
君が遠くに居ても
君の想いが繋がるから
信じてるよ
信じてるよ
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dia bakal mengingat mu seutuhnya, tunggu tanggal mainnya." isi dari pesan Alvan.
Sementara Adi hanya menatap handphone nya yang tengah menunggu balasan dari seseorang yang telah di sukai saat ini.
Ridwan segera mengambil liontin yang di kotak perhiasan, mengamati sangat lama, sedikit ada goresan di liontin tersebut, goresan nama Tria, nama Tria yang ada dalam liontin membuat Ridwan kembali memegang kepalanya.
"Sudah ingat semuanya? aku hanya ingin kamu sembuh Wan, sudah lama kamu gak tersenyum, maaf telah memaksa mu untuk mengingat semuanya." tulus Alvan.
"Makasih Van, aku Uda ingat semuanya, benar katamu sudah waktunya aku tak akan melepaskan Tria kembali, panggil Tria, bilang aja sakit kepala ku kambuh." pinta Ridwan.
"Okeh, jangan lupa cepatlah menikah karena Tria sebentar lagi ke London melanjutkan studinya, paham kau kadal Arab?." ucap Alvan sambil menarik tangan Adi yang tengah menatap handphone nya.
Alvan dan Adi keluar dari ruangan, sedikit lama Ridwan menunggu Tria datang ke ruangannya sambil tetap menatap foto yang tengah di tangannya.
Tria yang tengah panik pun segera masuk tergesa-gesa ke ruang Ridwan.
"Mas, Mas Ridwan gak apa-apa?." ucap Tria sambil deru nafasnya memburu.
Ridwan yang tengah menunggu kedatangan Tria pun tersenyum ke arahnya sambil menunjukkan liontin yang tengah di pegang nya.
"Keluar kan liontin yang sama dengan ini, pasti kamu masih menjaganya." desak Ridwan sambil memepet tubuh Tria ke pojok ruangan.
"Mas....." suara Tria sedikit bergetar.
"Aku sudah ingat semuanya memang sedikit ada rasa sakit yang kurasa tadi tetapi sekarang aku ingin melihat liontin yang menjadi pasangan liontin ini " senyum Ridwan ke arah Tria.
Tria hanya mengangguk sambil mengambil liontin yang menggantung di lehernya.
"Sini biar ku bantu, memang kalau sudah nikah nanti harus tetap pakai hijab kamu?." tanya Ridwan penasaran.
Tria hanya mengangguk kembali untuk menjawab pertanyaan Ridwan, rona wajah nya terlihat memerah ketika Ridwan menatap nya lekat sambil tersenyum.
"Mas sudah ingat semuanya?." tanya Tria kembali sambil memandang meja Ridwan yang terdapat foto foto nya saat bertunangan dengan Ridwan.
"Kenapa? gak suka kalau ingat semuanya?." Ridwan menunduk mengamati liontin yang telah di lepas dari Tria.
Ridwan mencari goresan yang sama dan dia membaca dengan sungguh-sungguh, liontin yang di pakai Tria tergores namanya
__ADS_1
"Tria, kenapa kamu menyembunyikan semua ini?." tanya Ridwan sambil menaruh liontin di atas meja.
"Tria gak ingin Mas Ridwan sakit lagi, cukup Tria melihat Mas Ridwan terbaring di rumah sakit." Tria menunduk karena air mata nya mulai jatuh perlahan.
"Tria sayang sama aku? Tria tak menyesal nantinya ketika kita harus berpisah?." Ridwan memegang dagu Tria untuk menghapus air mata yang tengah menetes.
"Mas sendiri gimana perasaan nya? Tria hanya ingin maut yang memisahkan ku dengan Mas Ridwan." Tria terisak sambil menunduk.
Ridwan dan Tria hanya saling menatap tak ada suara keluar dari bibir mereka, hanya tatapan yang bisa mengartikan mereka berdua.
"Tria, benar kamu balik ke London sebentar lagi?, apa gak bisa pindah?." tanya Ridwan di sela tatapan nya ke Tria.
"London tempat yang aku ingin kan Mas, Tria memang harus kembali ke London, maaf." Tria menunduk.
"Meskipun kamu dan aku menikah?." tanya Ridwan.
"Iya Mas meskipun nantinya kita harus berhubungan jarak jauh." lirih Tria.
Hening kembali menyapa Ridwan setelah mendengar jawaban Tria, hatinya terasa sakit mendengar harus jauh dari Tria sebentar lagi.
"Woy, lagi apa kalian?." ketus Alvan membuyar kan pandangan Tria dan Ridwan.
Alvan yang merasa di cuek kan pun hanya kembali keluar sementara Ridwan hanya menunduk untuk merasakan apa yang harus di lakukan ketika jauh dari Tria.
"Aishiteru Tria........ menikahlah dengan ku, jangan jauh dariku Tria ." pinta Ridwan sambil menatap sendu ke arah Tria.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
"Aku belum bisa janji jika harus meninggalkan study ku di London Mas Ridwan." Tria menjawab dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Nyesel kan kau Ridwan, mangkanya dari dulu nikahin tuh anak." ucap Alvan dari luar ruangan yang tengah menguping pembicaraan mereka berdua.
__ADS_1