LAST LOVE FOR WHOM? ( Cinta Terakhir Untuk Siapa?)

LAST LOVE FOR WHOM? ( Cinta Terakhir Untuk Siapa?)
JAWABAN TRIA


__ADS_3

"Nyesel kan kau Ridwan, mangkanya dari dulu nikahin tuh anak." ucap Alvan dari luar ruangan yang tengah menguping pembicaraan mereka berdua.


Alvan hanya tertawa kecil mendengar rengekan Ridwan yang mengajak Tria menikah, sementara Ridwan yang hanya menunggu jawaban dari Tria segera melangkah pergi karena merasa dirinya di tolak Tria.


"Mas, aku mau menikah tapi jangan larang aku ke London karena aku juga ingin kuliah di luar negeri itu cita citaku dari kecil." cicit Tria sambil menahan Ridwan untuk tidak pergi.


"Terus kalau sudah menikah dengan ku kita harus long distance relationship gitu?." mata Ridwan membulat sempurna.


"Ya Mas Ridwan ikut ke London lah, mau ya." rengek Tria manja.


"Aku di sini juga harus kuliah belum lagi ngurus perusahaan Ayah lho, tapi beneran kamu mau menikah dengan ku?." tanya Ridwan kembali.


Tria hanya diam sementara Ridwan yang menunggu jawaban Tria pun semakin maju mendekat ke arah Tria hingga wajah mereka berdua bertemu dekat semakin dekat, Tria yang seperti terhipnotis wajah Ridwan hanya mematung.


"Ehem, ngapain dekat dekat gitu?." Ria berdehem sangat keras.


Tria langsung mendorong tubuh Ridwan hingga menjauh darinya.


"Duh, mengganggu saja, kenapa gak mengetuk pintu dulu sih?." protes Ridwan.

__ADS_1


"Ya kali ketuk pintu, kalian tuh yang harus cepat halal, mau ngapain aja halal, paham ndak?." Ria menjawab dengan sedikit memberi gaya seperti ustadzah memberikan ceramah.


"Tria belum jawab juga ngapain harus masuk sih?, emang kakak mu ini gak ada akhlak." Ridwan melotot ke arah Ria.


"Gimana Ridwan? mau di ketok apa tuh kepala mu? halal kan adik ku baru kau bebas mau ngapain saja, paham kau?." debat Ria.


"Wan, udah deh jangan buat ribut, pusing aku dengar suara wanita ribut!!!." teriak Alvan dari luar ruangan.


"Gimana sayang?!! mau cari mati juga kamu?." Ria membalas jawaban Alvan.


"Mampus hidupku kali ini." ucap Alvan dalam hati.


"Kita kerumah mu, aku mau....." ajak Ridwan.


"Ngapain Mas?." Tria memotong ucapan Ridwan.


"Melamar mu, kenapa? gak mau?." Ridwan memanyunkan bibirnya.


"Bukan gak mau, Papa sama Bunda lagi di luar negeri terus kalau kita nikah ya ke......" ucapan Tria terputus karena jari Ridwan tepat di bibirnya.

__ADS_1


"Kita ke Ayah Mama ku, sekarang." Ridwan kembali bersuara.


Tria hanya mengangguk setuju tanpa perlawanan, Tria bukannya tak mau menikah dengan Ridwan hanya saja ini terlalu cepat baginya.


Mobil Ridwan membelah jalanan sore hari, mereka berdua saling diam dalam pikiran masing masing tiba tiba Tria mencoba memancing obrolan dengan Ridwan.


"Mas Ridwan yakin menikah dengan Tria? aku bukan seperti yang Mas Ridwan bayangkan lho." Tria membuka obrolan.


"Yakin dan sangat yakin, meskipun nantinya kamu banyak yang mengganggu akan ku habisi mereka." Ridwan menunjukkan tangannya yang mengepal.


"Ya gak gitu juga Mas, apa mas mau punya istri seperti anak kecil?." tanya Tria.


"Jangan seperti anak kecil, bayi pun aku mau." jelas Ridwan.


"Maksud Tria sifat dan sikap ku bukan ukuran tubuh." cicit Tria .


"Tria, meskipun kamu seperti anak kecil pun tetap siap aku, tetapi aku mohon kamu lah yang terakhir buat aku, temani aku, dampingi aku, jadilah ibu dari anak anak ku." Ridwan menatap Tria dengan tersenyum.


Tria kembali menunduk lebih dalam, dia belum seratus persen yakin jika Ridwan memang menginginkan menikah dengan nya tetapi hati kecilnya selalu bilang bersedia untuk menjadi istri Ridwan.

__ADS_1


"Iya Mas Ridwan, Tria mau, sekarang fokus menyetir dulu saja ya." pinta Tria memohon ke Ridwan untuk kembali fokus menyetir kembali.


__ADS_2