
Terdengar ketukan pintu, "Siapa yang datang?" tanya Mega yang juga sedang asyik makan.
Langit beranjak untuk membuka pintu.
"Kalau nggak dilihat mana tahu siapa yang datang" celetuk Langit menanggapi.
"Selamat siang tuan" sapa orang yang baru datang. Yang ternyata petugas fisioterapis yang dijanjikan oleh uncle Bara.
"Saya fisioterapis yang akan membantu nona Jingga untuk memulai mobilisasi bertahap" terang nya. Fisioterapis yang bernama Nanda, kalau dilihat dari nametag nya sih.
Nanda menghampiri Jingga yang masih duduk dengan posisi setengah duduk.
"Kita akan bantu pelan-pelan nona. Karena otot anda selama dua bulan lebih tidak pernah digunakan. Jadi haru bertahap" lanjutnya lagi.
"Jingga, Mega kakak pergi dulu ya?" pamit Langit.
"Jadi ke uncle Arga kak?" tanya Mega.
"Heemmmm" gumam Langit.
"Mega, tolong jagain Jingga" kata Langit sejenak sebelum pergi.
"Siap tuan besar" jawab Mega tetap dengan tawa cerianya.
"Kak" panggil Mega lagi.
"Apa lagi?" tukas Langit sembari menengok balik ke Mega dan Jingga.
"Jangan lupa, p-i-z-z-a" eja Mega.
"Oke, kalau belum tutup ntar aku beliin" seru Langit.
Sementara Jingga sudah mulai sibuk dengan kegiatan terapi nya.
Nanda mulai melatih pergerakan dan tahanan otot Jingga.
Kaki yang lama tak bergerak itu sering kesemutan. Keluh Jingga.
"Itu karena pergerakan anda yang kurang Nona. Maka mulai dari hari ini, silahkan diulang-ulang apa yang saya latih ini" jelas Nanda.
"Jika sudah lancar, akan kita ganti terapinya pelan" sambung Nanda.
"Butuh waktu berapa lama kegiatan seperti ini?" tanya Jingga.
"Tergantung tekad, fisik dan kesiapan masing-masing pasien. Tidak bisa kita samakan antara satu pasien dengan pasien lainnya" seru Nanda.
"Semangat Nona" ujarnya untuk menguatkan Jingga.
"Biar bisa lekas hangout Nona" seru Nanda kemudian.
Sementara Mega tak begitu memperhatikan obrolan Jingga dan Nanda sang fisioterapis.
Mega sibuk dengan chat grub yang sebenarnya salah satu anggotanya adalah Jingga.
Tapi sejak kejadian kecelakaan yang tak diingat Jingga, dirinya sama sekali tak aktif di chat grub.
Teman-temannya tau kabar Jingga berdasar info dari Mega.
__ADS_1
Firman dan teman-teman yang lain dan sekarang masih sekota rencana ingin menjenguk Jingga , tapi dicegah oleh Mega karena sesuatu dan lain hal.
Mega berjanji jika keadaan sudah memungkinkan akan dikabari lagi.
Tentu saja Mega juga belum kasih tahu ke teman-teman jika Jingga masih disorientasi tempat.
Jingga sampai saat ini mengira masih berada di London.
Sampai hampir sejam, Jingga masih latihan dengan Nanda yang dengan telaten mendampingi.
"Kira-kita kalau sudah kembali lancar berjalan, Nona Jingga mau hangout kemana?" seru Nanda dengan bercanda.
"Hhhmmm ke mana ya? Aku sih inginnya ke istana yang ada di sini" jawab Jingga.
"Istana? Di sini nggak ada istana" tukas Nanda.
"Heeiii...kamu sudah berapa lama di sini? Sampai nggak tahu kalau di sini ada istana ratu negara ini" tegas Jingga.
"Istana ratu? Di mana Nona? Aku tinggal di kota ini sudah lebih dari lima tahun loh" beritahu Nanda.
"Lebih lima tahun, tapi istana ratu aja nggak tahu" seloroh Jingga.
"Istana yang mana Nona? Ntar tak carinya biar bisa mampir" tukas Nanda kembali bercanda.
"Eh betulan ya. Ntar aku kasih tahu lokasinya" kata Jingga serius.
"Oke Nona" tukas Nanda bersemangat. Karena dia memang tidak tahu letak istana itu.
Padahal mereka berdua tuh terjadi miss komunikasi, Jingga mengira dirinya di London sementara Nona Nanda berada di dunia nyata di negara Indo.
"Baiklah Nona Jingga, saya pamit undur diri. Sampai jumpa lagi di sesi latihan berikutnya" pamit Nanda setelah selesai semua.
.
Langit telah sampai di bengkel Arga tepat setengah jam perjalanan.
Di sana semua anggota tim berkumpul.
"Oke, karena Langit sudah datang. Kita mulai aja bahas apa yang menjadi evaluasi kita selama perlombaan kemarin" kata Arga memulai sesi rapat.
Langit berdiri dan memulai sesi presentasi. Langit bicara memposisikan dirinya sebagai pembalap.
Langit mengutarakan kelebihan dan kekurangan mobil yang dipakai olehnya saat itu.
Sebagai ketua tim, Arga mengapresiasi masukan Langit barusan. Tidak hanya Langit, tapi semua anggota tim diberi kesempatan yang sama untuk mengutarakan pendapat. Kendala atau masalah apa yang terjadi, Arga korek semua. Agar kerja tim semakin solid lagi.
Uncle Arka datang saat rapat sudah berjalan di tengah-tengah. Dan langsung duduk di samping Langit.
"Persiapan race berikutnya bagaimana? Berapa persen kesiapannya?" tanya Arka.
"Ini sedang kita bahas bos. Sabar dong" sela Arga.
"Ha...ha...baiklah" detik berikutnya Arka lebih memilih untuk diam karena semua sudah diatur Arga dengan baik.
Pembicaraan ini berlangsung alot, karena semua untuk kebaikan tim.
"Oke, malam ini akan kita perbaiki. Mulai suspensi dan semuanya" terang Arga.
__ADS_1
"Dan untuk Langit, besok sudah kita mulai latihan di lintasan. Aku harap kamu ada waktu" harap Arga.
"Aku usahakan uncle" jawab Langit.
Saat semua tim sudah buyar, dan Langit akan pergi.
Uncle Arka memanggilnya untuk masuk ruangan uncle Arga.
"Langit, apa ada yang sedang kamu pikirkan?"
"Nggak ada apa-apa kok uncle. Suerrrrrr" jawab Langit tersenyum tipis.
"Gimana keadaan Jingga?" tanya Arka.
"Sudah lebih baik uncle. Jingga sudah sadar dari kemarin. Dan untuk sementara ini ngejalanin program rehap medik. Pas aku ke sini tadi, Jingga juga ditemenin fisioterapis untuk memulai latihan pergerakan sedikit demi sedikit" jawab Langit.
"Langit, sebenarnya sudah cukup lama aku ingin bahas ini dengan kamu" seru uncle Arka.
Langit tak jadi beranjak dan kembali duduk dekat uncle Arka.
"Apa uncle? Uncle mau memutuskan kontrak denganku?"
"Bukan, tapi ini mengenai kecelakaan kamu di London" seru Uncle Arka.
"Kenapa???" tukas Langit.
"Apa kamu tak merasa ada sesuatu?" tanya uncle Arka.
"Apa uncle tahu jika ada yang nggak beres saat kecelakaan itu" telisik Langit.
Arga datang menyela.
"Aku ngira ada sabotase" kata Arga menanggapi.
"Buktinya?" komen Langit karena Arga bilang dengan sangat yakin.
"Kita cari bersama Langit" saran uncle Arka dan uncle Arga.
.
Hari-hari dilewatin Jingga dengan kegiatan fisio terapi. Bahkan kini dirinya telah akrab dengan Nanda.
"Oke Non, semangat. Hari ini kita latihan menapakkan kaki dan mulai jalan perlahan" ajak Nanda.
Dengan bantuan alat penyangga tubuh, Jingga mulai berjalan menapakkan kaki.
"Ih, kenapa rasanya tebal sekali telapak kaki aku" keluh Jingga.
"Karena baru pertama kali kaki anda bertemu kembali dengan tanah Nona" ujar Nanda kembali bercanda.
Jingga mulai menapak satu demi satu dengan sangat pelan dan hati-hati.
"Hore...berhasil. Selamat ya kak, besok kita mulai kembali" ujar Nanda menyemangati.
"Siap Nanda" bilang Jingga menimpali.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
To be continued, happy reading