
Percayalah jika hati itu saling memiliki pasangan
Percayalah jika hati itu saling berpasangan
Tetapi entah kapan hati kita berpasangan
Bersabarlah karena Asmara itu akan datang
................
Rombongan keluarga besar Ridwan berdatangan ke kediaman keluarga besar Tria, Ridwan terlihat gugup segera mengambil rokok nya dan segera membakar nya.
Alvan yang melihat gelagat sahabat nya hanya tersenyum penuh arti, segera dia menghampiri Ridwan yang tengah menghisap rokok nya dalam dalam.
"Gugup?." ucap Alvan sambil meminta rokok dari Ridwan.
"Ya begitulah, kira kira keluarga Tria berkenan memiliki menantu yang super edan seperti ku ya Van?." menatap kosong ke arah depan.
"Uda habiskan segera, tuh mereka sudah siap untuk melakukan semuanya, habis acara ini kita berdua menyelesaikan sesuatu bisnis untuk kedepannya." Alvan menghembuskan asap rokoknya.
"Tuan Ridwan ini ada segelas kopi untuk Tuan dan ini capuccino untuk Tuan Alvan." ucap Adi sambil memberikan dua gelas berisikan kopi hitam dan capuccino kesukaan dari Ridwan dan Alvan.
"Makasih Adi." ucap dan Alvan bersamaan.
Ruang keluarga Tria yang sangat ramai dan terdengar beberapa candaan dari kedua besar Tria dan Ridwan pun berlangsung cukup lama karena menunggu kemunculan Ridwan yang tengah menghabiskan rokok dan kopi nya.
"Yah, Ridwan masih merokok?." tanya Mama Inah.
"Biarkan dia grogi tampaknya, wajahnya saja yang tampak garang tapi hati hello Kitty, hahahahahahahaha." tawa Ayah Mukti di ikuti Papa Tria.
"Tapi beneran Nak Ridwan sudah siap dengan anak saya Calon Besan? dia terlihat masih seperti anak kecil, takutnya merepotkan
Nak Ridwan nantinya." ujar Ayah Tria tak mau kalah.
"Kalau tuh anak beneran belum siap kenapa kemarin sampai memohon untuk segera mencari hari pernikahan untuk nya dengan calon mantu ku, oh ya mana calon mantu ku itu?." tanya Ayah Mukti sambil menoleh ke arah samping Ria.
__ADS_1
"Dia lagi grogi juga Om, biasa Tria juga merasa hatinya lagi menabuh genderang, bentar tak panggilkan tuh anak." ujar Ria sambil melangkah menuju kamar Tria.
Semuanya mengangguk setuju dan Mama Inah juga mengikuti Ria dan calon besan nya untuk menjemput Tria di kamar nya, sementara Ridwan yang lagi menghabiskan rokoknya pun segera menghabiskan kopinya yang tinggal seteguk.
"Bismillah, berikan kekuatan untuk mendampingi Tria dunia dan akhirat Ya Allah." lirih Ridwan.
"Aaaammmmmiiiiinnnnnnn" ucap Adi, Alvan, Yudi dan beberapa pengawal Ridwan.
"Kalian? kenapa di sini?." selidik Ridwan.
"Biasa bentar lagi akan tahu Tuan Ridwan." ucap Yudi sambil memasang wajah waspada.
Ridwan hanya mengangguk sambil terus berjalan ke dalam rumah calon mertua nya itu, Tria yang sedang menatap dirinya di cermin tak menyangka segera melepas masa lajangnya.
"Sudah cantik adik kakak, setelah kamu menikah, doakan kakak segera menikah dengan Kak Iqbal ya." Tantri memeluk erat Tria.
"Iya mbak, tapi kenapa perasaan ku agak gak enak begini ya?." sahut Tria sambil memegang dadanya yang semakin berdebar.
Akhirnya Ridwan dengan memantapkan hatinya untuk melamar Tria segera duduk dan menatap ke arah tangga yang menuju lantai dua kamar Tria, dia berharap Tria segera muncul untuk bersanding dengannya.
"Eh, Om, sehat? Tante sehat?." Ridwan berbasa-basi.
"Haduh jangan panggil Om dan Tante lagi lah, panggil saja Papa dan Bunda, seperti Tria memanggil nya." ujar papa Tria renyah.
Dari kejauhan beberapa rombongan telah menuju ke arah rumah Tria, mereka yang mendengar Tria segera melangsungkan pernikahan segera berusaha menggagalkan acara tersebut.
Siapakah mereka? apakah Ridwan dan Tria akan bersatu?
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mereka yang datang pernah menaruh hati ke Tria dan akan berniat menggagalkan Ridwan dan Tria bersatu, siapakah dia? apakah kisah cinta Ridwan masih berliku?
__ADS_1