
Hampir dua puluh empat jam, rombongan tim Langit belum ada yang datang.
Padahal tim lain sudah mulai turun ke lintasan untuk latihan.
Ponsel uncle Arga dan yang lain, belum ada satupun yang bisa dihubungi.
Terakhir kali kontak ya kemarin itu.
Langit dan Arka semua cemas tentang apa yang terjadi.
Sampai menjelang siang, Arga masih belum bisa dihubungi.
Langit sampai beberapa kali cek ponsel yang digenggamnya.
"Uncle, apa terjadi sesuatu?" gumam Langit.
Sampai Langit kaget saat ada getar dari ponsel miliknya.
"Halo" sapa Langit saat ada nomor tak dikenal masuk ke ponsel miliknya.
"Jangan ditutup Langit, nih uncle. Lacak nomor ini, lo akan tahu posisi aku dan teman-teman di mana" kata sang penelpon yang ternyata adalah Arga.
"Apa yang terjadi uncle?" bisik Langit.
"Lacak aja dulu, ntar kuceritain saat lo berhasil nemuin kita semua" bisik uncle Arga.
Panggilan itu pun ditutup begitu saja, tinggal Langit menemukan bagaimana mengerjakan apa yang disuruh oleh Uncle. Yang sepertinya mereka dalam bahaya.
"Hhhhmmm aku hubungin Dad sama uncle Arka aja dech" gumam Langit berniat meminta bantuan.
Panggilan grup berlangsung dan Langit pun memberitahukan kabar terkini.
"Oke, Dad akan minta bantuan Iwan saja untuk melacak. Karena selain Arga, Iwan asisten Bara cukup bisa diandalkan untuk kasus-kasus yang butuh konsen di bidang IT" jelas Dad Tian.
Langit pun mengangguk.
Langit juga hubungi si Adnan, barangkali aja dia bisa bantu Langit.
Ternyata Adnan juga punya teman hacker yang cukup terkenal di dunia maya.
"Oke kak, aku akan hubungin dia. Secepatnya aku kasih kabar kakak" bilang Adnan saat Langit menyampaikan problem nya.
Langit sudah mendapat kabar dari panitia, jika besok belum turun untuk latihan maka tim yang digawangi Arga itu dianggap gagal ikut untu seri ke tiga tahun ini dan akan mendapatkan hukuman yaitu tak diperbolehkan ikut dua seri berikutnya.
Sungguh berat memang, makanya Langit mengupayakan agar uncle Arga dan tim cepat ditemukan.
"Ada-ada saja" seru Langit bermonolog.
Saat ini dirinya tengah duduk di lobi hotel sampai seseorang menghampiri.
Langit menengok ke arahnya.
"Apa kabar lo? Hari ini nggak turun? Bagaimana lo bisa ngalahin gue, latihan aja nggak datang. Aku lihat paddock tim kamu juga kosong" seru Daniel.
"Banyak omong banget sih kamu ini" tukas Langit membuat Daniel terbahak.
"Sukses selalu bro, dan selamat menyambut kedatangan tim kamu" Daniel beranjak pergi.
Umpatan Langit keluar begitu saja saat Daniel pergi menjauh dari dekatnya.
"Apa ulah dia lagi ya?" tebak Langit.
"Bisa jadi sih" lanjutnya.
Langit mengacak rambut pendeknya kasar.
"Selalu saja ada masalah setiap menjelang race" ucap Langit bermonolog.
Apalagi ini masalah nya nggak tanggung-tanggung, seluruh tim nya yang tak ada.
Sampai sore menjelang, Langit belum ada kabar dari Dad dan Adnan.
Langit mondar mandir aja di kamar. Mau bergerak, cuman dia sendiri yang ada di negara itu.
Sesuatu yang mustahil mengganti seluruh tim untuk waktu yang sangat mepet.
Ponsel.berdering dan ada nama Adnan di sana.
__ADS_1
"Halo Adnan" sapa Langit.
"Kak, lokasi mereka semua sebenarnya tak jauh dari kakak" kata Adnan.
"Oke, kakak akan segera berangkat. Kamu kasih aku alamatnya" pinta Langit.
"Wait kak" jawab Adnan.
"Tapi kak" sela Adnan kembali.
"Apaan Adnan?" tukas Langit terburu.
"Kak Langit mau pergi kesana sendiri? Bahaya kak" kata Adnan mengingatkan.
"Aku harus secepatnya melepaskan mereka Adnan" jelas Langit.
"Iya memang, harus segera diselamatkan. Tapi kan harus pake rencana matang kak bro" seru Adnan mengingatkan.
"Apa rencana kamu? Aku sudah tak bisa berpikir lagi" ujat Langit menimpali.
"Menurut teman aku yang hacker, dia bilang di sana penjagaannya sangat ketat. Dan musti diporakporandakan dulu sistem keamanannya" terang Adnan.
"Sebutkan lokasinya Adnan" sergah Langit.
"Sabar kak, ini juga masih proses" kata Adnan.
"Kak, jangan berangkat kalau sendiri. Aku tak bisa membantu banyak kali ini" lanjut Adnan mengingatkan lagi.
"Sudahlah, tetap akan aku coba. Mereka semua dalam bahaya sekarang" timpal Langit.
Langit harus kejar waktu juga untuk acara race latihan ketiga
Tentu saja Langit tak sabar untuk segera berangkat menemui uncle Arga dan yang lain.
Sampai lokasi Langit hanya melihat sebuah gudang tua.
"Beneran ini lokasinya?" gumam Langit sesaat turun dari taksi yang ditumpangi.
Langit berjalan perlahan-lahan mendekat ke lokasi, dan tak sengaja Langit melihat sebuah tali kecil di depannya.
"Owh sepertinya ini jebakan" gumam Langit kembali.
"Apaan sih mereka? Pesan juga sama" kata Langit berbisik.
Pesan itu juga menunjukkan lokasi yang sama dengan yang diberitahu Adnan.
"Dad, pengamanan di sini sangat canggih. Bisa di cek dan dirusak?" balas Langit dengan pesan suara.
Kini Langit berada di balik semak untuk menelisik situasi.
Ada enam pengawal dengan tubuh kekar di depan.
"Banyak juga gerombolan mereka" kata Langit.
Dad Tian membalas agar Langit merusak terlebih dahulu alarm tanda bahaya, agar perhatian mereka semua terpecah.
"Dinding di situ bisa melihat bisa bicara Langit. Makanya hati-hati. Kamu harus mengerjakan dalam diam" pesan Dad Tian.
Langit mendekat ke arah titik alarm tanda bahaya.
"Alat-alatnya canggih semua" ucap Langit.
Dan berhasil menyalakan alarm itu dengan sentuhan kecil saja.
Ke enam orang dengan badan tinggi besar itu mulai menyebar untuk menelisik bahaya yang datang.
Sementara Langit pelan masuk, untuk menghindari keenamnya.
"Woo...ternyata semuanya canggih. Robotic smua" ujar Langit heran saat berhasil masuk ruangan yang ternyata sangatlah mewah.
Tak sengaja Langit melijat sebuah tulisan kecil di atas nakas.
"Tiger team? Apa maksudnya ini?" seru Langit. Langit menutup mulutnya sendiri karena bicara terlalu keras.
"Apa memang ini ulah nya tim Daniel lagi?" lanjut Langit dalam gumaman. Merasa geram jika memang itu benar ulahnya Daniel.
"Hei siapa itu?" suara seseorang terdengar dari belakang Langit.
__ADS_1
Langit berbalik. Ternyata mereka salah satu dari keenam orang yang tadi di depan.
Tatapan tajam keduanya saling bertemu.
"Siapa kau?" tanya pengawal itu.
"Harusnya aku yang bertanya, di mana teman-temanku kalian tahan?" hardik Langit.
"Hah? Apa kau salah satu di antara mereka?" tanyanya sinis.
"Tak perlu kamu tahu" balas Langit sengit.
Orang itu mulai pasang kuda-kuda untuk menyerang. Langit pun tengah bersiap juga.
Tanpa banyak perlawanan orang itu telah dibekuk oleh Langit.
Langit mulai menelusuri ruangan demi ruangan di sebuah gedung besar itu. Dan tinggal ruangan besar yang di ujung.
Harus ada kode akses untuk bisa memasukinya? Sialan. Umpat Langit.
Kebetulan di saat yang sama, panggilan Adnan masuk dan memberi tahu kode akses yang telah diacak oleh teman nya.
Pintu terbuka lebar dan di sana terlihat teman-teman Langit dan juga uncle Arga.
Penjaga yang kalah jumlah baru saja menemukan keberadaan Langit di sana.
Mereka jadi ragu untuk menyerang dan berusaha menelpon untuk meminta bantuan.
Sebelum hal itu terjadi, salah satu anggota tim mekanik sudah menendang ponsel penjaga tadi.
"Enak aja, sudah mengurung kami lebih dari dua puluh empat jam" kata nya sembari kembali menendang penjaga yang tadi.
Bagai menyulut api, maka yang lainpun ikutan mengeroyok sisa penjaga yang ada.
Seperti Langit tadi, akhirnya mereka tak berkutik dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
"Kita harus gerak cepat nih, sebelum para musuh mendatangkan bala bantuan" suruh Arga.
Sampai di luar mereka kebingungan harus naik apa untuk pergi ke hotel.
Keenam orang penjaga yang telah diringkus pun dibawa serta oleh Arga, untuk memberi kesaksian setelah ini.
Arga memegang salah satunya dan memaksa menginterogasi nya.
Wajah bengis Arga nampak sekali saat ini.
Dengan tertatih jalannya dan diikuti oleh Arga, dia menunjukkan lokasi di mana mereka menyimpan kendaraan besar yang dipakai untuk membawa rombongan tim itu.
"Persiapan yang lumayan sempurnya" utas Arga.
"Bagaimana cerita awalnya hingga semua anggota tim bisa terperdaya oleh mereka?" tanya Langit heran.
"Yaaa kirain bus yang kita naikin itulah penjemput kita. Hingga di tengah jalan, muncullah keenam orang tadi yang masing-masing menodongkan senjata nya" cerita Arga.
Bus yang dimaksud Arga adalah bus yang nampak di depannya saat ini.
"Buruan? Kalian naik semua" suruh Arga.
Dan semua melakukan tanpa banyak cakap.
.
Esok pagi menjelang latihan di race, Langit menghampiri Daniel yang berada di paddock.
"Hai Daniel, makasih ya. Berkat bus yang kamu pinjamin, akhirnya tim gue bisa balik ke hotel dengan selamat. Kamu memang luar biasa" puji Langit yang terdengar seperti sindiran bagi Daniel.
Langit berlalu menjauh untuk bersiap latihan.
Tim yang datang belakangan itu bekerja sangat profesional, dan mempersiapkan mobil yang akan dipakai Langit dengan cepat.
Langit sudah berada dalam mobil untuk latihan hari ketiga, yang juga hari terakhir untuk adaptasi lintasan.
Lumayan untuk sesi latihan kali ini.
Tinggal besok babak kualifikasi.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
To be continued, happy reading