LAST LOVE FOR WHOM? ( Cinta Terakhir Untuk Siapa?)

LAST LOVE FOR WHOM? ( Cinta Terakhir Untuk Siapa?)
SANG PENGHIBUR


__ADS_3

Alvan yang mengetahui kebenaran itu menatap tajam ke arah Ria, seakan ada yang di tutupi selama ini dari Ridwan oleh Ria dan Tria.


"Sekali kepercayaan Ridwan di salah gunakan maka dia tak akan mendapatkan kepercayaan lagi dari Ridwan, Om Mukti dan Tante Inah mohon izin menemani Ridwan dan tolong perbaiki calon menantu Om dan Tante untuk sahabat ku Ridwan." ujar Alvan berlalu menyusul Ridwan.


Tria menunduk menyesal pun tak akan merubah semuanya, Ridwan yang tengah gusar mengendarai mobil sport nya dengan kecepatan tinggi dan segera masuk ke cafe milik Adi.


"Buatkan Es Capuccino satu dan minta tolong belikan rokok satu pack." ujar Ridwan ke Wulan yang sedang menghitung pemasukan hari ini.


"Siap Kak Ridwan, ada bingkisan untuk kakak entah dari siapa tadi namanya, kalau gak salah namanya Nicho deh Kak." ucap Wulan sambil menyerahkan sebuah kotak yang tertulis nama lengkap Ridwan.


"Apalagi yang kamu rencanakan lagi Wulan!!." teriak Adi yang sudah berada di belakang Ridwan.


"Biarkan dia berbicara Adi, santai saja, biarkan jika Wulan ada rencana untuk menjauhkan Tria dariku." pelan Ridwan sambil menatap kotak berwarna merah itu.


"Maaf Kak, Wulan tak ada niatan apapun menjauhkan Tria dari Kakak, Tria juga sudah mengagumi seseorang juga kok." senyum Wulan ke arah Adi.


Ridwan yang hanya tahu senyuman itu untuk Adi hanya mengangguk faham.


"Adi! ikut saya ke dalam!, tolong bawakan kopi dan rokok saya." perintah Ridwan.


"Siap laksanakan Tuan Ridwan." Adi menjawab formal.


Sementara di rumah keluarga besar Tria, semua keluarga besar hanya saling diam sambil melirik Nicho yang sedari tadi hanya menatap intens ke arah Tria.


"Jhon kenapa kamu kecolongan seperti ini?." Ayah Mukti membuka suaranya.


"Maaf Tuan Besar Mukti saya bersalah dan saya siap di hukum." ucap tegas Jhon.


"Terus kamu Nicho, jika benar kamu menyukai Tria kenapa jauh jauh hari tak melamar nya?." Ayah Mukti kembali menatap tajam ke arah Nicho.


"Maaf Tuan Besar Mukti, saya kira Ridwan hanya mencintai satu orang yaitu...." ucapan Nicho terputus.


"Citari? kau salah besar Nicho, Ridwan sudah menjatuhkan hati dan pilihan nya ke Tria, jauh sebelum keberangkatan nya ke luar negeri." timpal Alvan yang kembali masuk dan berjalan ke arah Nicho.


"Bukankah dia cinta mati dengan Citari? dan kenapa dia memainkan perasaan Tria saat itu?." tanya Nicho.


"Karena Ridwan masih trauma dengan yang namanya ikatan cinta meskipun dia laki laki tetapi tak menutup kemungkinan dia punya hati juga bukan? dan kamu Tria, aku kecewa dengan mu yang tak berterus terang dengan Ridwan tentang Nicho, asal kamu tahu Tria, memang cinta pertama Ridwan itu Citari tetapi dia menulis tentang mu, semua tentang mu di tulis olehnya di buku ini." Alvan melempar kan buku di depan Tria.


Tria menatap buku itu dengan seksama, ragu membuka nya tentu juga karena di sana tertulis semua catatan Ridwan tentang semua perasaan Ridwan.


"Bukalah nduk, bagaimanapun akan sakit kamu rasakan begitu juga Ridwan saat ini, ibu berharap kamu tak salah memilih dan mencintai lagi serta ibu tak akan memaksamu untuk memilih Ridwan menjadi suami mu." bijak ibu Tria sambil membelai jilbab Tria.

__ADS_1


"Bunda, Tria merasa bersalah dengan Mas Ridwan..." tangis Tria pecah.


Tria membuka lembaran demi lembaran catatan Ridwan, dia tersenyum membaca tulisan tentang cinta pertama Ridwan dan hingga dia menatap lekat sebuah photo seorang gadis yang tengah tersenyum.


"Ini kan aku? dan...." ucapan Tria terputus.


SANG PENGHIBUR


Tria nama yang melekat padanya.


Apakah aku pantas mendapatkan nya?


Tria aku ingin memiliki mu bukan hanya sebagai penghibur laraku.


Tetapi menikah dan memiliki masa depan dengan mu.


Mungkin benar Citari cinta pertama ku tetapi aku akan selalu di sisimu.


Memiliki mu dunia dan akhirat untuk ku saja bukan untuk yang lainya.


Tria maaf dan maaf aku hanya mengagumi dari jauh.


Karena aku hanya sebagai penghibur mu semata.


"Dasar wanita, semuanya cengeng, emang kalau sudah serius memang sulit membedakan ya wanita." suara Alvan meninggi.


"Kak Alvan, sekarang Mas Ridwan kemana?." Tria menatap tajam ke Alvan.


"Minggat ke luar negeri, kamu juga buat perkara sementara Ridwan juga cemburu nya tinggi, gak ada yang bisa saling mengerti.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ridwan yang tengah kebingungan mencari buku diary nya kini sedang bingung sendiri, hingga akhirnya......


"ALVANNNNN!!!!!!!." suara Ridwan terdengar keras, sementara Adi yang mendengarnya sendiri hanya menelan ludahnya kasar karena sudah mengetahui jika Tuan nya kini sedang menatap nya tajam.

__ADS_1


"Maaf Tuan, Tuan Alvan yang menyuruh saya untuk mengambil buku Tuan, saya siap di hukum." Adi menunduk lemah.


__ADS_2