LAST LOVE FOR WHOM? ( Cinta Terakhir Untuk Siapa?)

LAST LOVE FOR WHOM? ( Cinta Terakhir Untuk Siapa?)
RASA TERTINGGAL NICHO


__ADS_3

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bila asmaraku telah tiba


Merenggut nafas dijiwa


Itu dia yang datang hadirkan cinta


Menyebar ke dalam rasa


Dapatkah ku mengatakannya


Perasaan yang ku punya


Untuk dia mestinya ku ungkapkan saja


Tuk dapat jawaban darinya


Dapatkah aku memeluknya


Menjadikan bintang di Surga


Memberikan warna yang bisa


Menjadikan indah


Aku tak mampu mengatakan


Aku tak mampu tuk mengungkapkan


Hingga sampai saat ini


Perasaan tlah tertinggal


Dapatkah dia merasakan


Satu nafas yang tersimpan


Itu bukan cinta


Sekedar cinta biasa


Yang sesaat dan terus hilang


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Alvan sengaja berdiri di samping Ridwan yang sedang duduk sambil mencuri pandang ke arah kekasihnya, tentu Ria yang di pandang Alvan segera menyadari gelagat si pencuri hati nya, berbeda dengan Ridwan yang tengah mengobrol dengan calon mertuanya tersebut hanya terus berbasa-basi untuk menghilangkan kegugupan nya.


Sementara ayah Ridwan hanya tersenyum mengerti keadaan canggung anak nya pun segera mengambil alih pembicaraan.


"Terlalu lama basa basi mu, tuh anak orang sudah menunggu untuk menjadi menantu ku, langsung aja lah boy." ucap ayah Mukti sambil membakar rokoknya kembali.


Mendengar kode dari ayahnya tercinta Ridwan segera mengambil nafas dalam dalam dan menghembuskan dengan pelan kemudian.......

__ADS_1


"Assalamualaikum wr wb, mohon perhatian nya sebentar untuk keluarga besar Tria, saya Ridwan berniat untuk melamar Ananda Tria untuk menjadi istri untuk diriku dunia dan akhirat."


Tria yang mendengar lamaran Ridwan hanya diam dan menunduk dalam tapi terlihat pipi nya merona merah pertanda malu malu meong.


"Bagaimana Tria? apakah kamu bersedia menjadi istriku dunia akhirat?." ucap Ridwan sambil jongkok di depan Tria.


Entah darimana keberanian nya keluar untuk show off di depan Tria dan keluarga besarnya, tetapi berbeda dengan Alvan yang mendengus kesal karena sebutan Tria dari Ridwan kurang romantis.


"Emang dasarnya es balok ya gini, melamar dengan menyebut namanya, nih contohnya...." ucapan Alvan terputus dan berjalan ke arah Ria.


"Sayang ku Ria, mau kah kamu menjadi ibu dari anak anak kita kelak? mau kah kamu menjadi madrasah pertama bagi anak anak kita kelak? aku tak bisa berjanji tapi sehidup semati dengan mu membuat aku tak bisa tidur dalam keheningan malam." Alvan berjongkok di depan Ria sambil menunjukkan cincin pertunangan nya.


Semua melotot tajam menatap Alvan yang terang terangan melamar Ria untuk menikah dengannya.


"Wah, mau sayang, tapi ini kan lamaran nya adik ku lho, emang kamu serius dengan ku?." Ria terlihat berbinar.


Sementara Keluarga Besar Wicaksono yang hadir hanya melotot melihat anak keduanya berani melamar di acara keluarga besar Mukti.


"Mau mu apa sih Van? ini acara ku kenapa kau melamar juga sih?." ketus Ridwan.


"Sekalian lah, menghemat pengeluaran, hehehehehehe." cengir Alvan.


"Pala kau menghemat pengeluaran dasar kadal buntung buaya darat monyet bunting kadas kurap, kau awas ya bentar lagi." ancam Ridwan.


Semua tertawa mendengar dan melihat Ridwan dan Alvan sambil menatap tajam, sementara Tria dan Ria yang ikut tertawa pun segera menghambur ke arah Alvan dan Ridwan untuk menenangkan mereka berdua.


Setelah semua kembali tenang, Tria menatap Ridwan dengan yakin dan sambil tersenyum...


"Bismillahirrahmanirrahim, dengan nama Allah SWT dan Rasulullah SAW, aku Tria binti Hadi menerima lamaran untuk menjadi istri dan ibu dari anak anak Ridwan bin Mukti." ucap Tria dengan yakin.


"Mau apa peluk peluk? belum sah, paham kau? sini peluk aku aja." Alvan menaik turunkan alisnya.


"Dasar tak tahu kondisi kau, minggir aku mau meluk calon istri ku." umpat Ridwan sambil menarik tubuh Alvan.


Semua tertawa mendengar pertikaian Ridwan dan Alvan akan tetapi semua berhenti ketika mendengar letusan tembakan dari arah luar rumah keluarga besar Hadi.


"Ridwan!!!!! kau tak berhak mendapatkan Tria, Tria milik ku semata!!." suara berat seperti bariton itu terdengar.


"Tuan Ridwan, awas." ucap Adi sambil memasang tubuh nya untuk melindungi Ridwan.


Seorang pria dengan sebuah pistol mengarah ke arah Ridwan sementara di depan rumah keluarga besar Tria semua pasukan dari pria tersebut telah tumbang begitu juga pasukan Adi juga ikut tumbang.


"Adi, minggir, bawa Ayah Mama beserta keluarga besar Tria, cepat!!! ini perintah dariku!!!." ucap Ridwan tegas dari belakang tubuh Adi.


"Kamu masih di sini ternyata Nicho, letakkan senjata itu atau ku pecah kan kepala kau ini, mohon maaf Tuan Besar Mukti, Nyonya Besar Inah saya datang terlambat." ucap pria tersebut.


"Jhon?." ucap Adi sambil tersenyum ke arah nya.


Ya pria tersebut bernama Jhon, pengawal dari Tria dan Ria selama di Inggris sana.


"Biarkan Ridwan berbicara dulu Jhon, akhirnya kau datang juga." ketus Alvan.


Ridwan yang belum tau banyak tentang Tria hanya tersenyum menatap laki laki yang bernama Nicho itu.

__ADS_1


"Ridwan, kamu pasti ? siapa namamu?." ucap Ridwan melangkah ke arah Nicho.


"Tuan!! mundur!! jangan mendekat!!!." tegas Jhon.


"Hei hei, tenang lah, bisa turunkan senjata nya? laki laki sejati itu tangan kosong bro, tanpa senjata, paham?." ucap Ridwan sambil melipat lengan jas nya bersiap untuk baku hantam dengan Nicho.


"Nyali mu memang besar Tuan Ridwan, persis yang di bilang adik ku Dirga." ucap Nicho sambil menurunkan senjata nya dan melipat lengan baju nya juga.


"Oh Dirga, perebut kekasih orang juga ternyata type type seperti kau ini." Ridwan tersenyum sinis.


"Gua di sini mau melamar Tria untuk menjadi istriku tetapi sudah ada yang terlebih dahulu, tapi? tak apalah, jika aku tak bisa mendapatkan Tria lu juga gak bisa bersanding dengan Tria!!." teriak Nicho sambil berjalan cepat ke arah Ridwan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


apakah ada baku hantam kembali? atau kah ada Yang bisa menebak kisah selanjutnya?


__ADS_2