
"Kutunggu seminggu lagi. Jika Jingga masih sulit kugapai, aku harus melakukan cara ini agar Jingga mau menyerahkan diri secara sukarela" Kenzo tersenyum smirk.
"Sudah beberapa bulan aku di sini. Tabungan aku mulai menipis untuk hidup di sini" gumam Kenzo.
"Aku harus segera cari kerja. Tapi bisa nggak dengan visa kunjungan seperti ini?" tanya Kenzo sendirian.
"Aku harus urus ini dulu, agar tak bermasalah di negeri orang" batin Kenzo.
Urusan cinta sungguh membuat riweh. Tapi mau gimana lagi, aku sudah cinta dengan Jingga.
.
Langit mulai tak sabar karena belum juga mendapat balasan dari Jingga.
"Apa kutelpon dia aja ya? Tapi enggak ah dikira sok perhatian" ragu Langit. Langit yang memang tak pernah dekat dengan seorang wanita kecuali bunda dan Mega jadi bingung sendiri.
Di grub chat keluarga jadi ramai karena ulah Mega.
Mega kasih tau kalau Langit sedang proses pedekate ke cewek.
Alhasil Dad Tian lah yang pertama kali komen.
Langit menanggapi.
"Dad, urus saja tuh Blue Sky. Jangan ngedengerin Mega. Ntar kiriman buat kita telat loh" balas Langit saat Dad menanyakan siapa orangnya ke Mega.
"Blue Sky aman jika ada uncle Dewa di belakang Dad. Siapa cewek yang bisa melelehkan es batu" ledek Dad.
"Es batunya meleleh gara-gara lemari es nya nggak tersambung daya...ha...ha..." Mega menimpali.
"Kira-kira yang bisa ngisiin daya siapa sayang?" sela Dad.
"Tunggu hari Minggu Dad, semua akan terkuak" bilang Mega.
"Kalian ngobrolin apa? Oh ya Dad, Dad di mana kok belum ke kamar" ketik sang bunda.
"Loh, mau bikin adiknya Awan kah Dad?" olok Langit.
"Issshhhh amit-amit dah" Awan ikutan nimbrung.
Semua saling kirim emoji orang ketawa bergantian.
Itulah penerus kedua keluarga besar Baskoro kalau sedang ngobrol meski hanya chat. Meski terpisah jarak dan waktu tak mengurangi intensitas kebersamaan.
Kali ini Mega mengalihkan panggilan video grub. Dad Tian telah bersama sang bunda di kamar utama.
Terlihat Awan menggerutu karena acara main game online nya terganggu karena ulah sang kakak.
"Kak, ngapain pakai panggilan grub segala sih. Konsentrasi aku keganggu nih" tukas Awan manyun.
"Loh bukannya di Japan sudah tengah malam sayang, kenapa belum tidur?" tanya bunda yang juga mulai mengantuk. Dan terlihat menguap beberapa kali.
"Kangen sama Dad dan sama bunda" rengek Mega manja.
"Kumat dech" sindir Awan ke kakak perempuan satu-satunya yang manjanya tiada tandingan.
"Biarin. Dad sama bunda aja nggak komplain" sahut Mega.
__ADS_1
"Kak Langit, gimana keadaan kakinya?" tanya bunda penuh rasa sabar.
"Baikan kok bun, meski kalau jalan musti pakai penyangga dulu" bilang Langit.
"Gimana nggak baik bun, sekarang sudah ada obat penawarnya" seru Mega mengolok sang kakak.
"Memang apa obatnya?" tanya bunda penasaran.
"Besok Minggu aja bun, biar kak Langit sendiri yang kasih tahu. Aku kan jadi nggak enak kalau ngedahuluin" sambung Mega.
"Pintar omong" seru Langit ditujukan kepada Mega.
Panggilan ditutup karena bunda sudah tak bisa menahan kantuk. Sementara terdengar sorakan Awan kala panggilan bersama itu akan selesai.
Karena masih sore, Langit belum bisa menutup mata meski rasa kantuk menyerang.
Mau keluar lagi malas, hawa musim dingin mendukungnya untuk bersembunyi di bawah selimut.
Sampai detik ini balasan dari Jingga belum muncul juga.
.
Di asrama Jingga terbangun kala waktu menunjukkan tengah malam.
"Jam berapa nih? Belum mandi juga" Jingga terduduk di tepi ranjang.
Jingga raih ponsel untuk melihat waktu di sana.
"Hah? Tengah malam?" ujar Jingga.
Jingga urungkan niat untuk membersihkan badan. "Besok aja sekalian. Hemat air" kata Jingga melakukan pembelaan diri karena malas mandi.
Jingga mulai menscrol pesan di ponsel nya.
Obrolan grub yang mencapai ratusan dia klik duluan.
"Oalah, ternyata mereka tadi nghibahin aku" gumam Jingga sembari tertawa kecil saat membaca chat yang puanjang itu.
"Emang siapa yang minta nomor kontak aku?" batin Jingga penasaran.
Jingga hanya membaca pesan demi pesan yang ditulis oleh teman-temannya, belum berpikir untuk menjawab. Pasti teman-temannya yang aktif tadi di grub sekarang sedang sibuk bersiap kuliah ataupun bersiap kerja.
Ada nomor tak dikenal masuk juga ke ponsel Langit.
"Pasti kak Adnan dech" tebak Jingga. Karena nomor kak Adnan sekarang belum juga tersimpan di ponsel Jingga.
"Balasin besok saja lah. Mending tidur lagi sekarang" kata Jingga menarik selimut tebal nya.
Alarm ponsel mengagetkan Jingga. Karena baru bisa tidur lagi menjelang dini hari, suara alarm yang sangat keras dan berulang belum bisa membangunkan Jingga yang tengah nyenyak-nyenyaknya.
Baru alarm entah yang ke berapa kali baru lah Jingga terjingkat.
"Celaka, ada kuliah pagi nih. Kenapa baru bangun sih Jingga" gumam Jingga menyalahkan dirinya sendiri.
Jingga keburu masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Huh, alamat gue telat nih" seru Jingga kala baru selesai bersiap.
__ADS_1
Di depan gerbang kembali ada laki-laki yang kemarin.
Dia selalu saja datang di saat yang tidak tepat. Gerutu Jingga dalam hati.
"Sori kak, gue buru-buru nih. Jadi jangan ngehambat gue" kata Jingga menjelaskan.
"Sebentar aja Jingga" tukas Kenzo masih saja tak mau tahu kesibukan Jingga.
"Kak, jangan mulai dech. Aku ada kuliah pagi ini. Aku tak mau beasiswa aku dicabut gara-gara ulah lo" tandas Jingga dan berjalan meninggalkan Kenzo.
Kenzo kembali gagal, membuatnya meninju sebuah tempat kosong.
Belum jauh kaki Jingga meninggalkan Kenzo tadi, sebuah mobil mewah menghampiri Jingga.
"Kuanter. Daripada lo dikuntitin laki-laki di belakang kamu itu" Langit menarik begitu saja lengan Jingga untuk segera masuk mobil tanpa menunggu persetujuan Jingga. Sudah laiknya preman yang memaksa korbannya.
Awalnya Jingga kaget, tapi saat menoleh dilihatnya wajah Langit yang serius.
"Kok, lewat sini kak? Emang kakak nggak ada jam kuliah" seru Jingga.
"Aku sudah tugas akhir dan nungu pengumuman kapan sidang. Dan kebetulan karena kecelakaan kemarin aku dibolehin cuti" jelas Langit.
'Banyak omong juga ternyata dia' batin Jingga.
Langit dan Jingga saling bertukar cerita kegiatan kuliah masing-masing. Hingga tak menyadari jika mereka berdua telah akrab satu sama lain.
"Makasih ya kak, sering aja kayak gini. Biar nggak berat di ongkos" seru Jingga bercanda.
"Kuliah yang pinter, biar cepet lulus dan cepet nikah" tukas Langit menimpali dengan penuh canda.
"Pasti dong kak. Tapi kalau untuk nikah, entar dulu dech" balas Jingga.
"Aku masuk. Makasih sekali lagi" ucap ulang Jingga.
Langit mengangguk dan meminta sang sopir untuk menjalankan kembali mobil.
Sementara Jingga melenggang ke kelas pagi nya.
"Kok hening? Jangan-jangan belum ada yang datang?" batin Jingga karena melihat pintu kelas tertutup rapat.
Jingga ketuk pintu dan ada sahutan dari dalam.
"Owh, ternyata ada yang sudah datang" ujar Jingga.
Dosen yang terkenal paling killer lah yang sekarang membukakan pintu untuk Jingga.
'Matih gue' kata Jingga dalam hati.
'Nggak di Indo nggak di sini. Sama aja masalahnya. Selalu saja ketemu dosen killer. Gerutu Jingga.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
***To be continued, happy reading.
Selalu sehat ya guysss, lope-lope buat semua.
Tolong bijak kalau kasih komen, karena author pun kadang baperan 😆😆😆😆😆***
__ADS_1