
...........................β€οΈ.........................
Kini Ridwan hanya bisa tersenyum saat Tria menatap nya sendu...
"tatapan itu ikhlas untuk ku kah Tria? atau hanya keinginan mu untuk memiliki ku?
"Kak Ridwan kenapa liat nya gitu? mau minum?" Tria mengambil kan gelas yang berisi air yang sudah di beri sedotan.
Ridwan hanya menggeleng kemudian memejamkan mata untuk kembali merasakan semua hampir 4 bulan ini, air matanya menetes ketika ada nama Citari yang kembali terlintas di benak nya.
"Kak Ridwan jangan nangis lah, sini sini adik Tria cerita in deh, kakak mau?" ujar Tria seperti memberikan perhatian ke kekasih nya.
Ridwan hanya tergolek lemah itu hanya bisa memberi isyarat anggukan pelan.
"nih kak, Tria punya sahabat juga seperti kak Ridwan dengan kak Alvan tapi semua Fotonya di hape, nama nya Tri Wulandari kak, dia juga baik sama seperti kak Ridwan lho kalau kak Ridwan mau nanti tak kenalin ya tapi anak nya di Nganjuk kak jadi harus jauh jauh hari menghubungi nya" celoteh Tria penuh antusias.
Ridwan hanya tersenyum mendengar kan cerita Tria, tiba tiba.....
* maaf Nona, keadaan Tuan Ridwan sudah membaik sungguh luar biasa perkembangannya untuk semangat sembuhnya" ujar Dokter sambil mengecek alat alat yang menempel di tubuh Ridwan.
" yakin Dok? tolong Dok di observasi lagi dan takutnya seperti tadi, tolong ya dokter" pinta Tria memohon.
" Selalu Nona, yang terpenting Tuan Ridwan di samping orang yang tepat dan kekasih nya seperti Nona akan cepat sembuh lho" goda Dokter sambil menatap yakin ke arah Tria.
"maaf Dok saya hanya adik kelasnya kak Ridwan dan saya bukan kekasih nya juga" bisik Tria agar tidak terdengar Ridwan.
" Jodoh, rezeki dan kematian tak ada yang bisa menebak Nona tapi saya hanya bisa menolong Tuan Ridwan dan saya lihat Nona dan Tuan Ridwan sangat cocok, semoga berjodoh ya" Dokter itu tersenyum sambil menyerahkan dokumen pemeriksaan ke suster.
Tria hanya tersenyum ketika mendengar doa tersebut dan melihat brankas tidur Ridwan yang sudah bersiap di pindahkan ke ruang kamar VVIP rumah sakit tersebut.
"Nona maaf ini administrasi nya yang sudah lunas dan kita akan memindahkan Tuan Ridwan ke kamar 14 ya" ucap Suster itu membuyarkan senyuman Tria.
.
.
.
.
.
.
.
.
Alvan, Ria, Adi segera beranjak untuk mengikuti Tria yang berjalan menuju ruang inap Ridwan tanpa terkecuali Iqbal dan Tantri yang sedari tadi baku hantam omongan dengan Iqbal sehingga membuat mereka bertiga geleng geleng kepala.
"eh nenek sihir, lu buat gaduh kamar nantinya gua bakar lu di api unggun Pramuka baru tau rasa kau" Iqbal mengancam Tantri sambil menunjuk tepat di depan mukanya.
"lu gua buat rujak buah baru tau rasa, muka lu macam kedondong aja bangga, cih najis" umpat Tantri sambil berjalan meninggalkan Iqbal.
Kamar inap Ridwan terlihat sangat luas dan bisa ditempati hampir 3 pasien rawat inap tapi Alvan yang melihat nomor ruang kamar inapnya Ridwan terasa aneh.
"14? kok sepertinya mengenal angka itu tapi di mana? dahlah mungkin hanya kebetulan" ujar Alvan lirih.
Setelah semua telah Suster dan Dokter memberikan informasi bahwa Ridwan harus segera beristirahat dan tidak ada yang gaduh dalam kamar tersebut karena hanya ingin pasien nya cepat membaik.
" saya berterima kasih untuk Nona kekasih Tuan Ridwan yang sudah berhasil membuat Tuan Ridwan cepat pulih dan saya berharap tidak ada gaduh di ruang inap ini" dokter memberikan instruksi di depan Iqbal dan Tantri yang sedari tadi bikin gaduh.
"makasih Dok dan untuk malam ini bisa kah sahabat saya di tunggu oleh dua orang Dok?" pinta Alvan ke dokter.
"boleh asal jangan gaduh,faham?serta ini minum kan ke Tuan Ridwan setelah jam 2 malam" ujar dokter sambil meletakkan dua tabung kecil berisi obat.
Dokter dan suster itu pun beranjak keluar kamar dan di ikuti Iqbal dan Tantri.
"Dok maaf bertanya sekali lagi" Iqbal menghadang laju Dokter dan suster tersebut.
"boleh Tuan, silahkan" dokter memberhentikan langkahnya.
"keadaan adik saya Ridwan semua sudah di cek kembali Dok? saya hanya khawatir seperti tadi" ujar Iqbal penuh kekhawatiran.
__ADS_1
"terimakasih untuk pertanyaan nya, kondisi Tuan Ridwan berlangsung membaik setelah dia dan Nona tersebut masuk ke ruang ICU tadi dengan demikian mereka berdua lah yang harus menjaga dan memberikan motivasi untuk Tuan Ridwan di samping perawatan medis dan jangan lupa untuk berdoa memohon ke Tuhan juga ya" ujar panjang dari Dokter.
" maksud dokter Tria adik saya?" Tantri menanyakan kembali.
" ya benar dan semoga mereka berjodoh juga, saya pamit terlebih dahulu ya, assalamu'alaikum wr wb selamat malam " ujar Dokter sambil berlalu meninggalkan Tria dan Iqbal yang saling bertatapan.
"maaf Tuan Alvan dan Tuan Iqbal, Saya mau ibadah, Tuan berdua ikut atau tidak? alangkah lebih baik nya kita doakan Tuan Ridwan untuk kesembuhan nya" Adi bersuara sedikit pelan ke arah Alvan dan Iqbal yang agak jauh dari nya.
" eh bener tuh Adi, yuk mas kita sholat, kalian berdua ikut sholat?" ujar Alvan menunjuk ke Ria dan Tantri.
"oke kita berdua ikut tapi adik gua gimana? lu pikir sendiri an di kamar enak hah?" ujar Tantri sambil melotot ke arah Alvan.
" Kak Tantri aku sholat di sini aja kok, titip coklat 4 Silverqueen juga ya nanti, aku lapar kak" Tria merengek manja ke Tantri.
"iya coklat Silverqueen kan tapi jaga tuh calon imam lu awas jangan sampai ada Mantanya ke sini, gua hajar tuh anak beserta tunangannya" ancam Tantri yang hanya di ikuti senyuman dari Iqbal.
Alvan yang menatap Tria pun kaget karena Ridwan pun suka makan coklat Silverqueen seperti Ridwan.
"semoga aja jodoh mereka, kasihan liat Ridwan di sakiti cewek melulu" lirih Alvan dalam hati.
Akhirnya mereka berlima, Alvan, Iqbal, Adi, Ria dan Tantri berjalan ke masjid yang terletak di dekat rumah sakit tersebut, setelah mensucikan dengan berwudlu mereka bersiap-siap untuk shalat.
"mas Iqbal imamnya ya" celetuk Alvan sambil mendorong pelan Iqbal.
Iqbal hanya mengangguk dan menoleh ke Tantri yang sudah berbalut dengan mukenah terlihat kalem dan cantik mampu menghipnotis Iqbal yang terkenal garang dan keras itu menjadi kelinci yang penurut.
" maaf Bos Iqbal mengganggu, jangan melihat yang bukan mahram nya itu dosa bos, ayo sholat bos sudah iqamah saya" ujar Adi yang sudaha iqamah untuk membuyarkan lamunan Iqbal menatap Tantri.
Tantri yang dari tadi di tatap Iqbal hanya tertunduk malu sambil berujar dalam hati
"ternyata bos besar ganteng juga kalau pakai kopiah dan sarung, kok aneh gini hati gua ya, astaghfirullah" ujar Tantri lirih.
Ria yang menatap ke arah kakaknya tersebut hanya tersenyum kecil mengetahui hati kakaknya yang berubah lembut melihat Iqbal yang telah berada di depan nya sebagai imam shalat.
mereka berlima bermunajat untuk kesembuhan Ridwan taak terkecuali Tria yang sudah selesai shalat di kamar inap Ridwan dan menuju samping Ridwan yang memandang nya sendu.
"kakak minum dulu ya biar gak dehidrasi ya, adik mau lepas mukenah dulu" ujar Tria sambil memberikan air minum ke Ridwan dan setelah itu bergegas melepas mukenah nya tapi....
" Ndak usah, biar kan saya melihat bidadari surga yang telah memberikan doanya untuk kesembuhan ku" ujar Ridwan lemah.
" kak Ridwan masih bisa saja goda, yauda adik gak lepas nih mukenah tapi makan bubur ini ya" sambil menyiapkan bubur untuk Ridwan.
" suapi ya bidadari surga" Ridwan meminta untuk segera di suapi.
" iya kak, cepat sembuh ya kak, ini suapan pertama kak, aaaa" Tria memberikan kode untuk Ridwan.
Ridwan mengunyah pelan bubur tersebut dengan pelan dan berbicara sendiri dalam hatinya.
" makasih Tria, jangan pernah berubah ya untuk kamu" lirih Ridwan dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Alvan dan Ria berjalan menuju market terdekat untuk membeli kan camilan cokelat untuk Tria dan minuman ringan serta tidak lupa membeli rokok untuk dirinya sendiri serta Iqbal dan Adi, sementara Iqbal, Adi dan Tantri sudaha menunggu di depan market .
" Adi duduk sini, jangan berdiri" pinta Iqbal sambil membakar rokoknya.
__ADS_1
"maaf Tuan Iqbal, saya hanya berjaga seperti nya kita di liatin orang mencurigakan dari masuk masjid tadi" ucap Adi sambil menatap ke orang yang sedang menatap nya.
" Adi, Uda biarkan, sini duduk saja" ujar Iqbal sambil menatap dua orang yang daritadi menatapnya dari jauh.
Tantri pun bersiaga dengan melihat dua orang serta lima orang di belakang nya.
" woi, liat apa kalian bertiga, siapa sih? oh mereka berdua toh, woi Rian Ghani sini kau" teriak Alvan memberikan kode memanggil Rian dan Ghani.
Adi yang mengerti nama Rian dan Ghani pun segera mencabut pistol nya tetapi Iqbal memberikan gelengan kepala.
"tapi bos? mereka berdua kan mencelakakan Tuan Ridwan? kenapa mereka berdua bisa lepas Bos?" tanya Adi sambil memasukkan pistol kembali.
"tanyakan tuh anak, dia yang menanggung mereka berdua" ujar Iqbal menatap Alvan.
Rian dan Ghani pun datang di ikuti anak buah kepercayaan mereka berdua dengan hati hati.
"sudah makan kalian berdua? nih beli makanan untuk kalian berdua dan Teman kalian terus duduk sini, saya ingin bicara" Alvan memberikan 3 lembar uang ratusan ribu.
"makasih Van, maaf bos Iqbal kita jelaskan nanti" ujar Ghani sambil memberikan tabik hormat.
" untung di beritahu adik gua, gak ada adik gua pasti gua pukul lu berdua" ujar Iqbal sambil melepaskan asap rokok nya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Rian Dan Ghani beserta ke-lima anak buahnya dibebaskan bersyarat oleh Alvan, apakah akan ada penyerangan dan balas dendam oleh Alvan atas penembakan terhadap Ridwan? meskipun Ayah Dirga dan Dirga sendiri sudah di tahan polisi masih ada yang belum beres menurut Alvan, tapi apakah yang tidak beres tersebut??
Apakah Ridwan bisa membuka hati nya kembali untuk cewek lain nantinya? apakah akan berakhir sakit hati kembali??
tetap ikuti ya teman teman pembaca, tinggalkan jejak ya.
...........................β€οΈ.........................
...terimakasih untuk semua pembaca,tetap ikuti puzzle cerita cinta berjudul LAST LOVE FOR WHOM? thank you very much reader, tinggal kan jejak ππππππ....
__ADS_1
..........................β€οΈ.........................
Nb: yuk vote kakak semuanya dan komentar nya dong agar semangat lagi author nya, heheheheheheπππ.