
Ternyata Langit mengajak Jingga untuk main kartu uno. Karena kalah melulu, Jingga sering mendapat hukuman.
Tapi hukuman yang terakhir malah membuat tak mampu lagi membuka mata.
Malu tak kepalang rasanya, hingga muka pun tak berani Jingga keluarkan dari balik selimut.
"Makasih, kamu sudah menjaganya untukku" kata Langit mengecup kening Jingga meski berada di bawah selimut.
"Aku malu" kata Jingga lirih menimpali.
"Hussssttt...jangan keras-keras. Ayo kita tidur aja. Besok akan aku urusin kuliah kamu yang kepending lama itu" bilang Langit, meski badan mereka sama-sama polos.
"Kalau masih capek, besok nggak usah ikut ke kampusnya. Aku akan suruhan orang saja biar nyelesaikan" bilang Langit.
Belum juga selesai bicara, tapi sudah nggak ada sahutan dari Jingga. Yang ternyata telah terlelap begitu saja dengan kepala menyandar di lengan atas sang suami.
Langit sibak selimut yang menutupi wajah Jingga.
"Sudah nyenyak aja dia" gumam Langit.
Langit kecup kembali kening Jingga.
"Nggak berasa, sudah punya istri aja" gumam Langit dengan bibir tersungging senyuman.
Ponsel Langit berdering, kali ini dari uncle Arga yang berada di Indo.
"Pasti di Indo telah pagi" kata Langit.
"Halo uncle" sapa Langit.
"Langit, sori ganggu waktu lo. Uncle cuman mau nanya, apa lo kenal yang namanya Andre?" tanya uncle Bara.
Arga yang memang belum diberitahu jika hari ini adalah pernikahan Langit, maka begitu saja dirinya menelpon Langit tanpa rasa sungkan.
"Andre????" tukas Langit.
"Iya Andre" tukas uncle Arga.
Langit coba mengingat nama itu, tapi Langit tidak merasa punya teman bernama Andre.
"Nggak ada uncle. Aku nggak ada teman namanya Andre" bilang Langit.
"Apa Jingga kenal ya? Kalau lo nggak kenal, kemungkinan Jingga kenal lebih besar. Karena semuanya berkaitan dengan penculikan Jingga yang terakhir kemarin" jelas Arga.
"Kok bisa uncle?" tanggap Langit.
"Orang yang bernama Andre ini disinyalir ada kerjasama dengan Kenzo untuk menculik Jingga" imbuh Arga.
"Uncle Dewa sudah tahu? Kalau belum, tolong kasih tahu aja. Biar uncle Dewa ikut membantu uncle menemukan orang itu" kata Langit.
"Oh ya uncle, tolong selidikin tentang si Daniel" ucap Langit melanjutkan.
"Ada apa?" sela Arga.
"Aku kok curiga, dirinya ada dendam kesumat sama aku pribadi" terang Langit.
Pembicaran telpon itu berlangsung hampir satu jam lamanya.
Dan disepakati jika Dewa dan Arga akan bahu membahu mencari keberadaan Andre.
Sementara Langit akan mencari tahu sosok Daniel yang berasal dari tim Tiger dibantu juga oleh Arga.
.
Langit melaksanakan rencananya. Dibiarkan dulu Jingga untuk istirahat.
__ADS_1
Dia hanya menuliskan pesan mau keluar karena ada keperluan.
Bahkan sudah ada ponsel terbaru untuk Jingga di atas nakas, sempat-sempatnya Langit menuliskan 'to my wife' di atas box nya.
Langit melajukan mobil membelah kota London ke arah kampus Jingga agar Jingga bisa secepatnya kuliah kembali.
Selepas kampus, Langit kembali mengarahkan laju mobil ke tempat Keenan. Di sana dirinya sudah membuat janji temu dengan Keenan yang kebetulan kena shift pagi dan juga Adnan.
Langit tak mau menunda lagi untuk meminta bantuan mereka berdua, yang telah lama tinggal di London.
"Ada apaan sih kak? Kayaknya kok urgen banget? Kakak nggak honeymoon gitu?" tanya Adnan yang juga barusan duduk.
Langit masih dengan mimik serius.
"Kak? Sudah belah durian belum?" sela Keenan dengan membawa dua cangkir espressso untuk Langit dan Adnan.
"Durian? Emang musim?" tanggap Langit.
Keenan dan Adnan saling tepuk jidat.
Langit yang awalnya tak begitu akrab dengan mereka berdua pun hanya menatap tajam ke keduanya.
"Serius amat kak, santai aja kali" seloroh Keenan dengan candaan.
Langit mulai mengutarakan maksudnya minta tolong ke mereka berdua.
"Kalian kenal Daniel kan?" ujar Langit untuk yang terakhir kali.
"Daniel??? Tim Tiger?" tanggap Adnan.
"Tapi kita ini pendukung kak Langit loh? Ngapain disuruh ngedeketin Daniel?" sela Keenan.
"Seperti yang kuutarakan tadi. Aku belum dapat akses tentang riwayat keluarga Daniel. Seperti ada yang sengaja menutupinya?" analisa Langit.
"Harusnya iya, tapi kan lo tau sendiri gimana kuliah gue" ujar Adnan beralasan.
"Ya mulai sekarang, rajin-rajin aja masuk kuliahnya. Kerjain apa yang dikatakan kak Langit tadi" seru Keenan.
"Ku coba dech kak, tapi gue nggak bisa ngejamin ngedeketin si arogan itu" tukas Adnan.
"Gosipnya sih, Daniel itu ada keturunan Indo juga. Cuman dia sepertinya nggak ngakuin" imbuh Keenan.
"Darimana lo tau? Berangkat nyelidikin aja belum" sela Adnan.
"Oke, sementara aku tampung dulu info kalian. Aku minta tolong dengan sangat, karena nggak mungkin juga aku bergerak sendiri mendekat ke Daniel. Makasih ya atas waktunya" kata Langit beranjak dari duduknya.
"Mau ke mana kak? Buru-buru amat. Kangen ma Jingga?" canda Adnan.
"Nih, ditungguin dosen pembimbing gue" Langit membawa sebuah tab untuk konsul.
"Sukses kak" kata Keenan menimpali.
"Oke makasih" Langit berjalan menjauhi keberadaan Keenan dan Adnan.
.
Sementara itu di apertemen, Jingga bangun tidur dengan badan yang berasa remuk semua dan terjingkat kaget karena tubuhnya masih polos.
Mengingat kejadian semalam, terlihat pipi yang bersemu merah.
"Berendam sepertinya bisa buat badan segar nih" gumam Jingga.
Saat bangun, dilihatnya tulisan pesan Langit.
Dan sebuah ponsel terbaru yang masih utuh di box nya.
__ADS_1
Tulisan Langit yang ditujukan kepadanya pun Jingga buka.
"Buat gue?" ucap Jingga sembari menimang ponsel baru itu.
Baru saja terpegang, sudah bunyi aja tuh ponsel dan tentu saja buat kaget Jingga.
"My husband???" ucap Jingga saat melihat kontak yang menelponnya.
Jingga tersenyum karena baru teringat, kalaulah dirinya sudah menjadi seorang istri.
"Halo kak" sapa Jingga.
"Kok kak sih? Aku suami kamu loh sekarang" kata Langit.
"He...he....belum biasa sih kak. Terus kakak ingin aku panggil apa?" tanya Jingga.
"Sudah mandi belum? Aku tebak, pasti sekarang barusan bangun?" ujar Langit.
"He...he..." kembali Jingga tertawa menimpali.
"Aku mau berendam air hangat. Badan aku berasa remuk semua" imbuh Jingga.
Gantian Langit yang tertawa lebar. Teringat kejadian semalam.
Membuat sewot Jingga.
"Aku tebak nih, pasti sekarang masih polosan" kata Langit membuat Jingga kembali teringat jika memang dirinya belum pakai apapun.
Tanpa memperdulikan ucapan Langit, Jingga langsung saja ke kamar mandi meski dipake jalan aja inti tubuhnya masih berasa perih.
Meninggalkan sisa tawa Langit di ujung telepon.
Masih memakai jubah mandi, terdengar bel menandakan ada yang datang.
"Siapa sih? Kalau kak Langit nggak mungkin juga pakai nekan bel" gumam Jingga.
Dilihatnya siapa yang datang terlebih dahulu lewat display kecil di dekat pintu.
"Owh, ternyata Mega sama Firman" kata Jingga bermonolog.
"Lama amat sih" kata Mega sengit, sesaat setelah pintu terbuka.
"Lah guenya di kamar mandi lo main datang aja" tukas Jingga tak kalah sengit.
"Eh Jingga, duduk sini dulu lah. Ada yang mau gue tanyain nih" kata Mega menggandeng lengan sahabat yang sudah jadi kakak iparnya itu.
"Bentar dong, aku ganti baju dulu. Malu lah dilihatin Firman mulu" tukas Jingga.
"Hheemmm, bener tuh kata Jingga" kata Firman.
"Oh ya Jingga, jangan lupa lo tutupin leher tuh pake foundation" suruh Firman membuat Mega ikutan melihat.
"Wah kenapa tuh Jingga?" sela Mega bertanya.
Membuat Firman menyentil kening Mega, "Jadi cewek jangan polos amat napa? Lo sudah kuliah strata dua loh" olok Firman.
"Emang kenapa? Aku kan cuman nanya. Cuman nggak ngira aja, apa beneran kak Langit tuh seganas itu" kata Mega menambahi.
"Kalau kalian ke sini buat ngolok gue, lebih baik kalian pulang aja dech" suruh Jingga membuat Mega dan Firman tertawa.
Terlalu malu Jingga menghadapi mereka berdua, yang ke sini pasti bertujuan mau mengorek sedalam-dalamnya informasi tentang pengalaman malam pertama nya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
To be continued, happy reading
__ADS_1