Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Mimpi Buruk


__ADS_3

"Karena baru pertama kali kaki anda bertemu kembali dengan tanah Nona" ujar Nanda kembali bercanda.


Jingga mulai menapak satu demi satu dengan sangat pelan dan hati-hati.


"Hore...berhasil. Selamat ya kak, besok kita mulai kembali" ujar Nanda menyemangati.


"Siap Nanda" bilang Jingga menimpali.


"Kak, aku pergi dulu. Besok kita jadwal dengan waktu yang sama" pamit Nanda karena masih ada beberapa pasien yang lain dan membutuhkan tenaga Nanda.


"Ok" jawab Jingga penuh semangat.


"Mega, ngapain?" tanya Jingga yang telah kembali posisi baring.


"Loh, petugas yang tadi mana?" Mega mencari keberadaan Nanda sang fisioterapis.


"Balik. Aku kan sudah selesai" terang Jingga.


"Cepet amat ya?" kata Mega menimpali.


"Hampir satu jam Mega, lo bilang cepet? Gue aja capek ngikutin Nanda tadi" seru Jingga.


"Ya musti sabar, namanya juga latihan fisik" tukas Mega.


"Bentar, aku hubungin kak Langit dulu. Ntar lupa lagi" seru Mega.


Tut....tut....tutttt. Panggilan itu belum tersambung juga.


"Emang kak Langit tadi mau ke mana?" sela Jingga.


"Kan tadi bilang mau ke uncle Arga" tukas Mega.


"Mau ngapain ke sana?" tanya Jingga.


"Nggak tahu, paling juga bahas acara balap minggu depan. Mereka kan kalau ketemu yang dibahas nggak jauh-jauh amat dari situ" ulas Mega panjang lebar dan reflek menceritakan semua.


"Balap? Balap apa?" tanya Jingga.


Mega menutup mulut nya yang telah latah mengatakan yang sebenarnya.


"Mega???" Jingga menunggu jawaban Mega dan terus menatap sahabatnya itu.


"Balap mobil" terpaksa Mega menjawab.


"Siapa?" Jingga sepertinya belum teringat tentang kak Langit yang seorang pembalap.


"Kak Langit" Mega meneruskan saja hal yang terlanjur.


"Kak Langit pembalap?" seru Jingga dan dijawab anggukan Mega.


"Baru-baru aja?" tanggap Jingga.


"Sudah lama Jingga. Apa kamu melupakan bagian yang ini?" tanya Mega dan Jingga pun mengangguk.


"Oh ya Mega, sebenarnya ku nih sakit apa sih? Bagaimana aku bisa tidur selama dua bulan? Kalau aku memang pingsan, tapi kok lama sekali?" Jingga mulai banyak bertanya.


Mega mengacak rambutnya yang tak gatal. Bingung dech musti menjawab apa. Kenapa kak Langit nggak datang-datang sih? Gerutu Mega dalam hati.


"Mega. Kok malah melamun sih. Apa kak Langit nggak cerita ke kamu? Kenapa aku bisa pingsan?" tanya Jingga kembali.


"Enggak sih" akhirnya Mega berbohong karena nggak siap dengan jawaban apa yang harus diberikan.


"Aku nanya kak Langit aja ntar" imbuh Jingga.

__ADS_1


Mega merenung. Bagaimana memori Jingga kadang ingat kadang lupa ya?


"Mega, aku pinjem ponsel kamu boleh nggak? Ponsel aku apa rusak ya?" celetuk Jingga.


"Nih" Mega menyodorkan ponsel nya.


"Nama ayahku kamu simpan dengan nama siapa?" tanya Jingga.


Wah, berabe nih. Jingga pasti mau nelponin ayah nya. Gumam Mega dalam hati.


Kebetulan terdengar notif, yang ternyata baterai ponsel Mega low.


"Kenapa?" sela Jingga.


"He...he...low bat" ujar Mega sambil menunjukkan layar ponsel. Dan benar adanya, baterainya memang tinggal lima persen.


"Wah, payah" celetuk Jingga penuh sesal. Asa nya untuk menelpon ayah Pramono gagal sudah.


"Nanti pinjam kak Langit aja loh Jingga" saran Mega.


"Iya, terpaksa dech nungguin kak Langit" seru Jingga dengan nada kecewa.


Mega menarik nafas panjang.


.


Sementara di bengkel Arga masih terjadi pembicaraan persiapan balap Minggu depan.


"Langit, hati-hati dengan pesaing kamu. Terutama kemarin yang dapat start nomor dua" seru Arka.


"Kenapa? Daniel dari tim Tiger?" tukas Langit.


Padahal tanpa diberitahu uncle Arka pun, Langit sudah tahu sepak terjang Daniel di sirkuit.


Langit belum ada bukti, tapi Daniel adalah pembalap yang akan menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan mutlak.


Kekalahan kemarin pasti akan membuat Daniel menggunakan segala cara agar menang di race berikutnya.


"Yap, itu yang aku maksud" tukas uncle Arka.


"Iya uncle, aku akan hati-hati" bilang Langit.


"Ingat bermain sportif tetap utama. Tapi jangan sungkan melakukan sesuatu jika rival membahayakan kita" sambung uncle Arka.


"Terus apa bedanya kita dengan mereka uncle. Bukannya apapun yang terjadi, sportif tetap yang utama" imbuh Langit.


"Kalau bilang begini, kamu itu memang anaknya Mutia bukan Sebastian...ha...ha... Kalau Sebastian pasti akan babat habis orang-orang yang berani menyenggolnya" kata Arka terbahak.


"Persiapkan dirimu. Besok kita awali latihan" sela Arga.


Tim yang lain pun ikutan bubar, saat rapat ditutup oleh Arga.


Demikian juga Langit, pergi setelah pamitan dengan uncle Arka dan uncle Arga.


"Langit, balik atau ke rumah sakit?" tanya uncle Arga.


"Rumah sakit. Lagian di rumah sepi. Dad sama bunda rapat di Bali" beritahu Langit sembari melangkah keluar.


"Rapat apa rapat tuh?" tukas Arka.


"Nah, aku tak tahu uncle" Langit tertawa menanggapi.


"Aku balik" pamit Langit sekali lagi.

__ADS_1


"Oke, hati-hati" pesan uncle Arga.


"Oke, bye semua" Langit langsung melajukan mobilnya ke arah mall untuk beli pizza pesenan Mega.


Untung aja Langit tak lupa.


Beberapa kali Langit telpon Mega untuk nanyakan varian apa yang diinginkan, tapi tak pernah sambung.


"Issshhh, kenapa nih ponsel Mega? Kok nggak bisa dihubungin sih?" gerutu Langit.


Langit langsung aja ke arah mall daripada keburu tutup tuh outlet pizza.


Balik dari sana, Langit sudah bawa tiga kotak pizza dengan tiga varian.


Terserah Mega mau pilih yang mana, karena Langit juga nggak hafal yang mana kesukaan Mega.


Sampai di rumah sakit, didapatinya kedua gadis sudah lelap aja.


Saat ditengok jam tangannya ternyata memang sudah nunjukin jam sebelas malam.


"Hhhmm lama juga aku di uncle Arga" gumam Langit.


Langit buka ponselnya yang sedari tadi kesilent.


Ada beberapa panggilan dan pesan dari Bintang yang ngajakin hang out dan Langit pun baru sempat membalas.


"Males" itu balasan pesan Langit ke Bintang.


Emoji orang marah pun didapati oleh Langit.


"Ke rumah sakit sana loh, belajar observasi pasien kamu" suruh Langit tetap dalam ketikan.


"Males, gue libur" balas Bintang.


Jingga tiba-tiba mengigau saat Langit tengah berbalas pesan dengan Bintang.


"Ayah, mama...jangan pergi. Ayaaahhhhh!" teriak Jingga dalam tidur. Tak lama Jingga kembali tidur. Peluh banyak di kening Jingga. Langit ambil tisu dan dia usap peluh itu.


Saat Langit akan kembali rebahan di kursi panjang, tiba-tiba Jingga terjingkat dan hendak duduk.


"Jingga, ada apa?" kata Langit kembali mendekat.


"Kak" Jingga langsung saja memeluk Langit dan menangis.


Langit tak berkata apapun. Yang dia lakukan sekarang hanya mengelus puncak kepala Jingga.


"Kak, aku mimpi buruk" ucap Jingga mulai bercerita.


"Mimpi itu bunga tidur Jingga" Langit menimpali.


"Tapi ini berasa nyata banget kak" kata Jingga masih dalam pelukan Langit.


"Kak, pinjam ponsel nya boleh? Aku mau nelpon ayah. Mau mastiin apa ayah baik-baik saja" kata Jingga.


Dengan terpaksa Langit memberikan ponsel miliknya.


Dengan semangat Jingga terima ponsel itu, setelah sore tadi batal telpon ayah karena baterai Mega low bat.


Karena sangat ingin bertukar kabar dengan ayah dan mama nya.


'Aku harus bilang apa Jingga?' batin Langit.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


To be continued, happy reading


__ADS_2