau nanya yang lain" bilang Dewa.


"Terus? Apa Langit juga tahu? Aku tadi sudah ngelarang istri aku untuk memberitahunya terlebih dahulu. Apalagi Langit butuh konsentrasi tinggi untuk perlombaan besok Minggu" ujar Tian.


"Lo angkat dulu tuh panggilan dari Arka. Barangkali bukan ngebahas Jingga" tukas Dewa.


Belum juga terangkat panggilan dari Arka sudah mati duluan.


Dewa masih serius menscrol akun orang yang bernama Ken itu.


Kalau untuk hal seperti itu, asisten Bara si Iwan adalah jagonya.


Dewa mengirim pesan pribadi kepada Iwan, meminta tolong secara khusus untuk melihat akun itu.


Sementara Sebastian menelpon balik Arka Danendra.


"Halo, Bang Arka" sapa Sebastian kepada kakak kelasnya itu.


"Helo, ada apa dengan Jingga. Apa benar dia hilang dari rumah sakit? Kenapa lo diam aja" tukas Arka sengit.


"Apa dengan lo diam, masalah cepat teratasi?" Sebastian malah mendapatkan ceramah dari Arka, suami Tania sahabat Tian.


"Darimana lo tahu?" sela Sebastian.


"Nggak usah tanya aku tahu darimana. Dalam dua hari Jingga harus segera ditemukan, kalau kita tak ingin berakhir dengan kekalahan Langit" tandas Arka.


"Apa maksud lo bang. Aku juga sedang usaha ini" kata Tian mulai naik nada suaranya.


"Aku sudah tahu siapa dalangnya. Makanya aku suruh lo segera tuntasin. Apa perlu aku ikut gerak?" sambung Arka membuat Sebastian menaikkan salah satu alisnya.


"Kejar orang bernama Kenzo sampai dapat" Arka mengatakannya dengan penuh keyakinan.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2