LAST LOVE FOR WHOM? ( Cinta Terakhir Untuk Siapa?)

LAST LOVE FOR WHOM? ( Cinta Terakhir Untuk Siapa?)
AMARAH DAN CINTA PART 2


__ADS_3

..........................❤️.........................


...Selamat datang di story tentang sebuah arti dari sebuah Cinta tak bertuan...


...Happy Reading dan mohon koreksi untuk penulisan....


...jangan lupa komentar untuk menjadi yang lebih baik lagi....


...Episode kali ini sangat panjang kembali jadi selamat menikmati dan terimakasih sudah mampir...


..........................❤️.........................


Alvan dan Ridwan hari Senin ini izin ke sekolah untuk menyelesaikan sidang kasus penyerangan terhadap dirinya.


Alvan hanya diam menggenggam tangan nya karena ada sesuatu yang membuat dia emosi pagi itu tetapi berbeda dengan Ridwan yang hanya santai menghadapi semuanya hari ini, padahal Ridwan yang di rugikan.


" eh Van, sakit kau? kenapa wajah kau tegang gitu curut" ledek Ridwan.


"kenapa kau lakukan itu ke mereka Wan? kamu yakin gak ada niatan lain ke mereka kah?" Alvan sambil membuka sebungkus cokelat Silverqueen.


"Uda di jalanin yok setelah ini biarkan aku bernafas lega Van, santai aja lah gak usah seperti ini kau" Ridwan tersenyum lebar pagi itu.


"terserah kau ajalah, awas kau nyesel nantinya curut" sambil mengepalkan tangan kiri ke muka Ridwan.


Ridwan hanya tertawa melihat kelakuan Alvan seperti monster kehilangan makanan kecilnya.


Pengadilan Negeri pagi itu masih sunyi dan hanya beberapa yang terlihat tetapi Ridwan hanya tersenyum ketika melihat 5 orang yang di kenalnya.


Ridwan membisikkan sesuatu dan Alvan pun menoleh ke arah 5 orang yang di beri kode oleh Ridwan.


"Kenapa mereka di situ coba ***" Alvan menggerutu


"Tak tau lah, kau pikir emaknya mereka kah aku Van?" Ridwan memakan cokelat nya.


"kau Wan posisi gini masih bisa bergurau, gua timpuk juga kau"


"Santai lah nanti setelah sidang kita baku hantam di arena karate sekolah, kalah bayar makan soto ayam di alun alun kota Gresik, gimana?" Ridwan menatap Alvan karena Citari menatap ke arah mereka.


"okay tapi awas kau curang nanti" Alvan mengerti kode tubuh Ridwan.


Setelah 2 jam menunggu akhirnya persidangan di laksanakan dengan sebegitu ketatnya.


Setelah Hakim memimpin jalan nya sidang dan akhirnya Waktu nya untuk pembelaan untuk tersangka dan korban di izin kan berbicara.


Ridwan hanya berulang kali mengatur emosional nya agar tidak berantakan di depan Hakim dan di depan Umum.


"Kepada yth Korban pemukulan Ridwan Bin Mukti segera melakukan pembelaan".


"Terimakasih kepada bapak Hakim yang terhormat beserta jajarannya pengadilan negeri di ruang sidang hari ini, saya pribadi ingin melaporkan dan berharap agar........." Ridwan menatap sekilas Citari kemudian menatap Iqbal.


"bisa dilanjutkan saudara Ridwan? atau Hakim akan memutuskan langsung?" Jaksa bertanya.


"baik saya lanjutkan, saya pribadi ingin mencabut kasus ini karena ada beberapa hal yang sudah saya pikir kan Secara matang dan berdasarkan fakta kemanusiaan, Yang pertama saudara Iqbal memang bersalah tetapi karena dia emosi dan tidak bisa menahan emosi nya dia dan teman teman nya memukul saya hingga saya masuk rumah sakit bapak hakim yang terhormat dan alasan saya untuk ini karena tidak semua manusia bisa mengendalikan emosinya ketika sudah di Landa api asmara cinta terhadap seseorang dan yang terakhir ini paling penting bapak Hakim yang terhormat, Saudara Iqbal beserta teman-temannya masih berstatus pelajar, saya berbicara seperti ini bukan mencari muka di depan umum, bukan saya sok menjadi orang paling sabar tapi biarkanlah Iqbal dan teman temannya mengikuti ujian dan di bebaskan dengan syarat wajib lapor" tegas Ridwan.


Hakim dan jajaran pun tersentak dan tersenyum mengerti maksud Ridwan berbicara seperti itu.


"pak hakim yang terhormat,saya mohon berikan mereka semua amnesti hukuman bapak" Ridwan bersimpuh di depan hakim.


Persidangan yang dramatis pagi menjelang siang, dimana Ridwan ingin semuanya selesai agar dia tidak terbebani untuk masalah dunia.


Alvan menghela nafas panjang dan mengetahui apa yang akan terjadi hari itu, dia kemudian menghampiri Ridwan dan membisikkan sesuatu.


"Sudah selesai Wan kau membela mereka dan biar Hukum di negeri ini berlaku" Bisik Alvan.


Ridwan hanya mengangguk lemah dan memeluk Alvan dan Om Gie untuk menenangkan dirinya.


Sidang berjalan semestinya dan keputusan Hakim untuk memberikan amnesti akhirnya di berlakukan dengan syarat Tersangka harus selalu wajib lapor.


Ridwan dan Alvan pun segera meninggalkan ruangan sidang dan itupun membuat Citari dan teman temannya berusaha mengejar mereka berdua yang tidak ingin berlama lama di Ruangan persidangan.


"Mas Ridwan, tunggu!!!" Citari berteriak sekuat tenaga.


"Mau apa lagi kamu?, sudah puas kan Iqbal bebas karena Ridwan? kau pergi dari kehidupan sahabat ku Citari!" Alvan menunjuk wajah Citari.


Mobil yang di kendarai Ridwan dan Alvan menjauh dari mereka berempat dan Ridwan hanya melihat pasrah.


"Wan kita ke cafe bunder yok"


"ngapain kesana Van?"

__ADS_1


"Uda ikut aja Wan" Alvan menambah laju kecepatan mobilnya.


"serah kau Van, tak izin mama ayah dulu" Ridwan mengirim pesan ke ayahnya.


Alvan yang tau perasaan Ridwan yang masih kacau tentang Citari sebisa mungkin dia menjauhkan Ridwan dengan Citari.


Alvan tak ingin asmaranya Ridwan sama persis seperti dia dengan Aryani, tapi pikiran Alvan terhenti ketika sebuah sepeda motor memotong jalan mobilnya.


"siap siapa tuh anak, mau cari mati dia" Alvan melepas sabuk pengamannya.


"udah biar aku yang turun Van,tetap di mobil"


Ridwan tau yang membawa sepeda motor itu Citari terlihat dari sebuah syal yang menggantung di bajunya.


Ridwan memandang lama wajah Citari dan kemudian dia tersenyum untuk menyapa nya.


"ikut aku dik Citari jangan seperti itu bahaya, faham?" Ridwan menepuk halus pundak Citari.


"kamu kenapa sih mas? ikut kemana? aku mau jelasin semuanya mas Ridwan" rengek Citari tak terhindar kan.


"Uda ikut aja dik Citari, masih banyak yang harus kita omongin kok" senyum Ridwan.


Ridwan kembali ke dalam mobil dan menyuruh untuk melanjutkan perjalanan tanpa berkomentar Alvan menginjak gas.


Sesampainya di cafe Alvan kaget melihat ada Diah, Fahira, Diky dan Rino di tempat itu.


"biasa aja mas gak usah kaget ini juga untuk sahabat kita kok, bener Ndak Diah?" Fahira menoleh ke Diah.


"hooh bener mas Alvan, biar mereka berdua menyelesaikan dan tidak ada kata perpisahan buat Citari juga" Diah sambil mengunyah kentang gorengnya.


"yauda kita liat Ridwan saja tapi ini Citari kemana kok gak ada?" Alvan celingukan.


"tuh sudah duduk sama mas Ridwan" tunjuk Rino.


"kita semua pindah kesana aja biar sama sama meredam ketika ada yang marah" Alvan meminta persetujuan.


"tapi jangan ikut campur ya mas Alvan nya biar mereka berdua yang menyelesaikan" Fahira memberikan kode untuk pindah.


Ridwan dan Citari berbicara serius sampai tak menyadari Alvan, Fahira, Diah, Diky dan Rino berada tepat di samping mereka.


"lho kalian kok kesini? bukankah sudah tak suruh untuk di sana?" Citari salah tingkah.


"Van ingat janjimu, Uda lah pesen minum dulu, aku es cokelat gelas jumbo dan ubi manis ya, kamu terserah aja, nih uangnya Van" Ridwan memberikan selembar ratusan ribu.


"untung kau ada Ridwan kalau gak ada gua libas kau" gerutu Alvan.


"eh curut wes lah, pesen sana, haus nih" Ridwan mendelik ke arah Alvan.


Sementara itu tangan Ridwan menggenggam tangan Citari dan mencium nya.


"ayo cerita dik Citari mungkin ada yang mau kamu sampaikan sayang?" Mengelus pipi Citari.


"janji gak ninggalin aku mas Ridwan?"


"bismillahirrahmanirrahim, kalau kamu jujur ya gak bakal tak tinggal dik" mengelus lembut pipi Citari.


"Mas Iqbal hanya masa lalu ku tanpa ada ikatan seperti mas Ridwan dan aku"


"terus kenapa masih memberikan harapan ke Iqbal? dengan cara kirim pesan ke dia kemudian sampai bertemu saat dia di tangkap?" Ridwan menghela nafas.


"iya mas aku bener bener salah, aku hanya ingin tau keberadaan mu mas, dan kok tau aku masih mengirimkan pesan ke dia?" Citari curiga.


"Diah dan Fahira yang memberikan informasi semuanya dan jujur dik Citari, sakit seperti itu" Ridwan mengaduk es cokelat nya.


"lho kok mereka berdua yang memberitahu?"


"karena mereka sadar kalau kamu masih ada sedikit perasaan kan ke Iqbal" Ridwan melepaskan genggaman tangan nya.


"mas kalau aku punya perasaan lebih ke dia kenapa aku menerima mu mas? apa aku sebegitu buruknya ke kamu mas?" Air mata Citari jatuh di depan Ridwan.


"kenapa di teruskan SMS dengan Iqbal kalau kamu sudah punya Ridwan?" Fahira bertanya ke Citari.


"Karena mas Ridwan banyak yang suka di sekolah maupun luar sekolah jadi aku...." ucapan Citari terputus karena telunjuk Ridwan menyentuh bibirnya.


"itu bukan alasan, Selama aku masih memegang janjiku untuk menjaga perasaan mu kenapa aku harus selingkuh di belakang mu? mau mu itu apa sih dik?" Ridwan menatap lekat ke Citari.


"Aku ingin tukar nomor dengan mu mas, biar kamu dan aku saling percaya" senyum Citari.


"bentar sebelum itu aku iyakan jawab pertanyaan ku dulu dengan jujur"

__ADS_1


"apa mas?" Citari gugup.


"benar ini kamu yang mencium bibirnya Iqbal di ruang kunjung tahanan?" Alvan memberikan cetak foto di depan Citari dan Ridwan.


"jawab jujur dik jangan bohong, aku akan terima kok alasannya" Ridwan menahan sakit hatinya.


" aku rindu seorang yang aku sayang mas, kamu posisi nya hilang tanpa kabar dan aku hanya memiliki mas Iqbal saat kamu menghilang" Citari menangis sesenggukan.


"hanya itu? kamu mencium nya karena kamu masih cinta dan suka dia kan?bukan aku yang kamu cintai dik Citari"


Ridwan dan Citari hanya saling memandang tanpa bersuara sedikit pun. hanya terlihat senyuman Ridwan yang mengembang di sudut bibirnya.


Citari menunduk lemas ketika semua terbongkar karena di hatinya masih ada sedikit rasa untuk Iqbal, bisa di bilang Ridwan 65% dan 35% untuk Iqbal.


"aku maunya gini dik Citari" suara Ridwan tegas.


"maunya mas Ridwan di cium juga seperti mas Iqbal?" ujar Citari polos.


"ya bekas orang lain kok di kasih ke aku sih dik?" gurau Ridwan.


"mas Ridwan maunya gimana?" Citari bingung.


"pikir aja sendiri dan kamu tak kasih waktu hari ini juga dan di tempat ini juga, faham??!!!!" tegas Ridwan sambil menatap tajam Citari.


Sementara Alvan dan 4 teman Citari hanya tersenyum sendiri ketika Ridwan bernada tegas di depan Citari.


Ridwan menatap sendu wajah Citari tapi hatinya tergores cukup dalam hingga tak tau lagi apakah bisa memaafkan Citari atau tidak hingga akhirnya Alvan menarik tangan Ridwan untuk di ajak ngobrol berdua.


"Wan yakin kamu ingin putus sama Citari?" Alvan membuka pembicaraan.


"60% iya sisanya masih bingung juga Van,ada saran?" Ridwan meminum es coklatnya.


"kalau melihat dia mencium Iqbal saat itu dia memberikan harapan ke ke Iqbal saat itu juga Wan"


"terus maksud mu ingin memanas manasi diriku, ngunu?" Ridwan sedikit emosi.


"nah Iki baru Ridwan, saran ku beri kesempatan ke dua Wan karena Iqbal pun sudah bicara ke aku setelah kejadian itu "


"apa bicara nya? jangan mengada-ada kau Van"


"demi Allah dan Rasulullah Wan ini benar, Iqbal tak ingin Citari memberikan cinta nya lagi ke Iqbal karena dia jauh hari sebelum kau datang untuk menjenguk dia mengakui kesalahannya"


"dalan arti Citari masih mencintai ku, gitu?" Ridwan menghabiskan es nya.


"kalau menurut ku iya karena dia telah mengakui kesalahannya setelah menjenguk Iqbal"


"Wan, tau darimana kau dia mengakui kesalahannya?"


"Nih buktinya dan semua udah ku rekam pakai recorder hape" sambil memutar suara Citari dari rekaman hape nya.


Ridwan terhenyak kaget mendengar suara Citari meminta maaf telah mengkhianati nya di depan kedua orang tuanya setelah sidang tadi.


Ridwan hanya bisa pasrah sekarang dan bersiap untuk memberikan kemungkinan terburuk untuk Citari.


"sudah berfikir nya? lama mikir apa?" tegas Ridwan di depan Citari.


"mas, beri aku satu kesempatan untuk merubah ini semua dengan caraku untuk mengembalikan kepercayaan mu ke padaku" Citari menggenggam tangan Ridwan.


"bisa di pegang kah omongannya dik? dan apakah ada yang ingin memiliki mu di luar sana selain aku?" Ridwan melepaskan genggaman Citari.


"mas,tolong kali ini saja beri aku kesempatan, aku ingin memperbaiki semuanya bukan karena apapun yang kamu miliki mas tapi aku ingin memiliki mu sepenuhnya dalam hatiku" rayu Citari.


"wanita ternyata bisa gombal, belajar gombal darimana? dari Iqbal?" Ridwan tersenyum sinis.


"aku gak gombal mas, aku tau aku salah,aku ingin kesempatan itu untuk kamu berikan ke aku mas Ridwan" Citari menangis kembali.


"udah nangis nya dan buktikan dengan perbuatan bukan hanya omongan, selama ini aku ingin memiliki hatimu dan ternyata aku di sakiti seperti ini oleh mu pula"


"mas Ridwan ingin kita putus tanpa memberikan aku kesempatan lagi?" rengek Citari.


"aku berikan satu kesempatan dan kesempatan ini yang terakhir, jadi perbaiki selama bisa memperbaiki dan lepas jika kamu menginginkan yang lain" ucapan datar Ridwan tapi mengenai hati yang mendengar nya.


"mas Ridwan menerima ku kembali?"


"dengan perbaiki yang harus di perbaiki dan rubah yang harus di rubah kemudian tinggal yang harus di tinggalkan dik Citari karena aku sayang sama kamu" Ridwan mencium kening Citari


..........................❤️.........................


...jangan lupa komentarnya untuk membangun dan kritik nya juga, terimakasih dan tunggu kelanjutannya ya karena cerita ini bagaikan puzzle yang berantakan....

__ADS_1


..........................❤️.........................


__ADS_2