
Rindu
Hadir mu dalam hidupku
Yang mungkin hanya bisa merindu
Karena langkah ku rapuh karena mu
Mungkin menjadi ingin yang kau tuju
Nafas berhembus sayangku
Kamu pergi tanpa harus pamit
Hanya dirimu yang mampu untukku
Tapi kamu hanya pergi meninggalkan rindu
Khibban NurCahyo
..........................❤️.........................
...Assalamualaikum wr wb para reader,...
...terimakasih telah mampir dan membaca karya pertama ku nih, di episode kali ini mohon bantuannya untuk vote dan like sebagai dukungan dan semangat untuk author....
...terimakasih dan selamat menikmati....
..........................❤️.........................
Hampir sebulan Citari membuktikan pada Ridwan untuk kembali dalam sebuah ikatan satu Rasa tetapi berbeda dengan Ridwan yang semakin ingin menjauh dari Citari. seperti saat ini di sekolah nya banyak kelas 12 yang nongkrong di sekolah gak jelas, serta gosip Aryani yang di penjara menjadi buah bibir satu sekolah termasuk Ridwan dan Alvan yang tak luput dari media gosip sekolah.
"anak anak pada kenapa toh ***" umpat Alvan.
"Dah biarin aja, mulut mulut mereka dosa dosa mereka ngapain di urus juga curut" Ridwan memainkan pulpen di tangannya.
"lu ngapain akhir akhir ini sering bawa pulpen dan buku itu, coba sini liat" Alvan mencoba merebut buku dari tangan Ridwan.
"nih baca aja sekalian koar koar sana ***" ketus Ridwan memberikan bukunya.
Alvan membaca sekilas tentang coretan pena dari Ridwan dan Alvan tau benar Ridwan masih sakit hatinya meskipun Citari memberikan segala bentuk permintaan maaf.
" Wan woi ke kantin yuk,lapar ***" ajak Alvan setelah mengirimkan sebuah SMS ke Ella untuk mempertemukan Ridwan dan Citari.
"makan minum cepet di sana, faham kau curut?" ancam Ridwan.
"dih kau, ancam terus sini sui sui tak Jak duel tenan engkuk" Alvan menonyor kepala Ridwan.
Mereka tertawa lepas seketika setelah gurauan singkat tersebut, koridor kelas terlihat ramai saat Ridwan dan Alvan melintas.
"Ramai bener tuh kelas ***" Alvan menyelidik.
__ADS_1
"kau mau ke kantin atau jadi raja gossip ***, dah biarin curut lagian kita juga mau lulus dari sini" datar Ridwan sambil matanya mengarah ke seberang nya
Ya benar ada Citari yang tersenyum kecil saat mengetahui Ridwan tepat di depannya tetapi Citari mengetahui jika Ridwan masih ingin sendiri.
"eh itu kan mas Ridwan Citari? kenapa di anggurin? kalian masih marah an?" selidik Diah.
Citari hanya menggeleng serta menatap Diah, Fahira dan tentunya Ella yang telah menyadarkan perbuatan ketiganya untuk sadar, mereka bertiga sudah tidak ada rasa dendam lagi Karena sebuah pertolongan dari Alvan yang membebaskan mereka dari sebuah tindakan kriminal. serta menghapus berita tentang mereka bertiga.
"yakin lu gak mau nyamperin tuh anak?" suara Ella di telinga Citari.
"aku sekarang sudah bingung untuk mendapatkan hati mass Ridwan lagi El dan seandainya aku dengerin Kata katamu saat itu mungkin saat ini aku masih bahagia dengan mas Ridwan" cicit Citari pelan.
"bukan bingung, masih luka kak Ridwan, yuk ke kantin Uda lapar gua" gerutu Ella.
Mereka berempat berjalan di belakang agak jauh dari Ridwan dan Alvan, selama perjalanan menuju kantin Citari hanya tersenyum saat melihat Ridwan sering di goda bahkan di sapa oleh cewek cewek centil yang menggoda tetapi Ridwan hanya dingin tidak merespon.
"Uda tenang, tuh mas Ridwan mu juga gak merespon cewek cewek centil juga, hatinya masih ada kamu" Fahira membesarkan hati Citari.
"mungkin saja Ira tapi semoga saja bisa mengembalikan senyuman mas Ridwan" Citari menatap Fahira penuh keyakinan.
Ridwan dan Alvan memilih tempat duduk di pojok kantin dan telah memesan gado gado dan segelas es pisang ijo Sementara itu Citari, Diah, Fahira dan Ella pun nyampai tapi sayang sekali semua bangku penuh kecuali bangku dan tempat duduk di depan Alvan dan Ridwan.
"Wan, izin boleh?" tanya Alvan hati hati
"izin segala, ada apa ***?" dingin Ridwan.
"mereka berempat gak dapat duduk, boleh duduk di sini?" Alvan bertanya hati hati kembali.
"Hem " pendek Ridwan.
"woi kalian sini" teriak Alvan sambil mengacungkan jari tengahnya.
"dih najis ***, tengil Kali kau Van" sambil meraih tangan Alvan untuk turun.
"tumben sadar kau, jangan sok dingin lah ***, jadilah Ridwan yang dulu, Ridwan yang periang dan ramah senyum" protes Alvan.
"ndas mu kui periang" tonyor Ridwan.
tak lama Citari, Diah, Fahira dan Ella duduk tapi Citari agak ragu karena duduk di depan pas Ridwan.
"Ella tukar tempat biasa?" cicit Citari
"Ndak, malas liat wajah es batu" ketus Ridwan.
Ridwan yang mendengar nya langsung menatap tajam ke arah Ella, Diah, Fahira dan Citari secara bergantian.
"Tuh El diem Napa, maaf mas Ridwan Ella lagi PMS" Diah mencoba ramah ke Ridwan.
" Hem" singkat Ridwan.
Citari kemudian menatap lekat Ridwan dan hal itu di tonton Alvan sekilas.
__ADS_1
"duduk aja sini" Ridwan menunjuk kursi di depan nya untuk Citari.
"makasih mas, lagi makan mas?" tanya Citari.
"Ndak lagi benerin motor" singkat Ridwan.
Citari yang kebingungan melihat kanan kiri nya bingung sendiri...
"motornya mana mas?" sahut Citari.
"motor ghaib, mau liat?" tatap Ridwan tajam ke arah Citari.
Citari yang tau hati Ridwan masih beku pun hanya bisa tersenyum ke arah Ridwan.
"kenapa senyum? ada yang salah?" tanya Ridwan sambil mengunyah gado gado nya.
" makan dulu mas baru ngobrol, nih belepotan semua" Citari mengambil tisu untuk membersihkan sudut bibir Ridwan.
Kedua mata kembali beradu pandang dan sekilas Citari tersenyum manis ke arah Ridwan.
"makasih" lirih Ridwan.
"mau di suapin mas?" Citari menawarkan untuk menyuapi Ridwan.
"udah ada mereka berlima dan lagian aku sudah 17 tahun sudah mandiri" dingin Ridwan.
Ridwan hanya fokus ke piring gado gado nya sambil mencuri pandang ke arah Citari, mereka berdua seperti mencuri pandang dengan sibuknya.
"mas ,dik" Citari dan Ridwan bersamaan untuk memanggil.
Rona merah pipi Citari ketika tau satu frekuensi dengan Ridwan saat berbicara barusan seakan syahdu di benak Citari.
"mas Ridwan dulu aja, mau ngomong apa mas?" Sahut Citari.
"ladies first" singkat Ridwan.
"tapi janji ya mas Ridwan jangan jawab singkat singkat" pinta Citari.
"bergantung pertanyaan nya juga, kalau mengarah ke arah asmara ya gak tau lagi ngejawab nya gimana nantinya" tukas Ridwan.
"seharusnya kan cewek selalu bener mas kenapa di hadapan mu kok menjadi kalah sih mas?" gerutu Citari.
"jadi mau tanya atau aku diemin lagi nih?" singkat Ridwan.
akhirnya mereka berdua saling bertatapan kembali dan dengan tenang nya Ridwan memakai mode datar,dingin dan menusuk.
Mereka semua hanya menggeleng melihat Ridwan yang begitu dingin ke Citari, Alvan menatap Ella seakan akan sudah janjian untuk melancarkan aksinya bersama Diah dan Fahira tetapi sia sia karena Rino dan Dicky datang sambil membawa seorang cowok dan Alvan hanya memandang curiga ke arah cowok tersebut sementara itu Ella, Diah dan Fahira hanya menepuk jidat masing masing.
To be continued.....
..........................❤️.........................
__ADS_1
...jangan lupa komentarnya untuk membangun dan kritik nya juga, terimakasih dan tunggu kelanjutannya ya karena cerita ini bagaikan puzzle yang berantakan....
..........................❤️.........................