Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Daniel dan Frans


__ADS_3

Langit membuka chat-chat yang masuk sesaat setelah menepikan mobil yang dibawanya.


Sebuah gambar wanita yang sangat dicintai Langit dikirimkan oleh seseorang tak dikenal.


"Apa maksudnya ini?" gumam Langit bermonolog.


"Kenapa foto Jingga yang dikirim? Apa selama ini Jingga ada yang ngikutin?" lanjut Langit bergumam.


"Background gambar Jingga sengaja diblur nih, kurang jelas banget foto ini didapat di mana" ujar Langit.


"Apa aku taruh pengawal aja. Biar bisa ngawasin Jingga dari jauh" seru Langit.


"Kalau lihat foto Jingga, gambar ini pasti diambil belum lama" analisa Langit.


Tak lama kemudian, Langit menghubungi seseorang. Kepada orang itu Langit meminta untuk segera berangkat ke kampus Jingga, menjadi pengawal Jingga disaat jangkauan Langit terbatas ke sana.


Pesan berikutnya Langit buka. Ada pesan dari Keenan.


"Kak, kita ketemuan hari ini. Ada yang ingin aku sampaikan sama Adnan" ketik Keenan.


"Oke, kita ketemuan aja di kampus nya Jingga" balas Langit sekalian memberitahu jam berapa sebaiknya mereka bertemu. Dan disetujui oleh Keenan.


Selanjutnya Langit mengirim pesan ke sang istri untuk hati-hati kepada siapa pun terutama orang tak dikenal.


"Iye" balas Jingga singkat dan menambah emoji love untuk sang suami.


Langit tersenyum simpul membacanya.


Mobil kembali Langit lajukan ke arah kampus yang memang berbeda dengan kampus Jingga.


Hanya keluarga berada yang berani masuk ke kampus sana.


Langit sudah bertemu dosen yang selama ini membimbingnya untuk bicara kapan sidang tesis diagendakan.


"Jangan minggu depan Sir" tolak Langit.


"You ini mahasiswa, berani-beraninya menolak jadwal yang aku berikan" seru dosen itu dengan canda.


"Minggu depan dan depannya aku sibuk sir, tau sendiri lah" ucap Langit.


"Persiapan nge-race?" tanya dosen dan dijawab anggukan Langit.


"Oke, kalau begitu akhir minggu ini siapkan dirimu untuk maju" tegas dosen itu membuat mata Langit membelalak.


"Cepat sekali?" seru Langit.


"Daripada kamu olor-olor waktunya, mendingan dimajukan saja. Aku rasa kamu siap untuk itu" ujar sang dosen tanpa mau dibantah lagi.


"Hampir satu semester loh, waktu kamu terbuang sia-sia. Bukannya kamu harusnya wisuda musim semester kemarin" lanjut sang dosen yang sangat dekat dengan Langit itu.


"Iya sih" tukas Langit sembari garuk kepala.


"Sir, kalau diluluskan. Ntar kubonusin tiket gratis nonton balapan aku dech" imbuh Langit.


"Mau nyogok dosen kamu ini???" telisik bapak dosen.


Langit pun terkekeh.


"Oke, akhir minggu ini aja dech. Daripada waktu lomba aku ada tanggungan" akhirnya Langit menyetujui saran dosennya.


Hanya perlu waktu tak lebih setengah jam untuk bertemu dosen.


Langit berniat kembali ke kampus Jingga.


Selama menunggu sang istri selesai mata kuliahnya. Langit akan bertemu dengan Keenan dan Adnan di kampus sana.


Langit hubungin Keenan kalau lah dirinya sudah otewe menuju kampus nya Jingga dan langsung dijawab oleh Keenan. Kebetulan Keenan hari ini ambil cuti kerja, sehingga saat bertemu nanti dia tak buru-buru.


Di kantin kampus Jingga kini mereka bertiga duduk di sana.


Banyak pasang mata mengarah ke ketiga cowok tampan itu.

__ADS_1


Apalagi ada Langit di sana. Mayoritas pandangan para cewek fokus ke Langit.


"Keenan, kalau bersama kak Langit. Pastilah kita kalah pamor" seru Adnan.


Belum juga Keenan menjawab, beberapa cewek menghambur ke arah mereka. Tentu saja untuk minta tanda tangan.


Keenan dan Adnan hanya bisa tepuk jidat, sementara Langit tak mengira jika keberadaannya di kampus Jingga masih dikenali juga oleh para fans nya.


Ajang pertemuan mereka akhirnya tak ada pembicaraan serius, karena Langit malah sibuk foto bersama dan membubuhkan tanda tangan.


Sementara Keenan dan Adnan berperan layaknya asisten dan bodyguard.


Jingga yang barusan keluar kelas dan hendak beli minum di kantin, memandang ke arah kerumunan itu.


"Ada apaan sih itu?" tanya Jingga ke teman yang kebetulan berasal dari negara yang sama dengan Jingga.


"Tuh, ada pembalap yang masuk kampus. Nggak tahu tuh kenapa dia ada di sini. Nyasar atau bagaimana?" ulas teman Jingga itu.


'Jangan-jangan kak Langit?' tanya Jingga dalam hati.


'Tapi kok dia sudah di sini aja? Bukannya tadi mau ketemu dengan dosen pembimbing?' gumam Jingga.


"Heh Jingga, sepertinya pembalap itu ada gebetan di sini dech" seru teman Jingga lagi.


Jingga hanya menanggapi dengan senyuman.


Jingga mendekat dan ternyata tak meleset perkiraannya.


Dilihatnya Langit tengah sibuk jumpa fans.


Keenan yang melihat kedatangan Jingga, segera membisikkan sesuatu ke Langit.


Langit pun mendongak ke atas dan tatapan mereka berdua saling bertemu.


Jingga nampak manyun melihat Langit yang tengah dikerubutin para fans cantiknya.


Langit tersenyum ke arah Jingga.


Asisten dan pengawal dadakan itu bekerja dengan laiknya orang profesional.


Langit menghampiri Jingga.


"Kita ke tempat Keenan aja" bisik Langit ke Jingga.


"Aku masih satu mata kuliah" timpal Jingga.


"Nggak usah masuk aja, daripada aku nungguin di sini tapi suasana tak kondusif" bilang Langit.


"Padahal ada yang mau aku bicarain serius dengan mereka berdua" tatapan Langit mengarah ke Keenan dan Adnan.


"Aku ambil tas sama buku aku dulu dech" ujar Jingga.


"Nggak usah, kita langsung aja" Langit dengan seenaknya menggandeng tangan sang istri menuju parkiran kampus.


"Catetan aku ntar ilang loh" Jingga berusaha menahan langkah Langit.


"Sudah nggak usah kuatir. Aku jamin dech, tas sama catetan kamu akan ada di apartemen saat kita sampai" terang Langit. Pastinya Langit akan menyuruh pengawal Jingga membawa semua nya.


"Kalian bawa mobil kan? Kita ke tempat kamu aja Keenan" usul Langit.


"Yaahhhh padahal aku sengaja cuti kerja. Tapi ujung-ujungnya malah balik ke sana" kata Keenan menimpali.


Adnan hanya tertawa.


"Kak, jangan di sana dong. Kita cari tempat lain aja" seru Keenan.


"Emang apa sih yang akan kalian bicarakan?" sela Jingga.


"Ada lah" balas Keenan.


Akhirnya Langit mengajak Keenan dan Adnan ke sebuah resto yang juga menjadi langganannya.

__ADS_1


Kembali dirinya memesan private room.


"Rejeki nomplok. Selama ini hanya bisa ngeces tiap kali lewat resto ini. Akhirnya kesampaian juga" ujar Keenan bermonolog.


Meski bisa kuliah di luar negeri, Keenan harus memenuhi semua kebutuhannya sendiri.


"Keenan, gimana kalau kita buka resto dengan menu Asia di sini? Aku modalin, lo yang tanggung jawab" melintas ide begitu saja di otak Langit.


"Beneran kak?" tukas Keenan antusias. Itu adalah cita-citanya sejak menginjakkan kaki di negara ini.


"Hhmmm" Langit pun mengangguk.


"Lo cari tempat yang strategis dulu, sekalian proposal nya ajukan padaku" kata Langit.


"Oke kak" timpal Keenan cepat.


"Terus kapan kita bicara nih?" sela Adnan.


Langit dan Keenan saling menoleh ke arah Adnan, sementara Jingga asyik dengan menu di depannya.


"Benar apa yang aku ceritakan sebelumnya kak" kata Keenan mengawali bicara dengan topik berbeda.


"Daniel itu adalah hasil anak di luar nikah antara seorang pengusaha dari Indo dan seorang wanita asli negara ini" terang Adnan.


"Oh ya?" Langit dibuat tak percaya dibuatnya.


"Apa karena itu juga, Daniel adalah salah satu bule yang fasih bahasa kita" tukas Langit.


"Menurut info yang kita dapat sih, bapaknya sekarang mendekam di penjara" lanjut Keenan.


"Kita masih kesulitan mencari siapa nama bapaknya Daniel" kata Adnan melengkapi.


Langit pun mengangguk.


"Oh ya kak, aku dengar akhir minggu ini Daniel akan terbang ke Indo. Sudah lama dirinya mencari keberadaan papa nya" terang Adnan.


"Apa dia tahu, kalau selama ini kalian mengorek info tentangnya?" ucap Langit.


Dijawab gelengan Keenan dan juga Adnan.


Langit mengetikkan sesuatu di ponsel dan mengirimkan nya ke uncle Arga dan juga Uncle Dewa.


Saat ini mereka berdua yang bisa diandalkan oleh Langit, di luar Dad dan uncle Arka tentu saja.


Saat mereka semua sedang menikmati menu makan, ponsel Langit berbunyi.


Ada uncle Arga calling.


"Cepat sekali respon uncle" celetuk Langit.


"Halo uncle" sapa Langit.


"Aku sudah tahu siapa papa nya si Daniel. Orang-orang kita akan mengawasi pergerakannya selama dia ada di sini" jelas uncle Arga.


"Emang siapa papa nya Daniel?" tanya Langit membego. Niatnya dia memberi info kepada uncle Arga, nyatanya uncle Arga terlebih dulu tahu.


"Sudah aku balas lewat chat tuh. Baca aja" seru uncle Arga.


"Oke, siap uncle. Makasih" bilang Langit.


Langit menautkan alis saat membaca chat dari uncle Arga dan juga uncle Dewa.


Dalam chatnya mereka membahas masalah yang sama, tentang siapa sosok papa nya Daniel.


Sementara Keenan dan Adnan yang ada di depan Langit, menunggu dengan rasa penasaran.


"Kalian tuh nggak lapar apa? Bahas hal yang penting pun perlu asupan kalori" kata Jingga sambil meneruskan acara makannya.


Karena dia tak tahu apa yang dibahas oleh ketiga laki-laki itu. Padahal kalau Jingga tahu, semua itu erat kaitannya dengan diri Jingga.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


To be continued, happy reading


__ADS_2