LAST LOVE FOR WHOM? ( Cinta Terakhir Untuk Siapa?)

LAST LOVE FOR WHOM? ( Cinta Terakhir Untuk Siapa?)
API CEMBURU


__ADS_3

...........................❀️.........................


Ridwan yang telah meninggalkan sekolah Tria pun segera bergegas kembali ke rumahnya untuk sedikit bermalas-malasan tak terkecuali Alvan yang sedari tadi juga ikut di belakang Ridwan untuk segera menemui mas Iqbal nya.


Tidak berselang lama mereka berdua tiba di rumah yang di sambut Rian, Ghani dan Adi yang sedang berbincang dengan Iqbal dengan serius.


" mas, mau tanya, kamu kenal dia?." ketus Alvan sambil melemparkan handphone yang berisi foto seorang siswa yang berhasil memukul Ridwan pagi tadi


" oh dia, anak buah ku kenapa? ada masalah?." sungut Iqbal serius.


" Ridwan habis di pukul tuh bocah dan sambil bawa namamu pula, dapat anak buah yang berkelas dikit napa, anak bau kencur di pakai, untung Ridwan hanya memar tuh wajahnya." Alvan duduk di sebelah Iqbal.


" Bos, tuh anak kan teman nya Yudi? ada apa gerangan Van kok sampai mukul Ridwan?." selidik Ghani sambil menatap Ridwan yang sedang duduk di pojok taman.


" Dia ngakunya temannya kenal mas Iqbal Ghan dan Ridwan di ancam pula sama anak kemarin sore, kamu urus atau aku urus tuh anak? siapa pula Yudi tuh?." Alvan melempar kan rokok kearah Ridwan.


" Van sudah, biarkan, Yudi masih cemburu di tolak Tria dan mungkin dia belum kenal tunangannya Tria siapa kan? uda maaf kan saja toh aku hanya bengkak sedikit." Ridwan membakar rokoknya yang di bantu Adi.


" Maaf Tuan Ridwan jika saya lancang, Yudi segera saya beres kan, melihat luka Tuan juga masih sobek begitu, bagaimana menurut Bos Besar Iqbal?." Adi memberikan es batu untuk mengompres bibir Ridwan yang sedikit bengkak.


" Ghani, Rian dan Adi, Lu bertiga urus dua anak itu dan temukan dengan gua, mau cari mati tuh anak ternyata." geram Iqbal.


" Mas, wes gak apa apa, lagian cuman hantaman dikit aja di buat ramai segala toh, kau juga kampret ngapain beri info ***." Ridwan melempar korek ke arah Alvan.


" Wan kita semua keluarga, lu sakit kita semua sakit, lu bahagia kita semua bahagia, ingat Wan, lu yang bantu gua dulu sampai kapanpun kita saudara, cam kan itu!." protes Iqbal.


" dah santai aja, yuk ikut ke kampus kalian semua, malas nyetir aku." Ridwan melemparkan kunci Lamborghini Aventador ke arah Rian.


" Gua, Ghani dan Adi gak ada jam kuliah Wan, ngapain sih nemanin segala? ada musuh di kampus?." Rian beranjak ke arah Ridwan.


" Temani aja, aku sama Alvan cuman empat jam kuliah, dan kalian juga kan bisa dapat cari cewek juga kecuali mas Iqbal kan dia udah tertarik dengan Tantri sampai sampai tuh wallpaper hape di ganti fotonya." Ridwan tersenyum jahat ke arah Iqbal.


" Gua yakin sama Tantri Wan, tapi gimana caranya agar dia yakin dengan Gua ya? kan gua hanya gini gini aja?." celutak Iqbal.


" mangkanya ikut ngampus jangan ngantor melulu, nanti ikuti permainan ku, faham mas?." Ridwan menatap Alvan seakan memberikan kode.


" Yauda, pakai mobil Alphard aja jangan mobil lu, nih Di setir." Iqbal melempar kan kunci mobilnya ke arah Adi.


Ridwan yang menerima sebuah pesan ancaman dari nomor yang tidak di kenal pun hanya tersenyum simpul karena dia tak akan menggubris pesan tersebut.


Sebuah sepeda motor yang tiba tiba melintas memerhatikan Ridwan yang tengah turun dari mobil Alphard di susul Alvan, Rian, Ghani serta Adi sementara Iqbal yang malas turun hanya di mobil.


"jaga tuh Mas Iqbal jangan sampai mati dalam mobil hahahahahaha." suara tawa Alvan membuat Iqbal melotot tajam ke arah Alvan.


" yauda aku masuk dulu, kalian ke kantin beli apa aja, bye." Ridwan melambai tangan.


Seorang wanita sedikit berlari ke arah Ridwan hendak mengejar Ridwan tapi sayang sekali tangan wanita tersebut berhasil di pegang Alvan.

__ADS_1


" jangan ganggu dia, atau kau memiliki urusan yang panjang dengan kita, faham kau Lidia?." tatapan tajam Alvan membuat Lidia mengangguk.


" Siapa dia Van? kok berani ngejar Ridwan? ." Ghani berjalan di samping Alvan.


" Biasa, kemarin sore ketemu Ridwan dan berhasil meluluh lantakkan hati Ridwan tapi Ridwan tertarik atau tidak nya terserah, aku hanya gak ingin Tria terluka karena aku sayang ke Ria kakaknya, kalian jaga Ridwan satu di depan kelasnya." Alvan memberikan perintah.


" Saya saja Tuan Alvan, biar Tuan Ridwan aman juga." Adi berjalan kembali ke gedung Ridwan kuliah dan menanyakan ruang kuliah Ridwan yang berada di lantai 3.


Sementara di kelas, Lidia ragu untuk mendekati Ridwan yang sedang sibuk menulis di buku puisi nya tersebut. lekat mata Lidia menatap Ridwan hingga tak sadar Vita sudah duduk di samping nya pun berusaha menyadarkan Lidia.


" Woi, lu kenapa? lihat Ridwan seperti lihat pangeran mu saja, Uda deketin saja toh dia tak punya pacar juga kok." Vita membuyarkan tatapan Lidia ke Ridwan.


" Vit, bener lu, dia anak orang kaya, dia tadi bawa Toyota Alphard dan kenapa dia masih sendiri dengan kemewahan yang dia punya? padahal dia bisa saja jadi playboy kan ya?." Lidia mengeluarkan buku kuliah nya.


" Hust sudah, tuh dosen sudah masuk, diem lu Lidia!." perintah Vita.


Ridwan pun berhenti menulis puisi dalam bukunya dan mengeluarkan buku kuliah hari ini. Dosen pun memberikan materi Linguistik umum yang tentunya mudah bagi Ridwan.


" Ada pertanyaan dari kalian?." dosen menatap semua mahasiswa mahasiswi di depannya.


Ridwan yang memiliki pertanyaan pun segera mengangkat tangan nya.


" oke kamu Ridwan, apa yang kamu ingin tanyakan?." Tunjuk dosen tersebut.


" Linguistik itu bahasa pengantar kan pak? terus yang di maksud Linguistik sebagai bahasa itu ada berbagai macam bahasa, mulai dari bahasa tubuh, Bahasa wanita dan Bahasa kita saat beribadah, pertanyaan nya apakah semua itu di sebut pengantar Bahasa?." Pertanyaan Ridwan yang sedikit melawan kodrat dari yang di terangkan dosen nya.


Lidia dan Vita yang notabene nya ingin menjawab pun ragu ragu dalam mengangkat tangan nya, akhirnya.....


" Saya pak, menurut pribadi saya bahasa itu di bagi dua, pengertian bahasa oral (berbicara atau langsung) dan bahasa tidak langsung seperti bahasa tubuh dan bahasa kepada Tuhan saat berdoa." Lidia akhirnya memberanikan untuk menjawab.


" Maaf kalau kamu bilang begitu, Tuhan memang tak kasat mata tapi kalau menurut mu kita berdoa kepada Tuhan secara tidak langsung berarti kita cuman butuh dia hanya tertentu saja." pungkas Ridwan di iringi senyum kemenangan.


Semua ruangan bertepuk tangan atas jawaban Ridwan terhadap Lidia sehingga membuat Lidia menelan ludahnya sendiri dalam dalam. sambil menatap Ridwan yang tersenyum kemenangan dia tidak terima jika pendapatnya di kalahkan oleh Ridwan.


" Sudah Sudah, jawaban keduanya tidak ada yang salah juga, yauda itu tugas kalian untuk menemukan pertanyaan dari Ridwan, sekian kelas saya, selamat siang." dosen itu pamit meninggalkan ruangan kuliah.


Lidia yang masih tidak terima pun menghampiri Ridwan yang memainkan handphone nya sambil tersenyum membaca sebuah pesan dari Tria tunangannya.


" Maksud kamu apa? menghancurkan harga diriku hah? jangan seenaknya sendiri dengan jawaban mu!." Lidia sedikit berteriak.


" kenapa? tidak terima? saya tidak akan mengiyakan wanita yang selalu harus benar, ingat wanita itu nantinya surga mereka ada di kaki seorang laki laki faham kau?." Ridwan menunjuk ke arah muka Lidia.


Lidia melongo melihat cincin yang di pakai Ridwan, dia langsung berfikir apakah Ridwan pantas di kalahkan dan apakah dia sudah menikah? kenapa ada api cemburu di dada Lidia? sesak rasanya Lidia melihat cincin yang melingkar di jari manis Ridwan.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


...........................❀️.........................


...terimakasih untuk semua pembaca,tetap ikuti puzzle cerita cinta berjudul LAST LOVE FOR WHOM? thank you very much reader, tinggal kan jejak πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜ŠπŸ˜Š....


..........................❀️.........................


Nb: yuk vote kakak semuanya dan komentar nya dong agar semangat lagi author nya, heheheheheheπŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

__ADS_1


__ADS_2