
...........................❤️.........................
Alvan yang tengah di samping Ridwan kemudian berbisik lirih di telinga nya.
"Perang dunia antara Lidia dengan Kekasih Mas Prika." bisik Alvan.
"Ya udah nanti duduk kan mereka semua, sekarang bawa Wulan menemui Mas Adi untuk bekerja sebagai kasir Van." Ridwan bergegas berdiri untuk masuk ke dalam Cafe.
Ridwan tak ingin memaksakan siapapun untuk membuat kembali hatinya tersentuh karena saat ini hatinya mungkin sudah membeku.
Dua gadis sedang beradu argument untuk memperebutkan hati dari Prika, sementara Prika yang menyadari Ridwan sudah hadir di tengah Lidia dan Shinta beranjak mundur tetapi langsung di cegah oleh Ridwan.
"Selesai kan Mas, gak baik menggantung dua hati seperti itu." ujar Ridwan sambil mempersilahkan mereka duduk.
"Maaf Wan bikin keruh suasana Cafe baru mu, gue gak ada rasa lagi sama Lidia dan kenalkan ini Shinta calon istriku." Prika mengenal kan Shinta ke Ridwan.
"Hai Ridwan, Oh ini yang buat Lidia marah marah, kalau boleh tahu kenapa kamu tidak mau melepaskan Mas Prika Lidia?" Ridwan mengenal kan diri sambil menatap lekat ke arah Lidia.
"Asal Lu tahu Wan, dia sudah merebut hati Mas Prika dariku dan asal Lu tahu juga Shinta, gue sudah hampir bertunangan dengan Mas Prika." Lidia mendorong pelan tubuh Shinta.
"Duduk!! Ghan buatkan es coklat empat gelas dan bawa ke ruangan ku, kalian bertiga ikut saya ke ruangan karena Cafe ini akan launching perdana." Ridwan berteriak ke arah Ghani sambil menatap bergantian ke arah Prika, Lidia dan Shinta.
Satu masalah sudah kelar dengan Wulan tapi timbul permasalahan baru dari Lidia, andaikan Tria ada pasti dia mampu mendampingi nya saat ini.
Tapi sayang Tria masih belum bisa menyembuhkan hatinya Ridwan yang masih terpatri nama Citari meskipun dia sudah bertunangan dengan Tria.
Rumit ternyata perasaan hati Ridwan, seakan tak kan pernah bisa terlepas dari Citari yang pernah mendampingi nya saat dulu.
Ridwan yang sedang bertarung dengan hatinya semakin tercekat ketika melihat Alvan yang tengah video call dengan Ria yang di sampingnya terpampang jelas Tria sedang berbicara dengan Danis.
Alvan yang mengetahui Ridwan panas hatinya segera memberikan kode ke Ria untuk mengarahkan camera video call nya ke arah Tria dan Danis yang tengah berbincang.
"Oh mereka bertiga satu kampus toh, ternyata benar tunangan pun belum tentu menjadi pasangan suami-istri nantinya." gumam Ridwan dalam hati sambil menatap panggilan video call milik Alvan.
Alvan kembali tersenyum simpul melihat sahabatnya kini tengah terbakar api cemburu hanya mampu menahan tawanya.
"Eh nyet, sejak kapan di sini? terus mereka bertiga mau ngapain?" ujar Alvan sambil mengakhiri panggilan video call itu.
"Hem, jelaskan nanti kenapa ada Danis dan Tria di sana nanti." bisik Ridwan.
"Sudahlah sembuhkan luka hatimu bukan hanya untuk berfikir egoisme mu sendiri." Alvan menunjuk tepat di dada Ridwan.
"Mau cari mati kau? nanti cerita kan semuanya." ketus Ridwan.
Sementara Prika, Lidia dan Shinta yang mulai kembali berdebat kini sudah duduk tanpa di persilahkan Ridwan dan Alvan.
Ridwan yang menghela nafas panjang mendengar perdebatan itu melirik tajam mereka bertiga.
"Kalian sampai kapan ingin berdebat seperti itu?, kamu Lidia kenapa masih harus mengejar Mas Prika juga?" tanya Ridwan sambil melerai Lidia yang tengah menarik rambut Shinta.
"Dia tak pantas untuk Mas Prika karena dia hanya j*Lang murahan, Lu mau seperti apapun membantu ku dengan Mas Prika tak kan sanggup mengobati luka yang ada di hati ku Wan!!" pekik Lidia sambil terisak.
__ADS_1
"Eeits kok nangis, sudah cup cup cup jangan nangis nanti make up nya ilang lho." goda Ridwan.
"Gak lucu Wan, anak orang nangis seperti itu malah di buat tambah nangis." ujar Alvan sambil beranjak pergi.
Ridwan segera mengambil selembar tisu untuk Lidia lantas....
"Maaf, bukan maksud untuk membuat mu bertambah sebal, hidup jangan di buat sedih, relakan semua yang sudah terjadi untuk masa depan mu juga." Ridwan kembali menenangkan Lidia yang masih terisak.
"Makasih Wan, maafkan aku juga Shinta, bahagia kan Mas Prika dengan hatimu juga." pinta Lidia.
"Alhamdulillah kalau begitu, sudah selesai kan Mas Prika, saatnya kita semua hidup dari awal kembali, oh ya Lidia, kamu bisa datang kesini juga kalau mau tapi jangan kembali mengorek luka lama mu, paham?" tegas Ridwan.
"Paham Wan, boleh pinjam pundak Lu sebentar? " pinta Lidia.
Ridwan mengangguk karena hanya sekedar untuk meminjam kan bahu nya untuk sementara bagi Lidia.
Kisah cinta mereka berdua hampir saja sama tapi yang membedakan adalah luka hati Ridwan belum sembuh.
Pernikahan dini yang ingin di laksanakan keluarga besar Mukti kembali di tolak Tria karena luka Ridwan yang belum sembuh.
Apakah Ridwan keras kepala? memang Ridwan sulit untuk jatuh hati ketika dia sudah memberikan hati nya untuk cinta pertamanya yaitu Citari.
Ruangan yang kini hanya ada Lidia dan Ridwan yang sedari tadi hanya menghabiskan dengan pikiran masing masing kembali ricuh karena hadirnya Wulan tiba tiba di tengah mereka.
"Lu apakan Kak Ridwan hah?" teriak Wulan sambil mencengkram erat leher Lidia.
"Wulan lepas!! duduk kamu!" Ridwan berusaha melepas tangan Wulan yang tengah mencengkeram leher Lidia.
"Lu tahu Kak Ridwan sudah memiliki Tria kenapa Lu mencoba mengambil hatinya!" teriak Wulan sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah Lidia.
"Cih, sadar juga Lu, asal Lu tahu, Tria menitipkan Kak Ridwan ke gua bukan ke Lu, paham Lu?" Wulan kembali menaikkan suaranya kembali.
Ridwan yang tersentak mendengar ucapan Wulan hanya bisa mengepal kan tangannya kembali mengingat nama Tria yang telah dengan mudah nya menitipkan ke Wulan.
Ridwan segera bergegas meninggalkan mereka berdua yang lagi berdebat hebat, segera dia mengambil kontak mobil Avanza Veloz nya dari meja nya.
Adi dan Alvan yang melihat Ridwan setengah berlari untuk meninggalkan Cafe sedikit saling berpandangan menatap Ridwan yang terlihat kesal.
Alvan yang melihat gelagat yang tidak biasa segera memberikan kode untuk Adi segera meminjam sepeda motor milik Ghani.
"Ghan, gua pinjam sepeda Lu, titip Cafe sebentar, gua nyusul Tuan Ridwan ada yang gak beres." ujar Adi sambil mengambil kunci sepeda motor milik Ghani yang tengah di gantungan kunci Cafe.
Mobil Ridwan yang sudah mulai menyala kini berjalan dengan kecepatan tinggi, hingga Alvan yang tengah memasang helm terlihat sedikit panik.
...........................❤️.........................
Ridwan memacu kecepatan mobilnya semakin cepat.....
"Sial! brengsek kau Tria, kau tidak berani menyembuhkan lukak ku! Akhiri semuanya Tuhan!!!!!" umpat Ridwan sambil memacu kembali kecepatan mobilnya.
Ridwan yang kini kalut dengan ingatan nya tentang pesan Tria, ucapan Wulan yang hampir sama terlihat sangat terluka, dirinya terasa sebagai boneka yang harus di titip kan ke wanita karena lukanya tidak akan pernah sembuh seperti nya.
__ADS_1
Mobil Avanza yang berkecepatan tinggi itu membelah jalan dengan begitu mungkin Ridwan sedikit terobati dengan rasa keluhan di dadanya dan otaknya, tiba tiba............
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
...........................❤️.........................
terimakasih untuk semua pembaca,tetap ikuti puzzle cerita cinta berjudul LAST LOVE FOR WHOM? thank you very much reader, tinggal kan jejak 🙏🙏🙏🙏😊😊.
__ADS_1
..........................❤️.........................
Nb: yuk vote kakak semuanya dan komentar nya dong agar semangat lagi author nya, hehehehehehe😀😀😀.