
..........................❤️.........................
...Selamat datang di story tentang sebuah arti dari sebuah Cinta tak bertuan...
...Happy Reading dan mohon koreksi untuk penulisan....
...jangan lupa komentar untuk menjadi yang lebih baik lagi....
...Episode kali ini sangat panjang kembali jadi selamat menikmati dan terimakasih sudah mampir...
..........................❤️.........................
Halo sobat Last Love For Whom?
Author mau meminta maaf karena episode RETAK menjadi episode yang terpanjang dalam cerita dan ada episode lain juga yang akan panjang ceritanya ini mungkin kalian akan berfikir seperti ini:
ah author ingin memperpanjang Ceritanya nih.
ah author ingin berlama-lama Ridwan menemukan yang di carinya nih.
ah author mungkin ingin menambah episode saja nih
ah author ingin muter muter gak jelas.
dan ah ah yang lainya, tetapi di sini author ingin kalian menikmati cerita yang kalian nikmati lebih berwarna lagi, yauda daripada berlama lama silahkan di baca dan di nikmati gaes 😊😊😊❤️❤️❤️❤️❤️.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Alvan tersenyum dan menceritakan semuanya serta memberikan bukti yang sangat kuat, berbeda dengan Ridwan yang memandang Iqbal, Ella, Diky dan tentunya si curut Alvan bergantian.
"Wan di sini gua Iqbal berani di ambil sumpah Al-Qur'an Wan, ini semua bener tak di buat buat" Iqbal membuyarkan tatapan Ridwan.
"tapi tak bisa gitu juga lah Bal, macam pakai sumpah sumpah segala kau tuh, gua kepret lu pakai sumpah pocong" Diky menggunakan logat Batak.
"Kak Ridwan, ini bener adanya dan dokumen ini semuanya sudah saya rekap jauh sebelum kakak Ridwan menyatakan cinta ke Citari dan saya mohon maaf karena menyangkut pautkan kak Iqbal juga ke permainan mereka" Ella membuka suaranya.
"mereka? Citari dan Aryani maksud nya kah El?" Ridwan menatap serius.
__ADS_1
"kalau saya bohong mulai besok kita lancarkan aksi kita tapi...." Ella memutus omongannya.
"tapi apa El?" Ridwan menunggu jawaban itu.
"Wan sekarang aku ngomong ya, jangan di sela jangan di potong dan jangan di komentari karena aku bukan email yang kau kasih komentar" Alvan membuka suaranya dengan berat.
"ok jelaskan permainan kita" Ridwan mengambil rokok tapi sayang rokok habis.
"nih ambil, aku tau kamu sekarang butuh asupan nikotin meskipun hanya sebentar" Iqbal melempar kan sebungkus rokok ke Ridwan.
"makasih bal, Sering sering seperti ini" ledek Ridwan.
Iqbal hanya tersenyum tulus ke arah Ridwan dan begitu juga Ella,Alvan dan Diky.
"langsung aja ya kak aku mau bicarakan rencana kita mulai besok tapi jangan sampai kita terlihat kalau kita membangun strategi" Ella membuka suara.
Ridwan hanya mendengar kan dengan penuh perhatian dan tentunya dia nanti sebagai kunci pembuka perjodohan Alvan dengan Aryani serta Ahmad dengan Putri adik Aryani.
Sementara pembicaraan yang serius tiba tiba pelayan cafe datang menghampiri dan memberikan informasi ada Fahira dan Diah yang lagi nongkrong di cafe tersebut.
Iqbal dan Alvan yang mengetahui hal itu segera mengamankan Ridwan, Ella dan tentunya Diky.
"kalian bertiga keluar lewat belakang dan nanti mereka berdua akan aku alihkan perhatian nya"
Iqbal menenangkan Ridwan yang sudah mulai panik.
"Diky dan Ella pulang bersama sementara Ridwan langsung balik ke rumah kau curut" Alvan menatap Ridwan secara serius.
Ridwan mengangguk mengerti, mereka bertiga berjalan ke arah pintu belakang dan menunggu kode dari Iqbal yang berada di meja kasir yang tempat nya hanya menggunakan kaca satu arah dari dalam sehingga hanya bisa di liat dari luar dan orang orang yang berada di dalam tak tau apa apa yang di belakang tempat kasir itu.
Alvan yang masuk ke cafe dan pura pura memesan kopi hitam dan di kasir tersebut Iqbal sendiri yang mengambil alih tugas sebagai kasir.
"permisi mas mau pesen kopi hitam dan pisang kriuk nya satu" tatap Alvan ke arah Iqbal.
"baik mas ada lagi" Iqbal menatap Alvan.
"eh kau Iqbal ngapain di sini? cari mati kau ketemu gua lagi hah?" Alvan berteriak keras agar semua penghuni cafe beralih ke dia dan Iqbal termasuk Diah dan Fahira.
Iqbal dan Alvan bersitegang dan disusul teriakan dalam cafe tersebut.
" eh itu kan mas Iqbal dan mas Alvan?bukannya mas Iqbal masih di penjara ya Diah?" Fahira keheranan.
"eh iya ya tapi kok Uda bebas? ribut lagi tuh mereka berdua" sambil memegang ponsel dan memfoto kemudian di kirim ke sebuah nomor dengan pesan "mereka berdua masih penuh amarah dan kita teruskan untuk menghancurkan keluarga dia"
Sementara itu kepala cafe berpura-pura marah terhadap Alvan dan Iqbal datang melerai mereka berdua.
"awas lu ketemu gua lagi, gua hajar lu pakai balok kayu biar mampus lu ***" Alvan berekspresi marah.
"Serah aku lah, hidup hidup gua, mau ketemu wajah macam kau banyak di jalan, gua injak juga pala kau, sini maju kalau berani" Iqbal berteriak sambil menghilang dari balik kasir.
Sementara itu Alvan yang daritadi cuman akting di depan Diah dan Fahira kemudian berbalik arah dan berpura pura kaget melihat Fahira dan Diah.
"Eh cunguk ngapain liat liat? adik kelas sok hebat kau hah?" songong Alvan.
"Maaf kak, tumben gak sama mas Ridwan?" Diah membuka suara ketakutan.
"cih Ridwan sudah sama Citari teman kau, ngapain juga aku bersahabat sama dia hah?" Alvan kembali nyolot.
"mas Alvan kita minta maaf kalau gitu ya, sini gabung kita aja mas" Fahira menenangkan Alvan.
"cih malas sama kalian, sana urus teman kau Citari sama pacar kalian berdua, mau pulang dulu, bye" jari tengah Alvan mengarah ke Fahira dan Diah.
"ih kok gitu sih mas Alvan sama kita" Fahira nyengir kuda.
"bentar lagi musnah dia dan sahabatnya" wajah Diah sinis menatap punggung Alvan yang menghilang dari pintu cafe Point break.
sementara itu Ridwan sampai rumah dan langsung melemparkan tubuhnya yang penat di kasurnya tanpa berganti baju langsung masuk ke alam mimpi.
..........................❤️.........................
__ADS_1
...POV Alvan, Iqbal, Diky dan Ella...
Sementara Alvan yang pulang dari cafe Point break langsung menghubungi Iqbal, Diky dan Ella untuk bertemu dengan dirinya di sebuah tempat yang sebelumnya sudah di amankan oleh Alvan dari kecurigaan siapapun dan mata mata mereka berdua.
"Bal, gua dah sampai, lu di mana curut, jangan marah soal tadi ***" suara Alvan yang menghubungi Iqbal dari hape nya.
"bentar masih mengkondisikan gank untuk menjalankan misi kita dan melindungi Ridwan" Iqbal menjawab sekenanya.
"cepet, di sini sudah ada Diky dan Ella jangan telat" ujar Alvan langsung memutus telfon nya.
Ella dan Diky duduk di samping Alvan sambil membawa pesanan mereka bertiga.
"Lu kenapa pesan minuman hanya 3 Bambang Diky" Sambil meminum es coklat di depan nya.
"kan masih 3 orang mas Alvan sementara mas Iqbal belum datang" Polos Diky.
"mas Alvan gua mau jujur boleh?" Ella bersuara agak pelan sambil menoleh kanan kiri.
"gak usah liat kanan kiri, ini tempat sudah saya steril kan dan banyak bodyguard gua yang jaga dari jarak 300 meter dari sini" Alvan menanggapi dengan santai.
"bukan itu yang di maksud Ella mas Alvan" Diky membuka pesan yang bertuliskan nama Rino.
"kenapa dia? bukan kah dia cinta mati sama Diah?" Alvan membaca pesan Rino di hape Diky dengan hati hati.
Ella dan Diky hanya saling menatap Alvan dengan penuh harap maksud dari mereka berdua .
"kalian kenapa liat gua gitu?, jijik liatnya" Alvan melengos.
"eh Diky mending lu cerita dah tentang dia tadi saat di telfon" Ella memberikan kode untuk berterus terang ke Alvan.
"Rino sudah tau rencana mereka berdua melalui Diah dan Diah cerita ke Fahira cewek ku tentang Rancana pembunuhan ke mas Ridwan" Diky menunduk ketakutan.
"yakin Rino bisa di percaya? kalau tidak bisa jangan main main sama Alvan Jaya Utomo bisa hilang tuh anak" Alvan sedikit mengancam.
"maaf mas Alvan, saya tau keluarga mas Alvan sangat berpengaruh di arus bawah tanah dan arus atas tanah di negera ini tapi saya mohon kita selidiki Rino berpihak ke siapa" ucap Diky tegas.
"kau atur dan kalau sampai Ridwan lecet sedikitpun gua hajar yang melukai nya,faham?" nada suara Alvan mengancam.
Iqbal yang daritadi mendengar ucapan Diky dan Alvan hanya tenang dan santai, hingga akhirnya dia buka suara.
"jadi ceritanya Ridwan sudah terancam juga nyawanya? terus minuman gua gak ada? yauda gua balik" Iqbal mencabut rokok dari tangan Alvan.
"eh cunguk kapan kau datang? datang seperti setan yang tak di undang kau, El pesankan untuk Iqbal" suruh Alvan.
"Van nih foto dari anak buah ku" Iqbal menyerahkan beberapa lembar foto ke arah Alvan.
"Mereka berdua lagi semakin gencar ternyata, apakah ini bisa di eksekusi setelah Ujian Nasional ku Bal?" Alvan membakar rokok nya.
"hati hati nyawamu dan keluarga mu juga Van ingat keluarga mereka tidak seperti yang kau bayangkan" Iqbal menatap sendu ke arah langit.
"keluarga Aryani juga keluarga mu kan? kenapa bisa berkata begitu kamu?" sambil melihat sebuah foto Aryani.
"aku anak pungut di keluarga mereka, sebenarnya aku punya ayah dan ibu serta adik tapi mereka meninggal kan ku di sebuah panti asuhan" air mata Iqbal menetes.
Ella dan Diky menatap erat ke arah Alvan sementara Alvan mencoba mengartikan arti kata itu.
"Semoga segera bertemu keluarga mu Bal" ucap Alvan sambil tersenyum tulus ke arah Alvan.
"saat ini cuman kalian bertiga dan Ridwan tak anggap keluarga meskipun aku menciderai Ridwan sampai masuk rumah sakit" Iqbal menyesali perbuatannya.
"Bal, Ridwan sudah memaafkan mu dan aku juga memaafkan mu, Tuhan aja maha pemaaf kok dan apakah manusia tidak boleh memaafkan juga bal?" Alvan menepuk bahu Iqbal.
"makasih bro, akan ku jaga Ridwan dan kamu serta Ella Diky" Iqbal tersenyum tulus ke arah mereka bertiga.
Iqbal memiliki keluarga yang dulu harmonis tetapi entah mengapa dia harus di titip kan di panti asuhan? dan siapa keluarga Iqbal yang sebenarnya? teka teki semakin bertambah.
..........................❤️.........................
...jangan lupa komentarnya untuk membangun dan kritik nya juga, terimakasih dan tunggu kelanjutannya ya karena cerita ini bagaikan puzzle yang berantakan....
__ADS_1
..........................❤️.........................