
Langit kembali menyibukkan diri di lintasan selama menunggu hasil sidang tesis.
Sementara Jingga sudah balik seperti biasa mengikuti kegiatan kuliah dan konsultasi psikolog sesuai jadwal.
Sedikit demi sedikit rasa trauma itu mulai hilang.
Jingga menjadi sosok yang periang kembali.
"Sayang, pagi ini berangkat latihan jam berapa?" tanya Jingga.
"Agak siangan aja. Pagi nungguin telpon dari uncle Arga, mau bahas bersama tentang persiapan minggu depan" bilang Langit saat mereka berdua di meja makan.
"Ada kuliah pagi?" lanjut Langit.
"Agak siangan juga" seru Jingga.
"Ke Keenan dulu yuk, lama kita tak mampir" ajak Langit.
"Baru juga minggu kemarin kita ke sana" ucap Jingga mengulum senyum.
"Bukan gitu, tapi Keenan mau ada sesuatu yang diomongin sama aku" terang Langit.
"Resto Asia? Kalian serius kah?" tukas Jingga menimpali.
"Kalau Keenan minat kenapa enggak" tandas Langit.
Ternyata di balik sikap dingin Langit, ada bakat tersembunyi. Pandai membaca peluang pasar.
"Oke lah, kubersihkan semua dulu" Jingga beranjak dan beberes alat makan yang mereka pakai.
Langit pun sama. Meninggalkan meja makan untuk pergi ke ke ruang kerja untuk meet dengan tim nya. Kalau sudah begitu, bisa betah Langit di sana.
Jingga pun begitu, balik kamar untuk menyiapkan kuliah hari ini.
Tidak tahu kenapa, selama tiga hari terakhir ini bawaannya malas mulu. Kapan lihat bantal dan guling, rasanya ingin langsung memeluknya.
Seperti pagi ini, saat Langit sibuk meet persiapan menjelang seri ke tiga, Jingga kembali merebahkan badan di ranjang yang sekarang menjadi tempat favoritnya.
Tak perlu menunggu lama untuk Jingga sampai nirwana.
Langit yang telah selesai meet, mencari keberadaan sang istri di kamar.
"Yaaacchhhh kok malah tidur sih?" celetuk Langit.
"Yank...yank...jadi kuliah nggak nih?" Langit berusaha membangunkan Jingga yang tidur terlalu nyenyak.
Usaha Langit gagal total, saat Jingga menggelengkan kepala dengan mata tetap terpejam.
"Aku malas sekali yank" suara serak Jingga kedengeran.
"Oke, sekali ini kuijinin bolos. Besok-besok jangan harap" ujar Langit dengan mencubit gemas hidung Jingga yang mancung itu.
Langit yang merasa sudah janji temu dengan Keenan pun pamitan ke Jingga.
"Yank, aku ke tempat Keenan dulu. Mau dibawain apa?" Langit menawari. Tapi tak ada jawaban dari Jingga, karena istrinya sudah sibuk memeluk guling di sampingnya.
"Hhhmmm ya sudah dech. Sepertinya istriku lagi mager" kata Langit mengangkat kedua bahu dan berlalu meninggalkan kamar.
.
Keenan sudah menunggu kedatangan Langit sambil membawa proposal yang telah dirinya siapkan.
Keenan sangat berharap jika Langit akan menyetujui. Bahkan Keenan juga sudah mendapatkan lokasi yang lumayan strategis dengan harga sewa yang tak mahal juga.
"Hai Keenan" sapa Langit.
"Sendirian kak?" tanya Keenan merasa aneh.
"Ha...ha...istriku mager di rumah. Hari ini aja Jingga nggak masuk kuliah" bilang Langit.
"Tumben, biasanya Jingga sosok yang terajin di antara orang yang rajin" celetuk Keenan.
"Tiga hari ini loh, dia malas-malasan" tukas Langit.
"Jangan-jangan Jingga hamil kak" seru Keenan.
Langit menyentil kening Keenan.
"Gue baru nikahin Jingga belum ada tiga minggu tahu" kata Langit terkekeh.
__ADS_1
"Yeeiiii kan bisa aja kak, waktu kalian menikah kemarin Jingga sedang berada pada masa subur" timpal Keenan.
"Betul juga apa kata lo. Tapi masa iya sih secepat itu?" heran Langit.
"Bisa jadi, apalagi kalau kakak sama Jingga kejar tayang melulu" olok Keenan. Langit terdiam, sambil mengingat pertempuran dengan sang istri yang hampir tak pernah absen tiap malam. Bahkan bisa berulang kadang.
Mungkin saja Jingga kelelahan, karena kurang istirahat. Pikir Langit.
"Mana proposal kamu?" tanya Langit dengan topik yang berbeda. Sesuai tujuannya menemui Keenan tadi.
Keenan menyerahkan apa yang diminta oleh Langit, dan oleh Langit bendelan kertas itu pun langsung dibuka.
"Uang sewa nya sudah fix?" tanya Langit.
"Iya kak, kebetulan masa pakai penyewa sebelumnya habis dan tak mau memperpanjang" cerita Keenan.
"Coba lo kasih tahu gue, konsep apa yang ingin lo munculkan?" tanya Langit serius.
Keenan pun mempresentasikan apa yang menjadi visi misinya kepada calon owner resto yang akan dikelolanya olehnya.
"Oke Keenan, pada intinya aku setuju akan proposal yang lo ajukan. Tapi aku masih belum setuju akan konsep menu resto. Apa lo nggak kesulitan mencari koki yang bisa masak seluruh menu dari Asia. Banyak banget" timpal Langit.
"Memang banyak, tapi kan kita jual menu-menu khas yang terkenal aja" jelas Keenan.
Adnan pun ikutan gabung, walau datang belakangan.
"Oke Keenan, deal kita kerjasama. Aku pergi dulu, mau latihan" ucap Langit beranjak.
"Yaelah, gua datang. Kakak malah pergi aja" seru Adnan.
"Boleh ikut kah kak? Lihatin kakak latihan" imbuh Adnan.
"Emang aku pernah ngelarang?" tukas Langit.
"Oke kak, aku ikut. Siapa tahu dikontrak jadi pembalap kedua di tim kakak" canda Adnan.
"Idih maunya. Sudah dapat ijin dari ortu lo" tukas Langit.
"Itu mah gampang kak" seru Adnan.
"Jangan gampang-gampang aja. Restu orang tua itu utama" imbuh Langit.
.
Di tempat latihan, Langit selalu memperlakukannya seperti di lintasan yang sesungguhnya.
Langit tentu saja akan kecewa jika rate waktunya tidak lebih baik dari sebelumnya.
Adnan aja yang melihat di tribun, kagum sekali dengan kemampuan manuver Langit yang bagi Adnan tidak dimiliki oleh pembalap lain.
Langit menepi saat dirasa cukup latihan hari ini.
"Kakak luar biasa" puji Adnan menyambut Langit yang barusan keluar dari mobil nya.
Langit hanya sedikit mangangkat kedua ujung bibirnya.
Saat berjalan ke ruang ganti, ponsel Langit berbunyi.
"Kamu ini kemana aja kak, kalau Dad nggak nelpon apa kamu akan menunggu liburan untuk nelponin Dad" pidato Dad Tian mulai kedengeran tanpa titik koma.
"Sori Dad, Langit kemarin sibuk nyiapin ujian tesis. Dad kan tahu juga" jelas Langit.
"Nih bunda mau bicara sama Jingga" Dad Tian memberi ponsel untuk sang istri.
"Bun, Jingga kan di rumah. Aku sedang latihan nih. Kenapa nggak nelponin Jingga langsung aja?" tanya Langit.
"Belum dijawab sama Jingga kak. Apa Jingga sakit?" tukas bunda.
"Enggak kok bun. Mungkin Jingga masih istirahat sekarang, capek katanya" ucap Langit menimpali.
"Makanya jangan kau hajar terus-terusan tuh Jingga" sela Dad mengolok putranya.
"Ya nggak papa, biar Dad cepat dapat cucu" bilang Langit.
"Dad masih muda, tapi sudah mau dipanggil Opa aja" seru Dad Tian.
Bunda terlihat tertawa menghadapi Dad Tian.
"Kapan berangkat ke Amerika?" tanya bunda.
__ADS_1
"Hari Minggu ini bun" jelas Langit.
"Jingga?" tanya bunda kuatir.
"Nerusin kuliah pastinya. Tapi ya nggak tahu bun, kalau Jingga mau sih sebenarnya kuajak serta" ujar Langit.
"Bunda nggak usah kuatir, kemana Jingga pergi sudah kusiapin pengawal khusus. Meski Jingga juga tak tahu akan keberadaannya" terang Langit.
"Oke sayang. Hati-hati kalian di sana" pesan bunda.
"Oke bun" jawab Langit dan mengakhiri panggilan dari Dad.
Sesuai seperti yang diucapkan ke bunda, Minggu ini Langit tengah bersiap untuk berangkat ke Amerika. Tempat diadakannya seri ketiga tahun ini.
Target Langit saat ini tak muluk-muluk, tapi dia tetap akan melakukan yang terbaik. Jikalau takdir menggariskan Langit untuk naik podium lagi tentunya akan sangat menyenangkan.
"Beneran nggak ikut?" Langit menegaskan kembali, apa benar sang istri tak jadi ikut.
Gelengan penuh keyakinan didapatkan Langit dari seorang Jingga.
"Aku doain dari rumah aja. Sukses untuk kamu yank" kata Jingga.
"Baiklah, aku berangkat dulu. Jaga diri baik-baik. Jika ada orang tak dikenal mendekat, lekas menjauh. Aku tak mau terjadi apa-apa sama kamu selama aku di sana" pesan Langit.
"Siap tuan Langit" canda Jingga menjawab. Tentu saja dengan tawa melengkapi.
Langit yang gemas, mengacak rambut istrinya.
Dengan diantar Jingga sampai bandara, Langit terbang menuju Amerika Selatan.
Sementara anggota tim yang lain, berangkat dari Indo. Titik pertemuan pastinya di negara tempat perlombaan diadakan.
Langit kecup kening Jingga.
"Yank" panggil Langit kembali.
"Jaga diri baik-baik. Jika ada orang tak dikenal mendekat, lekas menjauh. Aku tak mau terjadi apa-apa sama kamu selama aku di sana. Itu kan yang akan kakak ucapkan" gurau Jingga, Langit pun tergelak.
"Hhmmm istriku sudah paham. Kalau begitu tak ada yang perlu aku kuatirkan. Love you sayang" peluk Langit ke tubuh Jingga.
"Love you too" balas Jingga saat mereka berpelukan.
Jingga balik kanan saat tubuh sang suami telah hilang di balik tembok bandara.
Sementara di dalam, Langit berjalan ke kursi tunggu yang ada di sana.
Panggilan uncle Arga terlihat.
Langit pun langsung mengangkat panggilan itu.
"Halo uncle" sapa Langit.
"Lo sudah siap-siap?" tanya uncle.
"Aku di bandara dan bersiap flight" bilang Langit.
"Oke, hati-hati. Kita ketemu di sana" tukas uncle Arga.
Tiba-tiba saja ada yang duduk di sampingnya saat Langit menutup panggilan uncle Arga.
Langit pun menoleh.
"Hai..." sapanya dengan ramah.
Apa iya aku akan terbang bersamanya. Langit pun menepuk jidat.
"Kenapa? Sebal satu pesawat dengan gue? Aku sengaja kali" serunya sembari tertawa lepas.
Langit beranjak saat panggilan untuk masuk segera ke pesawat didengar olehnya.
Langit berada di first class sesuai tiket yang dipesannya.
Dan entah kebetulan atau hal yang disengaja, orang yang menyapanya tadi juga dapat kursi tak jauh dari tempat Langit.
Sial...sial...dia lagi. Gerutu Langit.
Sementara Daniel tersenyum sinis ke arah Langit.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
To be continued, happy reading