
Jingga lebih banyak diam saat di mobil dan lebih banyak ngedengerin kakak adik yang saling debat itu.
"Kak, ke mall aja" pinta Mega.
"Oke, gue drop aja. Ntar lo balik naik taksi online" tukas Langit.
Sementara Bintang yang duduk di samping Langit pun ikutan komentar.
"Kalian ini nggak capek apa, nge mall mulu" ejek nya.
"Issshhhh ya enggaklah" ujar Mega.
"Jingga, lo sakit gigi ya. Dari tadi nggak kedengeran suaranya" seru Bintang.
Eh, kok tahu nama ku. Batin Jingga.
"Jingga, kok diam aja sih?" sambung Bintang.
"I...i...iya kak" jawab Jingga.
"Wah, harus ditatar dulu nih. Jurusan hukum kok suka grogi" ujar Bintang menambahkan. Sementara Langit lebih banyak diam.
"Jingga tuh kaget kak, kok kak Bintang tahu namanya" bilang Mega mewakili Jingga.
"Ha...ha...ya tahu lah. Mana pernah cewek cantik terlewatkan oleh Bintang" kata Bintang tertawa lebar.
Mega pun manyun.
"Awas saja kalau Jingga lo mainin kak. Akan aku laporin ke Uncle Reno" kata Mega sewot.
"Ha...Ha...bilang aja. Papa Reno tak akan menggubrisnya" tawa Bintang semakin saja membahana.
"Papa Reno sudah sibuk dengan jadwal operasinya yang mengular. Di rumah sibuk dengan kebucinannya sama mama Catherine" alesan Bintang.
"Heemmm kalau gitu akan kulaporin aja ke ayah Pramono. Ayahnya Jingga" tandas Mega.
"Emang lo kenal?" seru Bintang.
"Kenal, kemarin kan sudah dikenalin. Awas loh, ayah Jingga tuh galak" seru Mega.
"Kalau galak ya dijinakin dong" Bintang masih saja menyela.
Seperti tak asing dengan nama yang disebutin Mega tadi. Batin Langit.
"Noh, turun! Sudah sampai tuan putri" bilang Bintang.
Mega dan Jingga saling jalan beriringan saat masuk ke mall itu.
__ADS_1
Sementara Langit dan Bintang langsung menjalankan laju mobil meneruskan niat semula, ke bengkel Arga.
"Jingga, menurut kamu kakak aku seperti apa sih?" tanya Mega.
"Kakak siapa? Kak Langit apa kak Bintang?" tanya Jingga.
"Keduanya" imbuh Mega.
"Kak Bintang itu seru" jawab Jingga.
"Kalau kak Langit?" sambung Mega.
"Es balok" jawab jujur Jingga sambil menunjukkan deretan giginya yang tertata rapi.
"Ha...ha...betul apa kata kamu. Kak Langit itu bagai es kutub" seru Mega.
Tiba-tiba ada yang menarik lengan Jingga ke samping.
"Aduh" keluh Jingga dan badannya sedikit limbung karena tarikan yang lumayan kuat.
Mega yang melihat berusaha mencegah.
"Jangan ikut-ikut lo, ini urusan pribadi" kata Kenzo ketus.
"Jangan main kasar sama cewek dong" tukas Mega.
"Lo ganggu teman gue" kata Mega tak kalah ketus.
"Diam kamu kak!!!" hardik Jingga.
"Apa kurang jelas kata ayah sama kataku yang kemarin-kemarin. Jangan ganggu hidup ku lagi" tandas Jingga dengan sangat jelas dan langsung pergi menjauhi keberadaan Kenzo.
Mega mengacungkan ibu jari tangannya ke atas dan sedetik kemudian memutarnya ke bawah. Dan Kenzo melihatnya dengan tatapan nyalang dan tajam.
"Apa? Mau ngancam gue?" kata Mega menjauh mengikuti langkah Jingga yang sudah lumayan jauh meninggalkan Mega karena marah dengan Kenzo.
"Jingga, kalau lo marah sama dia. Berarti masih ada sisa rasa suka lo sama Kenzo" olok Mega.
"Siapa bilang?" ucap Jingga menanggapi.
"Terang aja. Muka lo nggak bisa bohong" Mega menimpali.
Jingga menghela nafas panjang, untuk mengurai emosi yang meledak.
"Tarik nafas panjang" suruh Mega.
Jingga melakukan apa yang diminta oleh Mega.
__ADS_1
"Ingat Jingga, lo cuman dianggap sebagai gulma dari hubungan mereka. Ingat lah itu" seru Mega.
Mata Jingga mulai merah dan sebentar lagi terlihat akan turun air mata.
"Aku ke toilet dulu" kata Jingga.
"Aku ikut" seru Mega.
Di toilet Jingga menumpahkan rasa kesal nya. Bagaimanapun selama tiga tahun terakhir ini Kenzo mengisi hari-harinya.
Meski mulut berkata tidak apa-apa, tapi hati masih butuh waktu untuk menata dan menyembuhkan luka yang tergores.
"Jingga, kamu tak apa-apa?" terdengar ketukan dan suara Mega bersamaan.
"Ya, bentar. Perut aku masih mulas nih" kata Jingga beralasan. Dia masih butuh waktu.
Mega pun menunggu dengan sabar temannya keluar dari toilet.
"Putus cinta memang berat. Tapi lebih berat lagi jika menahan lapar" gumam Mega. Karena saat ini perutnya sudah demo untuk diisi.
"Maaf, aku lama" kata Jingga yang tiba-tiba sudah di belakang Mega.
"Sudah plong?" tanya Mega.
Jingga tersenyum tipis. Plong yang dimaksud Mega lebih mengarah ke perasaan Jingga.
"Makan yuk. Laper gue nungguin lo tadi di toilet" bilang Mega.
"Aku males Mega" jawab Jingga.
"Heemmm repot juga ngadepin cewek yang sedang putus cinta" gurau Mega.
"Oke lah aku anterin. Tapi kamu aja yang makan" kata Jingga mengambil jalan tengah. Karena kali ini Jingga belum merasakan lapar.
"Heiiii..ingat Jingga. Meratap karena cinta pun juga butuh energi...ha...ha...." seru Mega tetap mencandai Jingga agar terhibur.
"Sialan lo" jawab Jingga yang terus saja mendengar olokan Mega.
Dan Jingga pun akhirnya ikutan makan kala Mega sudah mau habis makanan yang ada di piringnya.
Saat Jingga mulai sedikit demi sedikit bisa tersenyum dan bersendau gurau dengan Mega, terlihat sepasang laki-laki dan wanita yang sudah tak lagi muda menghampiri mereka berdua.
Jingga yang kali ini sedang tertawa karena kelucuan Mega, pun segera menghentikan tawa kala melihat ada yang mendekati meja mereka berdua.
Jingga melihat ke arah kedua orang yang baru datang itu.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
To be continued, happy reading