
Beberapa mahasiswa yang lewat pun menjadi salah paham karena nya.
Jingga yang beberapa hari terakhir menjadi trending topik seakan malah dipojokkan dengan situasi seperti ini. Seakan kesalahan ada di pihak Jingga.
Jingga meninggalkan begitu saja Rima yang nangis sesenggukan. Jengah juga melihat Rima yang entah serius dalam tangis atau hanya akting itu.
Saat Jingga berjalan menuju kelas nya pak Hakam, semakin banyak mahasiswa yang mencibirnya.
Dan apa yang diprediksikan Jingga benar terjadi, pak Hakam sudah menunggunya di depan kelas.
Kali ini Mega dan Firman sudah duduk manis di bangku depan sendiri.
"Alasan apa lagi yang akan kamu pakai?" seru pak Hakam.
"Nggak ada alasan, saya mengaku salah pak" ujar Jingga.
"Kok nyerah? Mana pembelaan kamu?" tukas pak Hakam laiknya hakim di persidangan.
"Saya nggak ada uang untuk bayar kuasa hukum" jawab Jingga yang sekarang berperan sebagai terdakwa karena datang telat di mata kuliah pak Hakam.
"Karena mengaku salah dan tak ada pembelaan, silahkan berdiri depan kelas sesuai vonis kamu hari ini" jelas pak Hakam.
Jingga melakukan apa yang diperintah pak Hakam karena malas berdebat. Mood Jingga menurun drastis sejak ketemu dengan Rima tadi.
Berita tentang Jingga bagai bola panas yang menyebar di kampus. Julukan perebut kekasih orang tersemat padanya.
Banyak kasak kusuk tentang Jingga. Padahal sekarang Jingga sedang menikmati hukuman dari pak Hakam.
"Duduklah!" suruh pak Hakam kala jam mengajarnya sudah berjalan separoh lebih.
"Beneran pak? Aku nggak banding loh" tukas Jingga.
"Karena kamu berkelakuan baik, maka sisa hukuman kamu kukurangi hari ini. Duduk" ujar pak Hakam kemudian.
Jingga menaruh pantatnya di kursi kosong yang berada di tengah Mega dan Firman.
"Kamu ini banyak dispensasi dari pak Hakam" seru Firman.
"Coba kalau mahasiswi lain, sudah diusir lo dari kelas pak Hakam" tandas Firman.
Jingga hanya mencibirkan mulutnya.
"Firman" panggil pak Hakam.
"Matih gue. Siap pak" tukas Firman.
"Kamu itu mau jadi penegak hukum atau pembaca berita gosip? Ngobrol mulu" olok pak Hakam.
__ADS_1
"Siap pak, saya mau jadi pengacara saja. Seperti Nyonya Tania Fahira yang sering muncul di tivi itu" seru Firman dengan penuh percaya diri.
"Sekarang jelaskan apa yang aku sampaikan tadi" suruh pak Hakam.
"Wah pak, kalau mau ngerjain aku kira-kira dong pak. Masak nyuruh ngejelasin semua. Pak Hakam aja butuh waktu sejam untuk ngejelasin semua. Aku takut teman-teman bosan pak" ujar Firman ngeles.
"Issh kamu ini. Simpulkan saja!" suruh pak Hakam tak mau dikerjain oleh mahasiswa di depannya ini.
Firman menghela nafas, karena hari ini dirinya ngeblang atas semua yang disampaikan oleh pak Hakam.
"Kuwakilin aja dech pak" sela Jingga daripada menunggu lama Firman yang sedang mikir.
Tanpa menunggu persetujuan, Jingga menjelaskan semua secara singkat dan rinci penjelasan dari pak Hakam hari ini.
"Hemmm, ini pasti efek kamu berdiri di belakang pak Hakam tadi dech" olok Firman.
"Firman" panggil pak Hakam.
"Kan sudah diwakilin Jingga pak" seru Firman.
"Bawain tas bapak sampai ruangan bapak. Itu hukuman kamu karena tak bisa jawab" suruh pak Hakam.
Meski terkenal killer, tapi sebenarnya pak Hakam adalah dosen baik dan tentu saja pintar.
Saat mengantar tas punya pak Hakam, tak sengaja Firman mendengar selentingan dari para mahasiswa yang saling menggunjing tentang Jingga Ariana.
"Jingga...Jingga...apa yang terjadi? Semua orang di kampus ini menjadikanmu seleb dadakan" kata Firman terburu duduk kembali dekat Jingga dan Mega.
"Iya...beneran. Semua orang membicarakan tentang Mega" beritahu Firman.
Mega pun menscrol ponsel kala membuka chat grub.
"Wah, nggak bisa dibiarin nih. Kita harus tuntaskan ini" usul Mega.
"Yap, mereka sudah jadikan Jingga sebagai obyek penderita" kata Firman.
"Nggak usah repot kalian. Ntar kalau ada yang baru, pasti berita tentang aku akan tergeser" seru Jingga.
"Kamu mau dihujat orang sekampus?" tanya Mega menyela.
"Ya enggak sih" Jingga terkekeh untuk menyembunyikan kekalutannya.
Tring....tring....tring...Banyak sekali pesan masuk ke ponsel Jingga.
"Tumben ponsel lo laris?" tanya Mega. Jingga hanya mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu.
Jingga buka, banyak nomor tak dikenal masuk.
__ADS_1
"Kok banyak sekali? Nomor tak dikenal lagi" gumam Jingga.
"Siapa?" sela Mega.
"Nggak tahu. Nih nggak bernama semua" Jingga menunjukkan layar ponsel ke Mega dan Firman.
Baru melihat salah satu chat aja, Jingga dibuat kaget setelah membacanya.
"Tarif sekali main kamu berapa? Katanya lo open bo" ketik salah satu pesan.
"What? Apa aku tak salah baca nih?" pekik Jingga.
Mega pun merebut ponsel dan ikut membaca.
"Ini berita sudah nggak bener Jingga, musti dilurusin" seru Mega.
"Dengan apa?" tatap Jingga mengharapkan saran.
"Jumpa pers" jawab Mega.
"Kita ini bukan seperti keluarga kamu Mega. Kita ini hanya remahan roti" sela Firman tak setuju dengan usulan Mega.
Mega nampak memikirkan sesuatu.
"Hemmmm aku ada ide. Kita konsul aja ke Aunty Tania" serunya tiba-tiba.
"Tania Fahira? Pengacara terkenal itu?" tukas Firman antusias.
Mega mengiyakan pertanyaan Firman.
Tapi sejenak kemudian, badan Firman berasa lemas. Membayangkan biaya konsul per jam berapa jika berhadapan dengan pengacara kesohor itu.
"Ngapain lo?" tanya Mega yang melihat Firman lemas.
"Bayangin biaya untuk konsul nyonya Tania" bilang Firman.
"Otak lo itu isinya uang mulu" ejek Mega.
"Aunty Tania bukan orang seperti itu" bela Mega.
"Gimana Jingga? Mau nggak ketemu dengan Aunty" saran Mega.
"Boleh dech, kapan lagi bisa ketemu dengan pengacara terkenal" setuju Jingga.
"Tapi apa nggak mengganggu waktu nyonya Tania. Ini kan hanya masalah sepele baginya" ragu Jingga.
"Aunty Tania baik kok. Nilai aja ntar kalau ketemu" bilang Mega seakan mempromokan Tania. Padahal tanpa dipromosikan, istri dari dokter Arka Danendra itu sudah terkenal dan malang melintang di dunia hukum. Sesuai jurusan yang diambil mereka bertiga. Jingga, Mega dan Firman.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading