
Rahasia Hati
Ku peluk indah angan mu dalam diriku.
Hanya ingin menatap mu lekat dalam hatiku.
Tak mengapa jika nantinya harus berpisah dengan mu.
Tapi suatu saat akan ku peluk dirimu sayangku.
Lelah ku langkahkan hati untuk mendapatkan hatimu.
Tapi hanya senyuman palsu yang terjawab darimu.
Apakah kamu tak mengerti rasaku ke kamu.
Apakah benar rahasia hatimu bukan untuk ku.
Ku lepas semua angan mu.
Dalam rahasia hatiku.
Yang penuh pertanyaan untuk mu.
Kapan kamu mulai mencintai ku?.
Surabaya 28 Juni 2011
Khibban NurCahyo
...........................β€οΈ.........................
Ridwan menatap Alvan yang sudah memeluk Ria di samping nya hanya mendengus kesal, hatinya kembali sakit ketika melihat mantan Dirga yang kini berada di depan nya.
Sebuah rahasia apalagi untuk nya kali ini? Lidia yang semakin hari semakin mendekati nya di tambah Wulan yang telah hadir di tengah-tengah kehidupan nya nanti?, Tria dan Ria pun dalam waktu dekat akan ke luar negeri untuk kuliah.
"Sebuah rahasia indah apalagi yang akan berjalan? aku hanya ingin sembuh dari hati yang terluka Tuhan." rintih Ridwan.
Langkah Ridwan hanya mampu di rasanya berat untuk memulai hatinya dengan Tria. Lelah hatinya merasakan semuanya untuk di lalui nya.
Kini hanya untaian kata, hanya itu dia punya saat ini. Adi dan Alvan yang sedari sibuk dengan kegiatan masing masing langsung menyambut Ridwan untuk segera merubah wajah nya yang tengah tertekuk.
"Sayang masuk dulu ya, aku mau ngomong sama Ridwan." pinta Alvan ke Ria.
"Hem oke deh, tuh ada tamu lagi tak di undang dua orang tuh." Ria menunjuk dua orang cewek yang tengah turun di depan gerbang.
"Ngapain sih Lidia sama Vita ke sini?, Adi tolong urus ya, tanyakan alasan mereka berdua ke sini kalau tak penting jangan di suruh masuk, oh ya ini dari Mas Iqbal, terimalah" Alvan memberikan amplop coklat ke Adi.
"Siap Tuan Alvan tapi maaf Tuan Alvan, kemarin bukanya sudah ya dari Tuan Alvan dan Tuan Ridwan." Adi mencoba menolak amplop coklat itu.
"Kamu terima atau baku hantam kita ingat Di kita sudah seperti saudara jangan begitu juga kamu, oh ya kamu udah pikirkan bisnis belum? tuh mumpung Ayah Mukti di dalam." selidik Alvan.
"Untuk itu sudah Tuan tapi nanti minta izin ke Tuan Besar Mukti dan Tuan Besar Wicaksono juga, makasih Tuan atas semuanya selama ini, saya undur diri untuk mengamankan dua wanita itu." Adi menunduk memberi hormat.
Ridwan kini tengah di samping Alvan menatap ke arah gerbang rumah yang tengah melihat Adi beradu mulut dengan Lidia dan Vita, mereka berdua hanya tertawa melihat tingkah Adi yang seolah olah mengusir dua wanita itu.
"Lucu Adi, sama wanita aja takutnya setengah mati, kalau sama laki laki langsung di ajak berantem tuh anak." Ridwan memecah suasana hatinya.
"Mau ngapain sih dua cewek tuh, bikin ilfil ae tuh betina Arab." Alvan mengepal kan tangannya.
"Jangan gitu, kau dulu punya perasaan juga ke Vita, rasain tuh perang dunia bentar lagi hahahahahahahahhaha." ledek Ridwan.
"Wan tresno ku nang Ria gak bakal ilang sampek kapan pun onta Arab, kau kapan sembuh tuh hati? Uda nikah aja sama Tria terus pindah kuliah juga ***." Alvan tengah memiting kepala Ridwan.
"Eh lepaskan cumi Arab, ngomong enak suruh nikah, kau aja nikah sama Ria bengek." timpal Ridwan berusaha melepas tangan Alvan.
__ADS_1
"Santai, yang penting aku padanya Wan, harus lembut ke wanita itu, pertama harus mencium lembut bibirnya, apalagi Ria, uuuhhh bibir nya tipis dan lembut terus tak kasih kiss Mark tuh leher uuuhhh nikmat Wan." Alvan membayangkan ******* bibir Ria.
"Duh onta Arab mesum, awas kau gak nikahi tuh anak orang, serah lu mau ngapain aja, aku belum sembuh Van, masih sakit hati ku." Ridwan kini menatap ke ruang tamu dan menatap Tria yang tengah bersenda gurau dengan Wulan dan Ria.
Mereka berdua berjalan ke dalam rumah tapi Lidia dan Vita sudah berdiri di samping mereka berdua untuk mengikuti mereka masuk ke ruang tamu.
"Lho ngapain kalian berdua masuk sini? ada apa?." Ridwan menunjuk Lidia dan Vita.
"Pengen ketemu kamu, kenapa? gak boleh? nih ngembalikan catatan linguistik mu." ujar Lidia sambil memberikan buku Ridwan.
"Kamu? aku? tumben manggil gitu, kesabet setan mana kamu? biasa nya aja lu gue hahahahahahaha." tawa Ridwan memancing semua orang di ruang tamu untuk menatap nya.
"Aaaaaadddddddiiiiiii, lu ngapain suruh mereka berdua masuk?!!!." Tantri berteriak histeris.
"Maaf Nona Tantri, mereka berdua ingin bertemu Tuan Ridwan dan akan saya jaga terus mereka Nona." Adi tergopoh-gopoh menjawab pertanyaan Tantri yang sudah bersiap untuk melayangkan pukulannya ke arah Lidia dan Vita.
"Awas lu berdua ganjen ke Ridwan atau Alvan, gua putus kepala kalian berdua." ancam Tantri ke arah Lidia dan Vita.
"Suka suka gua, emang lu siapanya Ridwan? gua aja belum di persilahkan masuk sama bokap nyokap nya Ridwan kok lu yang emosi." tantang Lidia.
"Sudah hentikan!!!! kalian berdua masuk dan duduk!!! ribut terus aja." Ayah Mukti mengeluarkan suara bariton nya.
Mereka semua terdiam mendengar ketegasan suara ayah Mukti, Ridwan yang mengerti akan ketegasan ayah nya tersebut hanya berjalan ke arah Tria.
"Udah tenang, duduk gih sayang." Ridwan mengusap lembut kepala Tria.
"Kamu juga!!!! duduk!!! nikah dulu baru mesra, anak orang butuh kepastian juga!!!." tegas ayah Mukti sambil menatap tajam ke Ridwan.
"Duh mampus, yauda Ridwan duduk mana? kalian juga ngapain masih di sini? pulang sana." Ridwan mengusir Lidia dan Vita.
"Uda biar mereka di sini, ayah sudah tahu karena laporan Iqbal dan Adi terkait mereka berdua serta ayah perlu tegaskan ke mereka berdua untuk tahu diri karena kamu sebentar lagi menikahi Tria." ayah Mukti memberikan ketegasan nya kembali.
Semua terdiam bersiap mendengar ceramah dari ayah Mukti yang mungkin nantinya terdengar kuno dan pasti akan terdengar sakit di kuping Ridwan maupun Alvan.
"Ridwan dan Alvan, saya mau tanya keseriusan kalian berdua terhadap Tria Dan Ria, siap kalian berdua?." Ayah Mukti membuka suara berat nya.
"Kalau saya pribadi Om Mukti, siap menikah sama Ria dalam waktu dekat tetapi alangkah baiknya Ria mengenyam pendidikan Strata Satu nya terlebih dahulu." Sahut Alvan.
"Yah Ma dan Om Tante, Ridwan boleh jujur?, tapi Ridwan meminta maaf terlebih dahulu jika nantinya ada yang merasakan sakit hati terlalu dalam." pinta Ridwan.
Semua orang mengangguk setuju dan siap mendengarkan pengakuan Ridwan, bahkan Papa Hadi calon mertuanya pun telah siap menjadi pendengar yang baik.
"Jika nanti Tria kuliah ke luar negeri sementara Ridwan masih di sini untuk menunggu Tria, apakah adil untuk Ridwan?." tanya Ridwan.
"Ridwan Ridwan Ridwan, masih saja kamu egois nak, Ayah mewakili dari keluarga Tria mau bertanya ke kamu, Sudah kah kamu adil untuk hatimu ke Tria? sudah kamu merasakan lebih dari kata cinta ke Tria?, Lha hati mu aja masih mengingat Citari juga, pikir kan juga hati Tria yang sudah menjaga perasaan nya untuk mu jangan egois ingin sembuh sendiri, mau kamu gimana?, Tria suruh mengalah terus untuk kamu?, Asal kamu tahu, Ayah yang menyuruh dia Kuliah ke luar negeri dan kamu mau tidak mau harus siap menjalani Long distance relationship dengan Tria, faham kamu?." Ayah Mukti sambil menghisap cerutu nya dalam dalam.
"Ya benar, Ridwan egoisnya tinggi tapi bagaimana nantinya Tria di luar negeri? sama Ria saja kan?." sanggah Ridwan tak mau kalah.
"Masih aja egois kamu Ridwan, saya kasih pilihan ke kamu, biarkan Tria ke luar negeri untu kuliah atau kamu menikah dengan nya?." tantang ayah Mukti sambil tersenyum ke arah Ridwan.
Semua hening tanpa ada suara apapun, hanya terdengar suara detik dari jarum jam yang terus berputar.
Tria menatap sendu Ridwan kekasihnya itu yang terlihat masih takut untuk mencintai nya lebih dari Citari.
"Om Mukti maaf, saya mau bicara boleh?." suara Tria memecah keheningan ruang tamu tersebut.
"Silahkan nak, jelaskan kalau perlu kamu ingin berbicara seperti apa." timpal ayah Mukti.
"Terimakasih Om, Mas Ridwan, Tria sudah mencintai mas Ridwan lebih dari kata apapun, tapi Mas Ridwan tak bergeming hatinya, Mas masih takut untuk mencintai, maka dari itu Tria ingin mas Ridwan bisa merasakan arti memiliki dengan cara kita tetap tunangan tapi izin kan Tria untuk Kuliah ke luar negeri juga, ada Wulan yang bakal menjaga mu untuk ku nanti ketika Tria sudah selesai kuliah." Tria menggenggam lembut tangan Ridwan di sampingnya.
"Maaf dan maaf Dik Tria, aku belum bisa mencintai mu tapi aku berusaha belajar untuk mencintai mu, kamu kuliah baik baik di sana, aku akan tetap ingin melihat mu kembali ke pelukan ku." Ridwan mengusap lembut kepala Tria.
"Apapun kejadian nya aku akan kembali meskipun nanti nya ada yang menyakiti dan tersakiti karena aku ingin memiliki mu dan hati mu mas." lirih Tria.
Semua tercengang mendengar ucapan Tria kecuali orang tua Ridwan, Alvan dan Tria hanya tersenyum melihat ucapan Tria barusan.
__ADS_1
"Oke kalau begitu Tria dan Ria akan berangkat setelah Ujian Nasional dan di sana akan tinggal dengan kita kan Ma karena Bapak Hadi serta Bunda Dewi juga harus ikut demi mengawal Tria dan Ria di sana, bagaimana? setuju?." tanya ayah Mukti sambil menatap bergantian ke arah Istrinya serta kedua orang tua Tria dan Ria.
Semua mengangguk setuju tetapi berbeda dengan Wulan dan Lidia yang sedari tadi memiliki pikiran untuk mendapatkan hati Ridwan yang ternyata masih sedikit menaruh hati nya untuk Tria.
Apakah Lidia dan Wulan berhasil mendapatkan hati Ridwan ketika Tria meninggalkan untuk kuliah di luar negeri?
Ataukah Ridwan harus bisa menahan mereka berdua untuk memiliki nya?
Sementara Alvan menatap sendu Ridwan yang benar benar belum bisa move on dari Citari.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
...........................β€οΈ.........................
terimakasih untuk semua pembaca,tetap ikuti puzzle cerita cinta berjudul LAST LOVE FOR WHOM? thank you very much reader, tinggal kan jejak ππππππ.
..........................β€οΈ.........................
Nb: yuk vote kakak semuanya dan komentar nya dong agar semangat lagi author nya, heheheheheheπππ.
__ADS_1