
...........................❤️.........................
Sebatas Angan
Teruntuk kamu yang ku kagumi
Entah bagaimana rasa ini harus terungkap
Semua hanya berkecamuk dalam hati
Tanpa mau keluar dalam gelap
Aku mampu berkata namun hanya dalam sunyi
Sebenarnya aku tak mau berharap
Terlalu sakit jika hanya aku yang menginginkanmu
Saat ku tahu benar kau takkan pernah sadari
Teruntuk kamu yang menjadi doaku di malam hari
Entah bagaimana aku harus bertindak
Bak hujan yang datang dengan kilat
Tiba tiba mengingat harap padamu membuatku sesak
Aku mampu menyembunyikan rasa
Namun tak untuk selamanya
Kelak, jika Tuhan berkehendak
Kau akan tahu alasanku masih tetap berpijak
__ADS_1
Khibban NurCahyo
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Perpisahan termanis itu ketika kamu dan aku menjadi kita untuk mengakhiri semua perbedaan menjadi satu tujuan dan langkah Cinta,Asa dan perjuangan untuk selalu saling bersama"
^^^Khibban NurCahyo^^^
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ridwan mendengar kan perkataan Wulan yang bercerita tentang masa-masa dengan nya tetapi Alvan yang berusaha menghentikan cerita Wulan hanya bisa mengepalkan tangannya untuk meredam amarah nya.
Ridwan mencoba kembali mengingat semuanya, dia mungkin bisa mengingat setiap puzzle puzzle tentang masa lalu nya bersama Wulan sementara Tria hanya tertunduk ketika Wulan dan kekasihnya terlibat perbincangan yang hangat.
"Tria?, kenapa kamu berbohong? siapa Wulan sebenarnya?" Ridwan menatap wajah Tria sambil mengelus-elus kepala Tria.
"Dia, dia sahabat ku mas, aku kan menceritakan semuanya dan ini pengakuan ku tentangmu dan tentangku, tentang hubungan kita juga" ucap Tria sambil tersenyum ke arah Ridwan.
Tria menceritakan semuanya tanpa ada yang di tinggalkan sekalipun, menceritakan semuanya tanpa beban, bercerita tanpa ada menyakiti semua yang ada.
Sementara Tria bercerita, tentang semuanya, Alvan kembali tersenyum mendengar penuturan Tria begitu terperinci menjelaskan semuanya.
"Aku rasa semua yang di bicarakan Tria tentang mu itu benar Wulan, apakah kamu masih dendam dengan Tria?, jawab Wulan." ucap Ridwan tegas menatap manik manik mata Wulan penuh.
"Entah aku masih dendam atau tidak saat ini tapi rasa ku untuk memiliki mu tak kan pernah hilang untuk Kak Ridwan!!" Isak Wulan sambil menatap Ridwan dengan tangisan nya.
Ridwan tetap tersenyum penuh arti, begitu juga dengan Alvan yang memisahkan Wulan yang tengah memeluk erat Ridwan yang tengah di peluk.
"Biarkan, biarkan dia memelukku tanpa ada yang berusaha melepaskan nya." cegah Ridwan.
"Wan! sadar! ingat ada Tria yang selalu menjaga mu, yang selalu hadir dalam kesakitan mu! semuanya belum tentu salah Tria!." tegas Alvan.
Ridwan kembali tersenyum seraya menatap lembut ke arah Tria, Tria hanya membalas senyuman itu dengan senyuman sedikit di paksa.
"Mau ngomong Tria?, ngomong aja gak apa apa, kalau cemburu cemburu aja." goda Ridwan.
__ADS_1
"Bisakah mas Ridwan menunduk kan wajah, coba berfikir dari sisi aku? pernah mas Ridwan merasakan rindu untuk memiliki hati? memiliki hati yang tak pernah terbalaskan mas!." tangis Tria pecah.
"Rindu adalah suatu hal yang tidak bisa dijelaskan dengan apa pun, bahkan rumus terumit dari matematika saja tidak akan sesulit memecahkan rumus rindu" balas Ridwan tetap menggoda Tria.
"Ada rumusnya kok, contoh nya saja aku mendekap hatimu etapi Serpihan rindu ingin ku sapu karena sepi ku hilang saat kau hadir dan Menepis semua gundah, aku mencintaimu mas Ridwan!!!." tangis Tria kembali memecah pelukan Wulan ke Ridwan.
Ridwan menatap lembut Tria, dia melepaskan pelukan Wulan yang mencoba memaksanya untuk tidak berjalan ke arah Tria, Wulan menarik paksa tangan Ridwan.
"Kamu mencintai ku? apa yang kamu tahu tentang cinta Tria? bukan karena kita telah bertunangan kan?." selidik Ridwan.
"Hah? mas Ridwan sudah ingat semuanya?." tanya Tria.
"Ya, aku ingat semuanya, tentang masa lalu ku, maaf tengah membuat mu cemburu " Ridwan memeluk Tria erat.
"Tapi......." ucapan Wulan terputus.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.....
........................❤️......................