Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Siapa Dalangnya?


__ADS_3

"Aku sudah tahu siapa dalangnya. Makanya aku suruh lo segera tuntasin. Apa perlu aku ikut gerak?" sambung Arka membuat Sebastian menaikkan salah satu alisnya.


"Kejar orang bernama Kenzo sampai dapat" Arka mengatakannya dengan penuh keyakinan.


"Lo darimana tahu nya?" sela Sebastian.


"Info nya akurat nggak nih? Jangan gegabah!" tukas Sebastian.


Sebastian dan Arka selalu bahu membahu menumpas semuanya, apalagi jika ada kaitan dengan keluarga.


"Telusuri saja si Kenzo itu. Pasti dia terlibat" tandas Arka.


"Jangan bilang kalau semua ucapan lo barusan berdasarkan insting lo" Sebastian menimpali.


"Tapi aku sangat yakin. Apa lo sudah kabarin Langit? Dia sudah tahu apa yang terjadi. Makanya segera tuntaskan dalam dua hari ini jika tak ingin usaha anak lo latihan berakhir sia-sia" imbuh Arka.


"Siapa dalangnya bos?" akhirnya Sebastian menanyakannya karena Arka sudah tahu.


"Tim Tiger" seru Arka.


"Terus apa hubungannya dengan si Ken-ken itu?" sela Tian.


"Nanya mulu, terus kapan lo bergerak Tian? Jangan sampai Jingga kelamaan di tangannya. Bisa panjang urusannya ntar. Belum lagi calon menantu lo itu belum sepenuhnya pulih ingatannya" Arka sampai gemas dengan Sebastian yang kadang kumat lemotnya itu.


Sebastian mengerahkan anak buahnya sesuai arahan Arka.


Arka yang sejatinya malah mendapatkan info dari Langit.


.


Di Aussie, Langit mondar mandir di kamar hotelnya.


Tidak semua anggota tim diberitahu oleh uncle Arga tentang ancaman yang diterima Langit.


Ya, sekitar dua jam yang lalu ada yang mengirim pesan pada Langit.


Pesan ancaman, agar Langit menuruti perintah agar mengalah di pertandingan kali ini. Mau ambil di podium kedua pun tak masalah asal jangan podium pertama.


Meski tak bilang siapa dia, Langit sudah tahu orang yang mengirimi pesan itu suruhan dari tim mana.


"Kalau aku tak mau" ketik Langit pada awalnya.


Dan orang itu mengirimi foto Jingga dalam kondisi terikat dan tak sadarkan diri.


"Sial" umpat Langit.


Lagi-lagi cobaan datang di saat menjelang race.


Barulah Langit memberitahu uncle Arga dan uncle Arka.


Yang berujung uncle Arka menelpon Dad Tian.


Langit tak mengira jika tim Tiger akan bertindak sepicik itu.


Mengancam seseorang untuk memenangkan perlombaan.


Langit coba kembali melihat foto Jingga yang tak sadarkan diri, tak jauh di sisi Jingga terlihat sosok yang tak begitu jelas dan cenderung blurr.


Langit menautkan alis, memikirkan sosok yang berada di samping Jingga.


Langit menjentikkan jari nya saat teringat akan sosok itu dan berakhir dengan memberitahu uncle Arka.

__ADS_1


Langit meminta tolong uncle Arka agar masalah ini selesai sebelum dirinya turun di lintasan pada hari Minggu.


"Semoga saja Jingga tak kenapa-napa" gumam Langit.


Langit yang tak leluasa bergerak karena dirinya sendiri juga mempersiapkan lomba. Jarak dan waktu juga menjadi pelengkap hambatan yang ada.


Terdengar ketukan pintu kamar, ternyata uncle Arga yang datang.


"Nggak ikutan gala dinner?" tanya uncle.


Dijawab gelengan Langit.


"Ikut aja, tunjukkan pada mereka jika kamu tak kenapa-napa" saran uncle Arga.


"Kita lihat reaksi mereka seperti apa" imbuh uncle Arga.


"Bener juga tuh apa kata uncle" Langit menyetujui untuk berangkat gala dinner antar tim.


Hanya tim Tiger yang seolah tak mau membaur dengan yang lain.


Daniel mendekati Langit.


"Hai Bro?" tanyanya sok ramah.


Langit pun menoleh ke arah Daniel.


"Fine" seru Langit.


Daniel membisikkan sesuatu di telinga Langit. Dan sedetik kemudian, Langit tersenyum sinis kepada Daniel.


"Lo terlalu percaya diri Daniel" seru Langit.


Daniel yang mendekat ke arahnya, semakin menguatkan pendapat Langit jika ada keterlibatan tim Tiger dibalik kejadian penculikan Jingga.


.


Malam itu Jingga dipaksa oleh Kenzo untuk ikut dengannya.


"Kita mau ke mana?" tanya Jingga.


Kali ini Kenzo sudah tak berbuat kasar pada Jingga.


"Kita harus segera meninggalkan tempat ini, sebelum bahaya mengancam lo" jelas Kenzo.


"Bukannya yang membahayakan itu lo?" tukas Jingga.


"Sejahat-jahatnya aku, aku tak akan membahayakan kamu Jingga. Tidak seperti Langit yang sangat kamu percaya itu" ujar Kenzo menjelaskan.


"Lantas?" sela Jingga.


"Ikut denganku. Lo akan aman jika berada di rumah ku" seru Kenzo.


"Di mana?" tanya Jingga.


"Apa lo lupa dengan kompleks rumah kita?" tanya Kenzo. Dan Jingga pun mengangguk.


Kini mereka berdua tengah dalam perjalanan menuju kota tempat mereka tinggal.


Perlu beberapa jam untuk sampai di kediaman Kenzo.


Jingga mengisinya dengan banyak tidur, malas saja ngobrol dengan Kenzo.

__ADS_1


Dalam benak Kenzo, semoga aku melakukan tindakan yang benar.


Aku hanya menginginkan Jingga tapi tak mau membahayakan nyawanya.


Kenzo berpikir, Andre dan teman-teman mengajak kerjasama tanpa mempertimbangkan keselamatan Jingga.


Bagi mereka yang penting tujuannya lancar, ya sudah.


Kenzo mengajak Jingga tanpa pemberitahuan ke mereka.


Ponsel pun sengaja dia matikan agar tak terlacak oleh Andre dan kawan-kawan.


Menjelang dini hari, barulah Kenzo dan Jingga sampai di kediaman ayah Kenzo.


"Loh, kamu sama Jingga nak?" tanya mama Kenzo antusias.


Keinginan untuk menjadikan Jingga sebagai menantu akan segera terlaksana.


Ayah dan mama Kenzo menyambut dengan senang kedatangan Jingga.


"Ayo ikut mama. Mama sampai tak bisa tidur menunggu kamu datang nak" seru mama.


Mama menggandeng Jingga yang masih terbengong dengan kenyataan di depannya.


'Apa memang kedua orang ini betulan calon mertua nya?' tanya Jingga dalam benak.


Jingga diajak makan oleh kedua orang tua Kenzo.


"Nih, mama juga sengaja menyiapkan makanan kesukaan kamu" ujar mama.


Dan Jingga melihat, di atas meja ada sayur bayam lengkap dengan bakwan jagung.


'Bahkan mereka juga tahu apa yang jadi makanan kesukaanku. Seperti apa hubungan aku dengan anaknya? Aku masih belum ingat apapun. Aku hanya ingat jika aku akan tunangan dengan kak Langit' galau Jingga.


Jingga memegang erat kepalanya, rasanya sungguh pusing memikirkan semua.


Kepala Jingga berasa berputar-putar dan Jingga pun terhuyung.


"Kenzo, kenapa Jingga?" tanya ayah Wawan.


"Aku juga tak tahu Yah" seru Kenzo yang memang tak tahu sama sekali perkembangan Jingga selama dirawat karena hanya bisa memantau dari luar gerbang rumah sakit.


Jingga kembali pingsan, dan untungnya dengan cepat Kenzo menangkap tubuh Jingga yang limbung.


Kini Jingga tengah terbaring di kamar setelah diangkat oleh Kenzo tadi.


Pagi-pagi, mama Kenzo telah koar-koar di tetangganya jika Jingga calon menantunya telah kembali setelah sembuh dari trauma pasca kecelakaan sebelumnya.


"Kalau sudah jodoh, pasti tak akan kemana" pamer mama Kenzo ke tetangga, karena dulunya para tetangga itu juga yang menggunjing jika Jingga telah mendapatkan jodoh yang lebih dari putranya.


Jingga yang saat itu dirujuk dengan heli, tentu membuat kehebohan tersendiri bagi tetangga kompleks. Mereka menebak jika calon nya Jingga adalah the real orang kaya.


Mendengar perkataan mama Kenzo seperti itu, tentu saja membuat para tetangga tak percaya.


Apalagi belum melihat keberadaan Jingga.


"Jingga masih di rumah. Biar istirahat dulu" seru mama Kenzo disambut cibiran ibu-ibu kompleks.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2