Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Diet


__ADS_3

Setelah rapat beberapa kali dengan Dad Tian dan juga uncle Arka, kali ini Langit fokus ke persiapan musim depan.


Dengan beberapa kali dibujuk, Blue Sky mau juga menjadi salah satu sponsor untuk tim Singa Merah.


Langit tentu saja senang akan hal itu, apalagi kekuatan tim Tiger yang digawangi Daniel pasti lebih baik daripada musim kemarin. Dan menjadi saingan yang sepadan untuk tim Singa Merah.


.


Seri pertama akan berlangsung di negara tempat di mana Langit tinggal sekarang.


Jauh hari sebelum jadwal, semua telah hadir. Ada Dad Tian, uncle Arka dan juga uncle Arga. Tak lengkap jika uncle Dewa tak hadir juga.


Rapat kecil telah diadakan. Semua tim juga telah dihadirkan.


Segala persiapan, tak ada yang terlewat oleh uncle Arga.


"Langit, sepertinya lo sedikit kegemukan dech" bilang Dad Tian.


"Iya nih Dad, naik tiga kilo" jawab Langit.


"Turunin! Sekilo aja akan berpengaruh ke kestabilan mobil" suruh Arga.


"Iya kah?" sela Dad Tian yang memang masih awam dengan dunia sirkuit.


Langit hanya bisa mengangguk.


Akhir-akhir ini Jingga sudah pandai memasak. Jadinya apapun yang ada di meja makan selalu diembatnya.


"Kalau makan kira-kira bos kecil" seru Arka.


"Bos besarnya?" ucap Langit.


"Dad kamu tuh" imbuh Arka.


"Hhmmm di Blue Sky aku bos besarnya. Di tim ini, tentu saja kamu lah yang jadi bos" tolak Dad Tian.


"Janji dech. Abis ini aku akan olahraga" janji Langit.


"Kuberi waktu dua minggu, sebelum turun ke lintasan" tandas Arga.


"Nah, dengerin apa kata bos yang sebenarnya tuh" kata Arka dan Tian bersamaan.

__ADS_1


Semua yang di sana pun tergelak. Di lintasan tak ada satupun yang berani melawan perintah Arga sebagai ketua tim Singa Merah.


Lama libur kompetisi, Langit memang dimanjakan oleh sang istri.


Langit pun tak kuasa menolak untuk melahap karena memang terasa enak di lidah.


Alhasil kini Langit ditarget oleh uncle Arga agar berolahraga untuk memenuhi standar ideal berat badan yang pas.


"Dua minggu, tiga kilo. Semangatttt" kata Langit menyemangati dirinya.


.


"Sayang, tiga minggu lagi aku turun ke lintasan nih" beritahu Langit ketika melihat Jingga sedang nyiapin makanan untuknya.


"Wah, enaknyooo" bilang Langit.


"Yank, mulai besok kurangin stop masak makanan yang menggoda hati ya. Aku musti diet nih. Kena semprot uncle Arga tadi. Berat badan aku kelebihan tiga kilo" seru Langit.


"Terus makanan ini?" tukas Jingga.


"Karena terlanjur matang, ya aku makanlah" ucap Langit tanpa rasa berdosa melahap semua yang ada di meja.


"Katanya mau diet? Lha kok diembat semua yank" canda Jingga.


"Ya nggak mungkinlah kebuang. Kan ada yang lain juga" bilang Jingga.


"Yang lain biar masak sendiri kalau kurang" Langit tetap melahap semua yang ada di meja.


Kali ini Dad Tian dan uncle Dewa menginap di apartemen yang lain, dan juga uncle Arga dan uncle Arka berada di sana.


Entah apa yang dibicarakan oleh para laki-laki matang itu. Yang pasti tak jauh-jauh dari bisnis. Seolah bisnis menjadi hobi bagi mereka.


Bunda dan aunty Tania pun akan menyusul ke London saat nanti mendekati perlombaan. Bahkan aunty Dena yang selama ini tinggal untuk mengurus Mutia Bakery pun akan ikutan sekalian liburan akhir tahun.


Mega dan Awan sudah sibuk dengan dunianya masing-masing.


Mega dengan Firman menyiapkan acara pertunangan mereka, sementara Awan bersama Bintang asyik tetap dengan mabarnya. Awan pun rela menunggui saat kakak sepupunya itu sedang operasi bedah jantung yang telah terjadwal.


"Eka dimana?" tanya Langit setelah menandaskan segelas air putih di depannya.


"Di kamar lah. Tidur dia yank" beritahu Jingga.

__ADS_1


"Kalau gitu aku mandi aja sekalian"


"Aku siapin air hangatnya" tukas Jingga.


Langit malah menggendong sang istri ke kamar.


"Apaan sih? Perut kenyang nih yank" kata Jingga.


"Mandi bareng aja" seru Langit.


Masih ada saja semburat merah di pipi sang istri. Padahal sudah ada Eka di antara mereka.


"Gimana kalau kita buat adiknya Eka" bisik Langit.


"Iiissssshhh apaan sih. Eka baru berapa bulan coba? Kamu aja mau fokus ke seri musim depan" bilang Jingga.


"He...he...canda sayang. Kalau adiknya Eka nunggu kamu lulus aja, biar kamu nggak repot. Tapi kalau prosesnya kan nggak boleh ditunda" Langit kembali berbisik membuat bulu kuduk Jingga meremang.


"Gimana? Setuju nggak?" kata Langit ambigu.


Jingga menggeleng, gengsi juga kalau dia minta duluan.


"Menolak dosa loh" bilang Langit.


Tanpa menunggu jawaban sang istri, tangan Langit sudah begitu lincah bergerak. Hingga lolos juga suara indah Jingga terdengar di telinga Langit.


Tak berasa berdua sudah polos saja sekarang.


Langit tersenyum puas, setelah keinginannya terwujud.


"Makasih sayang" ucap Langit mengecup kening sang istri dengan badan yang masih basah.


Sementara Jingga masih meneruskan berendamnya.


"Yank, sampai sekarang aku kok belum datang tamu rutin bulanan aku ya?" tanya Jingga dengan rasa kuatir saat Langit hendak keluar.


"Kan malah enak yank, nggak usah datang aja. Biar nggak ada lampu merah. Jadi bisa diterobos terus" canda Langit.


"Enak aja" Jingga pun sewot.


"Ha...ha..." Langit malah terbahak meninggalkan Jingga yang masih didera rasa kuatir.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading gaessss


__ADS_2