Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Awal Yang Baik


__ADS_3

Langit sudah berada di start terdepan. Dan di belakang Langit ada Daniel di posisi dua.


Daniel benar-benar ingin membuktikan bahwa tim nya yang sekarang layak untuk menjadi pesaing tim Singa Merah.


Bendera start sudah mulai dikibarkan. Para pembalap mulai fokus dengan aba-aba di depan.


Tiga... Dua... Satu... Go...


Mobil-mobil melesat dengan cepat. Penonton di tribun bersorak ikut menjadi saksi seri pertama tahun ini.


Lap demi lap akan mereka lalui. Tantangan demi tantangan, sikut menyikut untuk saling mendahului dengan tujuan mendapatkan podium juara menjadi tujuan akhir para pembalap dan tim.


Langit tetap fokus.


Sampai separoh lap, Langit masih memimpin hingga Arga memerintahkan dirinya untuk masuk pit stop.


"Masuk aja dulu, BBM kamu sudah nipis tuh" perintah Arga.


Langit lah yang ambil pit stop pertama kali, hingga Daniel sekarang yang memimpin di depan.


"Fokus Langit! Go!" teriak Arga saat semua sudah siap.


Sebuah kerjasama yang sangat bagus.


Semua anggota tim bahu-membahu untuk mendapat podium juara seperti biasanya.


Tim Singa Merah harus tetap fokus agar bisa mempertahankan posisi juara umum yang menjadi target mereka di tahun ini.


.


Tania sudah sampai apartemen Langit.


Ditemuinya Mutia yang masih merayu Jingga agar mau dibawa ke rumah sakit.


"Jingga masih enggan,?" tanya Tania dan Mutia pun mengangguk.


"Jingga, apa kamu ingin menyiksa diri kamu sendiri,?" Tania mendekat.


"Apa kamu nggak kasihan sama baby yang di dalam," seru Tania.


"Kamu ini kenapa sih? Datang-datang malah nyerocos saja," tukas Mutia.


"Abis gemes aja lihatin Jingga yang sudah lemas tapi masih nggak mau juga diajakin ke rumah sakit," ulas Tania.


Meski sudah punya putra dan putri menjelang dewasa, tapi gaya somplak Tania tetap saja nggak ditinggalin.


"Jingga sayang, semua demi kebaikan kamu," ucap Mutia.


Di tengah obrolan, dokter keluarga yang diundang oleh Mutia akhirnya datang.


Setelah memeriksa Jingga dengan teliti, "Sebaiknya nyonya Jingga dirawat saja di rumah sakit" saran sang dokter.


"Ini sudah ada tanda awal dehidrasi. Sebaiknya segera saja sebelum lebih parah" lanjut kata dokter.


"Apa sudah masuk ke hiperemesis dok?" sela Tania.


"Betul" dokter itu membenarkan apa kata Tania.

__ADS_1


"Tuh Jingga. Ke rumah sakit ya? Aunty antar dech. Jarang-jarang loh dapat kesempatan dianterin sama lawyer terkenal macam gue," ucap Tania.


Mutia sampai geleng kepala mendengar ucapan sang sahabat.


Jingga juga ikutan tersenyum mendengar kekonyolan aunty Tania.


"Gimana? Mau nggak? Gue nggak kasih tawaran dua kali loh. Gratis lagi," lanjut Tania.


Jingga sampai dibuat terpingkal karena ulah lawyer keren idola Jingga itu.


"Oke, aku mau dech" kata Jingga.


"Nah gitu dong. Sedari tadi kek," ucap Tania.


Dengan semangat Tania memapah Jingga yang memang dalam kondisi lemas.


"Aku buatkan surat pengantarnya nyonya" kata dokter.


"Siap dok" balas Tania menyetujui.


.


Lengan Jingga telah tertancap infus untuk memulihkan tenaga yang habis terkuras karena muntah yang terus menerus.


"Nggak lihatin suami kamu berlaga?" tanya Tania kala Jingga sudah mendapat kamar perawatan.


"Laga...Laga... Emang Langit sedang ikutan silat" sela Mutia.


"Berlaga di lintasan. Salah ya?" lanjut Tania sembari terkekeh.


Mutia pun menyalakan tivi dan mencari chanel olahraga.


"Langit tuh anakku loh" bilang Mutia.


Tania mencibir mendengarnya membuat Mutia tertawa.


Jingga yang melihat interaksi keduanya pun ikutan tertawa.


"Ternyata Aunty lucu juga," kata Jingga.


"Emang aku pelawak?" tukas Tania.


"Pelawak aja kalah saing sama lo" balas Mutia.


"Emang segitunya?" kata Tania tak percaya.


Mutia pun mengangguk.


Obrolan demi obrolan dalam perbincangan mereka. Dan saat mereka berdua menoleh ke arah Jingga didapatinya Jingga telah terlelap.


Tania dan Mutia pun saling pandang.


"Berasa dininabobokkan kali ya?" ulas Tania.


Mutia kembali tertawa, heran dengan Jingga yang malah tertidur saat dirinya dan Tania ngobrol dan berisik tentunya.


"Mungkin Jingga lelah" balas Mutia.

__ADS_1


"Iya kali" Tania kembali fokus ke layar tivi demikian juga dengan Mutia.


.


Di lintasan, Langit fokus Langit masih berpusat pada lap terakhir.


Tadi Langit sempat dua kali ditikung oleh Daniel meski pada akhirnya Langit berhasil mendahului.


Menjelang finis para pembalap seolah melakukan sprint untuk mendapatkan finis yang pertama, demikian juga Langit. Meski kini Langit merasakan mual dan pening yang luar biasa menjelang finis.


Dan.....


Sorak sorai penonton di tribun bergema.


Langit tak mengira jika mendapatkan finis yang pertama kali kembali.


Hanya terpaut dua puluh sentimeter dari moncong mobil Daniel saat posisi finis.


Jika dilihat sekilas, kedua mobil itu seperti finis bersamaan.


Tim Daniel sampai meminta rekaman saat posisi finis.


Dari sana baru bisa dipastikan jika mobil Langit lah yang berada di posisi pertama.


Langit turun dengan terhuyung. Menahan rasa pening yang masih dirasa.


Saat sampai paddock di mana tim nya berkumpul. Langit langsung berlari ke toilet membuat anggota tim heran dengan ulah Langit.


"Kenapa dia?" tanya Arga.


"Nggak tahu tuan" balas yang lain.


Langit kembali masuk toilet saat pengumuman juara dan dirinya dipanggil ke podium.


"Langit.... Langit...." Arga menggedor pintu kamar mandi karena Langit tak kunjung keluar.


"Bentaar uncle" jawab Langit terdengar lemas.


Arga berinisiatif untuk mendobrak pintu toilet karena kuatir dengan keadaan Langit.


Satu... Dua... Tiga... Kaki Arga tinggal sedikit mencapai pintu, tapi keburu dibuka oleh Langit dari dalam.


"Uncle ngapain?" tanya Langit tanpa rasa bersalah saat Arga limbung menahan keseimbangan.


"Dipanggil beberapa kali tuh buat naik podium" seru Arga.


"Badan aku lemas sekali uncle. Uncle wakili aja" mohon Langit.


"Kamu ini kenapa?" muka Langit terlihat pucat di mata Arga.


"Enggak tahu. Di lap terakhir tadi loh, tiba-tiba kepala aku pusing dan perut berasa diaduk" jelas Langit.


"Ya udah istirahat aja dulu. Aku juga sekali-kali ingin naik podium" canda Arga.


Gegap gempita kemenangan Langit tak berbanding lurus dengan kondisinya sekarang.


Langit malah terbaring di ruang kesehatan tim. Sebuah infus tertancap di lengannya.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading


__ADS_2