
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seringkali kau merendahkan ku
Melihat dengan sebelah matamu
Aku bukan siapa-siapa
Selalu saja kau anggap ku lemah
Merasa hebat dengan yang kau punya
Kau sombongkan itu semua
Coba kau lihat dirimu dahulu
Sebelum kau nilai kurangnya diriku
Apa salahnya hargai diriku
Sebelum kau nilai siapa diriku
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nyali mu memang besar Tuan Ridwan, persis yang di bilang adik ku Dirga." ucap Nicho sambil menurunkan senjata nya dan melipat lengan baju nya juga.
"Oh Dirga, perebut kekasih orang juga ternyata type type seperti kau ini." Ridwan tersenyum sinis.
"Gua di sini mau melamar Tria untuk menjadi istriku tetapi sudah ada yang terlebih dahulu, tapi? tak apalah, jika aku tak bisa mendapatkan Tria lu juga gak bisa bersanding dengan Tria!!." teriak Nicho sambil berjalan cepat ke arah Ridwan.
Suasana berubah tegang melihat kedua laki laki saling berhadapan itu tetapi berbeda dengan Tria yang terlihat memejamkan matanya.
"Ya Allah kenapa dia datang saat seperti ini? kenapa tak meminta ku dari dulu? apakah ini takdir mu dan takdirnya Mas Ridwan
ya Allah." batin Tria menatap lekat Ridwan yang bersiap menyerang Nicho.
"Kau tau ndak Nicho? Tria sudah menerima lamaran ku untuk menjadi suaminya dunia akhirat? jangan menjadi pembinor lah." Ridwan mencengkeram kerah baju Nicho.
Alvan yang mengetahui akan ada adegan adu jotos segera mem-play sebuah lagu.
Inilah aku apa adanya
Yang ingin membuatmu bahagia
Maafkan bila ku tak sempurna
Sesempurna cintaku padamu
Ini cintaku apa adanya
Yang ingin selalu di sampingmu
Ku tahu semua tiada yang sempurna
Di bawah kolong langit ini
Jalan kita masih panjang
Ku ingin kau selalu di sini
Biar cinta kita tumbuh harum mewangi
__ADS_1
Dan dunia menjadi saksinya
Untuk apa kita membuang-buang waktu
Dengan kata kata perpisahan
Demi cinta kita aku akan menjaga
Cinta kita yang telah kita bina
Walau hari terus berganti hari lagi
Cinta kita abadi selamanya
Suara audio dari handphone Alvan mengiringi perdebatan Ridwan dengan Nicho.
"Alvan!!!! matikan!!! jangan bercanda!!." teriak Ridwan tetap mencengkeram kerah baju Nicho.
"Biar syahdu Wan, biar gak bosen juga liat kau adu jotos." ucap Alvan sambil terkekeh geli.
"Jadi itu benar Tria? kamu sudah menerima Ridwan menjadi suami mu? kamu berjanji saat itu untuk menunggu ku kan? apakah ini balasan mu ke diriku?." suara Nicho bergetar sambil menatap Tria.
"Tria memberikan janji? sejak kapan kamu mengenal Tria?." Ridwan melepaskan kerah baju Nicho.
"Jauh sebelum Tria bertemu kamu tetapi saat ini selamat untuk mu Ridwan, jaga Tria untuk ku, karena jika kamu tak bisa menjaga hatinya maka aku tak segan segan mengambil nya dari kamu, meskipun kamu sudah menikah." ucapan Nicho tajam.
"Kak, maafkan Tria, mungkin ini salah Tria, aku jelaskan semuanya biar semuanya faham." ucap Tria berdiri di samping Ridwan.
Flashback on
Suasana kantin Kampus Imperial College London.yang terlihat hanya beberapa mahasiswa yang berlalu-lalang tak membuat surut seorang laki laki menunggu gadis kecil nya.
"Sudah lama Kak Nicho? bagaimana kabarnya?." ucap Tria sambil duduk depan laki laki itu.
Tria tersenyum menatap bungkusan berisi makanan itu, masih ingat ternyata kesukaan Tria sejak kecil.
"Dik, ingat Kak Ridwan, jangan seperti ini, Mbak gak ngajari kamu sebagai pemberi harapan palsu lho." bisik Ria.
"Mas Ridwan juga masih ingat Citari juga, emang Kak Ridwan saja yang bisa seperti itu?." ucap Tria.
"Hah Ridwan? kekasihmu? seperti nya aku mengenal Ridwan yang kau katakan Tria." ucap Nicho sambil membuka kaleng soda.
"Ya gimana gak kenal, dia mantan kekasihnya Dirga dan Dirga....." ucapan Tria terputus karena menatap Dirga berjalan ke arahnya.
"Dirga mantan mu? hahahahahahaha, rumit ya ternyata, oh ya aku mau ngomong berdua bisa?." tanya Nicho sambil menatap penuh harap.
"Boleh Kak, dimana?." ucap Tria sambil membalas pesan Ridwan.
"Ikut aku sini." Nicho menarik tangan Tria.
Nicho membawa Tria ke sebuah taman bunga hingga akhirnya.....
"Will you marry me Tria?." ucap Nicho sambil berjongkok di depan Tria dengan sebuah cincin di tangan nya.
"Kak? bukankah kakak...." ucapan Tria terputus karena jari Nicho menempel di bibir Tria.
"Aku menunggumu sejak lama Tria tetapi jika kamu belum siap maka aku akan menunggu jawaban mu itu untuk menjadi istriku." Nicho mengecup punggung tangan Tria.
"Maaf Kak Nicho, Tria bingung, beri Tria waktu." ucap Tria sambil berjalan meninggalkan Nicho.
Flashback off.
__ADS_1
Dada Ridwan bergemuruh hebat antara marah dan sesak menjadi satu mendengar cerita singkat Tria.
"Maaf Kak Nicho, Tria sudah jatuh cinta ke Mas Ridwan." ujar Tria sambil menatap Ridwan yang sedikit menunduk.
Ridwan menggenggam tangan nya erat, emosinya memuncak.....
Bugh
Bugh
Bugh
Pukulan tepat di tubuh Nicho, sementara Nicho yang kurang siap menerima serangan Ridwan jatuh roboh tak berdaya.
"Kamu tak cerita apapun tentang nya Tria!!! kamu memberikan harapan ke laki laki lain selain aku!!! hargai aku Tria!!!!." ucap Ridwan sambil menunjuk ke muka Tria.
"Dan satu lagi Tria!!! hargai aku sebentar saja!!" ucap Ridwan sambil berlalu meninggalkan rumah Tria.
Alvan yang mengetahui kebenaran itu menatap tajam ke arah Ria, seakan ada yang di tutupi selama ini dari Ridwan oleh Ria dan Tria.
"Sekali kepercayaan Ridwan di salah gunakan maka dia tak akan mendapatkan kepercayaan lagi dari Ridwan, Om Mukti dan Tante Inah mohon izin menemani Ridwan dan tolong perbaiki calon menantu Om dan Tante untuk sahabat ku Ridwan." ujar Alvan berlalu menyusul Ridwan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Ridwan apakah sesakit itu merasakan semuanya sendiri? apakah ada kebohongan lain yang di sembunyikan Tria dari Ridwan?
semakin sulit aja cerita cinta Ridwan.....