
...........................❤️.........................
"Jangan lembut di depan saya." ketus Ridwan sambil berlalu untuk mengambil rokok nya.
Wulan yang melihat dingin nya tanggapan Ridwan pun berasa memiliki adrenalin untuk mendapatkan nya.
"Bagaimana pun juga harus gua dapatkan lu mas Ridwan." senyum nakal Wulan mengembang.
Alvan yang mengetahui kedatangan Iqbal kakaknya itu segera menarik tangan Ridwan untuk mengajak bergegas masuk ke ruang keluarga.
Sementara Itu Iqbal datang dengan kekasihnya Tantri itu pun segera masuk dan menemukan Adi dan Wulan yang sedang duduk berdua.
"Adi, kemana Ridwan dan Alvan?." tanya Iqbal sekilas memandang Wulan.
"Tuan Ridwan dan Tuan Alvan di dalam Bos, mau minum apa Bos Iqbal dan Nona Tantri?." Adi menawar kan minuman untuk keduanya.
"Teh hangat saja tapi jangan terlalu manis ya, Mas Iqbal segera ngomong ke Ridwan ya semuanya agar tahu nantinya." pinta Tantri.
"Ok Sayangku, eh Sayang temani dulu dia, aku mau ngobrol dengan Ridwan dan Alvan, surat dari Tria kamu bawa?." tanya Iqbal sambil tersenyum ke arah Tantri.
Tantri segera memberikan sebuah surat dari Tria untuk di baca Ridwan nantinya.
Sementara itu Wulan yang melihat surat itu hanya sedikit menyelidik untuk mengetahui isi surat dari sahabatnya untuk Ridwan nantinya.
Iqbal bergegas masuk ke dalam untuk berbicara dengan Ridwan dan Alvan. (Baca episode 63 s/d 67 bakal faham alur cerita nya).
"Wulan, sudah lama di sini? besok sudah mulai ospek kan?." tanya Tantri sembari memasang wajah manis.
"Eh iya kak Tantri, katanya Tria benar kalau Wulan menempati rumahnya dan bener juga kah kak Tantri menginap satu rumah dengan Wulan?." Wulan sedikit kikuk.
"Iya benar, karena sebentar lagi ada Mas Iqbal yang menjadi suamiku, lagian di rumah Gresik semua nya ke luar negeri kan?." Tantri mencoba mengajak Wulan untuk berkomunikasi.
"Oh selamat ya kak Tantri, berarti nanti satu rumah dong dengan Wulan?." Wulan membayangkan menikah dengan Ridwan.
"Iya kalau kamu tidak keberatan juga sih, ehm sudah ngobrol dengan Ridwan?, kan Tria sudah nitip tuh Ridwan ke kamu juga." Tantri mulai memancing omongan Wulan.
"Ya gitu kak, sulit ngomong sama es batunya Tria tapi Wulan takut kalau merebut Ridwan dari Tria."
"Uda jalani saja dulu, toh nantinya Tria juga lama di luar negeri, mulai jatuh hati kan sama Ridwan?." Tantri kembali memancing kembali.
"Iya kak, kasihan mas Ridwan belum bisa move on tapi Wulan janji untuk menyembuhkan luka hati mas Ridwan." Wulan tersenyum positif.
Tantri yang mendengar ucapan Wulan hanya bisa tersenyum getir tetapi semua berjalan dengan lancar hanya bisa mengangguk pasrah.
Wulan dan Tantri kembali berbincang tentang Ridwan dan Alvan juga, tak hentinya mereka berdua tertawa kecil.
Wulan yang merasa mendapat kan angin segar untuk dekat dengan Ridwan nantinya segera mendekati Tantri untuk melancarkan aksinya nanti.
...........................❤️.........................
Ridwan menatap berkas bisnis Cafe nya dengan Adi, terlihat masih banyak pertanyaan tentang surat dari Tria tadi siang.
Adi dan Alvan yang tengah memandangi Ridwan di depannya hanya ikut diam seraya mengetahui isi hati Ridwan.
"Wan, Uda tuh tanda tangan lagian saham masih kamu pegang kok, Adi cuman pegang saham 10 persen saja lho, kamu 90 persen, masih berfikir lagi?." selidik Alvan.
"Yauda tak tandatangani, Oh ya Mas Adi nanti bawakan surat yang mau melamar di sini ya biar tak seleksi juga nantinya." pinta Ridwan sambil menadatangani kontrak kerjasama itu.
"Terimakasih banyak Tuan Ridwan dan Tuan Alvan, siap nanti saya bawa semua surat yang mau melamar kerja di sini." ujar Adi sambil membakar rokok nya.
"Untuk Gaji dan tunjangan pegawai nanti di urus juga ya Mas Adi sementara Alvan sebagai pengawas barang datang dan membantu pegawai lainnya, jadi kerjasama juga nanti nya agar bisa sukses cafe kita bersama ini." Ridwan menatap Alvan untuk mencari jawaban.
"Ya bisa di bilang saling kerjasama juga Wan, semuanya yang bekerja ini perempuan Mas Adi?." Alvan membolak-balik surat lamaran di depannya.
__ADS_1
"Ada lima pria Tuan Alvan jadi untuk pegawai Pria nantinya akan berada di dapur, saya hanya ingin mengambil lima pegawai untuk satu shift nya Tuan Alvan." Adi menjelaskan keinginan nya itu.
"Jadi total yang kamu pakai dua shift berjumlah sepulu orang? benar? gak kurang tuh?." Ridwan menyelidik sambil mengambil beberapa surat lamaran dari tangan Alvan.
"Benar Tuan Ridwan, semuanya sudah saya persiapkan tinggal Tuan Ridwan dan Tuan Alvan bersedia untuk mewawancarai calon pekerja dan melakukan serangkaian tes juga, saya sangat berharap bantuan Tuan Ridwan dan Tuan Alvan juga." pinta Adi kembali.
Ridwan dan Alvan saling menatap sambil mencari jawaban untuk Adi terkait semuanya.
Sementara Ridwan dan Alvan sibuk mencari jawaban, Adi sudah memegang kertas surat lamaran kerja dari calon pegawai cowok.
"Permisi Tuan Alvan dan Tuan Ridwan, untuk pegawai cowok saya sudah punya kandidat jumlah nya empat orang dua di antaranya Ghani dan Rian sementara dua orang lainya Anji dan Prika." Adi menyerahkan surat lamaran di hadapan Ridwan dan Alvan.
"Hah Ghani dan Rian? buat apa mereka kerja juga? terus siapa Anji? Prika?." batin Ridwan dalam hati.
"Oh Ghani dan Rian toh sudah tahu itu kan titipan dari Mas Iqbal juga, lha Prika? Ridwan bukanya Prika ini yang dulu......" Alvan menyerahkan surat lamaran atas nama Prika.
"Oh dia, yauda atur kapan mereka semua di panggil dan Mas Adi buat tim untuk melaksanakannya, oke?." Ridwan menatap Adi.
"Siap Tuan, bisa di mulai besok Tuan Ridwan dan Tuan Alvan?." Adi kembali bertanya.
Ridwan dan Alvan pun mengangguk setuju sambil tersenyum ke arah Adi.
Nama Cafe mereka bertiga "Onta's Cafe" yang di ambil dari pertimbangan Ridwan dan Alvan serta Adi yang setuju juga.
Mereka bertiga menyiapkan segala yang ada untuk persiapan segala nya untuk Cafe tersebut.
...........................❤️.........................
Setelah semalaman suntuk menyiapkan untuk pembukaan Rialdi Cafe akhirnya pagi ini Ridwan segera bersiap untuk kuliah.
Adi yang sudah siap untuk mengantarkan Ridwan segera bersiap juga, berbeda dengan Alvan yang hari ini jadwal kuliah masih kosong.
"Mas Adi sini sarapan dulu woi." Ridwan berteriak dari dalam rumah.
Adi yang mendengar teriakkan dari Ridwan pun tergopoh-gopoh segera masuk ke ruang makan.
"Bohong mandul tujuh turunan kau, apa mau batal kerjasama kita?." Ridwan mengancam Adi.
"Baik Tuan Ridwan saya ikut sarapan." ucap Adi sedikit pasrah.
Alvan yang berjalan ke arah Ridwan langsung duduk sambil membakar rokok nya.
"Mas Adi, biasa saja sama kita, lagian suruh makan aja nunggu nanti nanti, tuh Wulan ajak sekalian nanti, kasihan dia gak ada barengan nya." Alvan menunjuk Wulan yang sudah berada di depan teras rumah.
"Siap Tuan Alvan, naik mobil apa Tuan Ridwan? semuanya sudah siap." tegas Adi.
"Naik delman ada?." tanya Ridwan.
"Delman? maaf Tuan Ridwan adanya Alphard, Lamborghini Aventador dan Avanza Veloz, kalau delman saya belum bisa mengemudi nya." ucap Adi.
"Yaelah Mas Adi gitu aja di buat serius omongan cumi Arab, Wan nanti langsung ketemu di Cafe saja, nih bawa berkas surat lamaran semuanya." Alvan menyerahkan berkas lamaran di tangan nya.
"Naik Avanza Veloz aja Mas Adi, yok berangkat, eh Onta Arab nanti persiapkan semuanya faham?." pinta Ridwan.
"Oke cumi Arab, sesuai aplikasi ya." Alvan menaikturunkan alisnya.
"Aplikasi matamu kui." Ridwan menonyor kepala Alvan.
Ridwan kini berdiri tepat di depan Wulan yang bersiap untuk berangkat bersama nya.
"Cantik nya kamu dik." lirih Ridwan sambil menahan mual ketika mengucapkan nya.
"Makasih mas Ridwan, boleh bareng ke kampus?." tanya Wulan.
__ADS_1
"Boleh tapi nanti pulangnya agak sore ya, gak apa apa kan?." Ridwan melangkah masuk ke mobil.
"Iya gak apa mas, lho kok mas Adi ikut? bukannya berdua saja ya mas?." Wulan menunjuk ke arah Adi.
"Saya sudah jadi sopir pribadi untuk Tuan Ridwan dan Tuan Alvan, keberatan anda?." ketus Adi.
Wulan yang mendengar ucapan Adi hanya bisa manyun, berharap untuk dekat dengan Ridwan sulit nya minta ampun.
"Sudah jangan manyun gitu nanti cantik nya ilang loh." ucap Ridwan sambil menahan mual nya kembali.
"Makasih Mas Ridwan." Wulan tersipu malu.
Mobil segera melaju ke kampus pagi hari tepat pukul enam lebih dua puluh lima menit.
Tidak perlu waktu lama untuk sampai ke kampus, Ridwan segera turun dari mobil setelah Adi membuka kan pintu untuk nya.
"Makasih mas Adi, nih buat beli rokok nanti selama saya kuliah." Ridwan menyerahkan satu lembar ratusan ribu.
"Terimakasih banyak Tuan Ridwan." ucap Adi.
Lidia yang tahu Wulan berangkat bersama Ridwan kini hatinya panas membara.
"Eh lu junior ngapain berangkat bareng Ridwan? mau cari mati lu?." Lidia mendorong tubuh Wulan.
"Suka suka gua lah, emang situ siapa nya mas Ridwan?, mas Ridwan pilih aku atau dia?." Wulan menatap Ridwan untuk menjawab pertanyaan nya.
"Masih pagi juga, pad ribut segala, Uda sini biar adil jalan bareng sini." Ridwan meraih tangan Lidia dan Wulan bersamaan.
Lidia dan Wulan pun tak dapat menyembunyikan warna merah merona wajahnya tetapi berbeda dengan Ridwan yang berusaha menahan mual untuk menggoda dua hati yang mengejar hatinya.
Ridwan yang tengah berjalan kini mencoba untuk tetap menahan mual yang melanda dirinya hanya untuk menguji siapa yang tulus untuknya nanti.
Apakah Tria mampu menjaga hatinya di sana? ataukah Ridwan terjebak dengan dua hati yang tengah di godanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
...........................❤️.........................
terimakasih untuk semua pembaca,tetap ikuti puzzle cerita cinta berjudul LAST LOVE FOR WHOM? thank you very much reader, tinggal kan jejak 🙏🙏🙏🙏😊😊.
__ADS_1
..........................❤️.........................
Nb: yuk vote kakak semuanya dan komentar nya dong agar semangat lagi author nya, hehehehehehe😀😀😀.