Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Pesawat Delay


__ADS_3

"Andre" panggil Daniel ke arah seseorang yang sedang memakai topi.


"Kutungguin sedari tadi, ke mana aja lo" kata Daniel dengan merangkul cowok bertopi itu.


Tak menyiakan kesempatan, Langit pun mengarahkan kamera ke mereka dengan berpura-pura seperti orang sibuk main game.


Langit kirimkan gambar itu ke uncle Dewa.


"Uncle kenal dengan orang ini?" ketik Langit.


"Hhhmmmm..." uncle Dewa menambahkan emoji seperti orang sedang berpikir.


"Bisa kah kau perjelas. Tuh muka masih blur" balas uncle Dewa.


"Wait, aku masih nunggu kesempatan" masih dalam mode ketikan.


Saat Daniel bergeser ke samping kiri karena sedang menyalami teman yang satunya, barulah wajah orang yang dipanggil Andre itu nampak jelas.


Dan... Klik... Langit berhasil mendapatkannya.


Tapi sepertinya Andre menyadari akan hal itu dan kembali menutup mukanya dengan topi.


Langit berpura-pura sibuk main game online dengan kacamata tetap nangkring di hidungnya.


Padahal sebenarnya Langit sedang menunggu balasan dari uncle Dewa.


"Memang dia orangnya. Wajah orang ini sempat tertangkap kamera cctv rumah sakit saat Jingga hilang diculik oleh Kenzo" balas uncle Dewa membenarkan.


"Tapi sepertinya Kenzo sengaja yang dijadikan umpan, tapi di tengah jalan Kenzo merubah rencana mereka dengan membawa Jingga balik ke rumah nya" lanjut uncle Dewa yang pesannya dibaca Langit dengan tetap berpura main game online.


Daniel dengan santainya duduk di samping Langit bersama kedua temannya.


Andre membisikkan sesuatu ke telinga Daniel.


"Owh ini, kenalin. Dia Langit. Kalau di luar sih teman, kalau di lintasan dia rival sejatiku" kata Daniel sok akrab.


Andre menatap tajam Langit. Langit pun melakukan hal yang sama.


'Kalau orang ini yang ditugaskan membawa Jingga, tak mungkin dia tak mengenalku' batin Langit.


'Terus ada hubungan apa dia dengan Daniel? Kenapa Daniel seolah-olah tak tahu apa yang diperbuat oleh Andre?' banyak tanya di benak Langit.


"Kalian sudah saling kenal kah?" sela Daniel bertanya. Dan dijawab gelengan masing-masing.


"Kenapa saling tatap sebegitunya?" lanjut Daniel.


"Langit" kata Langit mengulurkan tangan.


"Andre" Andre menyambut tangan Langit.


Langit kembali asyik main game online tanpa perduli dengan Daniel yang melanjutkan tawa nya dengan Andre.


Tapi dalam hati Langit, aku harus cari tahu siapa Andre.


'Dia sepupu Daniel. Sepertinya Andre orang suruhan mama nya Daniel. Dan Daniel tak tahu apapun tentang penculikan waktu itu' ketik uncle Dewa yang tahu arah pikiran Langit.


Kenapa saat itu, Daniel seolah tahu semua? Tanya Langit. Atau memang sebenarnya Daniel hanya gertak sambal saja? Tapi tak mungkin Daniel tak terlibat, nyatanya dia begitu dendam dengan Dad. Ah sudahlah. Biarkan waktu yang akan bicara.


Langit memberitahu uncle Arga jika dirinya sekarang bersama satu pesawat dengan Daniel dan juga Andre. Andre yang dicurigai keterlibatannya dalam penculikan Jingga saat itu.


"Hati-hati" balas uncle Arga.


"Kita akan selalu waspada di sini" lanjut uncle Arga dalam bahasa ketik.


Pemberitahuan kepada penumpang untuk segera masuk ke pesawat pun terdengar.


"Akhirnya berangkat juga, padahal nih pantat sudah panas duluan" kata Daniel.


Langit lebih dulu melangkah dengan menenteng koper yang disiapkan Jingga.


Dan langsung saja duduk di kursi sesuai tiket yang ada pada nya.


Fligt duration yang hampir delapan jam akan Langit tempuh saat ini.


Siang hari waktu setempat Langit akan sampai sana.


Langit langsung saja merebahkan diri, mengistirahatkan sejenak fisiknya sebelum bersiap memutari lintasan dengan mobil yang disiapkan uncle Arga.


Malam hari sebelumnya hampir Langit tak bisa istirahat. Jingga mengeluh pening dan terus saja ingin dipijat pelipisnya.


Belum juga sepuluh menit setelah pesawat lepas landas, Langit sudah pulas dalam tidur.


Sambil menutup telinga dengan head set dan menutup wajah dengan selimut, Langit semakin pulas dibuatnya.


Penerbangan hampir delapan jam dilalui Langit tanpa kendala.


Langit turun belakangan, karena menyalakan ponsel terlebih dahulu.


Beberapa notif pesan masuk, lebih banyak dari uncle Arga sih.


Uncle Arga yang mulai mencium ada pergerakan tersembunyi dari tim Daniel kembali mengingatkan Langit.


"Kita tak tahu apa yang akan mereka perbuat, tapi sepertinya Daniel akan mati-matian di race ini. Karena jika dirinya kalah lagi, maka sponsor yang berada di belakang tim nya satu persatu menarik diri" jelas uncle Arga.


"Bahkan beberapa sudah mengajukan diri menjadi sponsor tim kita" lanjut uncle Arga.


"Biar menjadi urusan uncle Arka aja" balas Langit.


"Benar, kita nggak usah pusing ikut mikirin" jawab uncle Arga dengan menambahkan emoji orang tertawa terpingkal.


Langit melenggang keluar area bandara, dan salah satu anggota tim ada yang akan menjemput dirinya.


Tak perlu menunggu ternyata yang ditunggu Langit sudah menyambutnya duluan.


"Langit" panggilnya.


Ternyata Pedro lah yang kebagian menjemput Langit saat ini.


"Hei bro? Sudah lama kah?" tanya Langit menghampiri anggota tim nya yang konyol itu.


"Dua jam aku di sini. Dua cangkir cappucino habis aku tenggak" tukas nya dengan bahasa Indo yang masih kagok.


"Sori, pesawat delay" timpal Langit.


"Aku dikabarin tuan Arga saat sudah sampai di sini. Daripada putar balik bikin aku malas, mendingan nunggu saja" ulas Pedro.


"Sampai kapan lo akan bicara, ayo lekas" ajak Langit.


"Come on bro" tukas Pedro.


Langit tertawa.


Sampai di hotel, Arga sudah menyambut saja Langit di lobi.


"Capek banget muka lo" komen Arga saat melihat Langit pertama kali.


"Gimana nggak capek, semalam tangan ini tak berhenti di pelipis Jingga" terang Langit.


"Ngapain? Kurang kerjaan?" tanya Arga heran.


"Nggak usah aku bilang harusnya uncle paham dong" Langit melangkah menuju lift.


"Ha...ha... Suami sayang istri musti begitu Langit. Siap siaga dua puluh empat jam. Jangan hanya semangat saat minta jatah aja" olok Arga.

__ADS_1


"Oh ya, uncle mau lihat kesiapan tim di sana. Kamu istirahat aja dulu. Kasihan aku sama muka bantal kamu itu" canda uncle Arga.


Langit berhenti di depan lift, sementara uncle Arga hendak balik badan.


"Uncle, apa seperti rencana semula? Sesi latihan hanya sehari?" tanya Langit.


"Hhhmmm begitulah. Rencana hari Rabu sih" beritahu Arga.


"Oke uncle. Masih seharian penuh besok untuk bisa menyiapkan fisik" ucap Langit menimpali.


Arga pun melanjutkan rencananya. Dan Langit naik sesuai lantai kamarnya berada.


"Huh, tempat paling indah saat ini bagiku" gumam Langit dan langsung saja merebahkan dirinya di atas ranjang.


Seperti di pesawat, Langit langsung tertidur kembali.


Nggak tahu kenapa Langit akhir-akhir ini juga ikutan mager seperti Jingga. Bawaannya mau rebahan melulu.


Jika di perusahaan, Langit selalu minta istirahat saat siang.


Jika yang lain beristirahat dengan pergi keluar untuk cari makan, tidak berlaku bagi Langit.


Dia menghabiskan waktu istirahat untuk rebahan di kamar samping ruangannya itu. Dan hanya makan secukupnya.


Langit terbangun saat suara dering ponsel miliknya terdengar.


"Halo sayang, sudah sampai belum? Kok belum ada kabar?" tanya Jingga langsung saja terdengar saat panggilan tersambung.


"Sori sayang, aku ketiduran" tukas Langit.


"Oke dimaafkan" kata Jingga dan langsung mematikan panggilan.


"Loh, kok nanyanya cuman begitu?" gumam Langit heran.


Kembali Langit menelpon balik Jingga dengan panggilan video.


"Halo, apa lagi sayang? Aku sudah lega jika kamu sudah sampai dengan selamat. Jadi kututup langsung. Aku ngantuk, ini sudah tengah malam" kata Jingga yang tak ada kata mesra sama sekali itu.


"Kiss nya mana?" pinta Langit.


"Muuaaachhhh..." Jingga pun menuruti apa kata Langit, meski masih malu.


"Ini suami kamu loh sayang. Kenapa musti malu. Semua bagian tubuh kamu tuh nggak ada yang kelewat olehku" kata Langit membuat Jingga semakin bersemu merah pipinya. Untungnya lampu kamar temaram, jadi wajah Jingga yang bagai tomat tak nampak jelas di mata Langit.


"Tidur ah, besok aku masuk nih" kata Jingga ngeles.


"Hhhmmm tidur lah. Bye sayang. Good night" Langit memutus panggilan.


Saat lihat jam, memang benar adanya jikalau di London memang sudah tengah malam.


Langit berendam air hangat sebelum akhirnya turun untuk gabung bersama dengan anggota tim yang lain.


Langit menghampiri Arga yang lebih dulu berada di sana.


"Nggak makan?" tanya Arga yang di depannya sudah ada sepiring salad.


"Bentar lagi" Langit sementara hanya mengambil air putih.


"Langit, harusnya beberapa anak buah kamu di perusahaan ikutan ke sini" utas uncle Arga.


"Buat ngeliput gitu kah?" Langit menanggapi dan Arga pun mengangguk.


"Kalau itu pasti sudah dong uncle" seru Langit.


"Meliput resmi?" tanya uncle.


"Yaapppp..." jawab pasti Langit.


"Contohnya???" sela Langit.


"Seperti behind the scene gitu?" tanggap Arga.


"Apa itu nggak merugikan uncle? Takutnya rahasia tim kita akan diketahui oleh tim lain" tukas Langit.


"Ya jangan yang inti dong. Dan nggak usah bahas yang inti. Canda-candaan kita aja yang dijadiin konten" usul Arga.


"Wah, usulan bagus tuh uncle. Apalagi perusahaan multimedia pasti akan sangat menyukainya" Langit beranjak hendak mengambil makanan.


"Makanya buat aja akun tersendiri untuk tim ini" imbuh Arga.


"Wah, perusahaan aku sepertinya ditodong nih untuk jadi sponsor tim" kata Langit terbahak.


Arga pun terbahak.


"Oh ya Langit, kembali ke masalah Daniel. Apa kamu tahu perusahaan mana saja yang akan ikutan gabung dengan tim kita?" tanya uncle Arga.


Langit hanya mengedikkan bahu tanda tak tahu.


"Nih" Arga menunjukkan sesuatu ke arah Langit yang saat ini juga tengah menikmati makanan.


"Lihat dulu" suruh Arga menunjukkan pesan dari Arka. Pesan yang berisi perusahaan yang akan mengajukan diri menjadi sponsor tim Langit.


Kalau biasanya tim yang akan mencari sponsor, kali ini di tim Langit yang terjadi malah sebaliknya. Perusahaan-perusahaan besar dan punya nama berbondong-bondong untuk menjadi sponsor utama tim ini.


Langit menaikkan sebelah alisnya, setelah melihat dan mengingat perusahaan itu.


"Lo paham?" sela Arga.


Langit mengangguk. Karena banyak juga rival perusahaan Blue Sky yang menawarkan diri menjadi bagian dari sponsorship.


Bahkan rival Panapion pun terang-terangan ikut mengajukan diri juga.


"Bagaimana siangan Panapion beraninya mengajukan diri uncle? Apa mereka tak tahu siapa pemilik utama tim ini?" seloroh Langit bercanda.


"Ya pastinya mereka nggak tahu. Kan hanya ada nama aku di status pemilik tim ini. Arka kan hanya pemilik bayangan...ha...ha..." Arga pun terbahak.


Mereka berdua melanjutkan makan sambil bercanda.


Hampir tengah malam Langit baru balik kamar.


Langit santai karena jadwal besok masih kosong untuk balap.


Tapi agenda rapat online sudah menantinya esok hari.


Langit meminta jadwal selepas makan siang di London, agar dirinya juga tak kepagian mengikuti rapat itu.


Sulit sekali malam ini mata Langit terpejam. Karena hampir seharian dia tidur siang. Mulai naik pesawat masih ditambahi di hotel.


Langit coba buka tab nya, untuk melihat pergerakan harga saham perusahaan garmen milik keluarga Daniel.


"Hari ini nilai saham perusahaan ini berada di titik terendah" gumam Langit.


"Sebenarnya waktu yang pas untuk membelinya" lanjut Langit.


"Tapi kenapa Dad musti nungguin aku datang? Ntar kalau nilai saham naik, mereka pasti batal menjualnya. Tapi biasanya insting Dad banyak benarnya" kata Langit bermonolog.


Langit mencoba mengklik wajah Andre yang berhasil dia dapatkan tadi siang.


"Wajah ini kenapa seperti tak asing ya? Tapi di mana aku ketemu?" gumam Langit.


Semakin berusaha mengingat, maka Langit semakin lupa.


Sampai Langit kembali tertidur, Langit masih belum ingat dengan pertemuan pertamanya dengan Andre.

__ADS_1


.


Bangun pagi Langit bersiap untuk menghadiri rapat dengan staf perusahaan.


"Rapi amat?" tanya Pedro yang kebetulan turun barengan Langit di lift.


"Harus rapi dong, biar aura ketampanan tetap muncul dan terpancar" tukas Langit terbahak.


Pedro yang berkulit khas orang Amerika Selatan pun ikutan tertawa.


Langit makan sedikit tergesa, karena acara rapat segera dimulai.


"Pedro, sori gue balik duluan" kata Langit bergegas.


"Oke bro" Pedro melanjutkan makan dan mengambil lagi beberapa kue untuk dimakan.


Langit tengah duduk di kursi kamar dengan laptop berada di meja depannya.


Sengaja Langit pakai head set agar suara yang masuk atau saat dia bicara bisa terdengar jelas.


Langit membuka sesi rapat yang akan membahas laporan triwulan pertama tahun berjalan.


Staf telah duduk rapi di ruang rapat mendengarkan Langit bicara dari jarak jauh.


Belum ada sebulan Langit memimpin perusahaan, Langit sangat menguasai pokok bahasan yang akan dilaporkan hari ini.


"Oke, kita mulai dari divisi pengembangan" perintah Langit.


"Selain laporan, tolong dipersiapkan program tiga bulan ke depan" imbuh Langit.


Beberapa staf mulai nampak sibuk dengan persiapan presentasi bagian masing-masing.


Langit mendengar dengan serius laporan dan juga program-program per divisi.


"Oke, setelah mendengar semua. Ada beberapa catatan yang perlu aku koreksi" tandas Langit.


Semua staf dengan serius apa yang akan dikatakan oleh sang bos.


"Pertama, semua program yang dipresentasikan masih sama dengan program tiga bulan kemarin. Aku ingatkan kembali, perusahaan kita bergerak di bidang multimedia. Yang perubahan nya saja bisa berlangsung harian. Jika kalian masih seperti ini, aku jamin akhir tahun ini kita akan ketinggalan jauh dengan perusahan lain yang bergerak sama dengan perusahaan kita" kata Langit tegas.


"Kedua, laporan kalian hanya menunjukkan semua keberhasilan program yang telah kalian susun. Karena berhasil semua, maka muncul pertanyaan dalam otak saya. Apa benar semua sukses? Bahkan di laporan juga tidak ada yang memunculkan kendala atau kesulitan yang dialami saat menjalankan program" lanjut Langit.


Semua staf diam. Analisa sang bos baru seperti menyindir mereka semua yang ada di ruang rapat.


"Oke, pada intinya aku tak ingin program dan laporan muluk-muluk. Sampaikan saja data real kalian, baru nanti kita evaluasi bersama. Minggu depan, sepulang aku dari negara ini maka semua yang aku inginkan ada di meja saya. Sekian dan terima kasih" tandas Langit mengakhiri pembicaraan.


Semua diam, karena selama ini seperti itulah yang mereka kerjakan. Ternyata bos barunya ini sangatlah detail dalam program dan pelaporan.


"Tuan, sebelum ditutup ada yang ingin kita sampaikan" sekretaris Langit mengangkat tangan.


"Silahkan" Langit menimpali.


"Selamat bertanding. Perlu diingat, kami adalah pendukung utama tim anda" kata sekretaris tampan itu penuh semangat. Para staf lain pun ikutan menyiapkan yel-yel.


Langit tertawa lepas, saking kompaknya mereka dalam ber yel-yel.


"Makasih" seru Langit.


Masih banyak pembenahan yang harus dilakukan ternyata. Budaya melaporkan hal yang tak nyata musti dihilangkan. Ide kreatif mereka harus banyak digali untuk membuat program yang up to date. Dalam pikiran mulai muncul bermacam-macam ide untuk membenahi perusahaan.


Langit berniat menghubungi Jingga selepas rapat, tapi sang istri masih menghadap dosen untuk mengajukan judul proposal penelitian.


Langit hanya bisa bisa mengirimi pesan, agar Jingga menghubungi dirinya jika telah selesai.


Mengisi kekosongan waktu, Langit ikutan uncle Arga untuk pergi mengecek kembali persiapan tim untuk uji coba besok.


Langit merasa ada yang mengawasinya sedari tadi. Saat menengok ke sebelah kanan, sesuai instingnya. Didapatinya Andre yang tengah menatap ke arah dirinya.


"Arah jam satu, laki-lali bertopi" kata Langit ke arah Arga.


"Siapa dia?" tanya Arga tanpa menggerakkan mulut, seolah jika dilihat dari jauh mereka tak nampak mengobrol.


"Andre, orang yang diduga membantu Kenzo menyulik Jingga" jelas Langit.


"Bagaimana dia bisa ke sini? Bukannya dia sudah dijadikan DPO?" tanya balik Arga.


"Kata uncle Dewa sih kurang bukti, jadi dia dibebaskan" tambah Langit.


"Kenapa Dewa tak cerita ke gue ya?"


"Nggak sempat kali uncle, atau bisa saja uncle Dewa lupa untuk cerita" bilang Langit.


"Bisa jadi"


"Apa aku suruh orang saja untuk ngikutin dia?" tanya Arga minta persetujuan Langit.


"Kira-kira siapa yang kita suruh?" tukas Langit.


Arga terdiam sejenak.


"Pedro" seru Arga dan Langit bersamaan.


Pedro muncul saat namanya disebut oleh sang bos.


"Ada apa bos?" tanyanya mendekat.


"Ada misi buat lo" terang Arga.


"Misi? Misi apaan?" tanya Pedro.


Langit pun membisikkan sesuatu ke telinga Pedro.


"Dengar nggak? Kok manggut-manggut aja?" tanya Langit.


"Dengar, jelas sekali malah" jelas Pedro.


"Mulai hari ini deketin dia. Korek apa saja yang bisa lo dapat" suruh uncle Arga.


Pedro mengangguk. Mengerti apa yang dimaksud sang bos.


"Baiklah tuan, aku pergi dulu" pamit Pedro.


"Jangan sering-sering juga lo samperin kami saat ada dia" pesan Arga.


"Baik tuan" imbuh Pedro dan beranjak menjauh.


"Sepertinya Andre ini lah yang lebih paham dengan keluarga kamu Langit. Buktinya dia bisa tahu jika Jingga mulai dekat dengan kamu, hingga berinisiatif untuk menculik Jingga sebelum akhirnya misi itu digagalin oleh Kenzo yang direkrutnya sebagai anak buah" jelas Arga.


"Loh, uncle sudah tahu cerita itu?" kata Langit heran.


"Sejak kejadian bebasnya Jingga saat itu pun kita sudah tahu, cuman Andre menghilang begitu saja. Sulit juga mencari keberadaannya waktu itu. Eh tahunya berhasil ditangkap, tapi berujung kurangnya bukti" jelas Arga sama seperti penjelasan uncle Dewa waktu itu.


"Uncle Dewa sama uncle Arga top markotop dech kerjasamanya" puji Langit.


Saat asyik ngobrol, ponsel Langit berdering.


"Bentar uncle, ijin angkatin telpon. Takut nggak diberi jatah jika pulang nanti" canda Langit, karena sudah tahu siapa yang menelponnya saat ini.


Arga hanya tersenyum menanggapi.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2