
..........................❤️.........................
...Selamat datang di story tentang sebuah arti dari sebuah Cinta tak bertuan...
...Happy Reading dan mohon koreksi untuk penulisan....
...jangan lupa komentar untuk menjadi yang lebih baik lagi....
...Episode kali ini sangat panjang kembali jadi selamat menikmati dan terimakasih sudah mampir...
..........................❤️.........................
Perkelahian hampir berlangsung 30 menit dengan tidak sangat seimbang dimana Ridwan dan Alvan di serbu 8 orang, istilah nya main keroyokan tanpa memberikan informasi kesalahan Ridwan apapun
Ridwan pun tersungkur kena pukulan di tengkuk lehernya seketika tubuhnya roboh di jalan depan rumahnya.
Bu Ida pun berteriak histeris kemudian aparat kepolisian pun datang meringkus semua kecuali satu anak.
dor dor dor (tembakan peringatan di keluarkan)
"Berhenti kalian semua, tangkap mereka semua dan tolong dua anak itu" ujar salah satu orang polisi.
"bangun kau curut, kau apakan teman ku hah, dasar ******* kau" Alvan membabi buta memukuli anak buah Iqbal.
"sudah dik sudah mereka semua kita bawa ke kantor untuk di proses dan ambulan sudah dalam perjalanan untuk teman mu" Seorang polisi memisahkan anak buah Iqbal dari hantaman pukulan Alvan.
Alvan melihat Ridwan dengan posisi di pelukan Bu Ida dan pak Udin pun berusaha memindahkan tubuh Ridwan yang pingsan dengan darah keluar di hidung nya.
"astaghfirullah Gusti, Din ini darah dari nak Ridwan Din" Bu Ida panik.
" Wan bangun Wan , woy Wan bangun" Alvan mengguncang tubuh Ridwan.
"Van maaf, aku kalah dari mereka....." Ridwan pun kembali pingsan.
"eh curut jangan gurau gini tah ***, Wan Ridwan!!!!!" teriak Alvan sambil menatap anak buah Iqbal.
Alvan berlari dan mengayunkan sebuah pemukul baseball ke arah anak buah Iqbal.
"nih makan hadiah dari gua, dasar ****** kalian semua, penjara semua pak dan nanti saya urus setelah teman saya tiba di rumah sakit" sambil berbicara ke polusi yang duduk di belakang mobil patroli.
"segera dik, untuk satu orang telah kabur dan masih dalam pengejaran.
Alvan melihat ambulan datang dan langsung berterima kasih ke pada polisi.
Ambulan pun tiba dan tubuh Ridwan yang pingsan pun di larikan di rumah sakit Petrokimia Gresik karena hanya itu yang terdekat dari rumahnya.
Ruang IGD pun menyambut Ridwan akan tetapi Alvan, Bi Ida dan pak Udin tidak di perkenankan masuk agar Ridwan di rawat secepatnya.
"nak Alvan tadi mereka siapa nak? Tangan Bi Ida gemetar.
" Iqbal Bi, nanti akan dapat pelajaran setimpal untuk Iqbal" Alvan meremas tangannya geram.
Sementara pak Udin sibuk memencet tombol di hapenya dan seketika Alvan merebut hape tersebut.
"pak Udin jangan beritahu ayah mama Ridwan karena mereka nantinya akan tambah khawatir, percaya saya pak Udin" memasukkan hape ke saku pak Udin
Alvan hanya menghela nafas melihat ruang IGD yang tertutup rapat tanpa sedikitpun dia melepaskan dari pintu itu.
"Wan akan ku balas kan sakit mu itu Wan,tunggu mereka hancur Wan" tangan Alvan mengepal.
"Nak Alvan tunggu di sini ya, jaga Bi Ida sebentar saya mau mengambil berkas untuk perawatan nak Ridwan" pak Udin membuyarkan lamunan Alvan.
"eh iya pak, perlu saya pesan kan ojek di seberang rumah sakit?" Alvan menawarkan bantuan.
"tuh sudah di depan nak Alvan, titip nak Ridwan dan bi Ida sebentar ya, untuk besok tolong bilang ke guru kelas untuk mengizinkan nak Ridwan"
" iya pak Udin siap dan tolong jangan beritahu ayah mama nya Ridwan ya" pinta Alvan memelas.
Alvan tau jika ayah mama Ridwan sampai mengetahui ini semua maka bisnis mereka dengan Perusahaan besar Kretek Indonesia akan gagal total.
Bukan karena uang juga tetapi untuk masa depan Ridwan dan dua adiknya yang sekarang berada di kota Bandung.
Ayah dan ibu Alvan membangun bisnis bersama orang tua Ridwan bersama sama dari kecil maka dari itu Ridwan dan Alvan seperti kakak adik yang saling melengkapi.
Hari semakin sore dan ruang IGD belum saja terbuka, ada apa sebenarnya yang telah terjadi dengan Ridwan?
Alvan yang sibuk membenahi bajunya tiba tiba dokter keluar dari ruang IGD bersama suster.
"keluarga atas nama korban siapa?" suster memanggil di ruang tunggu IGD
"saya sus, ada apa dengan sahabat saya?" Alvan berharap cemas.
"untuk saat ini masih tahap pemulihan dan akan di rawat inap hingga hasilnya keluar, silahkan menuju administrasi untuk mengurus semuanya ya" Suster menunjukkan ruang administrasi.
"Makasih suster dan apa cidera khusus di tubuh sahabat saya?" tanya Alvan.
"masih tahap observasi dan kita berupaya yang terbaik" suster memberikan senyum ke Alvan.
Setelah semua administrasi dan biaya rumah sakit di bayar, Ridwan di pindahkan ke ruang perawatan VVIP.
Ridwan pun mengurus semuanya dan pak Udin serta bi Ida pun segera ke kamar yang sudah di beritahu oleh pihak administrasi rumah sakit.
Alvan menatap Ridwan yang di pasang selang oksigen serta infus di tangan kirinya.
"Wan kamu kuat kok, aku balas kan semua yang telah di lakukan ke kamu" Alvan memegang tangan Ridwan.
"nak Alvan istirahat pulang,besok kan masih sekolah dan ini surat izin dari rumah sakit tadi berikan sama pihak administrasi" pak Udin memberikan surat izin untuk Ridwan.
"makasih banyak pak Udin dan bi Ida, Alvan istirahat di sini saja, bibi dan pak Udin istirahat untuk jaga besok waktu saya sekolah ya" Alvan tersenyum melihat ke arah bi Ida dan pak Udin.
__ADS_1
" baik nak Alvan, terimakasih telah menjaga nak Ridwan" pak Udin dan bi Ida pamit.
Malam itu Alvan tidur menemani Ridwan di rumah sakit hingga akhirnya Ridwan terbangun dan langsung menyentuh bahu Alvan.
"eh curut, kau sudah bangun, apa yang sakit?" sambil memberikan air minum yang terdapat sedotannya.
"aku di mana Van?, kepalaku kok pusing" sambil memegang kepalanya.
" kamu tertidur hampir 6 jam dan bangun bangun seperti setan yang kepanasan aja pertanyaan mu ***" Alvan menidurkan kembali Ridwan.
" makasih Van, besok gak usah cerita ke Citari ya tentang semuanya" pinta Ridwan.
"ngapain mikir itu Wan, istirahat saja, Ujian Nasional semakin dekat, cepat sehat" Alvan menekan bel untuk memberikan informasi bahwa Ridwan sudah bangun.
Selang beberapa menit 2 suster datang ke ruang rawat Ridwan dan membawa data untuk mengecek keadaannya Ridwan.
Alvan hanya melihat Ridwan yang meringis kesakitan ketika suster mengecilkan aliran infus nya untuk di berikan cairan antibiotik cair ke selang Ridwan.
"Alhamdulillah sudah mulai membaik pasien Ridwan, boleh di makan ini untuk makan malam nya ya mas" senyum suster ke arah Ridwan.
" baik suster manis dan terimakasih,sering sering jenguk ke sini ya" Ridwan sambil tersenyum manis ke arah suster.
" jek iso Gudo suster (masih bisa goda suster), kamu sakit atau gimana sih ***" Alvan kesal dengan Ridwan.
" eh curut, mau belikan aku coklat Silverqueen dan kamu belum makan curut" Ridwan mengambil dan memakan buah pisang yang di sampingnya.
"udah titip coklat saja? yang lainya?" Alvan membuang kulit pisang yang di berikan Ridwan.
"sama tanyakan suster tadi mau Ndak jadi pacarku Van" Ridwan tertawa.
"picek matane (buta matanya), mikir iku ae kau Wan,tak tinggal dulu, assalamu'alaikum wr wb"
"waalaikumsalam wr wb ati ati Van"
Alvan ke tempat suster untuk menanyakan apakah pasien boleh memakan coklat Silverqueen dan meminta untuk mengantarkan makanan di ruang inap Ridwan yang telah kelaparan.
Setelah keluar dari rumah sakit dan memanggil sebuah becak di sekitar rumah sakit untuk pergi ke swalayan terdekat.
"pak, bisa antar kan ke swalayan dekat sana?" Alvan memberikan informasi ke tukang becak tersebut.
" bisa mas, nanti di tunggu atau di tinggal mas?"
"tinggal saja bapak, ingin jalan kaki nanti pulangnya"
Sekitar 3 menit akhirnya Alvan sampai di sebuah swalayan dan membeli yang di butuhkan dan segera ke kasir.
Setelah semuanya beres Alvan yang berada di depan kasir melihat sebuah motor yang tak asing di liatnya sambil mengingat-ingat.
"itu kan Iqbal dan Citari ngapain di sini dengan jam segini pula?" Alvan mengeluarkan foto untuk memberikan ke Ridwan.
Tetapi dia teringat dengan kejadian siang tadi dan segera mungkin menelfon Polres Gresik untuk memberitahu keberadaan Iqbal.
"selamat malam bapak, ini saya Alvan korban penyerangan di kompleks perumahan Gresik Kota Agung tadi siang" sambil melihat terus gerak gerik Iqbal.
"iya mas Alvan ada yang bisa saya bantu?"
"Iqbal yang lari ada tepat di daerah swalayan dan saya agak menjauh dari tempat nya, bapak dan anggota polisi segera menangkap untuk Iqbal di mintai pertanggungjawaban"
"terimakasih informasinya dan kita segera meluncur....Tut Tut Tut Tut" suara sambungan terputus.
Hampir 15 menit polisi datang ke TKP dengan anggota lengkap demi menangkap Iqbal yang buron siang tadi.
Citari yang kebingungan melihat polisi yang memborgol Iqbal bingung dan bertanya-tanya dalam hati nya.
"sebentar bapak ada salah apa Iqbal sampai di borgol?" Citari terlihat panik.
"oh ini biang keladinya, ternyata Citari yang di perjuangkan Ridwan memberikan harapan ke pria yang memukul kekasihnya" Alvan bertepuk tangan ke arah Citari.
"hah memukul? siapa yang di pukul Iqbal mas Alvan?" Citari kebingungan.
Alvan tak menjawab dan berjalan ke arah Iqbal yang di borgol dan di hadapan polisi dia berbicara sesuatu
"pak polisi tolong bawa ke kantor dan besok saya bersama pengacara saya datang ke kantor dan terimakasih untuk bantuannya" menjabat tangan polisi.
"siap dan terimakasih untuk informasinya, di tunggu besok untuk ke kantor polisi untuk mas Alvan dan pengacara nya" menjabat balas Alvan.
"dan kamu Citari silahkan tanya ke Iqbal sendiri sana,bye" menatap Citari sambil menstop sebuah taksi yang lewat.
Sementara itu Ridwan menunggu lama di rumah sakit yang tak jauh dari penggrebekan itu hanya menonton telivisi dan berbaring.
Sementara Alvan dalam perjalanan ke rumah sakit yang bingung antara jujur atau hanya diam untuk menutup semuanya ini dari Ridwan.
Alvan tak ingin melihat Ridwan hancur oleh cinta pertama nya di SMA saat ini tetapi dia tak ingin Ridwan akan sakit hati nantinya.
Tak terasa Alvan sudah di depan rumah sakit dan turun dari taksi, dia berjalan gontai dengan dalih apa yang ingin di ucapkan ke Ridwan nanti.
"assalamualaikum wr wb Wan cokelat mu" melempar kan coklat ke arah Ridwan.
"waalaikumsalam wr wb, Rut curut besok masuk kan kau ke sekolah?" Ridwan membuka cokelat tersebut sambil berbicara ke Alvan.
"jelas lah, kenapa Wan? "
"jangan bilang siapapun keadaan ku sekalipun itu Citari, faham Van?"
"Hem okay tapi kau harus cepet sehat *** biar tidak curiga semuanya, faham kau rut?" timpal Alvan.
..........................❤️.........................
Sesampainya Alvan di sekolah, Citari melihat Alvan yang berjalan sendiri tanpa kehadiran Ridwan di samping nya.
__ADS_1
Citari mengikuti Alvan sampai kelas nya dan itupun Alvan mengetahui nya tetapi Alvan hanya memendam amarah karena ulah Iqbal lah yang membuat Ridwan sampai cidera dan di rawat di rumah sakit.
"Woy, kau ngapain mengikuti sampai kelas? kelas 10 apa di daerah sini?" tegas Alvan.
"maaf mas, mau tanya boleh? mas Ridwan kemana ya?" tanya Citari polos.
"Ridwan keluar kota lagi liburan sama keluarga, mau tanya apa lagi?" ketus Alvan
"kejadian semalam itu kenapa mas Alvan seperti itu ke mas Iqbal?, ada apa sebenarnya?" Citari menghadang jalan Alvan untuk masuk ke kelasnya.
"kau minggir atau tak lempar kosotogare (lemparan judo), kalau kau tanya itu tunggu waktunya ya Citari yang manis" senyum sinis Alvan.
Citari pun hanya diam tanpa ada perlawanan untuk menghadang Alvan kembali, yang dia pikirkan kemana Ridwan hari ini?
..........................❤️.........................
Seminggu telah berlalu dan Ridwan sudah di perbolehkan pulang ke rumah dan beraktivitas seperti biasanya.
Dokter pun sudah memberikan informasi ke kedua orang tua Ridwan terkait diagnosa Ridwan selama perawatan dan tidak ada yang perlu di khawatir kan sama sekali.
Hingga akhirnya Alvan dan Ridwan pun kembali ke sekolah bersama dan tentunya dengan tingkah konyol mereka.
"eh bentar mau ke Citari dulu Van" sambil meninggalkan Alvan.
"aku ikut dan kamu diam setelah ini Wan" timpal Alvan.
"maksudnya diam? ada apa sebenarnya?" Ridwan menggaruk kepalanya.
Suasana ruangan kelas Citari hanya ada Diah, Fahira, Diky dan Rino mereka semua tau maksud kedatangan Alvan kecuali Citari.
"assalamualaikum wr wb dik Citari"sambil memberikan cokelat.
"seminggu liburan kemana kok gak ada kabar mas Ridwan" Citari bersuara manja.
"Uda kumpul semua kan di sini? yang tidak ada kepentingan silahkan keluar!!" sentak Alvan.
Suasana kelas yang semula ramai tiba tiba mendadak sepi karena suara tegas Alvan.
Ridwan yang melepas rindu dengan Citari menatap Alvan curiga.
"ada pa Van? kok keras gini kau sama wanita?" Ridwan mulai menghampiri Alvan.
"Aku yang harus tanya ke Citari wan"
Ridwan menatap Citari kemudian di susul Diah, Fahira, Diky dan Rino.
"kamu seminggu ini benar benar ya Citari" Alvan menahan emosi.
"kenapa kau jenguk berandal itu lagi hah?" Diah ikut nimbrung.
"kau tau kagak kalau mas Ridwan di rawat di rumah sakit semingguan ini hah?" Rino emosi.
"bentar bentar ini ada apa?" Ridwan bertanya tanya.
"Wan, Asal kamu tau semua teman kau jenguk kau di rumah sakit karena bukan aku yang bocorkan tetapi Rino yang tau Wan"
"Rino? kenapa dia bisa tau Van" Ridwan kebingungan sambil menggenggam tangan Citari.
"Ayah nya Rino Kapolres yang menangkap Iqbal dan Genk nya,kau mau tau yang sebenarnya Wan? asal kau tak sakit hati Wan" Alvan memberi kode ke Rino.
"mas Ridwan maaf, ini yang di beri papa ke saya dan saya terkejut melihatnya" Rino membuka kamera dan memutar kan video rekaman CCTV.
Dalam Video tersebut Citari hampir 6 hari membesuk Iqbal yang di tahan dan Iqbal hanya diam karena malu ke Citari terlihat dari wajahnya yang selalu melihat ke arah Citari.
Citari selalu memberikan semangat ke Iqbal dan memberikan sambutan mesra untuk Iqbal selama di jenguk di tahanan.
Ridwan hanya diam melihat rekaman CCTV itu dan hanya melihatnya Ridwan menetes kan air mata nya di depan Citari.
"maaf mas Ridwan, papa saya yang bilang kalau mas Ridwan di rawat karena di pukul oleh Iqbal dan Genk nya mas" Rino memohon maaf.
Citari hanya terdiam membisu karena tak tau kalau Ridwan telah di pukul Iqbal dan mengakibatkan Iqbal di tahan.
" itulah Wan kenapa aku hanya diam ke Citari dan kamu tau sendiri kan kalau dia masih punya rasa dan perasaan ke Iqbal bukan ke kamu Wan" Alvan mengangkat kera baju Ridwan.
"Van aku faham,aku Inging ngomong sama Citari dulu" Ridwan menggenggam tangan Alvan.
"dik Citari kenal sama Iqbal?" Ridwan menatap tajam Citari.
"Mas Ridwan maaf, Citari mohon maaf mas kalau Iqbal dan gank nya memukul mas Ridwan, Citari akan cerita semuanya mas Ridwan" air mata Citari menetes di pipi sembari dia bercerita tentang Iqbal.
Citari dan Iqbal memendam rasa untuk saling memiliki sejak SMP kelas 2 akan tetapi Iqbal hanya bisa memendam perasaan itu berbeda dengan Citari yang telah lama menunggu pernyataan cintanya Iqbal untuk Citari.
Hingga akhirnya Citari kelas 10 pun masih di cintai oleh Iqbal akan tetapi Iqbal menyatakan cinta ke Citari setelah dua hari Citari jadian dengan Ridwan.
Iqbal yang dulu pernah berkelahi dengan Ridwan ketika SMP kelas 7 dan mengakibatkan Ridwan di pindah oleh orang tuanya untuk di SMP dekat rumah dan bertemu dengan Alvan kembali.
Citari berada dalam posisi yang serba sulit karena mencintai dua orang cowok sekaligus dan Iqbal pun tetap tidak terima kalau Citari jadian dengan Ridwan yang dulu pernah mengalahkan dia di SMP.
"jadi Iqbal memukul ku karena dendam kamu tak miliki dik Citari?" Ridwan menghapus air matanya Citari.
" Iqbal tidak berkata apapun yang dia katakan dia puas telah memukul cowok yang merebut kekasihnya" Citari menangis di depan Ridwan.
"kenapa di penjara kamu berikan hal mesra ke dia ? Citari apa kamu tidak ingat aku dik?" Ridwan menahan emosinya dalam dalam.
..........................❤️.........................
...jangan lupa komentarnya untuk membangun dan kritik nya juga, terimakasih dan tunggu kelanjutannya ya karena cerita ini bagaikan puzzle yang berantakan....
..........................❤️.........................
__ADS_1