
...........................❤️.........................
So now this ship is sinking
I don't know what to do
It's got me thinking that I don't need
Don't need you
Too many wrong decisions
You didn't think this through
So what I'm saying is I don't need
Don't need you
Jadi sekarang kapal ini tenggelam
Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan
Ini membuatku berpikir bahwa aku tidak membutuhkan
Tidak membutuhkanmu
Terlalu banyak keputusan yang salah
Kau tidak berpikir ini melalui
Jadi apa yang aku katakan adalah aku tidak membutuhkan
Tidak membutuhkanmu
Bullet For My Valentine "Don't Need you"
...........................❤️.........................
Ridwan yang kini kalut dengan ingatan nya tentang pesan Tria, ucapan Wulan yang hampir sama terlihat sangat terluka, dirinya terasa sebagai boneka yang harus di titip kan ke wanita karena lukanya tidak akan pernah sembuh seperti nya.
Mobil Avanza yang berkecepatan tinggi itu membelah jalan dengan begitu mungkin Ridwan sedikit terobati dengan rasa keluhan di dadanya dan otaknya, tiba tiba............
Mobil Avanza Veloz itu oleng ke kiri menuju sebuah pohon yang berdiri kokoh, kecelakaan pun tak terelakkan menimpa Ridwan.
Bbbbuuuuuaaaakzzzzzz
suara benturan keras antara mobil bagian kiri penumpang dengan pohon.
Ridwan yang berada di kursi kemudi terlihat terbentur sangat keras hingga kepala membentur setir, darah mengucur deras, Ridwan menutup matanya sambil berucap "Tuhan aku ingin berakhir".
Para warga yang melihat kecelakaan tunggal segera menghubungi kepolisian dan ambulance dengan segera, beruntung Alvan dan Adi yang mengikuti Ridwan dari belakang segera datang untuk seggera menyelamatkan Ridwan.
"Adi!!! telfon ambulance segera!!! setelah itu telfon semua keluarga yang di luar negeri." teriak Alvan yang terus mengecek nadi Ridwan.
Adi segera menghubungi ambulance dengan segera dan setelah itu menghubungi keluarga Ridwan yang berada di luar negeri.
Alvan yang tengah cemas dengan keadaan Ridwan segera memberhentikan paksa mobil pribadi yang telah melintas pelan di area kecelakaan.
"Pak tolong segera bantu saya untuk mengantar sahabat saya ke rumah sakit." pinta Alvan memelas sambil membuka pintu belakang.
Pengemudi yang terlihat sedikit panik itu segera mengangguk cepat dan Alvan meminta untuk meminta segera untuk mengemudi ke rumah sakit Husada Utama.
__ADS_1
"Wan, tahan Wan, kau kenapa bertindak bodoh gini." umpat Alvan sambil terus menggenggam tangan Ridwan.
Kecepatan mobil yang membawa Ridwan kini tengah melaju dengan kecepatan tinggi itu telah sampai di ruang IGD RS Husada Utama.
"Sus tolong sahabat ku!!" teriak Alvan sambil memasuki IGD.
Para suster yang berjaga pun segera membantu Alvan.......
"Silahkan tunggu di luar saja." pinta suster itu.
Alvan yang kalut segera meraih handphone nya untuk menghubungi Adi.
"Cepat kesini di rumah sakit Husada Utama mas Adi!" bentak Alvan.
Alvan yang tengah kalut itu lupa mengucapkan terimakasih ke bapak bapak yang tengah mengantarkan Ridwan tadi.
"Maaf mas, boleh saya pulang?" pinta bapak itu.
"Oh maaf pak, ini mohon di terima dan terimakasih banyak." ujar Alvan sambil menyodorkan lima lembar uang ratusan ribu ke arah bapak tersebut.
"Maaf mas, saya ikhlas, cepat membaik sahabat nya ya mas, saya pamit assalamualaikum wr wb." ujar bapak tersebut sambil mengundurkan diri.
"Waalaikumsalam wr wb terimakasih banyak bapak, tapi nama bapak siapa....." ucapan Alvan terputus karena mobil itu telah melaju meninggalkan dirinya.
Alvan kembali menatap pintu IGD di depannya sambil terus berdoa yang terbaik untuk Ridwan sesekali menatap ke arah Wulan yang telah ikut dengan Adi setelah memberikan kabar ke semua pegawai Cafe tentang kecelakaan tunggal Ridwan, setelah hampir setengah jam Ridwan masuk IGD akhirnya pintu IGD terbuka.
"Keluarga korban apa ada?, mari ikut saya." ujar suster yang tengah berdiri di depa Alvan dan Adi.
"Saya sus, bagaimana keadaan sahabat saya?" ujar Alvan sedikit panik.
"Untuk administrasi nya segera di urus karena korban mengalami pendarahan di kepala dan karena stok darah di rumah sakit ini cuman dua kantong darah maka dari itu butuh donor golongan darah A agar di lakukan Operasi secepatnya." suster itu menjelaskan secara detail.
"Saya golongan darah A resus positif dan umur saya sudah tujuh belas tahun juga sus, apa bisa mendonorkan darah saya." ujar Wulan sedikit membuat Alvan membulatkan matanya.
Adi segera menyusul Alvan untuk membantu mengurus administrasi rumah sakit, sementara Ghani dan Rian terus menghubungi Iqbal.
...........................❤️.........................
Operasi berjalan lancar tapi Ridwan masih terbujur lemah di ruang ICU yang tengah berjuang dengan nyawanya kali ini, sementara Alvan kembali menatap tajam Wulan yang sedang menghubungi Tria untuk memberitahu keadaan Ridwan saat ini.
"Mau apa juga kamu menghubungi Tria? bukan kah kamu hanya ingin menyakiti Ridwan dengan Tria?, apa yang kamu ingin kan? kurang dengan surat dari Tria yang merubah Ridwan?" sinis Alvan.
"Maaf kak, sebaiknya jangan mempermasalahkan itu terlebih dahulu karena semua nya terjadi begitu saja." jawab Wulan datar.
"Kau tahu sudah berapa kali Ridwan masuk rumah sakit setahun ini? tiga kali ini Lan! kau pikir pakai otak dikit, aku tau kau wanita tapi tau sendiri bagaimana rasanya saat kau jadi Ridwan!." suara nada Alvan sedikit meninggi.
"Dek sudah, kita berdoa buat kesembuhan Ridwan kalaupun Tria atau Wulan atau siapapun pilihan Ridwan nanti kita harus ikut senang." suara Iqbal sedikit bijak.
"Bukan masalah itu mas! kau tau kan isi surat dari Tria itu apa?, Ridwan juga salah tidak pernah ingin membuka hati lagi untuk Tria karena prinsip Ridwan tak mau memaksa hati nya yang terluka karena wanita, wanita memang benar segalanya tapi kenapa Ridwan selalu tersakiti wanita?" Alvan kembali meninggikan suaranya.
"Maaf Tuan Alvan, mari ikut saya, sebaiknya kita merokok terlebih dahulu dan Tuan Alvan juga belum istirahat dari tadi." ujar Adi sambil menarik paksa lengan Alvan.
Alvan pun mengerti dan segera mengikuti Adi untuk mendinginkan emosinya, Wulan kembali bersalah karena perkataan nya kemarin membuat Ridwan kini terbaring lemah di ruang ICU.
"Kamu kuat Kak Ridwan" lirih Wulan.
Adi dan Alvan kini saling diam sibuk dengan pikirannya masing-masing, pikiran Alvan masih mengingat kuat bagaimana kondisi Ridwan saat kecelakaan tersebut.
"Tuan Alvan tidak perlu khawatir berlebihan karena tadi saya sudah bertanya ke pihak rumah sakit juga dan Alhamdulillah Tuan Ridwan tidak sampai meregang nyawa." Adi berusaha menenangkan Alvan yang duduk di depannya.
"Kalau itu aku sudah tahu Mas Adi, tapi medis belum tahu lebih lanjut karena Ridwan belum sadar sementara nanti Tria dan keluarga besarnya akan datang, kamu paham maksud ku?" tanya Alvan.
__ADS_1
"Paham Tuan, kemungkinan besar Tuan Ridwan akan meninggalkan Nona Tria saat itu juga."
Hening kembali menyapa dalam keduanya hingga hanya asap rokok mereka yang saling berbicara.
Tria hadir kembali nantinya saat kondisi Ridwan tengah kacau, sementara Wulan kini berniat untuk merawat Ridwan dengan sepenuh hati ketika Tria akan mundur dari Ridwan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
...........................❤️.........................
terimakasih untuk semua pembaca,tetap ikuti puzzle cerita cinta berjudul LAST LOVE FOR WHOM? thank you very much reader, tinggal kan jejak 🙏🙏🙏🙏😊😊.
__ADS_1
..........................❤️.........................
Nb: yuk vote kakak semuanya dan komentar nya dong agar semangat lagi author nya, hehehehehehe😀😀😀.