Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Masih Sama


__ADS_3

Tapi saat membuka ponsel ada tujuh puluh lima panggilan tak terjawab dari Langit dan tiga puluhan panggilan tak terjawab dari Bintang.


"Kurang kerjaan sekali sih mereka" gerutu Mega sambil menekan nomor Langit dari layar sentuh ponselnya.


"Halo darimana aja lo. Sejam lebih kakak ngubungin. Kalau nggak kepake buang ajah tuh ponsel" omel Langit kala panggilan dari Mega tersambung padanya.


"Eh kak, nggak ada angin nggak ada hujan. Marah-marah aja lo. Sedang PMS yaaaacchhh" jawab Mega tak kalah ngegas.


"Tau. Berisik lo" ujar Langit di sana.


"Apaan sih? Sudah baik aku nelpon balik ni tadi" gerutu Mega pada sang kakak dan ditutupnya panggilan dengan Langit.


Tak sampai satu menit, kembali kak Langit incoming di layar ponsel Mega.


"Issshhhh, kamu ini. Jangan tutup dulu dong. Ada yang mau kubicarain serius" jelas Langit.


"Apaan? Cepetan dech kak. Aku ditungguin Aunty Tania nih" seru Mega.


"Cepetan kamu hubungin orang tua Jingga" seru Langit di seberang.


"Kenapa kak? Kakak mau melamar Jingga kah? Atau jangan-jangan kakak sudah berbuat tak senonoh dengan Jingga ya?" ujar Mega malah menanggapi tak karuan ucapan Langit tadi.


"Mega. Cepetan dech. Kakak sama Jingga di rumah sakit nih" bilang Langit.


"Nah kan! Apa yang aku bilang benar. Pasti Jingga ngajakin kakak untuk buat visum. Tanggung jawab lah kak!" tandas Mega.


"Mega, lo ini apaan sih. Pikiran lo itu sebaiknya dicuci dulu dech" suruh Langit.


"Jingga kecelakaan, dan kebetulan tadi aku lewat sama Bintang di tempat kejadian" beritahu Langit kepada Mega agar tak lagi mendengar buntut celotehan Mega.


"Hah? Kok bisa kak. Tapi aku tak punya nomornya ayah Pramono" seru Mega.


"Matih nih, bisa seharian aku di rumah sakit" tukas Langit.


"Gimana keadaan Jingga?" tanya Mega.


"Ada luka di kepala dan sampe sekarang belum sadar" beritahu Langit.


"Oh ya kak, Jingga tuh biasanya naruh ponsel di tas. Coba cek deh. Kartunya kan bisa kakak ambilin untuk nyariin nomor ayah dan mama nya Jingga dari sana" suruh Mega.


Di rumah sakit, Langit melakukan hal yang disuruh oleh sang adik. Tumben usulannya masuk akal kali ini. Batin Langit.


Langit sudah tiga kali ngubek dalam tas Jingga.


Bukannya buku atau alat tulis lain. Yang ada malah beberapa pembalut.


"Dia ini mau jualan es atau apaan sih?" gerutu Langit karena tak menemukan apa-apa di tas Jingga. Hubungan es sama pembalut apa coba. Terserah Langit aja dech, yang ngedumel juga Langit sendiri.


"Kak, gimana? Ketemu?" seru Mega.


"Nggak ada ponselnya. Apa hilang di tempat kejadian tadi ya?" tebak Langit.

__ADS_1


Mega juga ikut bingung. Yang nungguin Jingga nanti siapa jika Langit pulang. Sementara Jingga dalam kondisi sakit.


Mega setengah berlari menghampiri keberadaan dua keluarga yang berkumpul di depan itu.


"Dad, dan semuanya. Aku pamit dulu ke rumah sakit" pamit Mega tergesa.


"Siapa yang sakit?" tanya Dad.


"Jingga Dad. Teman dekat Mega" bilang Mega.


"Besok aja Mega, ini sudah malam" larang Dad Tian.


"Dad, kasihan. Jingga pasti nggak ada yang nungguin" ucap melas Mega dan memohon daddy nya untuk mengijinkan.


"Kak Langit juga berada di sana. Kakak Langit lah yang membawanya ke rumah sakit Dad" beritahu Mega.


"Orang tua nya?" sela Dad Tian.


"Belum bisa dihubungin, ponsel Jingga ikutan hilang saat kejadian tadi" imbuh Mega.


"Dad anterin aja" sela Dad Tian.


"Dad, aku sudah gedhe lo" tolak halus Mega.


"Tapi bagi Daddy kamu adalah putri kecil Dad" tandas Sebastian dan tak mau dibantah.


Mega beserta Dad Tian pergi ke rumah sakit seperti yang diinfokan Langit.


"Ngapain kalian ke sini?" tanya Reno.


"Nih, temannya Mega kecelakaan. Dan sekarang di IGD bersama Langit dan Bintang" info Dad Tian.


"Wah, sepertinya teman Mega istimewa nih. Nyatanya sudah buat repot keluarga Sebastian" Reno mengolok Sebastian seperti biasa.


"Issssshhhh, orang tuanya belum bisa dihubungin" jawab Tian.


"Anterin Uncle" pinta Mega manja seperti biasa.


Akhirnya mereka bertiga melangkah bersama menuju ke IGD.


Reno yang juga dokter di rumah sakit itu segera masuk ke IGD untuk menanyakan kondisi pasien Jingga.


Reno bertemu Langit yang juga masih di sana.


"Gimana keadaannya?" tanya Reno.


"Belum siuman" jawab Langit dengan wajah lelah.


Sebagai dokter Reno pun ikut memeriksa gadis dengan muka pias itu.


"Trauma kepala" bilang Reno.

__ADS_1


"Pemeriksaannya?" tanya Reno.


"Nggak tau Uncle, tanya tuh Bintang" suruh Langit.


"Kak, gimana Jingga?" tanya Mega yang juga ikutan masuk.


"Mendingan lo pikirkan cara kasih tau orang tua Jingga dech" seru Langit.


Mega memikirkan sesuatu.


"Hhmmm, gua hubungin Firman aja" ucap Mega.


Barangkali aja Firman tahu nomor orang tua Jingga.


Tapi jawaban Firman sama aja dengan Mega. Dia tak tahu juga.


'Aku akan tanya ke Kenzo aja' ketik Firman.


'Jangan beritahu kondisi Jingga ke Kenzo' balas Mega.


Tak menunggu lama Mega mendapat balasan dari Firman. Nomor ayah Jingga didapatkan dari Firman.


Mega segera menghubungi ayah Jingga, setelah mendapat info dari Firman tadi.


Mega memberitahu kondisi Jingga terkini. Dan tentu saja membuat kaget ayah Pramono.


"Sudah Dad, ayah Jingga segera meluncur ke sini" bilang Mega.


"Tapi kan masih beberapa jam lagi" jawab Dad Tian.


"Ada perdarahan sedikit di kepala teman kamu Mega" jelas Uncle Reno yang barusan menanyakan kondisi Jingga ke dokter jaga.


"Apa bahaya?" tanya Mega.


"Nunggu besok baru dilakukan pemeriksaan lengkap. Untuk sementara hanya diobservasi saja" jelas Reno.


"Mega kita pulang dulu. Biar kak Langit aja yang nemanin Jingga" bilang Dad Tian.


"Nggak papa kan kak?" tatap Mega ke arah sang kakak.


"Terlanjur basah, ya basah sekalian" tukas Langit.


Mega dan Dad Tian serta Uncle Reno papanya Bintang barengan keluar rumah sakit. Bintang pun ngikutin papa nya.


"Loh, nggak nemenin Langit?" tanya Reno.


"Capek aku Pah" jawab Bintang ngeles.


Tinggal Langit yang duduk di depan IGD sembari main ponsel. Menunggu Jingga yang entah kapan siumannya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


To be continued, happy reading


__ADS_2