
..........................❤️.........................
CINTA
Pernah aku memiliki mu
Tapi ku tahu kamu tak merasa
Apa yang kurasa terhadap mu
Apakah kamu masih tersenyum untuk sebuah asa?
Lepaskan sayang ikatan ini tanpa harus ada sakit
Cinta itu sakit seperti kamu melupakan aku sayang
Apakah aku pantas untukmu sayang
Tentu tidak untuk saat ini dan seterusnya sayang
by Khibban NurCahyo
..........................❤️.........................
...Assalamualaikum wr wb para reader,...
...terimakasih telah mampir dan membaca karya pertama ku nih, di episode kali ini mohon bantuannya untuk vote dan like sebagai dukungan dan semangat untuk author....
...terimakasih dan selamat menikmati....
..........................❤️.........................
Dua Minggu berjalan tetapi hati Ridwan masih sakit ketika dia mengingat semuanya begitu juga Alvan yang di jebak oleh Aryani tetapi bedanya Alvan tidak mencintai Aryani, hingga akhirnya Iqbal pun merasa bersalah dengan Ridwan yang telah membuat Citari masih ingin mendapatkan dua hati cowok.
"gimana mas Iqbal lukanya?" Ridwan menatap Iqbal kemudian menjabat tangan nya.
"Alhamdulillah sudah baikan semua Wan tapi gua mau ngomong serius nih sama kamu" Iqbal melemparkan satu pack rokok ke arah Ridwan.
"boleh lah tapi jangan bahas dia mas lagian dia masih tak gantung" ujar Ridwan polos.
"woy mas Iqbal di cari bunda di atas, cepet lah!!! " Alvan keluar menuju teras seraya berteriak ke arah Iqbal.
"eh curut sableng, kau sama mas mu jangan teriak teriak ***, kuping sakit ***" Ridwan menonyor kepala Alvan.
"lha Ket mau wes di celuk celuk, kuping e mass Iqbal akeh curut e" seloroh Alvan tanpa dosa.
"your head akeh curut e" Iqbal berteriak dari atas balkon rumah.
"adik kakak tukaran sana nanti tak wasit i, piye Van?" sahut Ridwan.
Ridwan kini memegang hape nya yang berdering tapi enggan untuk di angkat dan kemudian di reject .
"mau sampai kapan kamu seperti itu Wan? cewek butuh kepastian juga, kasihan juga tuh anak orang kau PHP" celetuk Alvan.
"opo kui PHP? Penikmat Harta Pacar?" ketus Ridwan.
"ndas mu kui Penikmat Harta Pacar, Pemberi Harapan Palsu *** curut" tonyor Alvan.
"capek Van aku dengan Citari, mau aku sudahi tapi kok ......" putus Ridwan ragu
"tapi kok masih cinta? Uda gak usah munafik Wan, lagian aku sudah sudah gak ada rasa sama Citari juga" Iqbal menjawab sambil menepuk bahu Ridwan.
"bukan itu juga mas tapi aku masih trauma dengan apa itu rasa cinta ke Citari" Ridwan tersenyum pahit.
"Wan, kamu masih cinta kan sama dia Wan? kalau kamu masih bimbang shalat istikharah aja dulu" singkat Alvan.
Ridwan masih mencintai Citari tetapi adakah maaf untuk Citari? Ridwan selalu berharap semua ini selesai tanpa air mata dalam wajah Citari.
"Wan kok kau lemah sih ***, dih najis ***" Alvan meninju bahu Ridwan.
"Van gak mood guyon aku, aku tak nyanyi oleh?" mata Ridwan mengisyaratkan permohonan.
"dih najis, dah nyanyi sana, gua bagian gitar, lagu apa?" Iqbal menenteng gitarnya.
"sejak kapan kau mas punya gitar?" Alvan menatap heran.
"sejak di belikan papa, tuh ambil gitar juga sana daripada temen lu Gegana" ledek Iqbal
"opo kui Gegana?" kompak Ridwan dan Alvan.
"gelisah galau merana, hahhhahaahaahaha" tawa Iqbal renyah.
"ndas mu Gegana, dah ambil gitar juga curut" sambil mengingat lagu yang mau di nyanyikan.
"dih nyanyi lagu apa kau ***" ketus Alvan.
"Pelan pelan saja lagunya bunder band" polos Ridwan
__ADS_1
"kotak band *** uduk bunder band" gerutu Alvan.
Pelan-Pelan Saja
Ku tahu, kamu pasti rasa
Apa yang kurasa
Ku tahu, cepat atau lambat
Kamu 'kan mengerti
Hati bila dipaksakan
Pasti takkan baik
Pantasnya kamu mencintai
Yang juga cintai dirimu
Cinta kamu
Lepaskanlah ikatanmu dengan aku
Bila berat melupakan aku
Pelan-pelan saja
Tak ada niat menyakiti
Inilah hatiku
Pantasnya kamu mencintai
Yang juga cintai dirimu
Cinta kamu
Lepaskanlah ikatanmu dengan aku
Bila berat melupakan aku
Pelan-pelan saja, oh
Pelan-pelan saja
Lepaskanlah ikatanmu dengan aku
Bila berat melupakan aku
Pelan-pelan saja
Pelan-pelan saja
(Lepaskan aku, lepaskan aku, lepaskan aku)
Pelan-pelan saja
by Kotak Band
Tanpa di sadari air mata Ridwan menetes setelah menyanyi sementara Alvan dan Iqbal menatap sendu ke arah belakang Ridwan, ada Citari daritadi yang mendengar kan suara burik Ridwan.
"mas Iqbal satu lagi boleh?" Ridwan menghapus air mata nya.
"eh, boleh boleh, lagu apa?" pinta Iqbal.
"Bunga terakhir Bebi Romeo mas, eh curut ayo" sergah Ridwan memandang Alvan.
"yakin? suara lu burik sih tapi yauda lah Rut daripada gegana lagi kau" memberikan kode untuk Ridwan.
Sementara Citari yang tau Ridwan akan menyanyi segera mencari tempat duduk tak jauh dari Ridwan sambil memberikan kode ke Alvan dan Iqbal untuk tetep diam.
Bunga Terakhir
Kaulah yang pertama
Menjadi cinta tinggallah kenangan
Berakhir lewat bunga seluruh cintaku untuknya
Bunga terakhir
Ku persembahkan kepada yang terindah
Sebagai satu tanda cinta untuknya
Bunga terakhir
__ADS_1
Menjadi satu kenangan yang tersimpan
Takkan pernah hilang 'tuk selamanya
Betapa cinta ini
Sungguh berarti tetaplah terjaga
Selamat tinggal kasih 'ku telah pergi selamanya
Bunga terakhir
Ku persembahkan kepada yang terindah
Sebagai suatu tanda cinta untuknya
Bunga terakhir
Menjadi satu kenangan yang tersimpan
Takkan pernah hilang 'tuk selamanya
Kaulah yang pertama
Menjadi cinta tinggallah kenangan
Berakhir lewat bunga seluruh cintaku untuknya
Bunga terakhir
Ku persembahkan kepada yang terindah
Sebagai satu tanda cinta untuknya
Bunga terakhir
Menjadi satu kenangan yang tersimpan
Takkan pernah hilang 'tuk selamanya
Citari berjalan ke arah Ridwan sambil membawa tissue untuk nya tetapi Ridwan segera beranjak dari duduknya.
"eh kamu dik, sudah lama?" kikuk Ridwan.
"barusan mas Ridwan, kamu nangis mas?" cicit Citari.
"Ndak, tadi ada debu yang masuk, tumben kesini,ada apa?" sahut Ridwan sambil membiarkan Citari menghapus air matanya.
Kedua mata dua sejoli itu berpandangan lama tanpa di sadari hanya kedua mata yang berbicara saat itu dan seakan akan waktu berhenti sebentar untuk kedua sejoli itu .
"Wan gua tinggal dulu ya, assalamualaikum wr wb" pamit Iqbal.
"eh curut, tak tinggal sek, di panggil papa sama Mama juga" Alvan menepuk pelan bahu Ridwan
Kedua sejoli masih menatap lekat tanpa ada kata yang keluar, mungkin mereka merindukan kemesraan yang mendalam untuk sesaat saja.
"Mas, aku mau jelasin semuanya mas" iba Citari.
"jelasin seperti apa lagi? bukankah kamu hanya ingin harta ku saja? kenapa ingin hati ku juga?" mengambil sebatang rokok.
"kenapa kamu tak memberiku kesempatan lagi mas? aku ngaku salah mas Ridwan, jangan buat perasaan ku menggantung seperti ini" emosi Citari meluap.
"aku ingin memaafkan mu tapi rubah dulu pikiranmu itu jangan menganggap aku dari keluarga yang kaya raya sehingga kamu seenak mu sendiri" datar Ridwan.
"aku buktikan untukmu mas Ridwan" tatap Citari lekat.
"semoga saja begitu adanya, aku hanya ingin bukti yang tulus hingga kamu dan aku saling memiliki" datar Ridwan.
Percakapan dua hati membuat penasaran Iqbal dan Alvan, mereka berdua hanya mendengar kan keputus asa an dari diri Ridwan hingga membuat dua anak manusia tersebut membuat suatu acara untuk menyatukan mereka berdua kembali sebelum masuk ke perguruan tinggi sebentar lagi.
..........................❤️.........................
...Assalamualaikum wr wb...
...terimakasih sudah mau mampir dan membaca cerita karya awal saya teman teman....
...jangan lupa ya vote dan like nya untuk membuat author bersemangat untuk memberikan puzzle puzzle cerita cinta yang team pernah berujung ini....
...jangan lupa komentar dan vote nya ya gaes terimakasih gaes....
...wassalamu'alaikum wr wb....
..........................❤️.........................
...jangan lupa komentarnya untuk membangun dan kritik nya juga, terimakasih dan tunggu kelanjutannya ya karena cerita ini bagaikan puzzle yang berantakan....
..........................❤️.........................
__ADS_1