
Terlalu malu Jingga menghadapi mereka berdua, yang ke sini pasti bertujuan mau mengorek sedalam-dalamnya informasi tentang pengalaman malam pertama nya.
"Balik aja sono" ulang Jingga mengusir Mega dan Firman.
"Sayang, lo mau minum apa?" tanya Mega beranjak dan hendak melangkah ke dapur.
"Sayang?????" Jingga bengong dengan panggilan Mega ke Firman.
"Bentar...bentar...apa ada yang tidak kuketahui dari kalian?" tanya Jingga.
"Lo itu kemana aja Jingga? Makanya jangan urusin diri sendiri mulu" seru Firman bercanda.
Jingga pun sewot karena baru tahu jika Mega dan Firman sudah jadian. Pake panggil dengan kata sayang lagi. Padahal dirinya aja masih kagok manggilin sang suami dengan kata 'sayang'.
"Terserah gue" celetuk Jingga ikutan beranjak. Tentu saja ke kamar untuk ganti baju terlebih dahulu.
Jingga kembali ke ruang tengah saat Mega tengah bercengkerama dengan Firman.
"Heh kalian kok malah mesraan di sini sih?" kata Jingga jengah.
"Biarin" seru Mega.
"Kalian ini tadi ke sini pasti beralibi mau nengokin gue. Iya kan? Aku mah sudah paham akal bulus kalian" olok Jingga.
"Husssstttt... Jangan keras-keras. Ntar kalau sampai Dad tau awas saja kamu" kata Mega menimpali.
"Dan lo Firman, kalau lo serius sama Mega. Pergi sana, ngadep Dad Tian" suruh Jingga dengan tegas.
"Serius...dan akan selalu serius. Tapi kalau untuk ngehadepin tuan Sebastian, aku harus menyiapkan dan menata hati Jingga. Aku ini laki-laki. Untuk menikahi Mega aku harus menyiapkan semua terlebih dahulu. Nggak asal comot anak orang aja dong" jelas Firman.
"Hhmmmm...sejak kapan omongan lo dewasa banget Firman" kata Jingga sembari tersenyum.
"Udah ah, jangan ngebahas kita" sela Mega.
"Terus?" timpal Jingga.
"Hari kemarin sama hari ini tuh, lo bintang nya Jingga. Sudah sepantasnya kita bahas tentang lo sekarang" ulas Mega.
"Heleh, bilang aja lo mau gue ceritain malam pertama" seru Jingga.
"Nah, itu kamu tahu" tukas Mega terkekeh.
Jingga menatap Mega yang penuh harap dirinya cerita, dan menatap Firman yang nampak lebih santai.
"Gimana Firman? Gue ceritain nggak? Takutnya gue cerita, lo berdua malah kepingin. Gimana dong?" goda Jingga.
"Sialan lo" umpat Firman.
"Ha...ha..." Jingga tertawa menimpali.
"Gimana?" pancing Jingga.
"Cerita aja, nggak boleh ada yang ditutupin" sela Mega.
Jingga menceritakan pengalaman seru nya main uno bersama kak Langit.
"Terus? Yang lain? Main apa lagi?" tanya Mega.
"Main kuda-kudaan" ucap Jingga.
"Kuda-kudaan?" seru Mega.
"Yappp" tukas Jingga sambil menahan senyumnya dari Mega.
"Kak Langit main kuda-kudaan???" tanya Mega sambil melongo, alhasil sentilan mesra Firman mendarat manis di keningnya.
"Ih, kamu ini kenapa sih? Aku kan heran kenapa kakak mau diajak main kuda-kudaan?" seru Mega sewot.
"Au ah...ntar kalau kita menikah, kuajakin dech main kuda-kudaan. Pasti seru!" ucap Firman bercanda.
__ADS_1
Saat tengah ngobrol tentang mata kuliah hukum, datanglah Dad Tian dan bunda. Sementara Awan dan Bintang tak ikut, dan seperti biasa dimanapun ada mereka berdua pasti rame main game.
Kalau Jingga dan Mega menyambut keduanya biasa saja, beda dengan Firman yang sudah senam aja tuh jantungnya.
Menghadapi Dad nya Mega, tentu tak mudah baginya. CEO Blue Sky gitu loh. Gugup tentu saja, itu lah yang dirasakan Firman kali ini. Apalagi tatapan tajam bagai elang nampak sekali di netra Dad Tian.
"Jingga, mana kakak?" tanya bunda.
"Bun, kita masak-masak yuk. Lama kali kita nggak di dapur bareng" ajak Mega. Sengaja dirinya ngerjain Firman untuk bersama Dad Tian.
Dad Tian berasa mendapat angin segar nih, untuk memberikan sesuatu ke Firman yang berani-beraninya mendekati putri satu-satunya itu.
"Oh ya boleh. Emang Jingga ada bahan makanan?" tanya Mutia saat mereka bertiga sudah berada di dapur.
"He...he...nggak ada bun. Kan barengan datangnya dari Indo" seru Jingga.
"Belanja bareng sepertinya bagus juga" ulas Mega.
"Apalagi sekarang anggota keluarga baru, Jingga. Tambah seru bun" lanjut Mega.
"Oke, bunda cek dulu yang sudah ada apa saja di kulkas Jingga" kata bunda menimpali.
"Ya ampun, cuman ada air putih kemasan. Gimana sih kak Langit nih" gerutu Mega. Padahal tadi Mega sudah melihat semua, saat dirinya mengambilkan minum untuk Firman.
"Kamu belum makan Jingga?" tanya bunda dan dijawab gelengan Jingga.
"Iiisssssshhh kak Langit gimana sih, malah ngebiarin Jingga kelaparan. Dia kemana? Jangan bilang dia masih tidur" ujar bunda.
"Kak Langit pergi bun, ngurusin kuliah Jingga sama ada perlu dengan Keenan dan Adnan" lapor Jingga.
"Ya udah, kita makan di luar aja yuk" ajak bunda.
"Dad sama Firman?" sela Mega.
"Biarin aja mereka berdua di sini bun, biar Firman diospek sama Dad" kata Mega.
"Apa bun? Menguliti? Sadis amat" tanggap Jingga.
"Kamu belum tahu aja kalau Dad sedang marah Jingga. Semua tak ada yang berani ngebantah. Walau marah nya Dad nggak musti setahun sekali" jelas Mega tertawa.
"Ngobrol mulu, jadi makan nggak nih?" sela bunda.
"Jadi lah bun" seru keduanya, Jingga dan Mega.
Di ruang tengah, Firman sudah mulai keringetan saat ketiga wanita itu beranjak menuju dapur. Yang bilangnya akan memasak bersama.
Pendingin ruangan yang diatur di suhu terkecil pun, masih berasa gerah buat Firman.
"Gimana kerjaan kamu?" tanya Dad Tian mulai bicara.
"Baik tuan" jawab Firman singkat. Firman berasa diinterogasi sekarang.
"Masih di tempat Tania?" tanya Dad kembali.
"Iya Tuan" Firman kembali menjawab singkat.
"Kamu ini nggak bisa bicara lain apa selain baik dan iya" tukas Sebastian.
"Iya Tuan" reflek Firman menjawab.
"Eh, enggak tuan" ujar Firman sembari menutup mulut, takut salah bicara.
Firman memang terlalu berani memepet Mega yang notabene adalah putri kesayangan Dad Tian. Bahkan nyamuk atau serangga aja nggak dibolehin nyentuh kulit putrinya apalagi seorang Firman. Firman yang berasal dari keluarga menengah tentunya tak sebanding dengan keluarga Baskoro yang termasuk salah satu keluarga terpandang nomor dua di bawah keluarga Suryolaksono.
Tapi pada intinya Sebastian tak memandang itu semua, dia hanya ingin menguji keseriusan seorang Firman yang telah berani masuk ke kehidupan pribadi putrinya.
"Cuman kerja di tempat Tania aja?" lanjut Dad Tian.
"Iya Tuan. Eh enggak" kata Firman gugup.
__ADS_1
"Yang benar yang mana?" seru Dad.
"Selain magang di biro hukum nyonya Tania, saya juga ambil strata dua meski tidak seperti Mega yang kuliah di luar negeri tuan. Selain itu saya dan beberapa teman sedang ngembangin sebuah aplikasi game. Dan semoga tahun ini deal kerjasama kami dengan perusahaan asal Japan" terang Firman.
'Encer juga nih otak si bocah' gumam Dad Tian dalam hati.
"Game apa?" tanya Dad.
"Biasa tuan, aplikasi game anak muda" imbuh Firman.
"Dad" panggil bunda yang keluar dari dapur.
Dad pun menoleh.
Sementara Mega tertawa cengengesan yang melihat Firman sedang mengelap dahi nya yang keringetan. Dad nya sungguh orang yang luar biasa kalau urusan menekan orang lain.
"Apa bun?" tanya Dad.
"Kita cari makan di luar aja yuk. Sekalian jalan-jalan" ajak bunda.
"Tumben? Biasanya juga suka ngendon di rumah aja" tukas Dad.
"Plisss Dad, mumpung pada ngumpul nih kita. Momen langka loh ini" kata Mega menimpali.
"Oke. Tapi sekarang Langit nya mana? Kok nggak kelihatan sedari tadi?" sela Dad.
"Jingga, kamu hubungin suami kamu. Kita tunggu di resto yang biasa kita datangi" bilang bunda.
Jingga pun mengangguk.
Jingga menghubungi Langit suaminya. Memberitahu jika ditunggu di resto langganan oleh keluarga Sebastian.
Di tempat Keenan, Langit masih berada di sana ternyata.
Ponselnya berdering saat Langit masih bicara serius dengan Keenan dan Adnan.
"Oke, aku akan nyusul ke sana" bilang Langit sesuai permintaan Jingga.
Kembali ponselnya berdering, saat Langit hendak mengatakan sesuatu yang penting untuk Keenan dan Adnan.
"Halo uncle" sapa Langit.
Keenan dan Adnan diam, memberi kesempatan Langit berbicara dengan sang penelpon.
"Kamu itu memang sialan Langit. Nikah sama Jingga nggak pake ngundang kita" tandas uncle Arka.
"Hanya pesta kecil uncle. Dad nggak ngadain acara dulu, mengingat kondisi kesehatan Jingga" ulas Langit.
"Jadi beneran Sebastian sudah mantu? Sudah tua aja dia" olok Uncle Arka.
"Oh ya Langit, selamat ya semoga langgeng terus dengan Jingga" doa uncle Arka.
"Siap uncle" tukas Langit.
"Kenzo sudah dijebloskan ke bui, tinggal nunggu aja sidang putusan" seru uncle Arka.
"Cuman sampe sekarang belum dapat kita telusuri siapa Andre. Sepertinya mereka menutup rapat akses informasi tentang kelompok ini" imbuh Arka.
"Iya uncle. Ini juga masih ngebahas tentang Daniel bersama teman-teman di London" kata Langit menimpali.
"Oke, lanjut aja. Beritahu uncle apapun informasi yang kamu dapat" suruh uncle Arka.
"Oke uncle" panggilan itu pun diakhiri oleh uncle Arka.
Keenan dan Adnan, tak mengalihkan sedikitpun pandangannya dari Langit.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
To be continued, happy reading.
__ADS_1