Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Drama dengan Dad


__ADS_3

Langit kembali menjemput Jingga sesuai waktu yang telah ditentukan.


Hingga melihat Jingga yang masih asyik makan bulatan tepung yang dikasih dengan saos tomat plus saos sambal itu.


"Bawa makanan apa itu? Sehat nggak sih?" tanya Langit saat sang istri baru saja masuk ke mobil.


"He...he... Sehat kok yank. Tapi yang mau diet ya nggak usah, ini kan bahannya tepung" jelas Jingga.


"Nggak usah banyak-banyak. Ingat ada makhluk kecil yang juga butuh asupan gizi di dalam sini" kata Langit dengan mengelus mesra perut sang istri.


"Heemmmm, tapi ini memang enak" tukas Jingga.


"Ya nggak papa, abisin aja tuh makanan" suruh Langit.


"Abis ini mau makan di mana?" tanya Langit.


"Pulang aja lho yank" ajak Jingga.


"Emang ada makanan di rumah" tanya Langit yang sempat melihat tak ada makanan pagi tadi di meja makan. Bahkan mereka tadi pagi hanya makan roti tawar plus segelas susu.


"Hhhmmm apa ya? Makan apa enaknyo?" gumam Jingga nampak sedang berpikir.


Langit tersenyum melihat Jingga yang nampak lucu baginya saat ini.


"Ada coto Makassar nggak ya?" Jingga masih saja bergumam.


Langit masih diam tak komentar.


"Tapi di sini pasti sulit dech" Jingga melanjutkan gumamannya.


"Menu-menu makanan sini tuh aku sudah bosan" tutur Jingga melengkapi.


"Periksa aja yuk? Urusan makan pikir aja ntar" seru Langit.


"Prakteknya apa ya buka siang bolong begini?" ulas Jingga.


"Jangan samakan di semua tempat sayang. Di sini kan punya culture berbeda" terang Langit.


"Kita ke rumah sakit dekat apartemen aja yuukkk" ajak Langit.


"Abis itu kita belanja di swalayan depan rumah sakit" lanjut Langit.


"Belanja?" tanya Jingga yang memang mageran.


"Iya, kita masak aja di rumah. Ntar kita gogling aja dech, menu sehat buat ibu hamil" usul Langit.


Langit membelokkan arah mobil ke sebuah rumah sakit besar di dekat apartemen mereka tinggal.


Setelah bertanya petugas front office, Langit menggandeng sang istri ke bagian obstetri gynekologi.


Seorang wanita yang kalau di Indo bisa disebut bidan menghampiri dan menanyakan tujuan Langit dan Jingga datang.


Tak perlu menunggu lama, Langit dan Jingga sudah duduk manis di hadapan seorang dokter cantik yang sangat humble.


Setelah menanyakan riwayat menstruasi dan juga keluhan Jingga sekarang maka Dokter itu langsung saja menyilahkan Jingga untuk naik ke tempat pemeriksaan.


Sebuah monitor terlihat menghadap ke arah Langit dan juga Jingga.


Dengan cekatan sang dokter memeriksa lewat probe USG yang bergerak di perut bawah Jingga.


Kehamilan yang masih awal, tentunya sang dokter harus memastikan dengan jelas.


Langit cukup lega setelah melihat calon anaknya meski itu masih sebiji kedelai, karena umur kehamilan Jingga masih berkisar enam mingguan.


Dokter itu menjelaskan juga, jika saat menikah pas sekali dengan masa subur Jingga.


Jadi begitu berhubungan, maka Jingga langsung pregnant. Itulah ulasan dokter yang memeriksa Jingga.


Langit tersenyum puas dan dengan semangat membeli obat yang diresepkan oleh dokter untuk Jingga.


"Jadi belanja? Tapi aku mager yank" seru Jingga saat mereka berdua tengah antri ambil obat.


"Aku yang masak aja dech. Kan dokter tadi bilang kalau sebaiknya makanan yang diolah sendiri" terang Langit.


"Emang bisa?" celetuk Jingga tak percaya.


"Kan bisa lihat tutorial yank" elak Langit.


"Nggak segampang itu ya" bilang Jingga.


"Beli aja lah kak" usul Jingga yang nggak mau ribet.


"Di resto masakan Indo aja. Aku ingin beli sayur bayam aja" kata Jingga.


"Hah? Itu harus putar balik lumayan jauh yank" seru Langit, karena masih ingat beberapa resto yang dishare oleh Keenan semalam.


"Kakak tahu? Lokasinya?" tanya Jingga.


"Tahulah" bilang Langit.


Ini anak apa sengaja ngerjain calon Dad nya ini ya? Sudah tahu berada di negara orang tapi maunya semua menu nusantara. Seleranya nasional banget. Batin Langit.


Langit menuruti apa yang diminta sang istri meski harus menempuh perjalanan hampir satu jam untuk pulang pergi. Apalagi Jingga juga menghendaki makan di apartemen aja.


"Tambahi telur mata sapi ya?" tanya Langit.


"Hhemmm" Jingga mengangguk.


Saat mereka berdua makan, ponsel Langit bergetar. Ada Dad Tian calling.


"Eh, panjang umur Dad. Baru aja mau ditelpon, malah sudah nelpon duluan" kata Langit.


Jingga lebih sibuk dengan sayur bayam yang berasa segar di mulut bumil itu.


"Halo Dad" sapa Langit.


"Sedang apa kalian? Sibuk? Sampai lupa kasih kabar ke Dad atau bunda" seru Dad di panggilan video itu.


'Wah pasti ini kerjaan uncle Arga nih yang lebih dulu kasih tahu kabar gembira nya' batin Langit.


"Sori Dad, padahal kita sudah berencana nelponin Dad sama bunda habis makan ini. Tapi keduluan sama Dad" alasan Langit.


"Alasan klasik" ujar Dad mencibir.


"Beneran Dad. Nih lihat" arah kamera Langit dibalik yang sedang melihatkan menu makan di meja.


"Menu nusantara semua?" celetuk Dad.


"Iya Jingga maunya itu" jawab Langit.


"Tuh yang ada di ujung meja tadi apaan?" tanya Dad yang matanya selalu jeli dan detail terhadap hal kecil.


Buku periksa kecil yang ada di ujung meja pun tak luput dari penglihatan netra nya.


"He...he...kuselesaikan makan dulu. Abis ini kutelponin Dad dech" bilang Langit dan keburu menutup panggilan Dad.


Langit tak mau dicerca pertanyaan. Karena menurut Langit, Dad Tian dan bunda pasti sudah dapat info dari soulmate nya.


"Kok malah ditutup?" tanya Jingga.


"Pasti Dad marah karena kita tak ngabarin kehamilan kamu. Dan Dad pasti sudah tahu dari uncle Arga" bilang Langit.


"Dad marah karena bukan kita yang kasih kabar. Dad pasti mengira kita melupakan Dad sama bunda" lanjut Langit.


"Sebegitunya?" tanya Jingga heran.


"Heeeemmmm Dad maunya jadi yang pertama di kasih tahu sayang" kata Langit.


"Lah, yang lain kan juga belum tahu sayang? Mega, Firman belum aku kasih tahu juga" ujar Jingga.


"He...he...tapi seluruh tim ku sudah tahu kabar bahagia ini. Terutama uncle Arga" kata Langit tersipu karena ketahuan.

__ADS_1


"Ntar kita minta maaf aja ke Dad" bilang Jingga.


Langit menggaruk kepala kasar.


Drama dengan Dad Tian pasti tak semudah yang dibayangkan. Minta maaf bisa langsung selesai begitu saja. Pasti ada tebusan yang harus dipenuhi Langit untuk mendapatkan maaf dari Dad.


"Halo Dad" sapa Langit sehalus mungkin. Langit menelpon Dad sesuai waktu yang dibicarakan tadi, selesai makan.


"Sudah selesai makan kamu?" tanya Dad ketus.


Jingga yang ikutan dengar saja ikutan ciut nyalinya.


Dad Tian sunggah mengerikan kalau marah begini. Batin Jingga.


Padahal di belakang Dad, bunda sedang cekikikan meski tak bersuara.


Suaminya ini tetap sama, tak tanggung-tanggung jika ingin ngerjain anaknya kali ini.


"Sudah Dad, barusan" jawab Langit.


"Dad...." panggil Langit.


"Apa?" kata Dad Tian masih saja ketus.


"Langit minta maaf dech. Bukan maksud Langit tak mau kasih kabar ke Dad, tapi timingnya aja yang belum pas" Langit mulai menjelaskan kronologi.


"Saat sampai, aku belum kasih kabar karena di situ pasti dini hari. Makanya kutunda hari ini. Tapi aku berpikir, sekalian aja kasih kabar Dad setelah semua jelas" lanjut Langit.


"Apa nya yang jelas?" tukas Dad Tian.


"Hasil pemeriksaan lah" ujar Langit.


"Mana!!!" nada Dad masih saja galak.


Giliran Jingga yang menunjukkan, dan arah kamera ponsel Langit terfokus ke hasil print out pemeriksaan tadi.


Mutia pun ikutan melihat. Calon Opa dan Oma itu saling memeluk.


"Dad, sudah jelas belum?" tanya Langit.


Dan sebelum kamera berpindah ke layar depan, Mutia sudah duduk kembali di belakang Dad Tian.


"Dad, aku minta maaf dech. Bukan maksud Langit menomor duakan Dad" kata Langit menghiba.


"Tapi tetap saja lo salah karena nggak kasih kabar Dad duluan" bilang Dad Tian.


"Kan barusan aku minta maaf Dad" Langit menimpalim


"Aku maafkan, tapi ada syaratnya" kata Dad.


Benar tebakan Langit tadi. Kalau Dad nya tak semudah yang dibayangkan untuk memaafkan.


"Apa Dad?" tukas Langit.


Dad Tian tersenyum penuh kelicikan. Mutia di belakangnya tertawa kecil.


"Langit, tanggung jawab lo semakin besar sekarang. Karena ada calon cucu Dad di perut istri kamu, maka mulai bulan ini kamu harus urus perusahaan anak cabang Blue Sky yang ada di London" jelas Dad Tian dan Langit hanya bisa menepuk jidat.


"Dad, tapi itu anak aku" tukas Langit.


"Cucu Dad" seru Tian tak kalah sengit.


"Issshhh Dad nggak seru. Masak anak ku mau didominasi juga" sungut Langit.


"Nggak ada penolakan" tegas Dad. Langit semakin bersungut.


Hanya ini cara satu-satunya memaksa Langit untuk konsen ke perusahaan.


Anak cabang yang dibeli Sebastian saat Langit baru saja ketrima kuliah di sana. Tentu saja semuanya dipersiapkan untuk anak pertama yang sepertinya lebih betah tinggal di London itu.


Dan sekarang Langit sudah siap untuk menerima tampuk manajemen di sana.


"Gimana? Jangan mau disebut anak durhaka lo" imbuh Dad Tian.


Sementara Dad Tian menahan senyum kemenangannya.


"Tapi tetap mau kan? Jangan harapkan Dad memberi maaf, jika kamu tolak tawaran Dad ini. Ingat tanggung jawab kamu Langit" ulang Dad jelas.


"Iya...iya..." kata Langit mengiyakan meski dengan rasa berat.


"Mulai besok kamu bisa datang ke sana" suruh Dad.


"Bulan depan saja Dad" Langit mencoba menawar.


"No" tolak tegas Dad Tian.


"Oke, tapi Dad harus janji juga" tukas Langit.


"Apa?"


"Tiap bulan, aku pasti beberapa hari ijin. Dan Dad tak boleh menolak itu" seru Langit.


"Lima hari?" tanya Dad.


"Seminggu minimal" jelas Langit.


"Dad, ini kopinya" sela Mutia di antara obrolan suami dan anak itu.


"Bundaaaaa..." panggil Langit antusias saat dengar suara bunda di panggilan nya.


"Haaiiii...." Mutia pun ikut menampakkan wajah di layar ponsel Dad.


Langit dan Jingga merasa senang.


"Bunda sudah tahu kan?" tanya Langit dan Jingga bersamaan.


"Iya, selamat. Semoga Jingga dan bayinya sehat selalu" doa Mutia untuk mereka berdua.


"Aamiin" tukas Langit dan Jingga bersamaan.


Obrolan bertambah seru saat Dad mengajak serta Mega.


"Mega, nggak kasih ucapan selamat buat kakakmu ini" kata Langit saat Mega masih sibuk menata buku di meja.


"Oh iya kak, selamat ya atas kemenangan kakak. Masih bertahan di posisi pertama loh kak" seru Mega yang belum tahu kabar akan kehamilan Jingga.


Kembali Langit memutar arah kamera untuk menunjukkan kembali hasil tes pack dan hasil USG.


Mega terlonjak riang, "Wah calon keponakan gue sudah hadir aja di perutnya Jingga" bilang Mega.


"Kalian ini kenapa sih? Yang ada di perut Jingga itu anakku" Langit tak mau kalah.


"Masalah? Enggak kan? Kan benar juga itu calon cucu Dad, dan calon keponakan Mega" sela bunda Mutia.


"Yeeeiiii..."Dad dan Mega kompak, merasa senang mendapat pembelaan bunda tentu saja.


"Kak, Jingga ada keluhan apa?" tanya Mega ke arah Jingga.


"Mager sama malas makan" tukas Jingga menjawab Mega.


"Itu mah nggak hamil pun lo udah begitu Jingga" olok Mega.


"Nah kalau sekarang makin parah" sambung Langit ikutan tertawa.


"Ya nggak papa, kan hamil nya masih muda. Bawa badan aja malas, apalagi kalau mual nya berlebih ditambahi pusing" bela bunda Mutia.


"I love you bunda" tukas Jingga karena bunda selalu siap menjadi tamengnya.


"Issshhh anak bunda tuh Jingga atau Kak Langit sih?" sungut Mega.


"Kalian semua lah anak bunda" timpal Mutia.

__ADS_1


"Langit, jangan lupa janji kamu. Mulai besok masuk ke perusahaan" sela Dad Tian.


"Dad, besok jadwal kuliah" Langit masih saja ngeles.


"Tesis kamu aja dapat nilai sempurna. Ngapain lagi kamu ke kampus? Tebar pesona?" seru Dad Tian.


Jingga melongo. Dad kok tahu suaminya dapat nilai bagus untuk tesisnya.


"Nggak usah heran, mata Dad Tian tuh ada di mana-mana" sela Mega yang menyadari Jingga heran dengan ucapan Dad Tian.


"Ha...ha...anak pintar. Makanya jangan bohongin Dad ya. Bilang belajar, tapi nyatanya ngemall tak jelas" kata Dad ke Mega.


"Yaelah Dad, seminggu sekali juga perlu itu. Healing kalau anak muda sekarang bilang" alesan Mega.


"Healing terus, kapan selesai tuh kuliah?" imbuh Dad.


"Semester depan juga udah mau selesai" jelas Mega.


"Siapa teman kamu namanya? Yang kerja di tempat Tania?" tanya Dad pura-pura lupa.


Padahal tanpa sepengatahuan Mega, Dad Tian sudah menelusuri siapa Firman, asal-usul, karakter dan semuanya. Termasuk silsilah keluarga.


Dengan bantuan Tania, Dad Tian juga membantu Firman untuk membuka biro hukum sendiri dengan bimbingan Tania tentu saja.


Dad Tian pasti tak mau anaknya terlantar selepas menikah. Semua orang tua pasti kebanyakan mempunyai pola pikir sama dengan Dad Tian.


"Jingga, jangan lupa vitamin dan semuanya ya?" pesan bunda.


"Oke bun" jawab Jingga.


"Kamu ngidam apa saja Jingga? Sudah ngerjain kakak belum?" seru Mega.


"Menu nusantara sejati" sela Langit.


"Mulai karedok, cilok, nasi padang, dan yang batal tadi apa yank?" Langit sampai lupa namanya.


"Coto Makassar" imbuh Jingga.


"Ha...ha...produk dalam negeri punya" Mega terbahak.


"Nggak lah, proses buatnya kan di sini" ujar Langit tak terima.


"Tapi tetap saja lokal kak" Mega meneruskan tawa.


"Terus dapat semua nggak? Pasti kakak pusing dech, menu nusantara saat ada di negeri orang...ha...ha..." ujar Mega.


"Jingga, kalau masih banyak keluhan mendingan cuti dulu kuliah kamu" saran Dad.


Jingga pun menolak, "Aku ingin cepat selesai Dad. Kemarin kan sudah ambil cuti" bilang Jingga.


"Dad ini gimana sih, bukannya nyemangatin malah nyuruh cuti" sela Mega.


"Ya nggak papa. Paling cuman mundur aja lulus kuliahnya" tukas Dad Tian.


"Ya nggak gitu kali Dad. Kalau sudah ada yang digendongin, ntar bawaannya malas. Karena sudah ada si kecil untuk hiburan" kata bijak bunda keluar.


Dad Tian diam tak bersuara lagi.


"Bener tuh apa kata bunda" ucap Mega.


"Heleh, sok tau lo. Nikah aja belum" canda Langit ke sang adik.


"Tunggu tanggal mainnya...wekkkk" Mega tak terima diolok sang kakak.


"Emang Firman berani ngelamar lo? Lihat tatapan Dad aja sudah buat Firman balik kanan" lanjut Langit.


"Dad Tian loh bijak, baik, berwibawa. Pasti tak akan melakukan itu. Ya kan Dad?" rajuk Mega ke Dad Tian.


"Lihat-lihat dulu" jawaban Dad membuat Langit terbahak.


"Issshhhh, Dad sama aja sama kakak" Mega dibuat sewot oleh kedua laki-laki di keluarga Sebastian. Padahal Awan belum ikutan tuh.


"Plissss Dad, hanya Firman tuh yang berani ngedeketin putri Dad yang cantik ini" rajuk Mega kembali.


"Bucin tuh" olok Langit.


"Biarin. Emang kakak kagak?" seru Mega menatap Langit.


"Dad, ada pengawal wanita nggak?" tanya Langit.


"Untuk apa?" sela Dad.


"Buat Jingga, dua minggu lagi Langit kan pergi lagi" kata Langit.


"Bunda aja yang ke sana" kata bunda menyela.


"Sekalian bun, pengawal wanita nya. Hati tenang juga" ujar Langit.


"Yeeiiii, bilang aja kakak tak rela Jingga dijagain laki lain" olok Mega.


"Situ yang lebih bucin, kenapa gue yang kena" sungut Mega kembali.


"Langit, jangan lupa untuk besok" Dad Tian mengingatkan kembali.


"Issshhh, Dad ini selalu saja begitu. Pemaksa" jawab Langit sewot.


"Ingat ada calon cucu Dad di perut istri kamu" imbuh Dad Tian yang selalu menyebut calon cucu daripada calon anak putranya.


Obrolan keluarga kecil yang terpisah jarak dan waktu itu berakhir setelah ngobrol hampir dua jam lamanya. Saling bercanda, saling mengolok dan tentu saja tetap saling menyayangi.


Ponsel Langit kembali berdering, dan saat ini ada nama Adnan calling.


Sementara Jingga kembali ke meja makan, karena rasa lapar kembali datang.


"Mau kemana?" tanya Langit saat Jingga beranjak dan dirinya akan menerima panggilan Adnan.


"Makan" jawab singkat Jingga.


Langit masih terbengong, melihat Jingga yang nampak santai melenggang ke ruang makan yang jadi satu dengan dapur apartemen itu.


Kembali fokus Langit ke ponsel yang masih saja berbunyi.


"Halo Adnan" sapa Langit pada akhirnya.


"Lama amat sih kak ngangkatnya" seru Adnan.


"Nih, aku sama Keenan" beritahunya.


"Saben hari kan sudah begitu, Keenan-Adnan" tukas Langit.


"Ada apa?" tanya Langit.


"Meneruskan yang kemarin kak, kapan bisa ketemu?" tanya Adnan menegaskan.


"Hhhmmm, kalau besok sore gimana?" tanya balik Langit.


"Sore? Kenapa nggak pagi aja, setelah kakak nganterin Jingga?" tukas Adnan.


"Sori gue nggak bisa, gue pagi musti ke perusahaan sekarang" beritahu Langit.


"Cie....cie.... Mau jadi suami yang bertanggung jawab nih kayaknya" canda Keenan.


"Harus dong" sela Langit.


"Oke, deal kak. Besok sore. Tapi jangan di tempat nya Keenan. Bosen gue ke situ mulu" ujar Adnan.


"Terserah aja, aku ngikut aja. Besok sore kabarin tempatnya" pesan Langit.


"Oke" panggilan itu terputus begitu saja.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


To be continued, happy reading


__ADS_2