LAST LOVE FOR WHOM? ( Cinta Terakhir Untuk Siapa?)

LAST LOVE FOR WHOM? ( Cinta Terakhir Untuk Siapa?)
PETAKA LUPA INGATAN


__ADS_3

...........................❤️.........................


...POV CITARI BERTEMU TRIA...


Iqbal menenangkan Tantri yang tengah emosi sementara Alvan yang mendengar ucapan Tria merasa curiga dengan perjanjian Tria dengan Wulan.


"Kamu masih suci kan? terus motif Wulan hanya ingin membalas kan dendam sakit hatinya? tapi kenapa kamu masih bersahabat dengan dia?" suara Alvan sedikit melunak.


"Aku masih suci dan Karena Wulan rela meninggalkan Dirga untuk ku saat itu dan aku tahu perasaan Wulan terhadap Dirga setelah merenggut kesucian Wulan tak kan pernah berubah meskipun sekarang Dirga dengan Citari dan alasan Dirga merenggut kesucian nya karena keinginan Wulan memiliki Dirga seutuhnya." Tria menjelaskan secara sedetail mungkin.


"Terus Danis mau di kemanakan? bukan kah dia terus mengejar mu Tria?" Alvan kembali bertanya.


"Danis? aku tak ada rasa apapun ke dia meskipun dia mengikuti ku sampai ke Belanda." Tria kembali menjelaskan kembali.


"Oke gua uda paham kemana alurnya nantinya, ikuti permainan gua semua, sekarang gua mau telfon Dirga dan Citari dulu untuk mempertemukan Dirga dengan Citari karena mau gak mau kita harus mempertemukan dan meluruskan semuanya tapi kamu harus waspada karena Wulan dan Lidia sudah menaruh hati ke Ridwan, gua di beritahu Adi melalui telfon setiap kejadian di dekat Ridwan." ujar Iqbal dengan sedikit cemas.


Iqbal lantas menghubungi Dirga untuk ke rumah sakit Husada Utama dengan membawa Citari, dengan sedikit penekanan ke Dirga akhirnya mau untuk membawa Citari ke rumah sakit Husada Utama.


Setelah lama menunggu hampir satu jam lebih, dua orang tersebut akhirnya mereka berdua tiba dengan perasaan was was melihat adanya Alvan dan Tria yang menatap mereka berdua dengan lekat.


"Duduk! lu berdua gua kasih tau karena ini menyangkut masa lalu lu Dirga!" sentak Iqbal sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah Dirga.


"Santai Mas Iqbal ada apa sebenarnya? gua bisa jelasin semuanya kok karena gua gak ngundang kalian semua datang ke pernikahan gua sama Citari." Dirga menunjukkan sepasang cincin pernikahan di jari manisnya.


"Bagus lah lu udah nikah, heh? lu berdua udah nikah? gua tanya sama lu Dirga! lu sudah merenggut kesucian Wulan mantan lu terus lu nikah dengan Citari hah?" Iqbal kembali mendamprat Dirga habis habisan.


Dirga yang aib nya terbongkar pun segera mencoba meloloskan diri dari Iqbal yang tengah bersiap untuk memukul nya tapi sayang sekali, Adi dan Alvan sudah menahan tubuh Dirga untuk kembali duduk.


"Mau kemana bro? duduk lu, tak pepes juga kau." ujar Alvan sambil menarik rambut Dirga.


Sementara Citari yang mendengar ucapan Iqbal menatap nanar ke arah suaminya untuk mencari jawaban apa yang di katakan Iqbal barusan.


"Maaf, Mas Iqbal apa benar Dirga melakukan hal itu?" Citari membuka suaranya dengan berat.


"Lu mau gua jujur kan? oke gua jujur ke lu Citari, jauh sebelum bertemu kamu, Dirga sudah memiliki kekasih yaitu Wulan dan Wulan yang tak mengerti apapun telah di beri janji manis setelah Dirga merenggut kesucian nya setelah itu dia menjalin kasih dengan Tria tapi sayang sekali ya Dirga rencana itu gagal karena mantan kekasih mu itu menyelamatkan Tria dan apakah lu kurang dengan pukulan dari cewek gua saat itu hah?, lu belum cerita ke istri lu semuanya? kasihan benar lu Citari, lu dulu lepaskan Ridwan hanya untuk sampah ini, gua aja yang tahu sifat dan ketulusan hati Ridwan saat itu menjauh dari lu tapi kenapa lu masuk ke jurang yang telah menghancurkan masa depan wanita?" ucap Iqbal sedetail mungkin.


"Mas Iqbal sudah khotbah Jumat nya? lama benar jelasin nya, setelah ini urus semuanya dengan Wulan kau Dirga, faham?" ancam Alvan sambil memiting kepala Dirga.


"Oke oke gua selesaikan semuanya setelah ini dan jangan bikin hancur rumah tangga gua dong, lu semua manggil gua kesini ada apa sebenarnya selain masa lalu ku dulu?" ucap Dirga sambil mencoba menenangkan Citari yang terisak.


Semua menatap ke arah Iqbal yang tengah membakar rokok nya sementara Iqbal yang tengah di tatap hanya bisa memutar bola matanya menghindari tatapan mereka semua.


"Oke oke gua jelasin semuanya tapi Tria sekarang balik ke kamar inap Ridwan dulu biar curut satu ini gua urus, faham lu adik ipar?" Iqbal menatap Tria tajam.


"Baik Kak, jangan lama lama ngobrol nya ya." pinta Tria sambil beranjak pergi menuju ruang inap Ridwan.


Adi segera mengantarkan Tria untuk ke ruang inap karena di suruh oleh Iqbal dan dengan segera dia harus kembali agar Ridwan tidak curiga dengan rencana Iqbal yang di yakini sudah sangat matang.


"Lu berdua tahu Ridwan kecelakaan?" Iqbal kembali membuka suaranya dengan berat.


"Terus apa hubungannya dengan istri gua?" suara Dirga sedikit menyolot.


"Kau sudah banyak kesalahan nyolot pula, lama lama mulut kau ku pepes baru tahu rasa kau!" Alvan kembali memiting kepala Dirga.


"Ridwan amnesia dan yang di ingat cuman Citari, sementara semuanya masih di coba Ridwan untuk mengingat semuanya karena itu terlihat dari raut wajahnya tadi pagi yang kesakitan mencoba mengingat semuanya." suara Iqbal sedikit bergetar.


"Terus rencana apa yang harus gua lakukan dengan istri gua? gua ingin semuanya selesai karena gua gak mau ini berlanjut, gua merasa bersalah dulu merebut Citari dari Ridwan karena gua cinta ke Citari." ujar Dirga mencoba menutupi masalah keluarga Citari dulu.


"Kalian berdua harus berterus-terang ke Ridwan, kamu bawa buku nikah kan? asal kalian berdua tahu, Tria sudah jatuh hati ke Ridwan tapi semuanya hilang karena hati Ridwan masih mengingat Citari hingga kecelakaan itu terjadi." suara Alvan terdengar berat.


"Oke, aku bilang semuanya ke Ridwan meskipun semuanya sudah terjadi dan kamu sayang setelah ini bertemu Wulan untuk menjelaskan di depan ku, paham?" Citari menatap Dirga tajam.


Akhirnya pembicaraan mereka berakhir dengan habisnya rokok di tangan Iqbal, mereka berdua berjalan ke arah ruang inap Ridwan untuk mencoba membuka ingatan Ridwan kembali.


Kembali untuk hanya Tria yang harus memiliki nya meskipun masih ada yang terus mengganggu nantinya.


...........................❤️.........................


Ridwan termenung memandang dirinya, dia mencoba mengingat semuanya sebelum kecelakaan menimpa nya, dia melihat cincin yang tergeletak di nakas kemudian mengambil dan mengamati setiap uliran nama yang terukir indah di cincin tersebut dan berusaha mengingat semuanya.


"Tria Ifadah Dewi?, siapa dia? kenapa ada nama itu di cincin ini?" lirih Ridwan sambil membolak-balik cincin itu.


Hening kembali menyapa nya, mencoba mengingat semuanya tapi tak bisa dia mengingat kecuali nama Citari hanya nama itu yang membekas di ingatan nya.


"Assalamualaikum wr wb, Mas Ridwan." ucap seorang cewek yang kini membuyarkan lamunan nya.


"Waalaikumsalam wr wb, anda kan yang tadi ya?, Ridwan." tangan Ridwan terulur mengajak bersalaman.


"Tria Ifadah Dewi mas, nih coklat Silverqueen, mau?" tangan Tria menggegam tangan Ridwan sambil menawarkan coklat untuk Ridwan.


"Tria?, nih cincin mu di saya, pasti itu cinci anda kan?" ucap Ridwan memakai bahasa formal di depan Tria.


Tria hanya tersenyum tipis, di ambil nya cincin dari tangan Ridwan sambil menyembunyikan bulir air mata nya yang mencoba untuk jatuh.

__ADS_1


"Iya mas, makasih ya, nih coklat nya." Tria menyerahkan coklat yang sudah terbuka untuk Ridwan.


"Makasih, oh ya anda kenal Citari?" tanya Ridwan sambil mengunyah pelan coklat nya.


"Citari? oh Citari, bentar lagi datang mas, sabar ya." Tria meraih bungkus coklat lainya dan membuka nya.


Wajah Ridwan berubah gembira dan sangat antusias dengan perkataan Tria barusan.


Tria menatap wajah Ridwan yang sumringah bahagia sedikit merasakan nyeri di hati nya.


Tria mencoba merangkai kata untuk berbicara dengan Ridwan, dia takut akan membuat Ridwan kembali kepala karena mencoba mengingat semuanya.


"Eh Mas Ridwan nanti tak bawa kan nasi krawu ya pakai usus sapi atau babat sapi?" Tria berjalan pelan menuju Ridwan sambil membawa air mineral untuk Ridwan.


"Apa itu nasi krawu? apa saya dulu suka makan itu?" tanya Ridwan sambil meneguk air mineral pemberian Tria.


"Nasi Krawu itu ada beberapa lauk pelengkap seperti daging suwir, serundeng dan sambal. Daging yang disajikan ini sebelumnya dimasak bersama dengan babat, usus dan hati yang kemudian disuwir." Tria menjelaskan detail sambil menunjukkan foto sepiring nasi krawu khas Gresik yang sudah melegenda.


"Gresik? bagaimana rasa nasi krawu itu menurut anda?" Ridwan kembali mencoba mengingat nama kota tersebut.


"Menurut ku sih enak dan gurih, dulu kita sering menghabiskan nasi krawu sebanyak tiga piring sekali makan lho mas, bahkan Mas Ridwan nambah usus dan babat satu porsi, nanti tak bawa kan ya?" Tria menawarkan dan berharap Ridwan menerima tawaran nya.


"Apakah saya selalu makan banyak dulu? yauda anda atur saja, oh ya bukan kah tadi anda datang bersama teman teman anda? kemana mereka?" ucap Ridwan sambil memencet bel untuk memanggil suster agar membantu nya ke toilet.


Tria mengangguk dengan senyuman sambil menatap suster yang tengah membuka pintu.


"Ada yang bisa saya bantu?" ucap suster tersebut.


"Saya bisa minta tolong untuk membawa cairan infus saya? mau buang air kecil." sahut Ridwan yang sudah bersiap-siap ke kamar mandi.


"Oh iya, mari saya bantu tapi saya tinggal setelah itu ya karena ada pasien yang lainya juga." suster itu menjawab dengan memapah Ridwan.


Tria berjalan mendekat ke arah pintu kamar mandi setelah suster pamit untuk keluar dari ruang rawat inap.


Tria membatin seakan-akan dia tak pernah di kenal Ridwan, tapi hatinya memantapkan untuk kembali untuk mengembalikan ingatan Ridwan.


"Makasih, oh ya kalau boleh cerita kan anda kenal saya darimana, sejak kapan dan apa ada hubungan antara kita berdua." ucap Ridwan sambil berjalan di samping Tria.


"Nanti Mas Ridwan akan tahu setelah ini ya, sekarang Mas Ridwan harus makan dulu." ajak Tria sambil memapah Ridwan kembali ke tempat tidurnya.


"oke, saya makan sendiri saja, minta tolong siapkan ya." pinta Ridwan sambil membenarkan letak duduknya.


"Biar Tria saja yang nyuapin Mas, gak apa kan?" Tria menyuapkan sesendok nasi ke arah Ridwan.


"Ehm, yauda gak apa kali ini." ujar Ridwan sambil membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Tria.


Pintu ruang inap kembali terbuka di iringi suara sumbang dari Alvan yang sedang menyanyi gak jelas.


"Eh kalian berdua, piye Wan rasane di suapi calon istri? nikmat kan?" ujar Alvan sambil menaik turunkan alisnya di depan Tria dan Ridwan.


"Calon istri? bukanya calon istriku itu Citari ya? Anda Alvan bukan?" ucap Ridwan sambil menatap lekat Alvan yang sedikit bingung.


"Wan, aku Alvan, setelah ini semua datang dan menjelaskan semuanya dan ku harap kamu mengingat semuanya secara jelas dan tak ada namanya Citari lagi nantinya." Alvan berbicara sepelan mungkin.


Ridwan hanya berusaha mencerna perkataan dari Alvan, pintu ruang inap itu kembali terbuka dengan pelan dengan di iringi masuknya Iqbal, Ria, Tantri, Adi, Dirga dan tentunya Citari.


Citari menatap Ridwan dengan tatapan berbeda dengan Ridwan yang menatapnya, netra mereka bertemu sambil tersenyum dari wajah Ridwan.


Ridwan yang menatap heran ke arah genggaman tangan Citari yang tengah erat menggenggam tangan Dirga itu pun hanya mencoba bertanya nantinya.


"Kamu Citari? terus dia siapa mu? sementara mereka semua siapa Citari?" ujar Ridwan sambil menatap bergantian ke Iqbal, Ria, Tantri, Adi, Dirga dan tentunya Citari, seolah-olah mencari jawaban untuknya.


"Mas Ridwan, Alhamdulillah kamu sudah sadar, mereka semua sahabat Mas Ridwan dan ini Dirga suamiku." Citari tersenyum sambil mengenalkan Dirga ke Ridwan.


"Apa!!! suami mu?!!, bukan kah kita sudah bertunangan Citari? kenapa kamu menikah dengan dan siapa sebenarnya dia!!!" Ridwan berusaha turun untuk mengajak adu jotos Dirga tapi di tahan oleh Adi dan Iqbal bersamaan.


"Dengarkan mereka berdua dulu Wan, aku Iqbal kakaknya Alvan dan dia Adi sahabat mu selain Alvan, mereka Tantri calon istriku dan dia Ria calon istri untuk Alvan, dengarkan aku, kamu harus tenang Wan, biar Citari jelaskan." ujar Iqbal setenang mungkin.


Citari tersenyum menatap Ridwan dan dia menceritakan semuanya dari awal mereka bertemu saat SMA dulu, saat mengkhianati Ridwan pertama kali dengan Iqbal sampai berkhianat ke dua kalinya saat Aryani mantan dari Alvan mencoba berbohong ke Ridwan dan menceritakan ketiga kalinya berkhianat dengan Ridwan yang memilih Dirga saat itu.


Ridwan hanya menunduk menyembunyikan mukanya, dadanya sesak merasakan ucapan Citari tengah menjelaskan semua sedetail mungkin.


"Mas Ridwan, Tria Ifadah Dewi adalah calon istri Mas Ridwan lho, Citari hanya penggalan masa lalu Mas Ridwan yang selalu memberi sakit dan emosi ke Mas Ridwan, hanya luka yang dapat aku berikan mas." Citari membelai lembut Ridwan.


"Kamu jangan bohong Citari! kau itu milik ku! bukan dia!!" pekik Ridwan sambil menunjuk Dirga.


"Mas, ini buku nikah kita berdua, Mas Ridwan aku minta maaf karena saat itu aku memilih Dirga untuk menjadi suami ku karena aku sayang dia dan saat itu juga Mas Ridwan memilih dia untuk menjadi tunangan Mas Ridwan karena hanya dia yang mampu membuat Mas Dirga tersenyum." ucap Citari sambil memberikan buku nikah nya untuk Ridwan.


"Wan, dia benar, jangan pernah merebut sesuatu yang tidak bisa kamu ambil, masih ada kita semua untuk kamu, masih ada aku yang selalu selaku sahabat mu." ujar Alvan sambil menatap Ridwan.


Ridwan termenung menatap surat nikah Dirga dengan Citari, dia tersenyum getir di iringi bulir air mata yang perlahan menetes.


"Mas, kamu kuat, kamu masih ada kita semua." Tria memeluk erat Ridwan.

__ADS_1


"Tolong bantu saya untuk melupakan Citari dan mengingat semuanya." pinta Ridwan sambil membalas pelukan Tria.


Ridwan menangis di pelukan Tria, dia mencoba tegar menghadapi semuanya, kepalanya sedikit berat hingga dia jatuh pingsan.


"Adi!!! panggil dokter segera!!!!" Alvan berteriak ke arah Adi.


Adi pun segera bergegas berlari menuju suster jaga untuk meminta bantuan untuk Ridwan.


Sementara terdengar sayup sayup panggilan dari handphone Ria tertulis nama pemanggil dari dering handphone tersebut.


"Wulan?" Ria menatap heran ke arah handphone nya.


Ridwan kembali pingsan saat Wulan menghubungi Ria tapi Ria tak menjawab panggilan tersebut hanya menemukan sebuah secarik kertas dalam tas Tria yang bertuliskan.............


"Kita bisa menulis seribu kata perpisahan. Tapi yang kita rasakan hanya satu, yaitu kehilangan dan Ketika kita kehilangan seseorang yang kita cintai, kita harus belajar untuk tidak hidup tanpa mereka, tetapi untuk hidup dengan cinta yang mereka tinggalkan karena Kehilangan itu tak terukur, begitu pula cinta yang ditinggalkan."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Next apa yang bakal terjadi dengan kehidupan Ridwan? apakah Ridwan dapat mengingat semuanya atau terbelenggu dengan kebingungan janji Tria untuk Wulan?


...........................❤️.........................


terimakasih untuk semua pembaca, kunjungi juga ya novel terbaru berjudul CINTA UNTUK SENJA, tetap stay on terus ya, jangan lupa vote ya 😊

__ADS_1


..........................❤️.........................


Nb: yuk vote kakak semuanya dan komentar nya dong agar semangat lagi author nya, hehehehehehe😀😀😀.


__ADS_2