Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Memori Jingga


__ADS_3

Kenzo akhirnya mengikuti langkah Andre, laki-laki seusia yang barusan dikenal olehnya.


"Kita kemana?" seru Kenzo.


"Ikut saja, ntar juga akan tahu" bilang Andre.


"Awas saja kalau lo ada niatan buruk sama gue" kata Kenzo sengit.


"Enggak lah. Yang pasti ini akan membantu lo mendapatkan mantan tunangan lo itu" seru Andre.


Mereka berdua sudah dalam mobil sekarang.


"Lo kok bisa tahu aku mantan tunangan Jingga?" tukas Kenzo semakin dibuat penasaran oleh perkataan Andre.


"Lebih baik diam, karena kamu akan tahu misi kita" terang Andre.


Melihat mobil yang dikemudikan Andre sih kelihatannya dia berasal dari golongan menengah ke atas.


Tapi siapa dia, bahkan sampai tahu cerita masa laluku.


Pikiran Kenzo kemana-mana.


Sementara Andre bersenandung mengikuti suara lagu yang terputar.


"Andre, sejak kapan lo mengikutiku?" tanya Kenzo.


"Semenjak lo mau balik dari London" tukas Andre.


"Dua bulan yang lalu?" telisik Kenzo.


"Heemmm, padahal gue tunggu eksekusi lo ke Jingga waktu itu" bilang Andre.


"Tapi apa tujuan lo?" sela Kenzo tapi tetap saja Andre tak mau menjawab.


Setelah hampir sejam mereka berdua dalam perjalanan, komplit dengan kemacetan yang terjadi sih. Andre dan Kenzo tiba di sebuah rumah mewah dengan gerbang tinggi menjulang.


"Rumah siapa?" ucap Kenzo.


"Bisa diam nggak sih? Tadi kan sudah gue bilang lo akan tahu nanti" seru Andre mulai tak sabar.


"Heh, lo kan yang maksa gue. Kenapa juga musti marah" jawab Kenzo sengit.


"Terus juga, ngapain lo ngikutin gue selama itu. Kurang kerjaan?" tukas Kenzo tak kalah sengit.


Beberapa pengawal menyambut mereka.


"Selamat datang tuan Andre. Tuan muda sedang menunggu anda di dalam" kata pengawal itu memberitahu.


'Tuan muda? Siapa lagi dia?' Pikiran Kenzo masih belum menemukan jawaban.


.


Di rumah sakit, wajah Jingga nampak lebih segar setelah dibantu beberapa perawat untuk membersihkan diri tadi.


Langit masuk kembali saat semua sudah selesai.


"Nah, gini kan jadi segar" seru Langit.


"Aku saben hari kucel ya?" tukas Jingga.


"Hhhmmm aku jawab boong apa jujur?" canda Langit.


Jingga tertawa menanggapi.


'Kenapa Jingga nggak nanyain kabar kedua orang tuanya ya? Apa dia sudah tahu dari yang lain? Tak mungkin lah, sejak sadar kan Jingga sudah sama aku' Pikir Langit bermonolog.


'Aku tak akan bahas itu sebelum Jingga tanya. Aku tak tega kasih tahu dia' kata Langit dalam lamunan.


"Kok diam sih? Melamun lagi?" seru Jingga masih dalam kondisi berbaring.


"He...he...senang aja akhirnya kamu telah kembali" bilang Langit.


"Kapan aku boleh duduk nih? Panas nih punggung?" ucap Jingga.


"Terus, apa kabar punggung kamu saat tidur selama hampir dua bulan?" tukas Langit tertawa.


"Beda dong kak" tandas Jingga.


"Kak, aku mau nanya?" ucap Jingga serius.


'Dia mau nanya apa? Jangan-jangan keadaan orang tua nya lagi. Terus aku mulai dari mana?' Pikir Langit.


"Tuh kan bengong lagi" sela Jingga.


"Mau nanya apaan?" tanya Langit kemudian.


"Cuman nanya, kenapa ada Mega di sini? Apa dia tak kuliah? Terus kenapa dokter dan perawat yang ada kebanyakan orang Indo? Apa rumah sakit ini kepunyaan orang Indo?" tanya Jingga seakan menuntut untuk segera dijawab.


"Mega kadang ke sini untuk nungguin kamu" beritahu Langit.


"Ke London hanya ingin menunggui aku?" tanya Jingga merasa aneh.


"London?" kata Langit memastikan.


"Iya, bukannya kita di London sekarang?" tanya Jingga serius.


'Apa ada sesuatu yang terlewat di memori Jingga kah?' Pikir Langit.


Langit tak mau mengatakan di mana Jingga sekarang, sebelum konsultasi dengan uncle Bara yang merawat Jingga. Selain dokter bedah saraf sih.

__ADS_1


"Aku keluar bentar boleh?" ijin Langit.


"Mau ke mana?" telisik Jingga.


"Ke kantin, beli kopi bentar" ijin Langit.


"Tapi jangan lama-lama ya. Tahu sendiri aku nggak ada keluarga di sini. Kak Keenan sama kak Adnan sejak kemarin juga nggak pernah muncul untuk tengokin?" tanya Jingga.


'Keenan? Adnan? Bahkan Jingga masih ingat dengan nama-nama teman di sana. Tapi kenapa dia nggak ingat kejadian naasnya? Kenapa juga Jingga nggak nanya, kenapa sampai dirawat selama dua bulan di rumah sakit?' pikiran Langit berkecamuk.


'Padahal Mega juga pesan makanan minuman lewat online. Apa Jingga nggak memperhatikan itu' Langit masih saja diam.


"Kak" panggil Jingga.


"Heemmm" jawab Langit.


"Makasih ya atas perhatian kakak selama dua bulan ini. Emang apa yang terjadi? Apa aku terjatuh, terus pingsan? Ah, untung saja kak Langit yang temuin aku. Kalau yang lain, bisa bahaya tau" ucap Jingga membuat Langit tak mengerti.


'Apa dia tak teringat Kenzo? Sedari tadi nggak ada nama Kenzo di setiap kata-katanya.


"Katanya mau beli kopi?" tanya Jingga.


"Nggak papa kan kutinggal bentar?" tanya balik Kenzo.


Jingga pun mengangguk.


Langit keluar untuk menemui uncle Bara.


"Apa kutelpon aja yaa? Jangan-jangan uncle masih di Dirgantara nih" gumam Langit.


Langit menekan nomor kontak Bara yang ada di ponselnya.


Sekali dua kali belum tersambung. Panggilan ketiga baru terdengar sapaan Bara.


"Maaf uncle, kapan ke rumah sakit? Ada yang mau aku konsulkan" bilang Langit.


"Uncle otewe dari Dirgantara. Tiga puluh menitan sampe" jawab uncle Bara.


"Oke Uncle, ntar aku nyusul ke ruangan kalau uncke sudah selesai semua" lanjut Langit.


"Oke, ntar aku kabarin" kata Bara. Panggilan itu pun berakhir.


Langit lanjut ke kantin untuk beli espresso panas.


Langit mengambil tempat duduk di pojok ruangan untuk menikmati espresso yang dipesannya. Sambil melihat lalu lalang para penunggu rumah sakit yang lain yang antri menunggu pesanan.


Jingga...Jingga...kamu suka sekali membuat aku terkejut. Batin Langit.


Kemarin kamu menerbangkanku setinggi angkasa dengan kesadaranmu yang pulih. Sekarang kembali menerjunkan ku kembali ke atas tanah dengan ketidakingatanmu itu.


Espresso yang masih ada, Langit bawa balik ke kamar daripada Jingga nungguin lama.


"Ini aja baru kuminum separuh. Kalau nggak ingat kamu yang sendirian tentu kuhabisin di sana" gurau Langit.


"Balik aja sana, biar kutelpon aja kak Keenan atau kak Adnan" seru Jingga membuat Langit terdiam.


Mereka lagi yang dia bahas.


"Kok malah yang diingat mereka terus sih?" tukas Langit.


"Mereka yang begitu baik padaku kak. Terutama saat jauh dengan orang tua seperti ini" lanjut Jingga menjelaskan.


"Apa aku nggak baik?" imbuh Langit.


"Baik kok, malah baik banget" puji Jingga.


"Kak, kamar ini luas banget. Pasti mahal sewanya. Ayah ku apa mampu membiayainya?" tanya Jingga meluas kemana-mana.


Aku musti jawab apa nih. Langit nampak berpikir.


"Jangan dipikirin. Nanti pasti ada jalannya" jawab Langit seadanya.


"Tapi kasihan ayah kak. Biaya hidup di London aja sudah mahal. Eh ini malah kubebanin biaya rumah sakit yang sangat mahal pastinya" ujar Jingga.


Semakin diremat hati Langit mendengar semuanya.


Apa mau kuhancurin perasaan Jingga sekarang. Itu tak mungkin.


"Kak, ponsel aku di mana ya?" tanya Jingga.


"Buat apa?"


"Nelponin kak Keenan atau kak Adnan biar ke sini. Bosen tau nggak di rumah sakit begini" bilang Jingga.


"Ponsel kamu aku nggak bawa, nih pake punya ku aja" Langit menyodorkan ponsel nya kepada Jingga.


"Nggak jadi" tukas Jingga menolak untuk pinjam ponsel Langit.


Kebetulan ponsel Langit bunyi.


"Tuh kan. Belum aku pegang aja sudah ada yang nyariin" sela Jingga.


"He...he...he...." Langit hanya terkekeh.


"Uncle Bara" bilang Langit untuk beritahu Jingga.


"Owh, pak dokter?" tanya Jingga dan Langit pun mengangguk.


"Aku angkat dulu ya?" ijin Langit. Sekarang gantian Jingga yang mengangguk.

__ADS_1


"Halo uncle" sapa Langit.


"Ke ruanganku sekarang. Aku tunggu" kata uncle Bara.


"Siap uncle" tukas Langit. Panggilan itu pun terputus.


"Mau ke mana?" tanya Jingga.


"Ke ruangan uncle bentar, mau nanyain perkembangan kamu" jelas Langit.


"Sendirian lagi" keluh Jingga.


"Bentar doang. Paling lama bisa sampai sore" canda Langit.


Jingga mencebik.


"Sepi kak" tukas nya.


"Iya dech, aku usahain cepat ketemu uncle Bara nya" Langit pun beranjak keluar. Kembali meninggalkan Jingga sendirian.


Sampai di ruangan uncle Bara, ternyata Langit sudah ditungguin. Lengkap dengan dokter syaraf di sana.


"Apa yang membuat seorang putra Sebastian galau?" kata uncle saat Langit barusan duduk.


Langit pun menceritakan apa yang terjadi.


Mulai Jingga tak ingat dengan kejadian kecelakaan. Memori Jingga yang merasa masih berada di London sampai sekarang. Ingatan tentang teman-temannya yang menurut Jingga teman yang baik. Bahkan sampai detik ini Jingga merasa orang tua nya masih baik-baik saja. Semua Langit ceritakan.


"Wah, sepertinya memang ada yang salah nih" tukas uncle Bara.


"Jingga juga merasa dokter yang di sini ini karena dokter Indo yang memang bekerja di London" imbuh Langit.


"Apa dia ingin melupakan sesuatu yang terlalu menyakitkan baginya di masa lalu?" sela sang dokter kolega uncle Bara.


"Bisa jadi Jingga ingin menghapus rasa sakit itu" sambungnya.


"Apa ada seperti itu?" tanya Langit


"Bisa aja" jawab dokter syaraf itu.


"Apa hal itu bisa menyebabkan rasa sakit kepala yang sangat jika ingin mengingatmya?" sela Langit.


"Kebanyakan kasus sih begitu" ucap Bara.


"Terus kira-kira langkah apa yang musti aku ambil uncle?" tanya Langit.


"Dampingi Jingga, pelan-pelan bantu dia untuk mengingat semuanya. Meski itu terasa sangat menyakitkan. Apalagi masalah kehilangan kedua orang tuanya" tukas uncle Bara.


"Siap uncle dokter. Terima kasih atas pencerahannya" tukas Langit sambil beranjak dan hendak balik kamar Jingga. Sudah cukup lama Jingga dia tinggalin.


"Oke, bentar lagi kita susulin kamu di kamar" tukas uncle Bara.


.


Saat ini Kenzo tengah berhadapan dengan seseorang yang layak dipanggil tuan muda.


Meski masih seusia dengannya, orang yang di depannya ini lebih terlihat arogan.


"Selamat siang tuan muda" sapa Andre terlebih dahulu menyapa.


Sementara Kenzo lebih banyak diam untuk membaca situasi.


"Selamat datang Kenzo, selamat bergabung. Dengan datangnya kamu ke sini, aku anggap bahwa kamu menyetujui kerjasama yang akan aku rencanakan" ujar nya penuh ketegasan.


"Sampai detik ini saya belum mengerti kenapa Andre selalu mengikutiku. Kenapa aku disuruh ikut ke sini?" sela Kenzo.


"Ha...ha...tentu saja ada misi yang musti kita selesaikan. Dan aku butuh kamu" seru tuan muda yang wajahnya lebih mirip bule itu.


"Berapa bayarannya?" tukas Kenzo dengan cepat menimpali.


"Ha...ha...selain licik, ternyata kamu matre juga" olok sang tuan muda.


"Kalau ada kesempatan kenapa tak dimanfaatkan" sergah Kenzo.


"Lantas apa yang menjadi tugasku?" imbuh Kenzo.


"Bawa Jingga pergi menjauh dari Langit" suruh tuan muda itu langsung ke intinya.


"Langit???" tanda tanya Kenzo dengan nama itu.


"Jadi, kamu sendiri tak tahu siapa Langit Putra Ramadhan?" sela Andre.


"Tahu lah. Penerus ketiga Blue Sky" jelas Kenzo.


"Wah, dia sepertinya belum tahu siapa Langit yang sebenarnya tuan muda" sela Andre menimpali ucapan keduanya.


"Memang siapa dia? Yang aku tahu dia juga orang kaya, yang tak bisa dihitung hartanya" seru Kenzo.


"Kapan kira-kira akan dimulai?" sela Kenzo.


"Wah, sepertinya kau sudah tak sabar bung" Andre terkekeh menimpali.


Kenzo hanya menangguk.


Akhirnya Kenzo tak berjuang sendiri. Ada teman yang akan membantunya untuk mendapatkan Jingga.


"Oke, untuk langkah selanjutnya nanti akan dikabari oleh Andre" ujar tuan muda itu beranjak dari kursi kebesarannya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


To be continued, happy reading


__ADS_2