
Seperti perkiraan dokter Bara sebelumnya jikalau Jingga diperbolehkan pulang setelah menjalani terapi psikis nya selama tiga hari.
Kondisi Jingga juga telah membaik dengan signifikan.
Jingga sudah tidak merasakan nyeri kepala hebat. Rasa kehilangan itu sedikit demi sedikit telah berubah menjadi rasa ikhlas seperti yang dinasehatkan oleh bunda Mutia.
Hari ini Jingga dijemput oleh bunda dan beberapa pengawal yang disiapkan oleh Dad Tian dan uncle Dewa tentunya.
Langit telah pamit ijin dari kemarin karena berhubungan dengan persiapan ajang lomba di Aussie.
Setidaknya Langit harus mempersiapkan diri minimal tiga hari sebelum lomba dimulai.
Selain untuk mempersiapkan fisik, tentu saja persiapan pemanasan mobil dan adaptasi lintasan.
Saat pamitan ke Jingga pun Langit tak lagi menyembunyikan untuk apa kepergiannya kali ini.
Langit minta doa juga kepada bunda dan Jingga, bagi Langit restu bunda itu yang paling utama.
Bunda tengah bersiap untuk mengajak Jingga untuk pulang.
Barang-barang yang ada pun telah dirapikan oleh para pengawal Dad Tian.
Tak akan dibiarkannya sang istri untuk terlalu lelah.
"Jingga, bunda ke admin dulu. Tungguin di kamar dulu jangan ke mana-mana" pesan bunda.
Para pengawal pun juga bersiap di depan kamar Jingga.
"Bang...Bang...." panggil Jingga saat telah lama menunggu bunda yang tak kunjung kembali.
"Iya Nona" salah satu pengawal membungkuk hormat ke arah Jingga.
Apa begini ya rasanya menjadi Mega? Batin Jingga. Seorang nona muda dari keluarga kaya raya.
"Bang, apa bunda masih lama? Tolong anterin aku ke taman boleh?" ijin Jingga.
"Maaf nona, nyonya tak mengijinkan anda untuk keluar sebelum beliau datang.
"Sekali aja bang. Anterin ya plissss. Aku ingin lihat taman rumah sakit, yang katanya Mega bagus banget di sini" mohon Jingga dengan wajah penuh harap.
"Maaf Nona, saya akan ijin dulu dengan nyonya. Saya tak berani membantah apa yang sudah menjadi perintahnya" jelas pengawal itu.
Ternyata mereka anak buah yang sangat diacungin jempol untuk ukuran kesetiaan.
Jingga terdiam, dan sang pengawal pun meraih ponsel untuk menelpon nyonya nya.
"Baik nyonya" jawab sang pengawal berdasi itu dengan sangat sopan saat menelpon bunda Mutia.
"Baiklah nona, nyonya sudah memberikan ijin saya untuk mengantar anda ke taman" kata sang pengawal berdasi itu.
__ADS_1
Pengawal yang di depan pun mengantarkan sebuah kursi roda untuk dinaikin Jingga.
Dan dia antarkan Jingga ke taman yang dimaksud.
"Wah, bener apa kata Mega. Sejuk banget suasana di sini. Suara gemericik air nya membuat jiwa terasa sejuk" gumam Jingga.
"Menenangkan banget" Jingga memejamkan mata menikmati hawa yang segar itu.
Siapa yang mengira kalau taman ini masih berada di lingkungan rumah sakit, karena sangat luas dan bagus banget penataannya. Taman yang berada di area belakang rumah sakit, dan menghadap view pegunungan yang jauh di sana.
"Nona, aku ke toilet dulu sebentar. Akan aku panggil temen aku biar menemani anda" seru pengawal berdasi itu.
"Iya" jawab Jingga singkat tapi dengan mata tetap terpejam.
Baru kali ini Jingga menikmati alam terbuka sejak kecelakaan itu.
Hawa di dalam kamar tentu saja sangat berbeda.
Kulit putih Jingga semakin pucat karena dua bulan tak pernah terkena sinar matahari langsung.
Duk...tiba-tiba kursi roda yang diduduki oleh Jingga ada yang menyenggol dari belakang.
Jingga yang kaget limbung hendak nyungsep ke depan.
Tapi keburu ditahan oleh seseorang sehingga tak jadi nyungsep.
"Maaf...maaf Nona" katanya meminta maaf.
Jingga pun mengangguk. Menganggap kejadian tadi karena faktor ketidaksengajaan.
"Aku minta maaf Nona" ucapnya sekali lagi.
"Kanza..." katanya memperkenalkan diri dan hendak menjabat tangan Jingga.
Sebelum hal itu terjadi, seorang pengawal menghampiri mereka.
"Nona, anda ditunggu nyonya di kamar. Semua sudah siap" terang sang pangawal penuh hormat.
"Nona, karena anda sudah menjadi bagian dari keluarga Blue Sky. Maka hati-hati lah dengan setiap orang asing yang mendekat" terang pengawal itu saat mereka berdua dalam perjalanan balik ke kamar rawat Jingga.
"Tapi Nona tadi itu hanya ingin minta maaf karena menabrak kursi roda yang aku naikin ini" bilang Jingga.
"Banyak sekali modus penjahat Nona" imbuh sang pengawal.
"Baiklah. Aku minta maaf kalau salah" bilang Jingga.
Sementara di taman, wanita yang mengaku bernama Kanza itu menendang sebuah batu karena kesal. Misinya gagal.
"Gue harus ngejalanin plan B" gumamnya dengan kaki kembali menendang batu yang ada paling dekat di kakinya.
__ADS_1
Dia pun meninggalkan taman untuk menuju area dapur rumah sakit.
.
Sementara itu di Aussie, Langit dan seluruh tim work sedang dikumpulkan oleh uncle Arga di ruang pertemuan hotel yang telah mereka sewa sebelumnya.
Arga kembali menguatkan dan memberi semangat kepada seluruh tim.
Target kali ini juga tak muluk-muluk.
Mempertahankan gelar juara pertama yang didapat Langit di seri pertama musim ini.
"Itu sih bukan muluk-muluk lagi tuan Arga. Tapi kita harus dipacu semangatnya agar tim kita yang dianggap sebagai tim kuda hitam sukses merebut kembali seri ke dua ini" seru salah satu anggota tim.
"Yessss, I'm agree" timpal yang lain.
"Langit, lo musti ekstra kerja keras" kata uncle Arga menyemangati.
Dalam hati pun Langit juga bertekad untuk menang di seri kedua ini.
Apalagi podium juara umum gagal diraihnya pada musim kemarin, karena kejadian kecelakaan yang menimpanya.
Langit tak ingin membuat kecewa seluruh anggota tim untuk kesekian kalinya.
Ada motivasi tersendiri dalam diri Langit yang memacunya untuk terus menang.
"Siap uncle, tanpa disuruh pun aku akan melakukan itu" tukas Langit.
Arga pun puas dengan jawaban yang diberikan Langit.
"Ingat bos besar kita tak datang di seri ke dua ini. Maka kita tetap harus bisa membuktikannya kalau kita mampu" kata Arga untuk memompa semangat seluruh anggota tim.
"Siaapppp tuan Arga" jawab mereka dengan semangat dan antusias.
Arka yang ikutan pertemuan itu secara online itupun senang akan kesolidan tim yang dinahkodai oleh Arga.
"Sori...sori nih. Sampai lupa kalau bos besar juga ikutan nimbrung. Barangkali ada yang mau disampaikan bos?" tanya Arga dan kali ini menyalakan sebuah layar besar. Nampak di sana Arka Danendra sang bos besar.
"Sudah cukup apa yang kamu sampaikan Arga. Cuman aku khusus berpesan kepada Langit. Waspada dengan pergerakan Daniel dan tim" imbuh Arka.
Langit mengangguk.
"Tim Tiger pasti akan dengan sekuat tenaga merebut podium seri ke dua ini" tandas Arka.
Semua yang di ruang pertemuan itu diam dan mendengarkan serius apa yang disampaikan oleh bos besar nya itu.
"Ingat, apapun akan mereka tempuh untuk memuluskan tujuan nya. Maka aku harap perkuat kerjasama tim kalian. Jangan sampai terpecah karena hasutan. Kesolidan kalian semua adalah kunci sukses" kata-kata Arka untuk memompa semangat tim nya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
To be continued, happy reading