
...........................❤️.........................
Ridwan menatap lekat Tria keemudian mendekat kan tubuh nya untuk memeluk Tria.
"Semoga saja tapi sedikit banyak aku sudah merasakan hatimu untukku tapi biarlah waktu yang menjawab semuanya, I Love You Tria." Ridwan mendekap erat Tria.
"I Love you too mas Ridwan, Tria berangkat dulu ya, assalamualaikum wr wb." Tria melepaskan dekapan Ridwan sambil menyembunyikan bulir air mata nya.
Waktu seakan-akan menjawab dua insan yang tengah memiliki perasaan candu dalam menjalin kasih itu.
Serasa tubuh Ridwan ingin mengejar Tria untuk menahannya lebih lama lagi tapi sayang sekali hanya penyesalan yang di dapat kan.
Sementara itu di departemen keberangkatan lainya terlihat Yudi yang sudah bersiap untuk mendapatkan hati Tria nantinya, baru saja keluarga besar Yudi mengantarkan nya untuk kuliahnya di Eropa juga.
"Lho Ridwan, ngantar siapa?." selidik Lidia.
"Jangan sok akrab, lu siapa?." Wulan mendorong pelan Lidia.
Adi yang melihat adegan itu hanya menggeleng kepala nya sambil berbisik ke arah Ridwan.
"Tuan Ridwan, sebaiknya kita pergi saja sebelum bertambah ramai nantinya." ajak Adi untuk bergegas pergi dari tempat tersebut.
"Mas Adi tolong bawakan ini ya, nanti ikut saya juga untuk sekedar melepas penat." Ridwan berjalan di samping Alvan yang sedang melihat Lidia dan Wulan lagi berdebat.
"Siap Tuan Ridwan, untuk tanda tangan bisnis saya nanti mohon kiranya untuk di koreksi terlebih dahulu." ucap Adi.
"Mas Adi, bisa tidak memakai bahasa formal? cukup Ridwan saja jangan pakai Tuan, faham!." tegas Ridwan.
Adi yang mengerti suara tegas Ridwan hanya mengangguk mengerti tetapi Alvan yang mendengar perkataan Ridwan segera menyusulnya.
"Hayo kau Di, marah tuh Ridwan, urus tuh Wulan ajak dia pulang daripada ribut sama Lidia dan Vita tuh." Alvan menunjuk ke arah Lidia dan Wulan yang lagi berdebat.
"Siap Tuan Alvan, untuk Wulan apa harus tinggal di rumah Nona Tria?." tanya Adi kemudian.
"Katanya Ria tadi biarkan saja karena Wulan sahabat Tria juga, yauda tak pulang dulu jangan lupa nanti bahas tuh bisnis mu, hati hati di jalan." Alvan bergegas menyusul Ridwan yang sudah menunggu di parkiran mobil.
Adi yang berjalan cepat ke arah Wulan dan Lidia yang lagi bersitegang hanya menggeleng melihat mereka berdua berdebat.
"Hem, sudah berdebat nya? lebih baik anda semua bubar, mari saya antar Wulan." ajak Adi.
"Lho Mas Ridwan kemana? kok gua di tinggal?." Wulan merajuk.
"Sudah pulang sama Tuan Alvan, silahkan ikut saya." ajak Adi.
Wulan yang mendengar bahwa Ridwan telah pulang duluan hanya pasrah karena dia ingin mempercepat untuk mendapatkan hatinya Ridwan.
Lidia yang mendengar nama Ridwan di sebut segera meminta izin untuk bergegas ke rumah Ridwan.
"Gak bisa gua biarkan nih anak mendapatkan Ridwan yang ganteng dan tajir melintir tuh." Lidia berdecak gemas.
"Lid ingat, Ridwan sudah ada yang punya juga dan gua juga sudah rela kalau Alvan menjadi milik Ria kok, Lu juga harus rela juga naantinya." Vita menasehati.
"Tidak semudah itu Vita, selama belum janur kuning melengkung maka gua dapatkan hati Ridwan." seru Lidia sambil memasang wajah imut nya.
"Dih najis tralaala lu beneran, patah hati baru tahu rasa lu." Vita melotot ke arah Lidia.
__ADS_1
Vita memutar bola matanya melihat antusias Lidia mendapatkan hati Ridwan.
...........................❤️.........................
Ridwan yang telah mandi setelah mengantar keberangkatan Tria tadi segera duduk di meja teras rumahnya.
Alvan yang daritadi menatapnya hanya tersenyum simpul sambil mencoba untuk menunggu Ridwan berbicara.
"Van rokok Van." suara Ridwan berat.
"Tuh, kopi atau teh atau coklat atau kopi susu atau kopi coklat...." mulut Alvan berhenti ketika jari telunjuk Ridwan mengarah hidungnya.
"Diem, Besok kuliah kan? ada tugas besok?." ujar Ridwan sambil membakar rokok nya.
"Gak ada semuanya, tuh ada Wulan, tak tinggal ke dalam dulu, hati hati ya, ku lihat dia mencoba merebut hatimu dari Tria." Alvan mengingat kan.
"Hem, buatkan es susu coklat gih tapi es nya jangan banyak banyak juga." pinta Ridwan.
"Beres, Kang Paijo!!!! es coklat satu gelas es batu nya dikit aja!!!." Alvan berteriak ke dalam untuk memberi kan Paijo membuat pesanan Ridwan.
"Woi onta Arab, pening nih otak kau teriak teriak seperti itu." Ridwan menonyor kepala Alvan.
"Tuh urus sahabat Tria, seperti nya adu argumen sama penjaga gerbang tuh." Alvan menunjuk ke arah gerbang.
Ridwan yang menatap ke arah gerbang pun hanya mendengus sebal melihat Wulan melambaikan tangan ke arah nya.
"Biarkan masuk pak." teriak Ridwan untuk membiarkan Wulan masuk.
Adi yang mendengar Wulan masuk pun bergegas berdiri di samping Ridwan.
"Ngapain Adi? ngapain bawa Alvan juga?." selidik Ridwan.
"Hooh, daripada kau nanti kena pelet tuh anak mending tak dampingi,suruh masuk ke dalam rumah aja." sahut Alvan sekenanya.
Wulan yang tengah memandang Ridwan pun hanya bisa mengagumi dari jauh.
"Ngapain senyum senyum?, masuk!." tegas Ridwan.
"Duh judes amat sih mas, nih tak buatkan nasi goreng." ujar Wulan sambil menyerahkan nasi goreng di kotak makan nya.
Adi yang melihat Wulan menyerahkan kotak berisikan nasi goreng segera menyambarnya segera.
"Maaf, saya periksa dulu." ujar Adi sambil membolak-balik kotak makan tersebut.
"Makan aja Mas, lagian masih kenyang juga aku, sini masuk ada apa?." sahut Ridwan.
"Eh itu kan buat Mas Ridwan kenapa lu ambil?, gak sopan banget sih." gerutu Wulan.
"Silahkan masuk, saya makan nasi goreng nya, terimakasih." ujar Adi sambil mencomot udang yang di atas nasi goreng.
Alvan yang melihat Wulan sedang jengkel dengan tindakan Adi hanya tertawa kecil.
"Lagian kamu salah orang, minum apa kamu?." ucap Alvan yang sudah duduk di sebelah Ridwan.
"Hem maaf ya mas, aku bisa bicara berdua dengan mas Ridwan?." pinta Wulan.
__ADS_1
"Oooohhhhh, tidak bisa dan tak semudah itu juga, ada Ridwan ada aku juga, kenapa? gak mau? yauda pulang aja." sarkas Alvan.
"Alasan kuat apa yang buat kalian berdua melindungi mas Ridwan?." sengit Wulan.
"Panjang kali lebar kali tinggi masalah nya, kenapa? gak suka?." sahut Adi kemudian.
Tatapan Alvan dan Wulan beradu dengan kuatnya hingga membuat Ridwan risih.
"Uda tatapan nya?, Wulan kenapa ke sini?." tanya Ridwan.
"Hem, mau deket sama......" ucapan Wulan terhenti.
"eh Adi deket sini, Seperti nya enak tuh,sini bagi kan lumayan dapat gratisan." Alvan mengeraskan ucapannya sambil menatap tajam Wulan.
"Mas Ridwan keluar yuk banyak perusuh di sini." Wulan merajuk.
"Hah? keluar? ngajak saya? gak salah? ada apa tumben ngajak saya?." Ridwan membakar rokok nya lagi.
Wulan mulai sebal dengan dingin nya hati Ridwan itu pun segera kembali memutar otaknya untuk berhasil mengajak Ridwan keluar berdua.
Alvan hanya terkekeh mendengar jawaban Ridwan begitu juga dengan Adi hanya tersenyum simpul melihat wajah Wulan yang sedikit sebal dengan jawaban tuanya itu.
"Kamu kalau ngajak keluar saya, saya mau tapi mereka berdua ikut juga, faham?." ujar Ridwan sambil menunjuk Wulan.
"Iya faham mas." ucap Wulan sambil menatap Ridwan lembut.
"Jangan lembut di depan saya." ketus Ridwan sambil berlalu untuk mengambil rokok nya.
Wulan yang melihat dingin nya tanggapan Ridwan pun berasa memiliki adrenalin untuk mendapatkan nya.
"Bagaimana pun juga harus gua dapatkan lu mas Ridwan." senyum nakal Wulan mengembang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
...........................❤️.........................
terimakasih untuk semua pembaca,tetap ikuti puzzle cerita cinta berjudul LAST LOVE FOR WHOM? thank you very much reader, tinggal kan jejak 🙏🙏🙏🙏😊😊.
__ADS_1
..........................❤️.........................
Nb: yuk vote kakak semuanya dan komentar nya dong agar semangat lagi author nya, hehehehehehe😀😀😀.