Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Kualifikasi


__ADS_3

Satu...dua...tiga....bendera starting telah diangkat. Mobil Langit melesat bak meteor, melewati mulus alur lintasan dengan sangat lancar.


Semua sampai menahan nafas saking cepatnya.


Dengan konsentrasi penuh, Langit melibas setiap kelokan dengan lancar. Bagai melepaskan beban yang selama ini disandangnya.


Pedal gas dia injak sampai batas maksimal.


Sang bos tim, Arka Danendra yang berada di tribun tahu benar perasaan pembalap utamanya kali ini.


Meski dia tak menargetkan Langit untuk menang, tapi melihat performa Langit saat ini tak menutup kemungkinan Langit akan mendapat nomor start yang pertama.


Suasana hati Langit yang tak begitu baik malah tersalur sempurna di lintasan balap. Sebuah energi positif tentunya bagi seluruh tim.


Masih beberapa kali putaran lagi yang harus dibabat habis oleh Langit untuk menentukan urutan start buat besok.


Masih dengan konsentrasi penuh Langit melewati putaran demi putaran yang tersisa.


Tepuk tangan membahana kala mobil Langit melawati garis finis dengan total waktu terbaik di antara pembalap yang lain.


Seluruh anggota tim menyambut meriah saat mobil yang dikemudikan Langit tepat berhenti di depan mereka.


Langit diangkat dan diarak oleh seluruh anggota tim lain.


Mereka senang karena perform Langit sangat luar biasa. Dan menunjukkan effort yang naik signifikan daripada sebelum kecelakaan yang mengharuskan Langit beristirahat beberapa bulan.


"Eh, apaan ini?" celetuk Langit saat tubuhnya diangkat dan dilempar ke udara bersamaan oleh seluruh anggota tim.


"Happy birth Day Langit" teriak semuanya. Membuat Langit tersadar jika hari ini dia ulang tahun. Sekarang Dad Tian pun sama, ulang tahun juga.


Setelah membersihkan diri Langit berusaha menelpon Dad.


Baru panggilan ke tiga, ponsel Dad tersambung.


"Halo kak, ini bunda. Dad sedang di kamar mandi" ternyata bunda yang mengangkat telpon.


"Oh ya bun, mau kasih selamat ulang tahun aja ke Dad" bilang Langit.


"Oke, nanti bunda sampaikan ke Dad. Kalau nggak gitu biar Dad telpon balik" bilang bunda.


"Oke bunda. Love you" ucap Langit.


Kali ini Langit alih mau menelpon Mega yang pastinya sedang di rumah sakit buat nungguin Jingga.


"Halo kakak ku yang paling tampan sedunia. Sukses ya telah dapat start number one" sapa Mega dengan senyum ceria.


"Makasih adikku yang cantik" Langit tersenyum kala melihat Jingga yang terbaring.


"Happy birth day kak. Tuh Jingga juga mau ngucapin ulang tahun loh. Ya kan Jingga?" arah kamera sengaja Mega arahkan ke wajah Jingga yang damai terbaring.


"Makasih Mega, makasih Jingga. Baik-baik ya kalian di sana" Langit mengajak ngobrol Jingga melalui sambungan telpon.


"Jingga, doakan aku. Besok aku akan melewati balapan perdana di musim ini" bilang Langit.


Sebuah pergerakan tangan Jingga kembali dirasakan oleh Mega.


"Kak, tangan Jingga bergerak" seru Mega.


"Benar kah?" tanggap Langit antusias.


Mega mengarahkan kamera ke arah tangan Jingga yang memang bergerak lemah.


Langit tentunya sangat senang akan hal itu.

__ADS_1


"Panggil dokter Mega" suruh Langit.


"Oke kak" terlihat Mega memencet tombol yang ada di tepi ranjang.


Kebetulan yang datang adalah uncle Bara langsung.


"Owh kamu Mega yang nungguin Jingga?" tanyanya.


"Iya nih uncle. Oh ya, ni tadi barusan tangan Jingga bergerak. Hari ini bahkan sudah kedua kalinya" jelas Mega.


"Oke biar aku periksa dulu" ujar Bara.


Semua nampak di pandangan Langit karena panggilan Mega sengaja tak ditutup.


"Uncle, kak Langit mau bicara" seru Mega.


"Loh, emang Langit di mana. Bukannya dia mau balap besok?" jawab uncle Arga.


Mega mengacungkan ponsel.


"Heemmm baiklah" jawab dokter Bara.


Setelah berbasa basi sebentar, kembali Langit menanyakan kondisi Jingga.


Dari pergerakan Jingga diharapkan ada kemajuan yang berarti.


Macam obat yang diberikan Bara pun sudah yang terbaik.


Hanya tinggal menunggu tubuh Jingga merespon saja.


"Baiklah uncle. Terima kasih banyak" kata Langit.


"Sama-sama Langit" kata dokter Bara sekaligus pamitan ke semuanya. Termasuk ke Mega dan Jingga juga.


"Oke kak, sudah dulu ya. Banyakin istirahat biar besok tampil gemilang. Itu tadi yang dibisikin Jingga padaku" canda Mega.


"Bye kak" kata Mega dan langsung menutup panggilan kak Langit daripada kena ceramah malam hari.


Belum juga sempat naruh ponsel di nakas, sudah kembali berdering saja.


"Halo Dad" sapa Langit.


Oleh Dad Tian panggilan dialihkan ke video.


"Halo Nak, selamat ulang tahun. Doa terbaik Dad, bunda dan adik-adik buat kak Langit. We love you Langit" kata Dad Tian.


"Sama Dad, Langit juga ucapin selamat ulang tahun buat Dad. Terima kasih sudah menjadi Dad terbaik buat kami bertiga" suasana melow malah tercipta.


Terdengar ketukan pintu di kamar Langit.


"Bentar Dad, aku buka pintu dulu" pamit Langit dengan tetap mengarahkan kamera ke arahnya.


"Happy birth day to you, happy birth day to you..." lagu selamat ulang tahun membahana di kamar Langit.


Sengaja Awan, Bintang, papa Reno dan mama Catherine datang ke hotel tempat Langit menginap.


Suasana menjadi gaduh, karena di kamar Dad Tian juga terjadi hal yang sama. Bunda, Oma dan Opa juga kasih kejutan buat Dad Tian.


Oleh Langit, Mega diminta ikutan gabung bersama dalam video call.


"Waaahhhh seru nya. Sori Mega sama Jingga barusan gabung. Happy birth day Dad, kak Langit. Aku juga mewakili Jingga loh" ucap Mega dengan ceria.


"Haiiii Jingga, apa kabar? Semua yang di sini kangen padamu lohhhhhh" kata semuanya barengan.

__ADS_1


"Jingga nyenyak tidurnya. Nggak tahu tuh, betah kali dia. Atau jangan-jangan Jingga bercita-cita jadi putri tidur kali ya" olok Mega. Sengaja Mega berkata di dekat telinga Jingga.


"Tiup lilinnya. Tiup lilinnya sekarang juga. Sekarang juga" sela Awan sambil menyodorkan kue ulang tahun mendekat ke kakaknya.


"Bentar. Make a wish Langit" mama Catherine menyela.


Demikian juga Dad Tian juga melakukan hal yang sama.


Keduanya sama terpejam, walau saat ini mereka berpisah tempat. Dan saat yang berbarengan Langit dan Dad Tian meniup lilin.


"Yeeeiiiiii...." tepuk tangan terdengar di ketiga kamar yang berbeda.


Walau di kamar Jingga tak seseru di kamar yang lain, tapi paling nggak Jingga sudah dianggap layaknya keluarga sendiri oleh keluarga besar Baskoro.


.


Sampai saat ini, hampir dua bulan Jingga terbaring di ruang intensif. Tak ada satupun keluarga yang mencari.


Uncle Dewa bahkan sempat mendatangi rumah tempat tinggal Jingga yang kini kosong. Dan berpesan kepada ketua RT setempat jika ada keluarga tuan Pramono datang, dipersilahkan untuk mencari di alamat keluarga Sebastian atau langsung ke rumah sakit tempat Jingga dirawat.


Tapi masih saja nggak ada yang mencari. Dan itu dianggap keluarga Sebastian, Jingga sebatang kara sekarang.


Kemeriahan pesta ulang tahun Langit masih saja berlanjut.


Apalagi sang pemilik tim juga kedatangan anggota keluarganya yang lain.


Ya, aunty Tania dan kedua anaknya Arditya dan Adisty juga nyusul ke hotel tempat mereka menginap.


Arka sengaja menyewa lounge hotel untuk merayakan ulang tahun Langit. Semua anggota tim menyambutnya suka cita.


Arka sengaja membangun kebersamaan mereka lewat ulang tahun Langit.


Anggota tim tang notabene berasal dari beberapa negara.


Dad Tian dan bunda serta Mega hanya bisa melihat kemeriahan pesta yang diadakan untuk Langit lewat panggilan video dari ponsel Awan.


Jingga yang terbaring dengan mata terpejam, entah mendengar atau tidak tapi Mega tetap saja menyertakan dirinya dalam panggilan video itu.


"Jingga, come on. Lihatlah! Banyak cewek-cewek cantik di sekeliling kakak. Apa kamu nggak cemburu" seru Mega sengaja memanasin Jingga.


"Tuh, dengar tidak suara hingar bingar musik tempat pesta. Ntar kalau kak Langit mabuk, terus tak sadar menggendong salah satu cewek di sana" Mega pintar sekali memprovokasi.


Jingga meremas tangan Mega dengan kuat.


"Aawwhhhhh" teriak Mega kaget dengan pergerakan Jingga yang mendadak.


"Kamu cemburu yaaaa???" kembali Mega mengolok Jingga.


"Makanya bangun Jingga, ayo kita susulin kak Langit" tetap saja Mega manas-manasin sahabat yang akan jadi kakak iparnya itu.


Jingga kembali diam tak merespon.


"Yaaachhhh lo ini" terdengar nada kecewa di suara Mega.


Langit yang saat itu berada di tengah hingar bingar pesta ulang tahunnya, tapi pikirannya tetap terfokus dengan Jingga yang berada bersama Mega sekarang.


Arah kamera Awan sengaja berfokus ke Langit yang sedang melamun.


"Tuh lihat, yang ulang tahun mukanya ketekuk terus" suara Awan terdengar bagai orang yang sedang ngeflog.


"Lo cubit aja kakak. Nggak seru diam mulu. Sama kayak yang di sini nih" seru Mega. Gemes melihat keduanya.


Jingga tiba-tiba saja membuka mata.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


__ADS_2