Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Terapi Psikis


__ADS_3

Setelah suasana tenang, mereka bertiga saling duduk berhadapan.


Jingga sangat berharap Langit segera menceritakan semua.


Mega hanya sebagai pendukung Jingga.


Terlihat helaan nafas panjang dari Langit.


"Ayo kak" seru Jingga dengan tak sabar.


"Cerita ini akan aku mulai saat kita pulang bareng dari London setelah kamu selesai ujian semester" Langit mulai bercerita.


"Bentar kak, yang aku ingat selama di London aku tinggal di apartemen kakak. Kenapa ya?" tanya Jingga heran.


Kembali Jingga melupakan kenapa dia pindah. Karena saat itu Jingga dibayang-bayangi oleh Kenzo, yang selalu mengikutinya kemanapun dirinya pergi.


"Terus kenapa aku bisa balik bareng kakak?" tanya Jingga kembali.


"Karena kita akan tunangan Jingga. Keluarga di sini sudah menunggu kedatangan kita" jawab Langit.


"Beneran kak, kita mau tunangan?" tanggap Jingga dan dijawab anggukan Langit.


"Apa karena ini kakak selalu setia menungguiku selama sakit?" kembali dijawab anggukan sang pria tampan itu.


"Terus apa yang terjadi?" tanya Jingga penasaran.


"Entah apa yang terjadi setelah kamu bertemu dengan keluarga besar aku di bandara waktu itu. Kita berpisah setelahnya" ujar Langit.


"Aku antar kamu sampai di depan ayah dan mama yang waktu itu menyempatkan menjemput. Meski harus melalui perjalanan yang lumayan panjang. Empat jam untuk sampai ke kota kamu tinggal" lanjut Langit


"Lantas?" kejar Jingga dengan tanya.


"Masih belum ingat juga?" dijawab gelengan Jingga.


"Hingga menjelang dini hari aku mendapat telpon dari nomor tak dikenal yang memberitahukan kamu mengalami kecelakaan" bilang Langit dengan suara berat. Tak berani melanjutkan kata-katanya.


Jingga mulai memahami alur yang diceritakan oleh Langit.


"Jangan teruskan kak, aku bisa menebaknya" kata Jingga terbata.


Air mata sudah antri untuk turun di pipi Jingga.


"Itu lah mengapa ayah dan mama tak menunggui aku di sini kan kak. Apa mereka beneran sudah tiada?" kata Jingga dengan derai air mata. Jingga teringat mimpinya semalam di mana ayah dan mama nya seolah pamitan.


Langit dan Mega terdiam. Tak tega melihat kondisi Jingga.


Jingga kembali memegang kepala yang terasa sakit. Belum bisa menerima kenyataan yang baru diketahuinya. Meski sekelumit ingatan tentang kejadian belum juga diingatnya.


"Jingga...Jingga...." panggil Mega yang melihat Jingga terus saja memegang kepalanya.


"Jingga kenapa kak?" tanya Mega khawatir.


"Aku juga tak tahu" tukas Langit.


Mega menekan tombol samping ranjang untuk memanggil petugas jaga.


Dua orang masuk menghampiri.

__ADS_1


"Ada apa dengan Nona Jingga?" tanya salah satunya.


"Periksa aja kak, Jingga mengeluh sakit kepala" suruh Mega.


Kebetulan dokter Bara datang ke kamar Jingga.


Dokter Bara yang telah berjanji hendak menemui Langit tadi pagi tapi karena masih ada pasien di IGD jadi tertunda.


"Apa yang terjadi Langit?" tanya Bara.


"Jingga barusan tahu apa yang sebenarnya terjadi uncle. Tapi setelahnya dia terus saja memegangi kepalanya" jelas Langit.


"Sus, ambilkan obat" perintah Bara dengan menyebutkan macam obat yang dia minta.


Sebagai dokter penanggung jawab atas perawatan Jingga, Bara mencoba menenangkan Jingga yang nampak histeris sambil menahan sakit kepala yang sangat.


Suster yang disuruh Bara itupun kembali dengan membawa obat-obatan yang diminta Bara dan dengan cekatan mempersiapkan semuanya.


"Ini dok" katanya memberikan kepada Bara.


Bara memasukkan lewat infus untuk menenangkan Jingga.


Tak menunggu lama Jingga terkulai di pelukan Langit.


"Tidurkan aja" suruh Bara.


"Nggak papa?" tukas Langit.


"Dia hanya syok setelah mengetahui semuanya" jelas Bara.


"Kenapa bisa seperti itu uncle?" tanggap Mega.


"Apa salah satunya terjadi kecelakaan itu?" tandas Langit.


"Yaaapppp" tukas Bara menyetujui ucapan Langit.


"Jingga juga lupa dengan mantan tunangannya. Nyatanya dia lupa alasan kenapa dia pindah dari asrama ke apartemen aku" imbuh Langit.


"Padahal alasan dia pindah saat itu karena dibuntuti terus menerus oleh orang itu" sambung Langit.


"Untung aja Jingga nggak lupa kalau kakak calon tunangan dia" sela Mega mengolok Langit.


"Karena itu bukan kesedihan Mega" jawab uncle Bara.


"Iya sih uncle...he..he..." niat hati mengolok kakaknya, tapi sang kakak malah mendapat pembelaan dari uncle Bara.


Jingga kembali tertidur dengan tenang setelah diberi obat-obatan oleh Bara.


"Terus, apa langkah selanjutnya uncle? Nggak akan cukup kan kalau Jingga hanya diberi obat penenang saja?" tanya Langit.


"Betul. Akan aku hadirkan seorang psikolog khusus buat Jingga" kata uncle Bara.


"Psikis Jingga yang harus banyak diterapi" imbuh Bara menjelaskan.


Langit menyetujui nya.


"Besok aku jadwalkan untuk tambahan terapi buat Jingga" seru uncle Bara.

__ADS_1


"Oke uncle. Makasih perhatiannya" bilang Langit.


Bara keluar dari ruang rawat Jingga diikuti oleh kedua suster yang membantunya tadi.


Mega terlihat duduk di samping ranjang mendampingi Jingga yang tengah tertidur dengan tenang.


Kalau melihat seperti itu, Jingga seperti orang yang sehat saja.


"Gimana kak?" tanya Mega.


"Besok Jingga akan mendapatkan terapi psikis dan mentalnya seperti yang dibilang oleh uncle Bara tadi" terang Langit.


"Kak, aku inginnya mendampingi Jingga. Tapi aku besok musti balik Japan" kata Mega.


"Pendidikan kamu juga musti diperhatikan. Besok bunda sudah balik katanya" jawab Langit.


Langit sendiri juga harus pintar bagi waktu untuk dirinya sendiri dan juga untuk Jingga.


Apalagi ini menjelang pertandingan minggu depan.


Bahkan tiga atau empat hari lagi dirinya sudah harus terbang untuk persiapan di sana.


"Kakak juga, harus jaga kondisi. Jingga diperhatikan, persiapan balapan dan juga kuliah kakak yang tinggal secuil itu perlu perhatian juga" kata Mega menasehati kakak nya yang kadang lupa waktu dan kurang istirahat.


Langit hanya mengangguk mendengar ucapan Mega.


"Makan yuk kak? Sampai lupa kalau kita belum sempat sarapan" kata Mega.


"Sarapan yang ketunda" tukas Langit.


Mereka berdua, kakak dan adik itu pun makan nasi kotak yang dibeli oleh Mega di kantin tadi.


"Meski dingin kenapa rasanya enak sekali ya kak?" sela Mega di sela suapan makan.


"Aku tahu kenapa?" ulas Langit.


"Kenapa?" tanggap Mega.


"Karena kelaparan" Langit pun terbahak disusul oleh Mega.


"Lapar itu yang buat makanan semua terasa nikmat" ujar Langit dan Mega pun menyetujui hal itu dengan mengacungkan jempol karena mulutnya penuh makanan.


Hidup sederhana dari para penerus Blue Sky.


.


Sementara itu di tempat lain, Kenzo tengah mondar mandir di kamar tempat dia tinggal.


Beberapa hari menunggu, dirinya belum mendapat kabar dari Andre yang waktu itu berjanji akan segera menghubunginya.


Mau nelpon duluan, Kenzo belum menyimpan nomor Andre.


"Apa aku ke rumah sakit aja ya? Jangan-jangan Jingga sudah dibawa pulang. Akan sangat sulit mencari Jingga jika sudah tidak di rumah sakit" gumam Kenzo.


"Tapi sampai di sana pun apa aku akan bisa masuk? Orang-orang suruhan Blue Sky pasti akan menghadang aku" ragu Kenzo.


Kenzo punya pikiran untuk menyamar.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading


__ADS_2