
Sekembalinya dari latihan, Langit langsung ke ruangan dokter Bara.
Tentu saja untuk konsultasi masalah Jingga.
Langit perlu pertimbangan untuk memberitahu tentang kenyataan yang terjadi pada kedua orang tua Jingga.
Sampai di depan ruangan masih nampak sepi.
"Jangan-jangan uncle belum datang?" gumam Langit.
Padahal tadi dirinya sudah kontrak waktu dengan uncle jam berapa Langit bisa konsultasi.
"Coba kuhubungi aja dech" kata Langit.
Panggilan ketiga belum tersambung. Langit pun termangu. Hendak balik kamar tapi masih ragu akan pertanyaan Jingga.
Tak lama ponsel Langit berdering dan itu dari uncle Bara.
"Sori Langit, uncle di IGD nih. Ada beberapa pasien yang butuh pertolongan. Seumpama ditunda nanti siang nggak papa kan?" bilang uncle sebelum Langit menyapa.
"Oke Uncle, nanti tolong hubungin Langit" jawab Langit.
"Oke Langit" uncle Bara memutus panggilan. Sepertinya uncle sedang benar-benar sibuk sekarang menghadapi pasien-pasien nya.
Terpaksa Langit balik kamar tanpa menunggu pertimbangan dari Bara.
Tatapan Jingga dan Mega didapatinya saat masuk kamar rawat inap.
"Ada apa kalian? Seperti lihat hantu saja" seru Langit.
"Kak, lapar!" bilang Mega.
Langit menepuk jidatnya. Kelakuan adik nya bagai anak taman kanak-kanak saja.
"Kan bisa beli di kantin Mega, gitu aja musti nungguin kakak sih" tukas Langit membuat Mega sewot.
"Tuh, pizza semalam aja utuh tak termakan" lanjut Langit.
Jingga dan Mega menengok ke box pizza yang tergeletak di meja.
"Sudah dingin kak" seru Mega.
"Nih uangnya, beli makan di kantin rumah sakit aja" suruh Langit.
"Yeeiìi...kirain kakak yang belikan" tukas Mega.
"Capek nih kakak" imbuh Langit.
"Biasa aja, nggak usah pake ngegas tuh omongan" kata Mega keluar kamar rawat.
Sekarang Jingga yang masih bertahan menatap Langit.
"Apa?" tanya Langit ganti ke Jingga sepeninggal Mega yang keluar untuk beli makanan.
"Pinjam ponsel. Punya Mega lupa nggak dicharge semalam" tangan Jingga menengadah mengharap pinjaman ponsel dari Langit.
Langit yang tak ingin berdebat, segera menyerahkan ponsel miliknya ke Jingga. Sementara dirinya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Jingga cari nomor kontak yang ada di ponsel Langit.
Karena tak menemukan lewat nama kontak, Jingga menekan nomor ayah Pramono yang sangat dihafal oleh nya.
__ADS_1
Tak ada nada sambung yang terdengar. "Kok aneh sih?" gumam Jingga.
Sudah lima kali dia tekan nomor yang sama. Tetap saja tak ada nada sambung.
Jingga buka aplikasi pesan, dan Jingga cari kontak yang sudah dia simpan di kontak ponsel Langit.
Di sana juga terlihat profil ayah yang sedang tersenyum lebar bersama mama, ada Jingga kecil di tengah-tengahnya.
"Kok aneh, nomor ayah dilihat terakhir kali sudah dua bulan lalu?" gumam Jingga.
"Terus sekarang tak bisa dihubungi??" Jingga mencoba menerka tentang apa yang terjadi.
Sekelebat sebuah truk melintas mendekat ke arahnya membuat Jingga berteriak histeris membuat Langit terkaget saat dirinya keluar dari kamar mandi.
"Jingga, ada apa?" Langit menghampiri Jingga yang terus saja memegang kepalanya.
Langit rengkuh tubuh Jingga. Dipeluknya kembali tubuh ringkih itu untuk menguatkan.
"Kak, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa ada bayangan-bayangan aneh melintas di otak aku?" keluh Jingga.
"Kenapa aku bisa pingsan selama itu?" tanya Jingga.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" barulah Jingga menanyakan semua.
Langit menatap Jingga.
"Apa kamu lupa apa yang terjadi Jingga?" tanya Langit mencari kebenaran di sudut mata Jingga.
Jingga mengangguk lemah.
Belum juga menjawab, terdengar ketukan pintu.
"Ku buka dulu" seru Langit mengurai pelukan.
Ternyata Nanda lah yang datang. Sang fisioterapis menyapa Langit dan Jingga dengan ramah.
"Kak, sudah siap belum dengan jadwal kita pagi ini?" Jingga mengangguk lemah.
"Kak, mukanya kok ditekuk terus sih?" tanya Nanda mencoba mengurai suasana.
Jingga mencoba tersenyum walau terpaksa.
Nanda mulai melakukan tugasnya dengan sigap sambil mengajak ngobrol Jingga.
"Kak, betewe aku masih penasaran loh dengan istana yang kakak ceritain kemarin. Karena aku coba cari di internet nggak nemu juga" kata Nanda karena penasaran.
"Kita sekarang di kota mana sih Nan?" tanya Jingga.
"Menurut kakak kita di mana?" tanya Nanda.
"London" jawab Jingga.
"Ha...ha....kakak pasti ngigau dech. Kita kan ada di ibukota kak" terang Nanda.
"London juga ibukota Nanda" celetuk Jingga menimpali.
Langit hanya mendengarkan interaksi Jingga dangan sang fisioterapis yang dengan telaten membantu Jingga melatih fisiknya.
"Ini ibukota negara kita kak" seru Nanda.
"Jadi aku nggak di luar negeri nih?" tanya Jingga memastikan.
__ADS_1
Nanda pun mengangguk.
Jingga menatap nanar ke arah Langit yang juga sedang menatapnya.
Nanda menutup mulut dengan jari, "Opsss aku salah bicara kah?" batin Nanda.
Karena sudah selesai Nanda pamitan dari ruangan vvip itu.
Tak ada jawaban dari keduanya kala Nanda pamitan untuk yang kedua kalinya.
"Kak, apa maksudnya ini?" keluar juga suara dari mulut Jingga.
"Apa kamu sudah siap jika aku ceritakan semuanya?" tanya balik Langit.
"Kabar buruk kah?" tatap serius Jingga.
"Heemmm" Langit pun mengangguk.
"Kamu ingat saat kita balik bareng dari London?" tanya Langit.
Jingga coba mengingat, tapi tetap saja yang diingat Jingga bahwa dirinya masih di sana. Hanya gelengan lemah Jingga yang didapat oleh Langit.
"Makanya itu aku belum cerita ke kamu, karena memori kamu belum sepenuhnya pulih setelah tersadar dari koma pasca kecelakaan itu" jelas Langit.
"Apa kak? Kecelakaan?" Jingga menunggu jawaban Langit.
"Yaappp" tukas singkat Langit.
Mega masuk begitu saja membawa sekantung makanan yag barusan dibelinya.
"Antrinya lumayan kak" seru Mega tanpa melihat apa yang terjadi dengan kedua orang di kamar itu.
"Eh, ada apa ini?" tanya Mega yang akhirnya melihat ke keduanya karena tak mendengar jawaban dari keduanya saat dirinya bicara.
Dilihatnya Langit dan Jingga yang saling tatap tanpa ada suara.
"Kak?" panggil Mega. Dan barulah Langit menengok ke arahnya.
"Sarapan dulu. Ayo Jingga sekalian. Aku beliin bubur ayam nih buat kamu" seru Mega ke arah Jingga.
"Kenapa kalian begitu baik padaku?" kata Jingga dengan air mata menetes haru.
"Jika hanya ada kalian di sampingku? Apa yang terjadi sebenarnya dengan ayah dan mama ku?" lanjut Jingga.
"Bahkan nomor ayah yang akan aku hubungin pun terakhir dilihat juga sudah dua bulan yang lalu" ucap Jingga dengan mata berkaca-kaca.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Apa kalian berdua tahu semua?" tuntut tanya Jingga ke Langit dan Mega.
Mega tak tega melihat kacaunya kondisi Jingga sekarang.
Dia peluk sahabatnya itu dan malah ikutan menangis.
"Apa yang terjadi Mega? Kenapa aku tak bisa mengingatnya?" Jingga masih saja menyalahkan dirinya sendiri.
"Apa kamu siap jika kak Langit kasih tahu semua yang telah terjadi?" seru Mega.
Jingga mengangguk.
"Meski itu kenyataan yang pahit?" kembali Mega menegaskan. Dan Jingga kembali mengangguk.
Setelah suasana tenang, mereka bertiga saling duduk berhadapan.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading