Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Ulah Daniel kah?


__ADS_3

Dan entah kebetulan atau hal yang disengaja, orang yang menyapanya tadi juga dapat kursi tak jauh dari tempat Langit.


Sial...sial...dia lagi. Gerutu Langit.


Sementara Daniel tersenyum sinis ke arah Langit.


Perjalanan kurang lebih sepuluh jam akan Langit tempuh bersama dengan Daniel.


"Gimana bro? Aku siap menerima tantangan kamu" seru Daniel.


"Kita lihat di lintasan saja. Bukannya ini waktu lo untuk nunjukin perform terbaik" tukas Langit sejenak sebelum pesawat take off.


Daniel kembali tersenyum sinis.


"Lihat saja ntar" timpal Daniel.


"Jangan hanya omong kosong dan cara licik yang bisa lo gunakan" kata Langit sengit.


"Heeiiii...apa yang aku lakukan?" bilang Daniel tertawa receh yang membuat Langit merasa jengah dengan candaan tak bermutu.


"Cih, jangan dikira gue tak tahu apa yang telah lo lakuin semua" ucap Langit.


"Gue nggak ngelakuin apa-apa bro" ujar Daniel pura-pura tak bersalah.


Ganti Langit yang tersenyum sinis.


"Selama ini gue masih diam terhadap orang-orang lo" kata Langit tegas.


"Tapi pada kenyataannya orang-orang lo hanya berhenti di Kenzo. Benar bukan apa yang aku bilang nih" tanggap Daniel dengan nada menyepelekan.


"Ha...ha... Ternyata prediksi ku tak meleset kalau semua ulah lo Daniel. Aku hanya perlu waktu untuk membuktikan saja" tukas Langit.


"Lakukan saja, kalau lo bisa" kata Daniel sengit.


Obrolan mereka terhenti saat kapten pesawat memberitahu jika pesawat akan segera take off. Semua penumpang diharap duduk di tempatnya masing-masing.


Tanpa melanjutkan kata, Daniel duduk menempati kursi nya.


.


Sementara Jingga, setelah balik dari bandara meminta sopir nya untuk langsung balik apartemen aja.


"Pak, kita balik aja" pinta Jingga.


"Oke nyonya muda" balas sang sopir ramah.


Sampai apartemen, Jingga hanya berniat rebahan.


Enggak tahu kenapa badannya berasa sering lemes tanpa sebab. Padahal makan juga banyak, malah lebih dari porsi biasanya.


Ponselnya berdering saat badan baru saja menempel di kasur.


"Kok sudah nelpon aja, harusnya kak Langit kan masih di atas awan dan mega" gumam Jingga.


Ternyata Mega yang nelponin.


"Helo kakakku yang cantik, how are you today?" canda Mega saat panggilan video tersambung.


"I'm fine my sister" jawab Jingga, dan keduanya pun tertawa.


"Kok sepi, di mana kak Langit?" tanya Mega.


"Hhmmm berangkat lah. Akhir minggu ini kan jadwal nge-race" beritahu Jingga.


"Oh iya ya. Lupa aku" ucap Mega.


"Jingga, sampai sekarang apa sudah ada tanda-tanda?" tanya Mega.


"Tanda apaan?" Jingga tak mengerti arah pembicaraan Mega.


"Tanda-tanda perut lo isi lah. Apalagi" lanjut Mega.


"Sudah terisi kok" jawab Jingga.


"Beneran, berapa bulan?" tanggap Mega antusias.


"Kok berapa bulan sih? Perutku kan memang selalu terisi Mega" ucap Jingga dan Mega pun menepuk jidat.


"Lo nggak tahu maksud gue?" tandas Mega.


"Ya tahulah. Maksud lo apa perut gue sudah isi bayi. Gitu kan?" seloroh Jingga.


"Nah itu yang aku maksud" kata Mega terbahak.


"Gue nikah sama kakak lo kan baru tiga minggu Mega, masak iya langsung jadi aja" jelas Langit.


"Bisa aja. Biar kutebak. Modelan lo sama kakak pasti saben hari kejar tayang kan?" olok Mega.


"Hhhmmm sok tahu lo.... Tapi, emang iya sih" ujar Jingga tertawa.


"Betewe Jingga, gimana sih rasanya? Katanya sakit banget ya?" tanya Mega ingin tahu.


"Mau tahu apa tahu banget?" canda Jingga membuat Mega sewot.


"Aku kan ingin tahu Jingga" lanjut Mega.


"Hhhmmm gimana ya? Sakitnya sih iya, awal-awal. Tapi...." kata Jingga menjeda ucapannya.


"Tapi apa?" seru Mega semakin penasaran.

__ADS_1


"Tapi nagih banget" sambung Jingga tertawa lepas.


"Sialan lo, kirain tapi apaan. Eh bentar, Firman telpon nih" bilang Mega.


"Ya lo sambungin aja buat video call bersama. Seru kali" ujar Jingga menambahi.


"Wah ide lo benar juga" setuju Mega.


Dan akhirnya mereka bertiga ngobrol online sampai lupa waktu.


Mendengar Firman dan Mega yang saling olok, membuat Jingga bagai dinina bobokan.


Mega dan Firman yang baru ngeh saat tak ada sahutan dari Jingga, "Loh, Jingga kok ilang aja. Padahal masih online. Jingga.... Jingga.... Jingga..." panggil keduanya.


Jingga kaget merasa ada yang memanggil.


"Iya" jawab Jingga saat nyawanya belum balik utuh.


"Hoiiii lo tidur ya? Buram tuh kamera ponsel lo" teriak Mega.


"Sori....sori...ketiduran" ulas Jingga.


Firman dan Mega kompak meneriaki Jingga, membuat Jingga terjingkat dan langsung membuka mata.


"Apaan sih kalian, ngagetin aja" ujar Jingga yang memang beneran kaget karena ulah Firman dan Mega.


Keduanya kompak menertawakan Jingga.


"Itu karena lo kebanyakan ronda Jingga, jadi ngantukan" olok Firman.


"Loh, bukannya ronda urusan bapak-bapak ya?" sela Mega.


Membuat Firman tepuk jidat.


"Gue mah bukan ronda lagi, tapi kejar tayang" seru Jingga.


"Lo lihat drakor lagi? Apa judul baru yang recomen ntar aku tonton" ulas Mega.


Dan kembali Firman tepuk jidat, diikuti oleh Jingga.


"Ada yang salah kah? Kenapa kalian tepuk jidat?" tanya Mega tanpa rasa bersalah.


Obrolan itu berlangsung hampir sejam lebih.


"Heh, sudah dulu ya. Kalau kalian mau lanjutin ngobrol ya lanjutin aja. Aku lapar!" kata Jingga.


"Eh Jingga, jangan lupa libur semester pulang yuk" ajak Mega.


"Kalau gue apa kata suami aja" jawab Jingga membuat Mega senewen.


Suami yang dibilang oleh Jingga kan kakak kandung gue. Pikir Mega.


"Sombong...sombong...mentang-mentang sudah punya suami. Suami lo itu kakak gue loh" olok Mega.


"Jingga, lo nggak jadi makan?" sela Firman.


"Eh iya betul. Kenapa gue malah ngeladenin kalian" ucap Jingga menimpali.


"Loh????" tanggap kedua orang yang tengah pacaran itu.


"Lanjutin aja kalian, maaf gue undur diri dulu ya. Bye..." kata Jingga dan akhirnya panggilan itu terputus.


.


Langit beranjak hendak ke toilet.


Di depan nya dia berpapasan dengan Daniel.


"Ingat Langit urusan kita belum selesai" kata Daniel.


Langit menatap tajam ke Daniel.


"Huh...urusan yang mana? Aku merasa urusan kita hanya di lintasan dan tak lebih dari itu" ulas Langit.


"Bukan sekedar itu" balas tatap mata elang Daniel ke arah Langit.


"Gue nggak peduli. Itu urusan pribadi lo ngebenci gue" sergah Langit.


"Kalau gue melibatkan Jingga, apa lo akan diam aja. Aku rasa lo tengah dekat dengan cewek itu" kata sinis Daniel lolos begitu saja.


"Jangan libatin Jingga dalam urusan kita. Di seri ke dua sudah dapat balasan setimpal atas ulah lo sendiri" tajam kata-kata Langit.


"Apa lo takut Jingga gue rebut???" tanya Daniel hendak berlalu pergi.


"Ha...ha...rebut? Dengan cara licik lagi?" Langit terbahak.


"Lo itu hanya pengecut Daniel, hanya berani main belakang" sindir Langit.


"Sampai gue tak yakin lo itu cewek apa cowok?" Langit mencoba memancing emosi Daniel.


Bukannya menjawab, Daniel malah melangkah menjauhi keberadaan Langit. Langit ganti yang merasa aneh dangan perginya Daniel tanpa ada kata yang menyakitkan lagi.


Langit masuk toilet pesawat.


Hampir sepuluh jam Langit berada di atas awan, dan kini telah sampai di negara tujuan.


Ternyata uncle Arga dan tim belum datang, karena jarak tempuh mereka yang lebih panjang daripada Langit.


Langit keluar bandara, naik taksi menuju hotel yang telah dibooking untuk tim mereka.

__ADS_1


Arka selalu tak main-main untuk ini, dia pasti menyuruh asistennya untuk mencarikan hotel terbaik untuk tim yang dimotori oleh Arga dan juga dirinya.


Langit menekan nomor sang istri.


Sekali tekan, tak lama panggilan tersambung.


"Sudah sampaikah?" tanya Jingga.


"Iya, baru masuk hotel ini" Langit menunjukkan kamar yang akan dihuni olehnya beberapa hari ke depan.


Terlihat Jingga menguap.


"Jam berapa di situ yank? Kok sudah ngantuk aja" seru Langit.


"Hampir tengah malam nih" bilang Jingga.


"Oke, met istirahat kalau gitu. Seminggu ini kamu aman yank, aman dari gangguan aku...ha....ha...." kata Langit terbahak.


Melihat tawa lepas Langit yang sangat langka itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Jingga.


"Fokus saja ke kejuaraan kamu" lanjut Jingga.


"Hhhhmmmm pasti yank" jawab Langit.


"Oh ya, jangan lupa..." lanjut Langit.


"Jaga diri baik-baik. Jika ada orang tak dikenal mendekat, lekas menjauh. Aku tak mau terjadi apa-apa sama kamu selama aku di sini" potong Jingga menanggapi pesan sang suami.


Langit pun tergelak.


"Ternyata istriku layak diacungi jempol ingatannya" puji Langit.


"So pasti. Kalau nggak gitu mana ada aku dapetin beasiswa. Sombong dikit boleh lah ya" tukas Jingga.


Tawa Langit kembali terdengar.


"Karena sombong, aku jadi makin sayang" ujar Langit bercanda.


"Loh????" Jingga bengong.


"Ha....ha...canda sayang. Bukan karena sombong sih, tapi karena kebaikan kamu" lanjut Langit.


"Issshhhhh...alasan klise itu sayang" tukas Jingga menimpali.


"Oke lah, sudah malam. Buruan istirahat. Love you Jingga" kata Langit yang sudah mulai pintar ngerayu plus ngegombal.


"Love you tooo" balas Jingga.


Tapi baru beberapa detik panggilan off, ponsel Langit kembali berdering. Dan itu dari Jingga kembali.


"Ada yang kelewatkah?" tanya Langit.


"Enggak, tapi aku mau ditemenin sampai tidur" kata Jingga manja.


Langit gantian yang bengong.


"Tatapin aja sampai aku tidur dengan sendirinya. Ya yank? Sepi di sini nggak ada kamu" tutur Jingga.


"Nyusul aja loh ke sini" kata Langit.


"Ntar kamu nya malah nggak fokus ke lintasan" Jingga tetap saja meminta untuk ditemani Langit sampai dirinya tidur pulas.


Padahal nggak biasanya Jingga bertingkah manja seperti ini.


Tapi Langit tetaplah menuruti apa kata Jingga. Beberapa kali ada panggilan uncle Arga masuk, tapi masih ditolak oleh Langit karena Jingga masih belum tertidur.


Setengah jam Langit menunggu, sampai terdengar dengkuran halus sang istri.


Langit tutup video call Jingga, dan menelpon kembali uncle Arga.


"Ada apa uncle?" sapa Langit saat panggilan tersambung.


"Nggak kok, cuman mau kasih info kalau pesawat uncle dan semua tim masih transit. Dan penerbangan masih ditunda karena sesuatu dan lain hal. Jadi mungkin rombongan uncle akan sampai sana telat" jelas Arga.


"Cuaca buruk kah?" tanya Langit sambil menautkan alisnya.


"Iya sepertinya" kata uncle Arga tanpa mengatakan dengan jelas.


"Nggak ada something kan?" dan Arga menjawab tidak ada.


"Semoga aja bukan karena ulah Daniel" gumam Langit.


"Apa kamu bilang Langit? Daniel? Mau apa lagi dia?" tanya uncle Arga.


"Sudahlah uncle, kita bicarakan di sini saja saat uncle sampai. Yang jelas Daniel sudah tahu siapa kita" jelas Langit.


"Oke lah kalau begitu" Arga menyetujui usulan Langit.


.


Hampir dua puluh empat jam, rombongan tim Langit belum ada yang datang.


Padahal tim lain sudah mulai turun ke lintasan untuk latihan.


Ponsel uncle Arga dan yang lain, belum ada satupun yang bisa dihubungi.


Terakhir kali kontak ya kemarin itu.


Langit dan Arka semua cemas tentang apa yang terjadi.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading


__ADS_2