
Sampai Langit terbangun pun belum ada telepon balik dari Jingga.
Langit tengah bersiap untuk acara yang digawangi oleh uncle Arga, pesta kemenangan tim yang ketiga kalinya.
Langit coba cek ponsel, tak ada pesan atau telpon balik sang istri.
"Aku telpon Agus yang ngawal Jingga aja" gumam Langit.
Tut....tut...tut....
"Halo Tuan" sapa Agus. Tentu nya kaget mendapat telpon langsung dari tuan muda nya.
"Agus, posisi?" tanya Langit.
"Di depan pintu apartemen tuan" jawab nya.
"Apa keadaan istriku baik-baik saja? Aku telpon sedari siang nggak bisa" jelas Langit.
Kelihatannya Agus bingung menjawab juga.
"Ma...ma...maaf tuan, apa diijinkan saya masuk ke dalam? Saya belum melihat keberadaan nyonya muda keluar" terang Agus.
Langit berpikir sejenak.
"Oke kamu masuk aja! Tapi awas jangan lihat hal yang tak perlu kau lihat" posesif Langit mulai nampak.
Dan saat ini Langit terpikir untuk mencari pengawal cewek aja buat sang istri.
"Baik tuan. Saya akan masuk. Tuan nggak usah matiin panggilannya" pinta Agus agar tak dicurigai.
"Di mana Nyonya muda, ponselnya ada di sini" bilang Agus mengarahkan kamera ponsel ke arah nakas.
"Kamu ketuk pintu kamar utama aja, bisa jadi Jingga di sana. Sekalian aja bawa ponselnya dan serahkan" pinta Langit.
"Baik tuan" jawab Agus.
"Nyonya...Nyonya...Nyonya muda" panggil Agus.
"Keras dikit dong" kata Langit.
Nanti keras dikit dikira ngagetin. Jadi serba salah. Itu yang jadi pikiran Agus.
Di dalam Jingga mulai membuka mata, "Siapa ya yang memanggil? Apa mungkin suamiku mau kasih surprise" pikir Jingga.
Jingga langsung beranjak, lupa akan semua keluhannya yang tadi.
"Nyonya...Nyonya...." panggilan itu kembali terdengar.
Jingga menautkan alis, "Nyonya?" gumamnya.
Kalau begitu bukan suamiku dong. Batin Jingga.
Atau pak Agus? Pikir Jingga kembali.
"Nyonya...." panggilan itu terus saja berulang.
"Iya" jawab Jingga saat menampakkan batang hidungnya.
"Tuan muda nyariin nyonya. Ini ponsel anda" kata Agus.
"Oke, makasih pak" seru Jingga.
Panggilan Langit ke Agus langsung saja terputus dan beralih ke Jingga.
__ADS_1
Belum lama ponsel terpegang, sudah bergetar aja tuh ponsel.
"Halo...halo...sayang..." sapa Jingga dan klik, panggilan terputus lagi.
"Kok putus?" Jingga melihat ke arah ponsel.
"Yaachhhh pakai low bat segala" ujar Jingga dan kembali masuk kamar mencari charger ponsel miliknya.
Tak sampai lima menit, panggilan kembali tersambung.
"Kok dimatiin?" tanya Langit begitu saja saat panggilannya terjeda.
"Bukan matiin tapi low bat" bilang Jingga.
"Apa ada sesuatu? Apa ada keluhan? Apa masih mager? Lemas kah? Atau gimana keluhannya sekarang?" berondong tanya diucapkan Langit.
"Apaan sih? Hanya pusing dan mulut pahit aja" jawab Jingga.
"Dan inginnya rebahan aja sayang" imbuh Jingga.
"Sudah makan belum? Jangan rebahan aja? Jadi kepikiran nih aku di sini" kata Langit.
"Iya, ntar aku makan. Sekarang belum lapar" terang Jingga.
"Plissss lah yank, makan. Kasihan tuh, biar ada asupan untuk yang mulai tumbuh di perut" kata Langit.
"Iya...yank" seru Jingga.
"Kalau iya, berdiri lah. Dan ke meja makan" suruh Langit.
"Nggak percayaan amat sih sama istri" ujar Jingga sewot.
"Bukan nggak percaya, tapi ini sifatnya memaksa. Ha...ha..." Langit menambahi.
"Tuh, ada nya cuman cemilan yank" bilang Jingga.
"Minta tolong Agus suruh belikan" kata Langit.
"Ogah, pake menunggu lagi" rajuk Jingga.
"Aku ingin karedok sayang" ucap Jingga.
Langit menepuk jidat, "Terus dapat darimana sayang" ulasnya.
Di kota yang dia tinggali sekarang, mana ada makanan seperti itu. Suatu hal yang mustahil.
"Buat salad aja gimana yank? Kan ada tuh sayuran di kulkas" kata Langit.
"Gimana ya? Beda yank" tolak Jingga.
Langit sampai mengacak rambutnya kasar, andai dia di dekat Jingga saat ini. Akan dia usahakan untuk mencarikan apa yang diminta sang istri.
"Kalau karedoknya nunggu aku datang besok gimana?" tanya Langit.
"Tapi inginnya sekarang" keluh Jingga.
"Ya udah, aku suruhan Agus aja. Semoga saja dapat" ucap Langit.
"Aku kabarin Agus dulu. Sementara kamu makan apa yang ada aja dulu" imbuh Langit dengan sabar.
"Es batu sepertinya segar" Jingga seperti baru dapat ide baru.
Diambilnya es batu dan dikunyahnya tuh es, "Hhhmmm segar sekali" ucap Jingga bagai menemukan sebongkah berlian.
__ADS_1
Langit dibuatnya melongo, "Apa gigi kamu nggak linu?" tanya nya heran dan dijawab gelengan Jingga.
Terdengar ketukan dari arah pintu kamar Langit.
Ternyata utusan uncle Arga yang datang.
"Tuan Langit, anda ditunggu tuan Arga di sana" kata nya menyampampaikan pesan.
"Baiklah, tunggu sebentar" jawab Langit.
Langit beralih kembali ke panggilannya.
"Sayang, aku sudah ditungguin uncle Arga. Habis ini Agus kutelpon" beritahu Langit.
"Bye" tukas Jingga dengan tetap asyik mengunyah es batu.
Langit bergegas ke ruang pesta sambil menelpon Agus untuk mencarikan Jingga karedok.
Tinggal Agus yang pusing sekarang, mencarikan apa yang diingini oleh sang nyonya muda.
"Lama amat" seru Arga menyapa Langit yang baru datang.
"Sori uncle. Biasa Jingga ingin karedok" urai Langit.
"Ha...ha...kalau di Sunda mah banyak. Lantas apa nggak repot atuh nyari di tempat Jingga yang sekarang" tukas uncle.
"Makanya... Barusan kusuruh si Agus untuk nyariin" ucap Langit.
"Orang yang kamu suruh pasti pusing tujuh keliling sekarang" Arga pun terbahak.
"Aku malah lebih kasihan ma istriku, jika tak dapat yang diingini" tukas Langit.
"Jiaaahhh, pasti kamu takut anak kamu ileran kan" Arga semakin terbahak.
Langit yang dianggap bagai putranya sendiri. Kini telah dewasa dan akan menjadi seorang ayah juga.
Arga saja bahkan sampe sekarang belum kepikiran untuk menikah.
Mengingat masa kecilnya yang tak begitu indah untuk diingat. Meski kini kedua orang tua kandungnya sudah berkumpul dan menua bersama.
"Uncle, kok melamun sih?" Langit menepuk bahu Arga yang banyak diam sekarang.
"He...he...sedang ngebayangin Dad kamu bentar lagi gendongin cucu" kata Arga menimpali.
"Hhhmmmm benar juga tuh. Opa dan Oma gaul pasti" seloroh Langit.
"Opa rese" sela Arga tergelak.
Arga mengajak Langit untuk melantai, meski sudah bisa ditebak jika Langit akan menolaknya.
Langit versus Sebastian bagai gunung dan pantai...jauh sekali perbedaan mereka.
Langit cenderung lebih pendiam.
"Oh ya, bunda sama Dad sudah kamu kabarin tentang Jingga?" kata Arga.
"Belum, ntar aja kalau sudah sampai London" niat Langit akan ngabarin Dad jika sudah bersama sang istri di rumah aja.
"Hhmmm terserah kamu aja dech"
Langit dan Arga sama-sama menikmati suasana pesta kemenangan seri ketiga ini, sebelum ada jadwal lomba berikutnya yang menanti seluruh anggota tim.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
To be continued, happy reading